
"Besok Richard sampe jam berapa di Jakarta, Manda?" tanya Tari ibu mertuanya.
"Katanya jam sepuluh landing, Mom."
"Yaudah, pas berarti acaranya dimulai jam begitu. Mommy udah atur semuanya, besok kamu tinggal jemput Richard kayak biasa biar dia nggak curiga."
"Iya, Mom. Aku udah bilang kalo besok aku bakal jemput dan langsung pulang ke rumah kami."
"Ok, hati-hati yah, sayang. Inget jangan kecapean, kalo capek istirahat," sahut Tari mengingatkan menantu perempuannya.
"Iya, Mom. Makasih...." Panggilan telepon itu berakhir setelah keduanya mengucapkan sampai jumpa.
Menunggu datangnya besok hari semakin membuat hati Amanda deg degan. Dia sungguh tidak sabar memberikan kejutan untuk suaminya yang sampai saat ini masih Amanda cuekin.
Amanda akan sedikit mengerjai Richard sampai besok pagi sebelum pria itu berangkat ke Jakarta, pikirnya.
"Miss...," panggil Vania mendekati meja kerja atasannya.
"Ada apa?"
"Nona Monik ada di bawah. Dia katanya mau ketemu sama Miss," sahut Vania takut-takut.
Amanda berdecak, kesal mendengar nama wanita itu. Menghilang semenjak dia akan menikah tempo hari, membuat Amanda marah dengannya.
Monik tidak tahu ke mana selama hampir tiga bulan ini, dia menghilang seperti di telan bumi. Alhasil semua kain yang dia pesan dari rekan bisnisnya itu, sampai sekarang tidak ada satupun yang datang karena Monik yang menghilang.
"Mau ngapain katanya?" tanya Amanda.
"Nggak tau Miss, dia cuma bilang mau ketemu sama Miss."
Amanda membuang nafas panjang mencoba tenang, kata dokter dia tidak boleh stress. Mungkin akan lebih baik bagi mereka berbicara, pikirnya.
"Yaudah panggil kesini aja."
Vania mengangguk dan berlalu turun ke lantai bawah memanggil Monik. Wanita itu terlihat lebih kurus semenjak terakhir kali dia datang kesini, pikir Vania.
"Hai Manda," sapa Monik berdiri di depan meja rekan kerja yang sudah dianggapnya sebagai teman.
"Mau apa Lo kesini?!" tanya Amanda tidak mau menatap Monik.
Dia hanya menyibukkan diri menatap lembaran desain gaun di tangannya.
"Jangan ketus-ketus begitu kali, Manda...."
"Nggak ada yang ketus, gue emang begini dari sononya!"
Monik tertawa duduk di depan meja tanpa di minta. "Lo nggak kangen apa sama gue? Udah lama loh kita nggak ketemuan."
"Ngapain gue kangen sama Lo?! Udah kayak lakik gue aja Lo!"
Monik terdiam mendengar kata lakik, dia mendadak sedih karena tidak bisa hadir di pesta pernikahan rekan kerjanya ini.
__ADS_1
"Lo mau apa dateng kesini?!" tanya Amanda lagi tidak mau menatap Monik.
"Gue mau minta maaf."
Kali ini Amanda yang diam. Dia menunggu penjelasan apa yang akan diberikan Monik padanya.
"Maaf karena gue menghilang dan nggak bertanggung jawab dengan kerja sama kita. Maaf juga karena gue nggak bisa hadir di nikahan elo kemaren, gue ... gue punya alasan untuk itu, Manda."
Suara Monik terdengar bergetar, Amanda akhirnya mau mendongak menatap wanita dengan bawah mata yang tampak menghitam itu.
"Lo kenapa? Lo sakit?" tanya Amanda kaget melihat penampilan Monik.
"Nggak pa-pa, gue masih sehat untuk hari ini."
"Maksud elo?"
"Maafin gue yah, Manda. Jangan marah sama gue lagi biar gue bisa pergi dengan tenang."
Amanda mengernyit bangkit berdiri dari kursinya. "Lo kenapa? Jangan ngomong yang nggak jelas begitu deh!"
Amanda menarik Monik pindah ke kursi sofa empuknya, duduk berdekatan dengan wanita yang mulai menangis itu.
"Lo kenapa, sih?"
"Nggak pa-pa, Manda."
