
"Lo, di mana Dir?"
"Masih di jalan, bentar lagi nyampe."
"Yaudah, cepet. Gue dari tadi nungguin elo di parkiran!" sahut Donal kesal dengan sepupunya.
"Iya, sabar. Bawel amat jadi biji!" Sambungan telepon itu langsung terputus begitu saja.
Donal mengeram kesal, melempar ponselnya ke dashboard mobil. "Bangkee emang!"
Kalo tidak mengingat dia butuh bantuan sepupu laki-lakinya untuk menggantikan dia di perusahaan sebagai sekretaris, Donal mana mau membuang-buang tenaga menunggu sampai satu jam lamanya di sini.
Pria berkulit sawo matang itu duduk dengan tidak sabar di dalam mobil, di depan gedung perusahaan batu bara tempatnya bekerja.
"Gus suruh Lo dateng jam tujuh, kenapa baru dateng sekarang, hah?!" Donal keluar dari mobilnya setelah mobil sepupunya tiba di sana.
"Apa sih?! Daritadi marah-marah mulu, kayak kucing kebelet kawin aja Lo."
"Taii emang nih orang, Lo serius nggak sih mau kerja, hah?! Jangan bikin gue malu, Dir!"
Dira mendengus menutup pintu mobilnya rapat. "Dasar jablay bawel!" gumam pria bertubuh lebih tinggi dari Donal.
"Lo bilang apa tadi?!"
"Nggak ada, gue nggak bilang apa-apa. Ini kita mau masuk apa mau berdebat disini, sih?" sahut Dira mengalihkan pembicaraan keduanya.
"Buka anting Lo! Lo mau kerja di kantor bukan mau nge-dance!" kesal Donal berjalan lebih dulu di depan sepupunya.
Pria berwajah oriental dengan kulit putih seperti susu itu memang punya kerja sampingan sebagai seorang dancer.
Rambut lurusnya yang dibelah tengah, sengaja di biarkan begitu saja menampilkan aura kegantengan seorang Dira.
Bahkan saat keduanya masuk ke dalam gedung perusahaan di mana pria itu akan bekerja menggantikan Donal sebagai sekretaris, Dira langsung menjadi pusat perhatian pegawai-pegawai wanita di sana.
Ini mengapa Donal paling malas bertemu dengan sepupu dari sebelah ibunya, perbedaan mereka bagai langit dan bumi. Tidak akan ada yang menyangka kalau Donal dan Dira adalah sepupu kandung.
"Nanti di atas Lo ketemu sama, Pak Tommy. Dia bokapnya Richard yang bakal jadi bos Lo disini. Jangan asal ngomong kalo dia nggak nanya, Pak Tommy lebih banyak maunya di banding anaknya!" Donal memberi peringatan pada Dira yang berdiri di sampingnya.
Lift tengah membawa mereka menuju lantai paling tinggi di gedung ini tempat pemimpin berada.
"Banyak maunya gimana, Nal? Kayak cewek-cewek labil gitu, nggak?" tanya Dira polos.
"Ish, cewek mulu di otak Lo! Pokoknya dia paling nggak suka kalo Lo dikasih tugas lelet trus banyak alesan. Pak Tommy bisa ngasih kuliah empat SKS sama Lo seharian penuh!"
Dira mengangguk mengerti. Kuliah di jurusan bisnis manajemen setidaknya bisa menjadi pegangan dia menjadi sekretaris, pikirnya.
"Intinya kalo Lo rajin dan gercep bekerja, Pak Tommy bakal selalu muji elo, dan ngasih Lo banyak bonus. Dia baik kok orangnya, yah ... walau sedikit galak, sih."
Bunyi denting pintu lift terbuka mengalihkan perhatian keduanya. Pria yang berbeda tiga tahun itu keluar menuju ruangan direktur utama berada.
"Inget kata-kata gue tadi, Dir. Jangan bikin gue malu!" Donal mendorong pintu direktur utama setelah berucap demikian.
Dia hanya ingin sepupunya benar-benar serius bekerja di perusahaan batu bara ini. Dira memang di kenal tidak pernah serius dalam bekerja selama ini.
__ADS_1
Donal berharap dengan Dira bekerja di perusahaan orang lain, pria itu akan belajar disiplin dan punya rasa tanggung jawab yang lebih.
"Selamat Pagi, Pak," sapa Donal sopan.
Pria keturunan Jerman itu mendongak membuka kacamata bacanya. "Pagi, Nal."
"Maaf mengganggu, Pak. Ini, aku bawa sepupu aku yang mau gantiin posisi aku disini." sahut Donal menunjuk ke arah Dira.
