
"Jadi kita pindah kesini nanti tunggu kamu balik, kan?"
"Iya, sekalian aja tunggu aku balik baru kita pindah, By."
"Yaudah, nanti aku mau tinggal di rumah mama dulu, yah? Kasian mama sekarang tinggal sendiri, Chad.
"Iya, boleh. Aku juga lebih tenang kalo kamu tinggalnya sama mama."
Dua orang yang sedang di mabuk cinta itu sedang terbaring di atas ranjang dengan tubuh yang sama-sama polos.
Saling menempel, memeluk satu sama lain. Richard dan Amanda menikmati suasana baru di kamar mereka.
"Besok jam berapa penerbangannya, Chad?" tanya Amanda mengusap dada bidang suaminya.
"Jam tujuh, kamu mau anterin aku apa enggak?"
"Kamu maunya gimana?"
"Lah, kok malah balik nanya sih, By? Aku terserah kamu aja, aku nggak mau kamu capek nanti."
Amanda berdecak. "Nggak mau capek tapi setiap hari selalu bikin aku capek ngadonn!" cibirnya.
"Ya itu, kan beda. Itu capek enak namanya, By," sahut Richard tertawa geli.
Amanda memutar bola mata malas dan mengigit ujung dada kecil Richard.
"Aduh, aduh...." ringis Richard mengusap benda itu.
"Kok digigit sih, By? Sakit tau...!"
"Bodo! Kamunya juga sering gigit punya aku kok. Sakit, kan kalo digigit kayak begitu?!" sahut Amanda tersenyum menang.
"Ish, beda lah itu, By. Gigit enak mana sama dengan gigit sakit kayak gini!" elak Richard.
"Alesan kamu aja itu! Mana, aku mau gigit lagi."
"Eh, nggak ... nggak boleh!" Richard menahan kepala Amanda yang bersiap ingin menggigit ujung dadanya kembali.
Wanita itu makin kuat mengarahkan kepalanya ke arah dada Richard dengan tangan yang tiba-tiba mencubit pinggangnya.
Richard memekik kaget merasakan capitan jari-jari kecil Amanda dan gigitan wanita itu di tubuh atasnya.
"Aww ... By. Sakit, By...." Amanda makin kuat menggigit ujung dada Richard hingga dia berteriak kesakitan.
Amanda sedang gemas dengan bentuk ujung benda itu, dan tidak mau melepaskannya sedikitpun.
"By, udah dong, By. Sakit banget ini...." pinta Richard mencoba bergeser dari tubuh Amanda yang menindihnya.
Tidak puas sampai disana, Amanda malah berpindah ke ujung dada suaminya yang lain dan kini sudah naik ke atas tubuh polos Richard.
Amanda ingin sekali-kali bergantian mengigit milik Richard hingga dia puas memainkan ujung dada bidang suaminya.
"Enak, Chad." kekeh Amanda turun dari atas tubuh suaminya.
__ADS_1
"Senengnya nyiksa suami sendiri," keluh Richard mengusap dadanya.
"Nyiksa apa sih, gemes yang ada, Chad."
Amanda masih tertawa geli hingga tidak sadar Richard sudah mendekatinya dan membalas meremass benda kenyal istrinya.
"Sekarang giliran aku!" pekik pria blasteran itu kegirangan.
Maksud hati hanya ingin membalas Amanda, Richard malah on sendiri dan meminta jatah kembali. Alhasil dua orang itu pun bermandikan peluh sampai tertidur di kamar rumah baru mereka.
"Astaga, Chad. Udah jam berapa ini?!"
"Sorry, sorry ... gue ketiduran tadi pagi."
Donal berdecak kesal di depan pintu masuk keberangkatan dalam bandara. "Kebanyakan main sih, Lo!"
"Yah namanya juga mau di tinggal, Nal. Gue harus pastiin kebutuhan gue sama istri gue terpenuhin dong."
"Kebutuhan, sih kebutuhan. Tapi inget kerjaan juga kali, gue udah jadi puding disini nungguin elo dari tadi!" sinis Donal menarik koper kecil miliknya.
