
"Mom...?"
"Apa?"
"Aku boleh ngomong nggak?" tanya Richard mendekati ibunya yang sedang sibuk di dapur.
Pagi-pagi sekali Tari sudah datang kerumah mereka untuk menyiapkan sarapan pagi dia bersama anak dan menantunya.
"Mo ngomong apa?"
"Sini dulu," ajak Richard menghentikan kegiatan masak memasak Tari.
"Apa, sih? Kayaknya penting banget." Tari mengikuti anak laki-lakinya yang membawa dia duduk di depan meja makan.
"Aku mau nanya, kemarin Mommy marahin Mawar di depan Amanda, yah?"
Tari mengernyit. "Kenapa emang?"
"Kemarin Amanda nanya sama aku kalo Mommy marah sama Mawar apa enggak."
"Trus kamu bilang apa?"
"Ya aku jawab aja nggak tahu. Lagian Mommy kenapa harus marah sama Mawar, sih? Dia, kan nggak salah apa-apa disini, Mom. Amanda jadi nggak enak dan kepikiran terus masalah ini semalam," sahut Richard sengaja mendramatisir keadaan.
Dia yakin kalau wanita paruh baya yang selalu tampil modis itu akan ikut sedih jika mendengar menantu kesayangannya tidak tidur nyenyak karena hal tersebut.
"Astaga menantu Mommy ... Amanda nggak tidur semalem?" Richard mengangguk.
"Aduh, Mommy lupa, Chad. Harusnya Mommy nggak marah-marah sama Mawar di depan menantu Mommy...," sambung Tari was was.
"Bukan itu masalahnya, Mom. Tapi kenapa Mommy masih marah sama Mawar, itu yang jadi masalahnya. Amanda, kan udah sadar sekarang. Ngapain juga Mommy masih marah sama dia? Aku ngerti kalo Mommy nyalahin Mawar karena kecelakaan tempo hari, tapi Mawar nggak salah, Mom. Dia juga nggak mau kejadian ini menimpa mereka, Mawar juga, kan ikut terluka waktu itu." Richard menatap dalam Tari yang terdiam, duduk di depannya.
"Come on, Mom. Jangan buang-buang energi Mommy, marah sama orang yang sebenernya nggak salah apa-apa. Mommy tahu hal itu, tapi mommy bersikap seakan-akan nggak tau!" sambung Richard masih menatap ibunya.
Tari terlihat membuang nafas panjang, merasa apa yang dikatakan oleh anak bungsunya benar.
Dia memang butuh pengalihan untuk menuangkan rasa sakit dihatinya karena hampir kehilangan Amanda waktu lalu. Dan Mawar adalah orang yang paling tepat untuk Tari salahkan karena sudah membuat menantunya terluka sampai koma beberapa Minggu, dan harus kehilangan cucunya.
Bagi wanita paruh baya itu, menyalahkan Mawar bisa membuat hatinya sedikit tenang memikirkan bagaimana kelanjutan hidup anaknya jika benar Amanda tidak bangun dari koma.
Seorang ibu kadang tidak bisa berpikir sehat jika mengenai kebahagiaan dan keselamatan anak-anaknya, dan itu mungkin yang dirasakan Tari saat ini. Dia hanya ingin menjadi kuat, demi melindungi anak dan menantunya.
__ADS_1
Tari memang tidak pernah menunjukkan kesedihannya di depan semua orang saat Amanda koma. Namun begitu dia sendiri, Tari akan menangis sedih dengan hati yang sangat terpukul.
Dia terus berdoa agar Amanda bisa bangun, dan anaknya Richard bisa kembali bersinar seperti dulu.
"Mom...." Richard meraih tangan halus ibu yang melahirkannya.
"Semua udah lewat, kita udah sama-sama lewatin semuanya dengan baik. Amanda udah kembali, Tuhan udah denger semua doa-doa Mommy. Sekarang waktunya Mommy memaafkan orang yang Mommy anggap salah tapi sebenernya enggak. Ini waktunya kita natap masa depan dan jalanin semuanya kayak dulu. Aku tahu Mommy pasti lebih ngerti dibanding aku gimana kita lalui kehidupan kita selanjutnya," sambung Richard bijak.
