
"Nal! Lo kenapa, sih?" tanya Richard mendorong bahu sahabatnya.
"Apa?" sahut Donal kaget.
Pria itu sedang duduk melamun di depan Richard yang sejak tadi membahas pekerjaan mereka selama beberapa hari ini di Kalimantan.
"Astaga ... Lo nggak denger daritadi omongan gue, yah?!"
Donal menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum menyengir. "Sorry, sorry ... pikiran gue lagi gak bisa di ajak kerja sama ini."
Richard berdecak melempar kertas yang dia remas menjadi bulat ke arah Donal. "Taii! Mikirin apaan sih, Lo?! Mulut gue udah sampe berbusa, Lo malah nggak denger!"
"Iya, iya ... sorry. Gue udah minta maaf kali, Chad."
"Mikirin apaan sih, Lo? Gue perhatiin dari kita dateng kesini, Lo kayak orang stress tau nggak. Makin banyak ngelamun, trus kadang nggak nyambung kalo lagi ngomong!" sahut Richard menatap menyelidik sahabatnya.
Donal menghembuskan nafas panjang, tidak tahu harus mulai darimana berbicara dengan Richard.
Jika tidak mengingat pekerjaan mereka yang mengharuskan Donal datang kesini, mungkin dia sudah pergi mencari Celin sekarang.
"Ditanya malah diem lagi nih, orang!" kesal Richard kembali melempar bola kertas ke arah Donal.
"Iya, gue emang lagi banyak pikiran sekarang, Chad."
Richard diam, menunggu pria di depannya kembali bersuara.
"Trus apa?" tanyanya tidak sabar.
"Celin ninggalin gue...."
"Apa? Beneran?" tanya Richard tidak percaya.
"Iya, dia resign satu hari sebelum kita kemari."
Richard sontak tertawa terbahak menatap wajah nelangsa Donal. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa geli sekaligus kasihan melihat sahabatnya di tinggal pergi oleh wanita.
Punya track record sama sebagai pria pemain, ternyata bisa membuat Donal sakit hati dan uring-uringan seperti ini, pikirnya.
"Ngapain Lo ketawain gue?!" kesal Donal bersedekap dada.
"Jadi selama ini Lo galau karena itu? Gue nggak nyangka ternyata si Donal yang katanya pemain handal bisa juga sedih karena cewek!" sahut Richard masih tertawa geli.
Donal berdecak, malas menanggapi ucapan sahabatnya. Ini alasannya kenapa dia tidak mau menceritakan masalahnya dengan Celin pada Richard.
Pria itu pasti akan terus menggodanya seperti sekarang. Bukannya menyemangati, Richard malah tertawa puas melihat dirinya yang sedang putus cinta.
"Udah puas Lo ketawain gue?!" sinis Donal.
"Sorry, sorry ... gue cuma geli aja liat Lo kayak gini, Nal. Sejak kapan Lo jadi galau gegara cewek. Dulu, kan elo yang selalu bilang pantang nangis buat cewek. Nah sekarang, Lo malah gundah gulana kek gini. Astaga ... Lo Donal bukan, sih?"
__ADS_1
"Terus aja terus, terus aja godain gue, Lo! Seneng banget emang kalo liat temen lagi patah hati!"
"Asik, bahasa Lo udah bahasa dewa yah, sekarang. Seneng gue, Lo kayaknya udah dapet pencerahan cinta dari dewi Celin deh...." kekeh Richard makin membuat Donal kesal.
"Serah, Lo! Nanti pulang dari Kalimantan, gue mau resign jadi sekretaris Lo!" sahut Donal to the point.
Padahal dia berpikir akan mengatakan ini setelah mereka pulang ke Jakarta nanti, tapi karena sudah kesal dengan perlakuan Richard padanya. Donal memutuskan mengatakan sekarang juga pada sahabatnya itu.
"Eh, apa?" Richard sontak terdiam, berhenti tertawa.
"Jangan macem-macem Lo, yah! Gue udah tampung Lo selama ini, trus Lo mau ninggalin gue gitu aja, Nal?! Nggak! Pokoknya nggak boleh!" sambung Richard menatap tajam pria berkulit sawo matang itu.
