
"Selamat siang Pak Donal."
"Siang, gimana? Udah ada berita belum?"
"Sudah, Pak. Saya akan kirimkan lokasi terakhirnya ke nomor ponsel Bapak."
"Baik." Panggilan itu berakhir saat seorang pria di ujung sana mematikan sambungannya lebih dulu.
Tidak lama bunyi pesan masuk dari pria tadi masuk ke ponsel bermerek buah milik Donal. Terlihat di sana lokasi seseorang lengkap dengan foto wajahnya.
"Akhirnya gue berhasil nemuin elo, Cel." Donal tersenyum bahagia sembari mengingat percakapannya kemarin dengan detektif yang dia sewa untuk mencari keberadaan wanitanya.
Saat ini dia tengah bersiap menuju bandara untuk pergi menjemput pujaan hatinya yang pergi menghilang begitu saja darinya. Donal makin tidak sabar bertemu dan melepas rindu dengan Celin.
"Mau kemana kamu?!"
"I-ibu?" kaget Donal baru saja membuka pintu apartemennya.
"Kenapa? Kaget?" Dena mendorong anak laki-lakinya dan masuk ke dalam.
"Mau ke mana kamu? Mau lari lagi dari Ibu sama ayah?!"
"Lari gimana, sih maksud Ibu? Aku lagi ada tugas luar kota, Bu. Ini baru mau pergi," sahut Donal beralasan.
"Halah ... alesan aja kamu! Mana cewek yang mau kamu kenalin sama Ibu? Udah berapa hari kamu sampe di Jakarta tapi nggak pernah dateng di rumah bawa pacar kamu!"
Donal terpaksa masuk kembali ke dalam apartemen mendekati Dena, ibunya. "Iya, sabar, Bu. Tunggu nanti aku balik, aku beneran bawa dia ketemu Ibu sama ayah."
"Nggak, ibu udah nggak percaya lagi sama kamu, Nal! Kemarin kamu janji sama Ibu mau bawa dia ke rumah pulang dari Kalimantan, kan? Pokoknya sekarang kamu jemput cewek kamu, trus bawa dia kesini! Ibu nggak mau tau!" sahut Dena bersikeras.
Astaga ... ini kok jadi runyam begini, sih? Gerutu Donal memutar otak.
"Yaudah, kalo gitu aku jemput dia dulu, Bu."
"Eh, mau kemana kamu?!" tahan Dena melihat anaknya sudah mau beranjak dari sana.
"Lah, tadi katanya suruh bawa dia kesini, Bu? Ini aku mau pergi jemput dia," bohong Donal.
Dena memicingkan mata, menatap menyelidik anak laki-lakinya itu. "Bener kamu mau jemput dia?"
"Iya, Bu."
"Nggak boongin ibu lagi?!"
__ADS_1
"Enggak, Bu. Nggak percayaan amat, sih sama anak sendiri...." sahut Donal dengan wajah penuh keyakinan.
"Yaudah, sana pergi jemput dia! Jangan lama-lama, ibu tunggu di rumah sama ayah!"
"Iya, iya...." sahut Donal tersenyum menang.
Dena mengernyit melihat anaknya malah menarik koper dari pintu depan apartemen. "Trus ini ngapain kamu bawa koper segala?"
"Eh, mau disimpen lagi, Bu. Masa kopernya aku biarin di luar, sih." Donal menggerutu lagi tidak jadi membawa kopernya.
"Awas kalo kamu berani bohongin Ibu lagi, ibu garis kamu dari daftar ahli waris!" ancam Dena berjalan lebih dulu di depan Donal.
Pria itu hanya bisa pasrah mengikuti ibunya dari belakang. Tak apalah dia tidak membawa baju sama sekali, yang paling penting Donal bisa secepatnya keluar dari apartemen dan pergi ke bandara. Pesawatnya akan berangkat setengah jam lagi.
"Jangan lama-lama, Nal!" pekik Dena sebelum Donal pergi dengan mobilnya.
