
"Ini kopinya, Pak."
"Iya, taruh aja disitu."
Tidak sengaja Manis kembali menumpahkan gelas berisi kopi panas di atas lembaran dokumen yang tengah Mike periksa dipagi menjelang siang itu.
"Astaga Manis....!" pekik Mike kaget.
"Lo bisa hati-hati gak sih?!" kesalnya mengangkat dokumen-dokumen penting itu.
Selama tiga hari bekerja sebagai asisten pribadinya, Manis juga sudah tiga kali menumpahkan kopi panas ke atas meja Mike.
Pria itu ingin marah dan memaki namun tidak sampai hati melihat Manis yang berdiri takut di depannya.
"Ma-maaf, Pak." sahut Manis menautkan jari jemarinya dengan kuat.
Mike membuang nafas kasar mencoba bersabar. Untung cantik kalo enggak, udah gue tendang Lo dari sini! Kesalnya dalam hati.
"Ini udah tiga kali Lo bikin kesalahan yang sama, Nis. Gue, kan udah bilang. Kalo kerja itu pelan-pelan dan hati-hati, gak ada yang nyuruh Lo cepet-cepet disini!"
"I-iya, Pak. Maaf," sahut Manis terbata.
"Ini gimana ini dokumen penting gue jadi rusak, kan gara-gara elo!"
Mata Manis mulai berkaca-kaca, hatinya sakit saat Mike mulai membentaknya dengan suara keras.
Dia tahu kalau dia memang tidak pernah bisa bekerja dengan baik, mungkin itu alasannya sampai dia selalu di pecat bekerja selama ini.
"Ambilin tisue cepet!" perintah Mike gemas dengan Manis yang malah diam ditempatnya.
Wanita itu buru-buru membersihkan hasil keteledorannya di atas meja kerja Mike. Karena gugup, Manis tidak sengaja menjatuhkan sebuah frame foto atasannya disana hingga pecah.
"Astaga...!" Mike kaget dan menarik Manis menjauh dari meja kerjanya.
"Udah, nggak usah kerjain apa-apa lagi. Lo duduk aja disana!"
"Ta-tapi, Pak."
"Duduk aja, Nis. Jangan bikin gue makin kesel sama Lo!"
Manis mengangguk dan duduk di sofa ruang kerja Mike. Pria itu malah membersihkan kerusakan yang disebabkan olehnya. Mungkin setelah ini dia bakal dipecat, gumamnya.
Selesai membersihkan, Mike duduk di dekat Manis dan menatapnya dalam.
"Kamu sebenarnya bisa apa sih, Nis?" tanyanya putus asa.
"Aku bisa makan, Pak." jujur Manis.
"Astaga ... bukan itu maksud gue, Nis. Maksud gue selain bikin kerusuhan kayak tadi, Lo bisa kerja apa lagi?"
Manis diam tampak berpikir. Mike semakin gemas melihat tingkah wanita di sampingnya. Lama-lama gue gigit juga bibir Lo itu, Nis!
__ADS_1
"Aku bisa masak, Pak." sahut Manis setelah lama berpikir.
"Masak apa?"
"Banyak, Pak. Makanan rumahan yang paling tau, sih."
"Bener?" tanya Mike memastikan.
"Iya, Pak. Aku selalu masak soalnya dirumah."
"Yaudah, gimana kalo Lo masak sekarang. Gue mau cobain masakan elo."
"Emang boleh, Pak?" Kali ini giliran Manis yang bertanya memastikan.
Dia tidak mau nanti dibentak lagi oleh pria ini yang berakhir dengan pemecatan dirinya.
"Iya, semua bahan-bahan ada di dalam dapur. Tanya aja sama Bi Sutri, gue juga sering masak soalnya."
"Kalo gitu aku masak dulu, Pak."
"Iya, nanti jam makan siang ngomongnya biasa aja sama gue! Kita gak lagi di kantor juga, kan?"
Manis mengangguk tersenyum sangat manis, dan berlalu meninggalkan ruang kerja Mike dirumahnya.
Pria itu lagi-lagi merasakan jantungnya dibuat menggila dengan senyuman Manis tadi. Astaga, bentar lagi gue pasti bakal beneran sakit jantung kalo saban hari liat Manis senyum-senyum kek gitu.
