Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Mimpi


__ADS_3

Memakai baju steril dengan penutup kepala dan masker medis, Richard masuk ke dalam ruang ICU di mana Amanda dirawat.


Wanita yang terbujur lemah di atas ranjang rumah sakit dengan selang di dalam mulutnya dan beberapa kabel di dada, terlihat begitu memilukan dimata Richard.


Hatinya sakit melihat keadaan istri yang dia cinta. Pria itu tidak bisa menahan air mata kesedihannya dan terduduk di samping ranjang.


Untuk berbicara saja Richard tidak mampu, pria itu hanya menangis sambil menggenggam tangan dingin Amanda.


Memori kebersamaan mereka terus berputar dipikiran Richard bak kaset rusak. Senyum, tawa, desahann, canda, dan manjanya Amanda kini berganti dengan kebisuan dan wajah pucatnya.


Jika mengingat bagaimana wanitanya terus bersikap aneh dan kadang menjengkelkan, Richard makin sedih dan terpukul. Ternyata benar kalau Amanda tengah mengandung buah cinta mereka.


Jika saja dia bisa lebih peka, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Richard menyalahkan dirinya karena tidak bisa melindungi wanita berharga di hidupnya. Di balik masker yang dia pakai, Richard menangis dengan suara lirih yang tertahan.


"Makan dulu, Chad." Tari menyodorkan sekotak makanan yang dia beli dari restoran kesukaan anaknya.


"Aku nggak laper, Mom," tolak Richard.


"Jangan gitu, kata Donal kamu belum makan sejak di pesawat. Kamu harus jaga kondisi kamu, Nak. Amanda butuh kamu, kalo kamu sakit nanti siapa yang bakal temenin istri kamu?"


"Iya, Mom. Tapi aku beneran lagi gak laper, nanti kalo aku laper aku pasti makan, Mom.


Tari membuang nafas panjang, menarik kembali kotak makanan yang dia pegang di depan Richard.


"Mawar keadaannya gimana, Mom?" tanya Richard belum sempat melihat wanita itu.


"Dia udah dipindahin ke ruang perawatan, keluarganya juga udah dateng. Kata dokter dia hanya geger otak ringan."


"Syukurlah kalo dia nggak kenapa-napa," sahut Richard lega.


"Mommy sama daddy, pulang aja. Biar aku yang jagain Amanda disini," sambung pria blasteran itu menatap bergantian orang tuanya.


"Mommy bakal disini, nanti biar Daddy aja yang pulang." sahut Tari memberi kode pada suaminya Tommy.


"Nggak usah, Mom. Aku nggak mau Mommy juga ikutan sakit, kalian bisa dateng lagi besok."


"Tapi, Chad-"


"Iya, bener kata Richard, Mom," potong Tommy cepat. "Lebih baik kita pulang aja. Lagipula ruangan ini mana cukup menampung Mommy juga."


Tari berdecak menatap malas suaminya. Dia pikir pria dengan rambut yang mulai memutih itu akan mendukungnya tinggal disini menemani Richard.


"Iya, mending Mommy pulang. Istirahat di rumah, nanti besok pagi kesini lagi."


Tidak bisa membantah, Tari hanya bisa mengangguk lemah. "Mommy taruh makanannya disini, yah? Kata mama mertua kamu, besok dia akan kesini gantian jagain Amanda. Kamu bisa pulang kerumah dulu buat ganti baju dan mandi."

__ADS_1


"Nggak usah, aku udah minta Donal bawain baju-baju aku kesini. Aku nggak akan kemana-mana sebelum Amanda sadar, Mom."


"Trus gimana sama perusahaan, Chad?" tanya Tari.


"Biar Daddy aja yang urus sementara. Pokoknya aku bakal tetep disini temenin istri aku," sahut Richard menatap Tommy, didepannya.


"Yaudah kalo kamu maunya begitu, biar Daddy yang urus perusahaan dulu sementara waktu!" sahut Tommy mengalah.


Dia tahu kalau anak laki-lakinya ini tidak akan bisa fokus bekerja, sekalipun dia memaksa Richard tetap harus ke kantor.


"Makasih, Dad...," sahut Richard tulus.


"Yaudah, besok pagi Mommy kesini lagi, yah? Kamu langsung istirahat, Mommy tahu kamu pasti capek banget."


Richard mengangguk mengantar orang tuanya ke depan pintu ruang perawatan VVIP yang mereka sewa untuk Amanda nanti.


Memberikan ucapan selamat malam sebelum pintu di tutup, Richard masuk kembali ke ruangan itu dengan langkah kaki yang gontai.