"Jangan boong, cerita sama gue kalo ada masalah."
"Nggak usah, gue nggak mau bikin Lo terbebani dengan masalah gue."
Wanita dengan rambut yang sudah dia gunting pendek itu menghembuskan nafas panjang, susah payah dia datang kesini setelah diizinkan keluar sebentar oleh dokter yang menanganinya.
"Gue sakit, Manda."
"Sakit?" Monik mengangguk. "Sakit apa?"
"Kanker darah, stadium dua."
"Apa?!" Amanda menutup mulutnya tidak percaya.
"Iya, beberapa bulan ini gue nggak ada kabar karena gue ikut kemoterapi di luar negeri. Kemarin gue baru balik, dan maksain dokter untuk datang kesini hari ini. Gue mau minta maaf sama elo, gue takut gue nggak bisa bertahan dan-"
"Jangan ngomong yang enggak-enggak, Nik!" potong Amanda cepat.
"Lo pasti bakal sembuh, jangan bicara seakan kita bakal berpisah selamanya. Gue nggak suka, dan gue nggak mau denger itu dari mulut Lo! Lo harus kuat, masa depan Lo masih panjang. Jangan nyerah dengan penyakit itu!" sambung Amanda tulus.
"Makasih, Manda. Makasih karena mau maafin gue." Tangisan kebahagiaan dan rasa sakit bercampur di hati Monik.
Wanita itu bahagia karena masih punya teman sebaik dan seperhatian Amanda. Berjuang sendiri di luar negeri tanpa diketahui siapapun termasuk keluarganya, Monik mati-matian berusaha sembuh hingga dokter mengatakan kalau dia bisa pulang ke negeranya dan melanjutkan rawat jalan di sana.
Itulah yang membuat Monik memutuskan datang hari ini ke butik Amanda dan meminta maaf padanya.
__ADS_1
Dia berpikir kalau umur seseorang tidak ada yang tahu, akan lebih baik untuknya jika dia berpamitan sekarang, pikir Monik.
"Udah, nggak usah nangis lagi. Lo sekarang fokus dengan pengobatan Lo dulu, jangan mikir yang lain. Gue yakin Lo pasti bisa sembuh!" Amanda mengusap punggung tangan Monik, lembut.
"Iya, makasih, Manda."
Amanda mengangguk memeluk tubuh Monik yang jauh lebih kurus sekarang. Kedekatan mereka dulu telah membuat posisi Monik di hidupnya berarti.
Apalagi selama ini mereka selalu bersama, sedikit banyak kesuksesan dia sekarang juga berasal dari Monik. Wanita itu cukup jeli dengan bahan-bahan kain gaun dan pakaian yang Amanda buat, untuk memuaskan pelanggannya.
"Gue pengen ngajakin Lo ke rumah baru gue, tapi kayaknya Lo nggak bisa dateng." Amanda melepaskan pelukan mereka.
"Rumah baru? Lo udah punya rumah sekarang?"
"Iya, Richard yang beli."
"Wah ... gue ikut seneng buat elo, Manda. Selamat yah, gue pengen banget pergi. Tapi kayaknya dokter gue nggak bakal izinin deh," sahut Monik memelas.
"Nggak pa-pa, nanti kalo Lo udah sembuh. Lo bebas Dateng kapan aja ke rumah gue. Siapa tau pas gue lahiran nanti Lo bisa Dateng."
Monik tersentak. "Lahiran?" Amanda mengangguk.
"Maksud Lo, Lo hamil sekarang?"
"Iya, gue lagi hamil. Gue baru tahu juga kemarin."
"Astaga ... selamat, Manda. Akhirnya burung Richard ada gunanya juga, yah...."
Amanda sontak tertawa mendengarkan ucapan Monik.
"Beneran deh, gue pikir dia cuma tau matuk doang." sambung Monik ikut tertawa bersama Amanda.
"Gimana gue nggak hamil, burungnya aja matuk saban hari."
Tawa kebahagiaan terdengar memenuhi ruang kerja Amanda. Melihat rekan kerjanya yang kini terlihat lebih ceria di sampingnya membuat Amanda tenang.
Semoga kebahagiaan ini akan terus ada menemani keduanya, harap Amanda dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Dari sini kita belajar,, kalau pertemanan yang tulus itu menerima kita di saat susah dan senang ... ☺️