"Iya, Bu. Gue juga nggak mau lama di sana, doain aja biar Celin mau pulang kesini bareng gue...." Donal tancap gas menuju bandara sambil memperhatikan mobil ibunya yang pergi ke arah berlawanan.
Perjalan menuju Paris menghabiskan waktu selama tujuh belas jam lamanya. Donal tidak bisa berganti baju karena tidak membawa baju ganti sama sekali.
Untung saja dia masih sempat membawa dompet dan paspornya tadi, jika tidak ... entah apa yang akan terjadi padanya di negara orang tersebut.
Pembicaraan Bahasa Indonesia dirubah ke Bahasa Inggris
"Tolong ke alamat ini." Donal menunjukkan sebuah alamat yang dikirim detektif dari ponselnya.
"Baik, Pak." Mobil pun melaju ke alamat yang diberikan Donal.
Pria itu makin gugup dengan jantung yang berdetak hebat, sebentar lagi dia akan menemui Celin dikota ini.
Donal bisa merasakan kalau tangannya sudah dingin sekarang. Entah karena cuaca Paris yang sedang musim dingin, atau karena dia yang memang sedang gugup luar biasa saat ini.
Sesekali pria berkulit sawo matang itu membuka layar ponselnya, menatap foto terakhir yang dikirimkan detektif padanya. Donal tersenyum-senyum sendiri dengan hati yang tidak sabar.
"Kita sudah sampai, Pak." Supir menunjuk alamat yang dituju Donal, berada di sebelah kanan mereka.
"Ini rumahnya?" tanya Donal memperhatikan sebuah rumah sederhana di depannya.
"Iya, Pak. Itu alamat rumahnya." Donal mengangguk dan turun dari dalam mobil taxi.
"Terima kasih, Pak." ujarnya memberi uang pada supir taxi tersebut.
Pembicaraan Bahasa Indonesia dirubah ke Bahasa Inggris selesai
__ADS_1
Berdiri di depan rumah yang terlihat sepi, Donal maju mendekati tombol bel dan menekannya sampai beberapa kali. Tidak ada satu orangpun yang keluar dari dalam sana.
"Apa lagi nggak ada orang di rumah, yah?" Donal mengusap-usap lengannya yang mulai kedinginan.
Pria itu tidak membawa mantel dan hanya memakai kaus tangan panjang tipis. Gimana ini? Masa gue musti diem disini sampe Celin pulang, sih? Mana dingin banget lagi.
Donal mencoba mencari ke sekitarnya, berharap ada orang di sana. Tapi nihil, tidak ada siapapun di sana.
Jam memang sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan cuaca sudah semakin dingin. Orang-orang pasti sudah tidur atau sedang berada di dalam rumah untuk menghangatkan diri mereka, pikir Donal.
Gue tunggu Celin disini aja kali, yah? Donal memilih duduk bersandar di depan rumah wanita itu, sambil membayangkan wajah cantik Celin.
Rasa rindu yang teramat dalam masih harus Donal tahan karena Celin yang mungkin masih belum pulang. Donal dibuat bertanya-tanya ada di mana wanita itu sekarang.
Apa mungkin Celin sudah punya kekasih hingga belum juga pulang di saat waktu sudah hampir menunjukkan pukul tengah malam?
Donal buru-buru menepis pikiran menyebalkan itu, kalaupun dia sudah punya pacar atau siapapun juga. Celin adalah miliknya, tidak ada yang boleh memiliki wanita itu selain dirinya.
Angin dingin yang tiba-tiba berhembus membuat tubuh Donal sontak menggigil kedinginan.
Sudah satu jam lebih menunggu di sana dan tidak ada tanda-tanda Celin akan pulang. Donal merasa penantiannya mungkin saja sia-sia, apalagi dia sudah sangat kedinginan sekarang. Bajunya bahkan sudah basah terkena percikan salju yang turun cukup deras setelah angin dingin yang berhembus tadi.
Pria itu akhirnya tertidur tidak sadarkan diri, hingga seorang wanita memakai pakaian tebal, muncul di depan Donal.
.
.
.
.
.
.
.
.
Siapa, yah kira-kira 🤔
Next part, ok 🤭😁
__ADS_1