Tommy mengernyit. "Gantiin kamu?" tanyanya tidak mengerti.
"Mungkin Richard belum sempet bilang sama, Pak Tommy mengenai aku yang mau resign dari sini."
"Kamu mau ngundurin diri?" tanya Tommy berdiri dari kursinya.
"Iya, Pak. Ada hal penting yang harus aku urus. Aku udah ngomong sama Richard kemaren sebelum kami pulang ke Jakarta."
Tommy mengangguk, memperhatikan pria dengan rambut yang sedikit gondrong di samping Donal.
"Ini sepupu kamu?" tunjuknya pada Dira.
"Iya, Pak."
"Kok nggak mirip?" tanya Tommy lagi tidak percaya.
"Bapak orang kesekian yang bilang begitu. Kami emang sepupu tapi gak mirip, Pak. Dia lebih mirip sama ibu aku, keturunan Tionghoa."
"Oh, pantesan beda jauh...," sahut Tommy apa adanya.
"Namanya siapa?"
"Dira, Pak."
Tommy mengangguk. "Udah pernah kerja jadi sekretaris sebelumnya?"
Dira menggeleng. "Belum pernah, Pak. Ini yang pertama kali, tapi saya sempat magang di perusahaan waktu kuliah dulu."
"Bicaranya nggak usah terlalu formal kalo cuma kita berdua aja, Dir. Kamu udah kayak temen-temennya Richard."
Dira menggangguk malu. "Baik, Pak."
"Itu, di leher kamu itu ... tato beneran?" tunjuk Tommy.
Dira mengusap lehernya, padahal dia sudah memakai kemeja dengan kerah yang sedikit tinggi. Tapi ternyata mata pria ini begitu tajam pikirnya.
"Iya, Pak...," sahut Dira.
"Udah lama?" Dira mengangguk. "Ya sudah, kamu bisa mulai kerja besok. Kebetulan hari ini kerjaan nggak terlalu banyak, aku juga mau izin pulang cepet ke rumah sakit tengokin Amanda dan Richard."
Dira menghembuskan nafas lega, dia pikir bapak calon atasannya ini akan memintanya menghapus tato kebangaannya itu. Tapi ternyata pikiran Tommy lebih modern lagi pikir Dira.
Donal meninggalkan surat pengunduran dirinya secara resmi pada Tommy dan berlalu meninggalkan perusahaan yang punya banyak kenangan untuknya.
Disini dia bertemu dengan Celin pertama kali, dan 'bermain' bersamanya. Kenangan manis itu tidak akan pernah bisa Donal lupakan. Sekarang dia bisa fokus mencari keberadaan wanitanya.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit dulu, ketemu sama Richard. Gue udah bilang mau kenalin Lo sama dia hari ini."
"Ok." Dira dan Donal berlalu dengan mobil masing-masing menuju rumah sakit.
"Jadi ini yang bakal gantiin elo, Nal?" tanya Richard menatap pria bertato di lehernya itu.
"Iya, dia sepupu gue. Masih perlu belajar, sih emang. Tapi gue yakin selama Lo disini, daddy Tommy bisa ngajarin dia lah...."
Richard tersenyum mengangguk. "Yaudah, gue cuma mau bilang nanti kerja yang bener, yah? Jadi sekretaris itu nggak mudah, harus bisa selangkah lebih maju dari atasan dan cekatan. Lo bisa belajar lebih banyak sama bokap gue."
"Baik, Pak."
Pria blasteran yang ternyata sangat mirip dengan Tommy itu terlihat menyimpan banyak kesedihan. Benar kata Donal kalau pemimpinnya ini sekarang sedang banyak pikiran karena istrinya yang sedang koma.
"Lo udah ketemu Mawar, Nal?" tanya Richard mengalihkan pandangannya pada sahabat bijinya.
"Udah kemaren."
"Keadaannya gimana?"
"Dia baik-baik aja, kata dokter cuma geger otak ringan," sahut Donal.
"Syukur deh kalo gitu. Nanti kalo dia udah sembuh, minta dia urusin butik Amanda dulu, yah? Gue rasa Amanda juga bakal setuju kalo Mawar yang urus butik dia sementara waktu."
"Nanti biar Dira aja yang ngomong, besok gue udah pergi."
Richard tersentak. "Besok? Kok cepet banget?"
"Lebih cepet lebih baik, Chad. Gue nggak mau dia ilang lagi sekarang."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tungguin part selanjutnya, yah 🤗
Visual Dira ada di IG story' author @adamvanda
Yuk kepoin 🤭
__ADS_1