Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Pake Sabun Dulu


__ADS_3

"Nis, Manis...!" Mike berteriak memanggil nama wanita itu sejak tadi.


Dari lantai dua rumahnya, Mike dibuat kesal karena Manis tidak juga kunjung naik ke atas sana.


"Kemana sih, dia?!" Mike terpaksa turun ke lantai bawah, menuju dapur.


"Gak ada, pergi kemana sih dia?!" Memutari hampir seluruh ruangan dalam rumah, Mike tidak juga melihat batang hidung wanita itu.


"Apa dia lagi di kamar?" Mike memutuskan pergi ke kamar pribadi Manis dalam rumah ini, dan membuka pintu yang ternyata tidak di kunci.


Bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi terdengar di telinga Mike saat dia melangkahkan kaki masuk ke dalam.


"Lagi mandi? Pantesan aja gue manggil-manggil dari tadi gak nyahut-nyahut!"


Mike memilih menunggu wanita itu keluar dari sana dan duduk di tepi ranjang Manis. Wangi aroma sabun seketika menyeruak masuk ke indera penciumannya ketika pintu kamar mandi terbuka.


"Aaaa...!" Manis kaget, berteriak melihat Mike ada di kamarnya.


"Apa sih teriak-teriak begitu, Nis?!"


Manis berbalik bersembunyi di belakang pintu kamar mandi. "Kamu ngapain di kamar aku?"


"Nyari nyamuk."


"Apa? Nyari nyamuk?"


"Iya, nyamuknya elo!" kekeh Mike naik ke atas ranjang dan duduk bersandar.


"Ngapain Lo sembunyi di sana? Keluar aja kalo mau ganti baju," sambung pria berhidung mancung itu santai.


"Ish, kamu keluar dulu Mike. Lagian ini, kan kamar cewek. Ngapain juga kamu disini?!" usir Manis.


"Emang ada tulisannya disini kamar cewek? Nggak ada, kan? Udah deh, keluar aja kalo mau keluar. Gue juga gak bakal liat kok," sahut Mike beralasan.


"Bener yah, kamu nggak bakal liat? Tutup mata dulu."


"Iya, gue tutup mata. Sana cepet ganti baju, gue udah telat ini ada pemotretan."


Manis berdecak dan buru-buru keluar dari kamar mandi saat Mike memejamkan mata. Sedikit berlari menuju lemari untuk mengambil pakaiannya, handuk yang dipakai Manis hampir saja jatuh.


Mike tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan memandang tubuh putih mulus Manis dengan handuk yang hanya menutupi sampai pada batas bokoongnya.


Jika Manis berjongkok, bisa dipastikan kalau bokoong tipis namun mulus itu akan langsung terlihat.


Astaga ... kenapa dia bisa seksi begitu, sih? Mike menelan salivanya dalam-dalam tidak berkedip menatap pemandangan indah di depan sana.


Karena gugup, Manis sampai menjatuhkan semua bajunya dari dalam lemari dengan pakaian dalamnya yang lebih dulu jatuh ke lantai.


"Merah muda, Nis!" pekik Mike tanpa sadar.

__ADS_1


"Mike...! Kamu buka mata, yah?!"


"Eh, enggak kok. Gue cuma lagi keinget kaos yang bakal gue pake nanti siang," sahut Mike gelagapan.


"Jangan boong! Awas kalo kamu buka mata, aku congkel biji kamu!" ancam Manis mengambil pakaian dalam berwarna merah mudanya yang jatuh di atas lantai.


Mike sontak membuka matanya lebar-lebar melihat Manis berjongkok di depannya. Astaga ... yang ada biji gue mati bediri liat ini!


Wanita itu berlari masuk kembali ke dalam kamar mandi meninggalkan Mike yang gila sendiri di atas ranjangnya.


Aduh, harusnya gue nggak masuk ke sini! Mike buru-buru berdiri keluar kamar Manis, dan masuk ke dalam kamar mandi di dalam kamarnya.


Sudah beribu purnama semenjak Manis tinggal bersamanya, Mike tidak pernah lagi memanjakan keperkasaannya.


Jadi saat melihat pemandangan seperti tadi, Mike langsung senewenn dan butuh pelepasan saat ini juga.


Maaf yah, biji ... kali ini pake sabun dulu. Mike menatap nelangsa benda tegak berdiri di bawah sana, dan mulai bermain sendiri.


"Mike mana, sih?!" Hampir satu jam menunggu di dapur, pria blasteran itu tidak kunjung keluar dari kamarnya.


Manis duduk dengan gelisah sambil melihat jam di tangannya. Katanya tadi udah telat mau pemotretan, ini kok malah dia yang lama-lama di atas?!


Kesal, Manis kembali naik ke lantai dua mengetuk pintu kamar Mike dengan kuat.


