
"Mike, kamu serius kita mau nikah?" Manis masuk ke dalam kamar pria itu setelah Jessie pulang.
"Iya," sahut Mike singkat dari atas ranjang.
"Tapi Mike, nikah itu bukan buat main-main."
"Iya gue tahu. Trus masalahnya apa, sih, Nis?"
"Masalahnya, yah kamu! Kamu yang nggak serius! Nganggap nikah itu cuma buat pegang-pegang aku doang!"
"Astaga...." Kesal, Mike bangkit dari atas ranjang menarik Manis mendekat padanya.
"Satu hal yang perlu Lo tau, Nis. Gue ini bukan cowok baik, kalo gue mau ... udah lama gue 'main', nyari kesempatan sama Lo. Tapi gue nggak mau, Nis. Gue nggak mau jadi cowok brengsek yang mau pegang-pegang Lo doang, trus ninggalin Lo gitu aja. Mungkin emang selama ini Lo selalu liat gue nggak pernah serius sama Lo, tapi hati gue emang beneran yakin kalo Lo emang pantes jadi istri gue. Bahkan Oma gue juga setuju sama Lo, jadi gue makin yakin kita berdua emang berjodoh!" sahut Mike panjang lebar.
Wajah Manis sontak memerah mendengar ucapan pria di depannya, ternyata sebahagia ini dicintai pria sebaik Mike, pikirnya.
"Jadi, nggak usah ragu dan mikir yang enggak-enggak lagi. Minggu depan kita bakal ke Medan temuin mama dan kakak elo. Oma udah atur semuanya biar kita bisa secepatnya nikah, dia nggak mau kita lama-lama satu rumah tanpa status yang jelas."
Manis mengangguk dengan dada yang berdebar hebat. Menikah? Rasanya satu kata itu masih sangat jauh dari pikiran Manis saat ini.
Datang ke kota inipun Manis sama sekali tidak pernah memimpikan akan menikah dengan orang sehebat dan sekaya Mike. Apa mungkin ini adalah nasib baiknya setelah selama ini selalu apes di kampung sendiri?
"Sini, deket gue. Gue masih ngantuk."
"Eh, aku masih mau bersihin dapur Mike," tahan Manis.
"Nggak usah, ada bibi yang bakal bersihin itu."
"Tapi aku—" Manis tidak melanjutkan ucapannya setelah Mike memeluk dia dengan erat di atas ranjang.
"Begini, kan lebih enak, Nis. Gue nggak pernah bisa meluk elo kalo lagi tidur." Mike menyandarkan kepala Manis di dadanya yang bidang. Wajah wanita itu makin memerah dibuatnya.
"Hari ini kita di rumah aja, gue lagi males keluar."
Manis mengangguk di balik pelukan posesif Mike padanya. Keduanya jatuh tertidur kembali dan bangun saat sore hari menjelang.
Untung saja tidak ada drama tendangan seperti tempo hari yang dilakukan Manis pada Mike. Pria itu tersenyum bahagia saat melihat wajah teduh calon istrinya yang masih tidur nyenyak dalam dekapannya.
Kayaknya gue emang harus meluk Manis semaleman, deh biar nggak ditendang lagi, gumam Mike dalam hati.
Tangan kekar Mike mengusap rambut panjang Manis yang hampir menutupi dua matanya yang masih tertutup. Membayangkan setiap hari dia akan melihat wajah cantik Manis setiap dia membuka mata di pagi hari, pria itu makin tidak sabar memulai hidup barunya yang lebih berwarna bersama wanita ini.
Ternyata benar kalau kehadiran Manis telah membawa warna pelangi dalam hidupnya yang hitam dan datar-datar saja selama ini. Mungkin setelah lamarannya minggu depan, Mike akan membawa Manis ke tempat peristirahatan terakhir ibunya pikir Mike.
"Jadi bener Ka Mike mau nikah sama ka Manis?" tanya Lila sengaja datang ke rumah kakak tirinya malam ini.
__ADS_1
"Udah tau, nanya!"
"Ish, aku serius, Ka." kesal Lila melempar bantal kursi sofa.
"Apa, sih?! Iya, kakak bakal nikah sama Manis. Oma pasti yang kasih tau kamu, kan?"
Lila mengangguk. "Iya, Oma kasih tau tadi siang pas pulang dari rumah Kakak. Papi sampe kaget dan minta Kakak pulang."