Mike mengusap dada dan bangkit kembali duduk di meja kerjanya. Melihat dokumen penting yang sudah basah karena kopi, Mike harus meminta sekretarisnya di kantor untuk mengirimkan lagi dokumen itu padanya. Pekerjaannya jadi bertambah lagi karena ulah Manis.
Mike mendongak melepaskan kacamata yang dia pakai. "Ok."
Keduanya berjalan berdampingan menuju dapur rumah Mike. Disini pria blasteran itu tinggal sendiri, Mike sudah lama tidak tinggal bersama keluarganya setelah diusir oleh ibu tirinya beberapa tahun lalu.
Beberapa hidangan rumahan terlihat tersaji di atas meja. Mike seketika merasakan perutnya bergejolak minta di isi.
"Ini semua Lo yang bikin?"
"Iya, Pak. Tadi Bi Sutri cuma ngasih tau dimana bahan-bahan makanannya."
"Sebanyak ini Lo masak sendiri?" tanya Mike tidak percaya.
"Iya, Pak. Ini cuma dikit kok, hanya tiga macam ikan sama dua sayur. Aku nggak tau Bapak suka makan apa, jadi pas liat bahan-bahan di dapur yah udah aku bikin semuanya deh."
Mike manggut-manggut menarik kursi duduk di depan meja makan. Manis dengan sigap mulai melayani atasannya itu makan hingga suapan pertama berhasil membuat Mike terkejut.
"Ini enak banget loh, Nis." pujinya asik menyuapi makanan.
"Baguslah kalo Bapak suka."
"Mike, panggil gue Mike, Nis. Ini bukan jam kerja lagi. Duduk sini temenin gue makan."
"Eh nggak usah, Pak. Maksud aku Mike. Aku gampang, bisa makan nanti-nanti aja," tolak Manis tidak enak.
__ADS_1
"Udah duduk aja, temenin gue." ujar Mike menarik Manis duduk di dekatnya.
"Mulai sekarang Lo bakal selalu masak buat gue, dan kita akan selalu makan bareng kayak gini!"
"Apa nggak pa-pa, Mike?"
"Ya nggak pa-pa, lah. Pokoknya saban hari Lo masak buat gue. Kalo perlu Lo pindah aja kesini, biar nanti Lo gak perlu jauh-jauh dari kost-kostan elo!"
"Hah? Nggak usah, Mike. Gak enak sama orang kalo kita tinggal bareng."
"Orang? Emang disini ada orang lain selain kita? Bi Sutri, kan cuma dateng jam delapan pagi sampe jam lima sore. Nggak usah banyak alesan deh elo, Nis."
"Tapi Mike-"
"Dengerin aja apa kata gue!" potong pria itu cepat. "Pokoknya besok Lo tinggal disini bareng gue, malam ini siapin aja barang-barang elo trus telpon gue biar nanti gue jemput."
Manis tidak bisa membantah lagi melihat atasannya begitu bersikukuh meminta dia tinggal bersama dengannya di rumah ini.
Rumah yang tiga kali jauh lebih besar dari rumah Manis itu memang punya cukup banyak kamar.
Mike tinggal sendiri dan terkadang tidak pulang karena tidur di hotel bersama angsa-angsa berbau pandannya. Mungkin setelah Manis tinggal bersama dia, Mike akan sering-sering pulang kerumah pikirnya.
"Kerjaan Lo disini cuma masak doang buat gue dan gak boleh kerjain yang lain! Ingat, cuma masak doang!" sambung Mike mengingatkan.
Dia tidak mau ada benda-benda yang pecah lagi atau kejadian kopi yang tumpah seperti tadi. Manis akan lebih terkontrol dalam bekerja jika hanya memasak saja pikirnya.
Terbukti dari bagaimana dapurnya terlihat baik-baik saja, dan makanan yang enak-enak di atas meja. Mungkin memang talenta Manis ada di dapur gumam Mike dalam hati.
Manis mengangguk mengiyakan, setidaknya dia tidak jadi di pecat karena kerjaannya yang tidak pernah becus selama ini.
Diberi gaji yang lumayan besar dari pekerjaan-pekerjaan dia sebelumnya, Manis berusaha agar tidak mengecewakan Mike sebagai atasan barunya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ok nanti kita liat keseruan pasangan ini tinggal serumah yah guys 🤗
Di tunggu up selanjutnya 😁
__ADS_1