"Mike, kamu ngapain, sih di dalem?! Udah telat loh ini!"


Mike keluar dengan wajah tidak bersemangat. "Apa sih, berisik amat!"


Mike mendorong kepala Manis hingga wanita itu kembali mundur. "Nggak usah di liatin, nggak ada apa-apa juga di dalem. Udah sana, tunggu gue di bawah, gue ambil dompet dulu!"


Karena Manis yang sejak tadi tidak berhenti mengganggunya, Mike tidak bisa melepaskan hasrat yang menggebu di dirinya. Hampir saja dia menarik Manis masuk ke kamarnya.


Jika tidak mengingat wanita itu yang masih polos, mungkin sekarang tubuh mereka yang sudah sama-sama polos di atas ranjang, pikir Mike.


"Nanti Lo siapin baju gue yah, Nis. Gue nggak mau baju gue di pegang-pegang orang!" ujar Mike setelah mereka meluncur menuju tempat pemotretan.


"Iya, di mana bajunya?"


"Ada di koper, Parto udah siapin semuanya semalem."


"Emang, Pak Parto nggak dateng?"


Mike menggeleng. "Dia lagi izin, katanya anaknya sakit."


Manis mengangguk mengerti. Mereka tiba di sebuah gedung yang di dalamnya ternyata sudah penuh dengan beberapa model papan atas tanah air.


Manis dibuat kesana kemari oleh Mike, pria itu ternyata lebih rewel dari bayi pikirnya. Mike sangat perfeksionis dan terkesan banyak menuntut.


Jika dia tidak mau, tidak ada yang bisa memaksanya. Mungkin begitu kalau sudah jadi model ternama, pikir Manis.

__ADS_1


"Eh, dia, kan anaknya model senior Engelin itu, yah?" bisik salah seorang model di dekat Manis.


"Iya, gue denger juga begitu. Enak banget yah, dia. Kayak di perlakuin istimewa," sahut seorang yang lain.


"Iya bener, bisa aja dia jadi terkenal karena nama ibunya. Kalo gue liat, yah ... dia biasa aja. Malah terkesan banyak maunya! Mukanya aja pas-pasan tapi betingkah kayak raja disini! Heran gue."


Tidak terima dengan ucapan keduanya yang bisik-bisik tetangga di dekatnya, Manis maju melemparkan baju yang dia pegang ke arah dua model wanita itu.


"Eh, mba. Ngomong jangan asal nyeblak aja tuh mulut! Emang mba berdua udah jago sampe di mana sih? Masih mending Mike daripada kalian berdua, tiap foto nggak ada bagus-bagusnya malah diminta ulang terus sama, Pak Fotografer. Kalo masih belajar, mending jangan nyindir orang lain. Malu sama diri embak berdua sendiri! Muka cantik tapi kelakuan kayak kunti, heran aku...!" Manis membalas ucapan salah seorang model wanita tadi, dan berlalu meninggalkan dua orang itu yang sontak ternganga di depannya.


Dia ikut kesal mendengar ejekan mereka pada Mike, kalo tidak mengingat mereka sedang ada di mana. Mungkin Manis sudah menyiram dua orang itu dengan air mineral yang dia bawa di tangan.


"Kenapa sih, Lo?" tanya Mike yang ternyata melihat keributan tadi.


"Nggak pa-pa, lagi ajarin dua kunti yang gak pernah sekolah!"


Mike tertawa geli mendengar jawaban Manis. "Nggak usah di dengerin, mereka emang sering begitu. Apalagi yang gak biasa kerja bareng gue."


"Emang ibu kamu model juga dulunya?" tanya Manis ikut penasaran dengan kehidupan Mike.


"Iya, dia dulunya model terkenal sebelum nikah sama bokap. Makin terkenal lagi setelah nikah dan punya gue," sahut Mike bangga dengan ibunya.


"Hebat, ternyata talentanya menurun ke kamu, yah Mike...," puji Manis.


"Iya, tapi sayangnya bokap gue nggak setuju gue jadi model. Dia bilang anak lakik gak pantes senyum-senyum depan kamera, dari dulu dia selalu nentang gue ikut pemotretan. Sampe nyokap gue meninggal, pun dia tetap bersikukuh gue nggak boleh jadi model!"


Raut wajah Mike terlihat sendu, dia jadi ingat ibunya sekarang. Kehilangan wanita yang melahirkannya saat dia berumur tiga belas tahun, telah membawa dampak yang sangat besar di hidupnya.


Ditambah lagi dengan Moses, ayahnya yang menikah lagi. Makin membuat hidup Mike berantakan.


Sampai sekarang Mike masih terus menyalahkan Linda ibu tirinya, karena sudah merebut kebahagiaan keluarga mereka.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Part Mike akan lanjut lagi yah guys ... 🥰


__ADS_2