Dia hanya ingin ibunya menjalani hari dengan baik kedepannya tanpa ada rasa marah ataupun dendam dihati.
Richard sudah menerima semua yang sudah terjadi dalam hidup dia dan Amanda. Richard tidak mau lagi istrinya terus mengingat kejadian menyakitkan ini terus menerus.
"Kamu udah lebih dewasa sekarang, Chad. Mommy seneng liat kamu berubah lebih baik abis nikah." puji Tari mengusap punggung tangan anaknya.
"Ujian kemarin bikin aku lebih kuat, Mom. Aku kuat karena doa dan dukungan Mommy juga. Aku pengen lebih kuat demi istri aku. Kalo aku lemah sedikit aja, istri aku pasti nggak akan bisa kuat sampe sekarang."
"Iya, kamu bener, Chad. Udah tugas kamu emang buat bikin menantu Mommy bahagia selalu. Makasih udah ingetin Mommy sama semua kesalahan Mommy."
...*****************************...
"Kamu dari mana aja, Chad?" Amanda duduk bersandar di headboard ranjang menunggu suaminya sejak tadi.
"Aku dari dapur, By." Richard ikut naik ke atas ranjang, berdempet dengan Amanda.
"Kenapa? Kangen, yah?" goda Richard mencolek pipi istrinya.
"Ish, tadi katanya mau pijitin kaki aku? Dari tadi aku nungguin tahu...."
"Oh iya, aku lupa, By. Sini, aku pijitin dulu." Richard bangkit, pindah ke bawah dekat dengan kaki putih mulus Amanda.
"Enak nggak?"
"Iya, jangan terlalu diteken keras, Chad. Makin sakit yang ada...."
"Ok Tuan Putri," kekeh Richard memijit lembut kaki dan paha Amanda.
Tangan pria blasteran itu perlahan mulai tidak bisa dikondisikan. Amanda yang memejamkan mata masih bersandar di headboard ranjang, berjengkit kaget saat jari tangan Richard mengusap tubuh intinya dengan sengaja.
"Chad...!"
"Apa?"
__ADS_1
"Jari kamu!" keluh Amanda geli.
"Kenapa sama jari aku? Jari aku baik-baik aja, kok."
"Ish geli, Chad!" keluh Amanda lagi.
Jari-jari besar itu sedang bermain-main dibibir bawahnya menyentuh itu dengan lembut.
"Bukannya kamu suka yang geli-geli yah, By?" goda Richard lagi sudah menarik penutup tubuh inti wanitanya.
"Astaga, Chad. Kamu apa-apaan, sih? Aku, tuh nyuruh kamu mijit ... bukan yang lain!" Amanda menutup kedua kakinya sebelum pria itu bertingkah gila lagi.
"Ini juga, kan mijit, By. Mijit enak namanya...." Richard membuka paksa kaki Amanda dan merebahkan dirinya di bawah sana dengan nyaman.
"Chad, Mommy lagi dirumah."
"Dia lagi masak, tenang aja. Aku mau makan ini dulu baru makan yang lain."
"Tapi, Chad ahh...." Amanda tidak sempat meneruskan ucapannya saat lidah panjang Richard menyentuh tubuh intinya.
Pria itu tidak mempedulikan istrinya yang meminta berhenti karena takut dipergoki lagi oleh Tari. Apalagi mengingat pintu yang mungkin tidak dikunci oleh Richard, makin membuat Amanda khawatir.
Bagaimana jika ibu mertuanya tiba-tiba masuk dan melihat kelakuan anak laki-lakinya yang sedang melakukan kegiatan kesukaannya di bawah sana? Amanda tidak bisa membayangkan akan semalu apa dirinya jika sampai itu terjadi.
"Ch-chad, udah...." keluh Amanda setengah mendesahh.
Richard terus menjelajah, memainkan lidah bergantian dengan bibir tipisnya menerobos rongga kelembutan Amanda. Dengan tubuh yang melengkung dan nafas yang menderu, Amanda merasa dirinya baru saja mendapatkan pelepasannya yang langsung disesapp habis oleh Richard.
"Makasih sarapannya, By...." ujar pria itu puas, menarik diri dari sana.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Mau siapa aja yang ada dirumah, kalo butuh tetep aja diembat yah, Chad? 🤭🤣