Mike tersenyum miris. "Nanti denger anaknya mau nikah dia baru mau sok-sokan nyari aku? Kemana aja dia selama ini?!"
"Kakak nggak boleh gitu, papi juga sering tanyain Kakak kok sama aku," sahut Lila membela Moses ayah kandung mereka berdua.
"Kalo dia emang peduli, harusnya dia dateng kesini bukan nanyain aku sama kamu, Li...! Udahlah, kamu masih kecil, nggak bakalan ngerti masalah Kakak sama papi!"
"Aku udah gede, Ka. Aku tau kalo Ka Mike masih nyalahin mami soal kejadian masa lalu."
Mike diam tidak ingin membalas ucapan adik tirinya yang memang benar. Meski dia menyayangi Lila, tapi jika mengingat Linda ibu tirinya. Mike tidak bisa menutupi rasa benci dihatinya untuk wanita paruh baya itu.
"Kakak nggak tau masalah yang sebenernya jadi selalu beranggapan begitu sama mami."
"Kamu kesini cuma mau ngomong itu sama aku?!" Mike terdengar mulai kesal menanggapi ucapan Lila. Pria itu memang paling tidak suka membahas tentang masa lalunya.
"Aku—"
Sejak tadi dia mendengar perdebatan antara mereka dari dapur. Manis tidak ingin masalah yang sudah lama berlalu itu membuat hubungan keduanya merenggang.
Mike bangkit lebih dulu meninggalkan dua wanita yang saling menatap satu sama lain.
"Udah, nggak usah di dengerin Kakak kamu Lila. Dia mungkin lagi kesel aja," hibur Manis merangkul pundak wanita muda itu.
"Makasih, Ka. Tapi kayaknya aku nggak bisa ikut makan malam bareng kalian, deh. Aku cuma diminta mami kasih ini sama, ka Mike." Lila menyodorkan sebuah amplop sedang berwarna cokelat ke tangan Manis.
"Ka Mike kayaknya udah marah duluan sama aku, jadi aku minta tolong Ka Manis aja yang ngasih ini sama ka Mike, yah?" pinta Lila.
"Emang ini apa?" tanya Manis penasaran.
"Kasih aja sama, ka Mike. Nanti Ka Manis juga bakal tahu itu apa. Aku pulang dulu ... sampein salam aku buat ka Mike, yah...."
Lila berlalu meninggalkan rumah kakak tirinya dan berharap Mike mau membuka dan membaca isi amplop tersebut.
"Lila mana?" tanya Mike tidak melihat adiknya ikut bersama Manis.
"Udah pulang, dia cuma nitip ini buat kamu." Manis menyodorkan amplop yang dia pegang ke tangan Mike.
Mike mengernyit. "Apa ini?"
__ADS_1
"Nggak tau, katanya ini titipan dari mami kamu."
Mike mendengus tidak suka, melempar amplop itu ke lantai. "Buang aja! Gue nggak suka ada barang-barang dia di rumah gue!"
"Tapi Mike, siapa tau aja itu penting...."
"Nggak ada yang pernah penting soal dia, Nis. Gara-gara dia nyokap gue sampe meninggal!"
Mike tidak bisa menyembunyikan kesedihannya begitu teringat kejadian ini. Wanita itu datang di saat keluarga mereka tengah berbahagia, dan merebut semuanya. Mike menyalahkan Linda dan membenci wanita itu hingga saat ini.
"Memangnya apa yang terjadi Mike?" tanya Manis mendekati pria itu.
"Udahlah, gue nggak mau bahas ini lagi!" Mike bangkit berdiri meninggalkan Manis di sana.
Hatinya butuh di dinginkan sekarang. Dia tidak ingin Manis menjadi sasarannya jika mereka masih terus membahas masalah ini.
Manis hanya bisa menatap kepergian Mike dengan sedih, sepertinya masa lalu pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu benar-benar membuat Mike terpukul dan menggoncang jiwanya.
Mungkin Manis harus mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga ini, pikirnya.
Manis memutuskan mengambil kembali amplop coklat yang di lempar Mike sebelumnya di atas lantai, dan menyimpannya.
.
.
.
.
.
.
.
Jadi penasaran sama isi amplop itu 🤔
Udah up 2 yah,, jangan minta lagi dan bilang dikit ato masih kurang...
Setiap bab udah lebih dari 1000kata itu 🤭😁
Yang tanya Celin Donal, sabar yahh
besok mereka hadir... 🤗
__ADS_1