Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Resahnya Donal


__ADS_3

"Bu, udah dong hukumannya ... aku mau nelpon cewek aku sekarang." Donal masih membujuk wanita paruh baya bermata sipit itu di depannya.


"Yah, tolong bilangin Ibu, dong...," bujuk Donal bergantian menatap pria berwajah sama dengannya.


"Ayah nggak ikut-ikutan kali ini. Urusan kamu sama Ibu kamu, bukan sama Ayah!" Pria bernama Doni beranjak dari meja makan meninggalkan anak dan istrinya.


Dia tahu kalau Donal tengah diberi hukuman oleh Dena karena kecewa dan pusing dengan kelakuan anak tunggal mereka itu.


Donal berdecak menatap kesal ayahnya yang tidak mau membantunya sedikit pun.


"Bu, udah dong marahnya. Ini udah tiga hari, Bu. Cewek aku pasti sedang nungguin aku, Bu."


"Cewek, cewek aja terus yang ada di otak kamu! Jangan bikin alasan yang nggak masuk akal! Kamu tunggu aja, besok kita ketemu sama cewek yang bakal ibu jodohin sama kamu!"


"Nggak aku nggak mau, Bu. Aku udah punya pacar, aku nggak mau di jodoh-jodohin lagi sama Ibu!" sahut Donal tidak terima.


"Terserah! Pokoknya besok kita ketemu sama keluarga calon istri kamu!" Dena bangkit dari sana meninggalkan Donal dengan hati yang kesal.


Bagaimana mungkin ibunya mau menikahkan dia dengan wanita yang tidak dia kenal dan cinta? Memangnya ini jaman Siti Nurbaya, mau nikah aja harus dijodohkan?


Mengingat Celin yang pasti sedang sakit hati karena dia yang tidak kunjung datang ke rumahnya hingga sekarang, membuat Donal resah sendiri.


Apa yang harus dia lakukan? Bagaimana caranya dia lari dari sini? Semua pintu terkunci rapat dan tidak ada satupun yang diizinkan masuk ke dalam rumah selain asisten rumah tangga mereka. Bahkan semua asisten rumah tangganya saja tidak ada yang mau membantu Donal karena sudah diancam lebih dulu oleh Dena.


Belum juga dengan penjagaan di luar rumah, Ibunya bahkan menyewa beberapa orang untuk memastikan dia tidak boleh lari dari sini. Sial! Dia benar-benar terkunci di dalam sini dan tidak bisa berbuat apa-apa, kesal Donal dalam hati.


"Nal...!" Suara seorang pria mengagetkan pria berkulit sawo matang itu.


"Taii! Ngagetin aja Lo bangkee!" maki Donal makin kesal.


"Wihhh ... santai, santai Bro." Dira datang duduk di dekat Donal.


"Napa, sih marah-marah? Baru juga pulang liburan...," goda pria berwajah oriental itu.


"Diem Lo! Ganggu orang aja!" Kesal, Donal beranjak dari sana.


Sepupunya ini memang paling rese dan menjengkelkan sejak dulu.


"Lo kenapa, sih? Marah-marah mulu hobinya." Dira mengikuti Donal dari belakang


"Berisik! Bukan urusan Lo!" sentak Donal.


"Patah hati, yah?"


Donal diam, tidak ingin menggubris ucapan Dira lagi.


"Pasti patah hati, keliatan kok dari biji Lo!" canda Dira tertawa geli.


"Lo mau apa kesini, hah?! Bukannya ini masih jam kerja!" sahut Donal mengalihkan pembicaraan.


Kalau dia masih terus menggubris ucapan Dira, yang ada pria itu akan semakin menggodanya dan membuat dia kesal.

__ADS_1


"Kerja, tapi Pak Tommy udah pulang tadi. Dia cuma nggak lama di kantor."


"Trus Lo ngapain disini? Pak Tommy pulang cepet bukan berarti Lo juga bisa pulang cepet, Dir...!"


Dira berdecak membuka toples berisi emping di atas meja. "Gue bosen di kantor. Mana sepi banget lagi di lantai Presdir, takut gue di gangguin roh."


"Roh, roh ... roh kepala Lo peyangg! Ngeles aja Lo taunya!"


Dira menyengir menunjukkan gigi putihnya. Dia memang malas sendirian di kantor, setidaknya dia bisa jalan-jalan sedikit siang ini sebelum kembali ke kantor untuk absen sore nanti.


"Lo kalo kerja yang bener, jangan malu-maluin gue sama Pak Tommy!" sambung Donal mengingatkan.


"Iya, iya ... nanti juga abis ini gue balik."


Donal menggelengkan kepala melihat tingkah sepupunya yang sejak dulu memang lebih suka kelayapan ke sana kemari dibanding bekerja menghasilkan uang.