"Bodo! Masa depan hati gue lebih penting ketimbang rasa terima kasih gue buat elo!" sahut Donal merasa menang.
Biar saja nanti Richard kewalahan mencari penggantinya, pikirnya.
"Nggak boleh! Gue nggak izinin Lo keluar sebelum Lo cariin gue pengganti elo di kantor!" sahut Richard bersikukuh.
Donal mengernyit. "Kenapa harus gue yang nyari sih, Chad? Lo, kan bisa buka lowongan kerja buat posisi itu...."
"Nggak, pokoknya harus elo yang cari! Gue nggak mau tau! Kalo Lo masih tetep nggak mau, gaji bulan ini sama bonus punya elo, gue anggap angus!" ancam Richard tersenyum licik.
"Eh, kok gitu sih, Chad? Main nggak ngasih-ngasih aja nih orang."
"Bodo amat! Siapa suruh Lo main berhenti gitu aja kerja sama gue! Sekarang, urusan Lo buat cari pengganti elo di kantor!"
Tidak bisa membantah lagi, Donal akhirnya hanya bisa pasrah menerima perintah atasan sekaligus sahabatnya itu.
Kembali memeriksa laporan setelah perdebatannya dengan Donal, bunyi ponsel Richard berdering nyaring di samping pria itu.
Richard buru-buru mengangkat panggilan tersebut yang ternyata berasal dari Amanda istrinya.
"Iya Beby?"
"......"
"Iya, aku masih kerja. Bentar lagi, yah? Nanti aku telpon kalo udah selesai."
"......."
"Eh, bukan. Nggak gitu, By ... aku cuma—" Richard tidak sempat meneruskan ucapannya karena Amanda sudah lebih memutuskan panggilan itu.
Dia hanya bisa membuang nafas panjang sambil memperhatikan layar ponsel yang ikut meredup setelah panggilan mereka berakhir.
Donal menatap penuh tanda tanya pria di depannya yang mendadak muram. "Berantem lagi?"
Richard mengangguk lemah.
"Udah nikah bukannya makin mesra kok malah sering berantem sih, Chad?"
__ADS_1
"Nggak tau, gue juga bingung. Amanda sekarang jadi lebih sensitif, dikit-dikit marah, dikit-dikit nangis. Gue juga nggak ngerti kenapa dia bisa berubah kek gitu. Padahal dulu waktu masih pacaran nggak pernah kayak gini," sahut Richard meletakkan ponselnya kembali.
Donal membuang nafas panjang menggelengkan kepala, baru saja dia diledek oleh pria blasteran itu. Sekarang malah dia yang gundah gulana di depannya.
"Udah dari kapan Amanda begitu?" tanya Donal penasaran.
Richard tampak berpikir dan menjawab. "Kalo nggak salah dari pas kita pulang bulan madu deh."
"Lo yakin?" Richard mengangguk. "Apa Amanda lagi hamil?
Richard tersentak, kaget mendengar pertanyaan sahabatnya. "Hamil?"
"Iya. Biasanya ibu hamil, kan begitu. Suasana hatinya suka gak jelas."
"Masa sih?"
"Ish, masa Lo yang lakiknya gak tau sih? Emang selama ini Lo 'buang' dimana aja?"
"Ya di dalemlah, emang mau buang dimana lagi!" sahut Richard apa adanya.
"Nah makanya, udah hamil itu pasti bini Lo! Gue yakin seratus persen!"
Richard kembali diam, larut dengan pikirannya sendiri. Dia ingat setelah malam ucapan cinta Amanda untuknya di mobil waktu itu, dia tidak pernah lagi menggunakan pengaman setelahnya.
Amanda juga tidak pernah mengatakan kalau dia sedang datang bulan selama beberapa bulan ini. Astaga ... kenapa gue bisa gak kepikiran sih?
"Udah nggak usah galau, nanti Lo suruh Amanda periksa aja. Takutnya nanti dia beneran udah hamil tapi masih gak tau, kasian nanti kalo dia kecapean!" sahut Donal berusaha menenangkan hati sahabatnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Lakik sendiri gak peka, malah orang lain yang lebih peka...
Hadeh 😏