Perasaan dan hatinya terasa kosong saat ini. Biasanya dia dan Amanda akan saling menelepon sampai tertidur, ataupun berpelukan di atas ranjang seperti dulu. Tapi malam ini, dekapan hangat dan suara lembut Amanda tidak lagi Richard rasakan. Pria itu memutuskan tidur di atas sofa, menangis hingga tertidur di sana.


"Chad, bangun...."


Pria itu mengerjapkan matanya berulang kali melihat sosok wanita berambut panjang tengah tersenyum manis menatapnya.


"Kok tidur disini?" tanyanya mengusap wajah Richard lembut.


"Jangan tidur disini, nanti leher kamu keseleo Sayang."


"Beby, ini bener kamu?" Richard bangkit memeluk tubuh wanitanya penuh kerinduan.


"Iya, ini aku Sayang...." sahut Amanda mengusap punggung suaminya.


"Aku nggak lagi mimpi, kan?"


"Kamu harus kuat yah, Chad. Jaga diri kamu baik-baik, aku belum bisa urus kamu lagi sekarang."


"Jangan ngomong gitu, By. Aku tau kamu bakal sembuh dan balik lagi sama aku!"


"Doain aku yah, Sayang. Doain aku terus, jaga diri kamu...."


"Nggak, kamu nggak boleh kemana-mana, Beby....!" Richard berteriak dalam mimpinya dan terbangun saat Donal membangunkan pria itu.


"Chad, Chad ... bangun!" Donal menggoyangkan tubuh Richard hingga dia tersentak kaget, bangun dari mimpinya.


Nafas Richard tersengal dengan sudut mata yang berair, buru-buru dia bangkit dan duduk di atas kursi sofa. Ternyata dia hanya bermimpi.

__ADS_1


"Lo nggak pa-pa, Chad?" tanya Donal khawatir. Pria berkulit sawo matang itu menepuk-nepuk pundak sahabat, sekaligus atasannya.


Richard menggeleng, seketika tersadar. Dia berlari keluar ruangan, menuju ruang ICU di mana istrinya dirawat.


"Chad, Lo mau kemana?!" pekik Donal mengikuti pria itu dari belakang.


Sesampainya di depan pintu ruang ICU, Richard kaget mendapati banyaknya perawat yang keluar masuk ruangan itu dengan terburu-buru.


"Apa yang terjadi, Sus?" tanya Richard menahan satu orang perawat wanita.


"Kondisi pasien tiba-tiba menurun, Pak. Dokter sedang memeriksa keadaan pasien di dalam." Perawat itu berlalu meninggalkan Richard yang semakin terkejut, dan sontak terduduk di lantai.


"Chad!" Donal mendekati sahabatnya yang terlihat sangat terpukul mendengar perkataan perawat barusan.


"Manda, Nal. Istri gue, Nal...." sahut Richard dengan tubuh bergetar hebat.


"Iya, Lo tenang dulu. Kita tunggu sampe dokter selesai periksa kondisi Amanda." Donal memegang bahu Richard kuat.


"Gue mimpiin dia tadi, Nal. Amanda mau pergi ninggalin gue, dia bilang dia mau pergi, Nal...." Richard menangis dalam posisi terduduk di lantai rumah sakit.


Melihat perawat yang keluar masuk ruangan ICU membuat pria itu takut. Dia takut jika Amanda benar-benar meninggalkannya, Richard tidak akan sanggup jika separuh nafasnya itu akan pergi meninggalkan dia sendirian di dunia ini.


"Tenang, Chad. Lo harus kuat, yakin kalo Amanda nggak bakal kenapa-napa. Dia wanita yang kuat!" Donal berusaha menenangkan sahabatnya.


Hatinya ikut sedih melihat Richard saat ini, pria itu tidak pernah menunjukkan kesedihannya selama ini pada orang lain.


Meski dulu Tommy pernah melarangnya melukis, tapi Richard tidak sekalipun menunjukkan rasa sakit hati dan sedihnya pada dia dan Mike. Donal tahu kalau Richard benar-benar sedih, dan mungkin tidak akan mampu jika Amanda benar meninggalkannya.


.


.


.


.


.


.


Hai,,


Beberapa hari ini author sengaja gak ninggalin pesan apa-apa dibawah...


Dari awal author mikirin ide cerita ini,, alurnya memang akan seperti ini...

__ADS_1


Jadi,, mohon bersabar yah guys...


Ini hanya ujian untuk pasangan Richard dan Amanda...


__ADS_2