"Tunggu, gue belum cipika cipiki sama bini gue."
Richard berlari mendekati Amanda yang masih menunggunya di depan pintu keberangkatan.
"Aku pergi yah, By. Hati-hati disini, aku usahain cepet pulang."
Amanda mengangguk dengan mata yang memerah. "Cepet pulang yah Sayang, jangan lama-lama disana."
"Iya Beby. Jangan nangis, aku cuma nggak lama kok di sana." Richard mengusap pipi Amanda yang mulai basah dengan airmata.
Astaga ... mau sampe kapan tu bangkee nyiumin bininya? Kesal Donal berbalik tidak ingin menatap suami istri bucin itu.
"Nal...!" panggil Mawar mendekati pria berkulit sawo matang itu.
"War? Lo disini?"
"Iya, gue yang bawa mobil kesini tadi. Lo berapa lama di sana, Nal?" tanya Mawar berbasa basi.
"Nggak tau, kalo cepet sih paling cuma empat sampe lima hari. Kenapa?"
"Nggak pa-pa, gue cuma bakal kangen aja nanti sama Lo."
"Hah, apa? Kangen?" tanya Donal tidak percaya.
"Iya, nggak boleh, yah?" kekeh Mawar tersenyum malu.
Donal menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus menjawab apa. Di tinggal pergi oleh Celin, sudah membuat pikiran dan hati pria itu porak poranda.
Donal hanya bisa tersenyum kikuk, kembali menatap Richard yang sedang membujuk Amanda yang masih menangis.
"Celin nggak dateng, Nal?"
"Enggak," jawab Donal singkat.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Ada urusan katanya."
Mawar manggut-manggut merasa ada yang aneh dengan sikap Donal saat dia menanyakan tentang Celin.
Apa mereka lagi marahan, yah? Tapi, bagus juga sih kalo emang beneran mereka lagi berantem, gumam wanita itu senang.
"Chad!" panggil Donal meninggalkan Mawar.
Dia tidak mau wanita berkulit putih dengan tato di pergelangan tangannya itu bertanya macam-macam lagi padanya tentang Celin.
Donal masih mencari keberadaan wanitanya sampai sekarang, dia sudah meminta seseorang untuk itu.
"Apa? Tunggu bentar!" sahut Richard tanpa bersuara menatap sahabatnya.
Sudah mau berangkat tapi Amanda malah tidak mau berhenti menangis dan menahannya disini. Richard sampai kewalahan sendiri membujuk istrinya sejak tadi.
"Udah dong, By. Masa suami mau pergi kerja malah ditangisin begini sih? Aku nggak lama kok disana, aku bakal cepet pulang demi kamu." bujuk Richard mengusap kepala Amanda.
Wanita itu sedang bersandar di dadanya dalam dekapan hangatnya.
"Bener yah, kamu bakal cepet pulang?"
"Iya, aku janji. Kamu tunggu aku aja disini, dan doain aku juga biar aku selalu baik-baik aja di sana."
Amanda mengangguk melepaskan pelukan mereka. "Hati-hati yah, telpon aku kalo udah sampe."
"Iya. I love you Beby...."
"Love you too Sayang...."
Richard pamit meninggalkan Amanda dengan mata sembabnya. Ini pertama kalinya mereka akan berjauhan selama beberapa hari, entah kenapa perasaannya sedikit tidak enak meninggalkan Amanda di Jakarta.
Jika tidak mengingat tanggung jawabnya sebagai pemimpin perusahaan, dia mana mau pergi jauh dari istrinya seperti ini. Mungkin lain kali Richard harus mengajak Amanda berangkat bersamanya.
"Safe flight, Nal." Mawar masih sempat berteriak mengucapkan selamat tinggal untuk pria yang dia suka, sebelum menghilang di balik pintu keberangkatan.
Dia akan mulai mendekati Donal setelah pria itu kembali nanti, tidak peduli Donal punya hubungan atau tidak dengan Celin. Mawar akan tetap mendekatinya meski harus membuat Donal dan Celin putus, pikirnya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Safe flight dua biji... 🤭