Pria ini terbiasa hidup bebas dan tanpa kekangan apapun. Beruntung kedua orang tuanya tidak pernah melarang Dira melakukan apa yang dia mau, kadang Donal jadi iri sendiri pada sepupunya ini.


Eh, ngomong-ngomong soal orang tua. Donal jadi ingat sesuatu.


"Dir...," panggil Donal setengah berbisik.


"Hmm?"


"Liat sini!"


"Apa sih? Tadi aja marah-marahin gue, sekarang minta diliatin. Mau Lo apa biji...?" kesal Dira dengan mulut penuh emping.


"Ish, gitu aja ngambek Lo! Sini deket gue, gue mau ngomong." Donal menepuk kursi di sampingnya.


Donal mendengus, terpaksa pindah mendekati sepupunya. "Kunci mobil Lo mana?"


"Ada. Kenapa?"


"Gue pinjem bentar, yah?"


"Ngapain? Emang mobil Lo mana?"


"Ada di garasi. Gue mau pinjem punya Lo aja biar cepet, capek gue mau keluarin mobilnya lagi...," sahut Donal beralasan.


Dira manggut-manggut mengambil kunci mobilnya dari dalam saku celana. "Nih, jangan lama-lama ... gue mau balik ke kantor bentar lagi."


Donal tersenyum sumringah, meraih kunci mobil dari tangan Dira. "Makasih Dir, gue nggak lama kok. Cuma bentar doang."


"Hmm...."


Donal buru-buru bangkit berdiri dari sofa, berjalan menuju pintu keluar rumahnya. Baru saja akan menarik pegangan pintu, Dena sudah berteriak memanggilnya dari dalam.


"Mau kemana kamu, Nal?!" pekik wanita itu berjalan cepat mendekati Donal.


"Sial!" kesal Donal berbalik.

__ADS_1


"Ibu ... nggak mau kemana-mana kok, Bu. Aku cuma mau hirup udara segar aja di luar," sambungnya beralasan.


"Jangan boong, itu kunci apa yang kamu pegang?!" tunjuk Dena pada tangan kanan anaknya.


Astaga ... ini kok ibu-ibu matanya jeli banget, sih?! Gumam Donal memutar otak.


"Nggak ada, Bu. Ini kunci mobil Dira, tadi dia minta tolong aku ambilin berkas-berkas kantor Richard di mobil."


Dena mengernyit, menatap penuh selidik anak laki-lakinya. "Dira? Emang sepupu kamu ada?"


"Ada, Bu. Dia lagi di ruang tengah."


Jarak dari ruang tengah dengan pintu depan rumah Donal terpisahkan antara sebuah dinding. Jadi jika ada yang berbicara di depan sana, orang yang berada di dalam tidak akan bisa mendengarnya.


"Mana kunci mobilnya, biar Ibu yang ambil."


"Eh, nggak usah, Bu. Kata Dira berkasnya banyak, Ibu nanti susah kalo mau bawa ke dalem." sahut Donal berusaha terlihat natural di depan Dena.


"Nggak pa-pa, Ibu udah biasa. Ayah kamu aja yang gendut itu bisa Ibu gendong, masa cuma berkas-berkas itu doang Ibu nggak bisa. Mana, biar Ibu yang ambil!"


"Tapi, Bu—"


"Mama Dena...." Dira datang memotong ucapan Donal, mendekati ibu dan anak itu.


"Kamu ngapain kesini siang-siang begini Dira?"


"Suka aja Mam. Lagian di kantor lagi nggak—" Donal buru-buru menutup mulut sepupunya sebelum pria itu memberitahukan yang sebenarnya pada ibunya.


"Dira udah mau pulang kok, Bu. Tadi dia cuma mau ngasih dokumen sama aku!" Donal memberikan isyarat agar Dira berhenti bicara dan mengikuti apa katanya.


"Dasar aneh! Kalian berdua kalo ketemu selalu bertingkah aneh begitu! Sudah sana, pergi ambil sendiri dokumennya!" Dena berlalu meninggalkan anak dan keponakannya sambil menggelengkan kepala.


Donal akhirnya bisa bernafas lega dan menarik tangannya dari mulut Dira. "Udah sana pergi,


"Eh, maksud Lo apa, sih bekap-bekap mulut gue segala?!"


"Nggak pa-pa, mulut Lo bau emping!"


Dira mengernyit meniup nafasnya ke tangan. "Dikit doang baunya...," sahut pria itu polos.


Dasar bego! Mau aja gue bego-begoin! Donal bergumam dalam hati pergi meninggalkan sepupunya yang masih diam bingung di depan pintu. Gagal lagi usahanya untuk kabur, pikirnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Sabar, yah Donal 🥺


__ADS_2