
Donal masuk ke dalam sebuah ruangan pribadi restoran mengikuti ayah dan ibunya dari belakang. Mereka disambut pasangan suami istri yang malam itu tampak matching dengan baju berwarna sama.
Donal berpikir, di mana wanita yang akan dijodohkan dengannya? Apa wanita itu tidak jadi datang?
"Silahkan duduk, Jeng Dena...." Wanita berambut panjang yang memiliki hidung mancung dan garis wajah yang mirip dengan seseorang, mempersilahkan ibu Donal itu duduk di dekatnya.
"Makasih Jeng ... anaknya mana?" tanya Dena ikut bingung melihat hanya ada suami istri itu di sana.
"Dia lagi ke toilet bentar, kayaknya gugup mau ketemu calonnya sama keluarga...."
Dena mengangguk, memanggil Donal ikut duduk dengan mereka.
"Sini, Nal," panggil wanita itu.
Donal melangkah malas mendekati keempat orang yang duduk mengelilingi meja bulat restoran.
"Jadi ini Donal, yah?" tukas wanita paruh baya itu berbasa basi.
Donal yang disebut hanya mengangguk, tersenyum seadanya. Dia hanya malas saja menanggapi ucapan wanita di depannya, dan lebih memilih berpikir bagaimana caranya dia lari dari sini.
"Donal juga lagi gugup Jeng ketemu sama calonnya, makanya diem-diem aja pas ditanya...," sela Dena tidak ingin calon besannya berpikir macam-macam.
"Kayaknya semua juga pada gugup, yah? Anak aku juga begitu Jeng, makanya ini dia lama banget pergi ke toilet."
"Iya nggak apa-apa, kita tunggu aja Jeng. Nggak baik juga kalo kita cepet-cepetin mereka ketemuan," sahut Dena terdengar bijak.
Donal ingin sekali membalas ucapan ibunya saking merasa geli dengan perkataan wanita itu barusan. Nggak mau dicepetin tapi maksa banget mau gue ketemuan sama, tuh cewek! Dasar emak-emak! Kesal Donal dalam hati.
Sudah hampir sepuluh menit menunggu di sana, wanita yang akan dijodohkan dengan Donal tidak kunjung muncul dari toilet.
Semua yang ada di dalam ruang pribadi restoran itu tampak santai, dan malah berbicara panjang lebar yang tidak tahu tentang apa. Donal semakin malas berlama-lama di dalam sana, pria itu duduk dengan tidak tenang.
"Bu...," panggil Donal akhirnya.
Dena menengadah, menghadap pada anak laki-lakinya. "Kenapa?"
"Aku mau ke toilet juga, deh bentar." Dena mengernyit tampak tidak yakin dengan alasan anaknya.
"Aku nggak bakal kemana-mana, tenang aja...," sambung Donal mengerti dengan arti tatapan Dena padanya.
__ADS_1
"Yaudah jangan lama-lama. Takutnya nanti calon kamu dateng, kamunya malah nggak ada," sahut Dena kembali menunjukkan wajah seperti biasa.
Wanita yang duduk di sampingnya tertawa mendengar perkataan Dena. Mereka kembali bercengkrama setelah Donal bangkit berdiri meninggalkan ke empat orang itu.
Menutup pintu ruang pribadi restoran dengan pelan, Donal mulai menatap ke sekitar mencari celah untuk bisa lari dari sana.
Sepertinya dia harus ikut dari pintu belakang restoran agar bisa pergi dari sini. Donal takut jika ada orang suruhan ibunya yang berjaga di depan restoran untuk mencegah dia kabur, pikirnya.
Berpura-pura bertanya di mana toilet, Donal sempat menanyakan pada pelayan di mana letak pintu belakang restoran berada.
Menurut pelayan itu, Donal harus masuk ke dalam pantry agar bisa keluar melalui pintu belakang. Namun tidak ada tamu yang diizinkan masuk ke dalam sana katanya. Lagi-lagi Donal harus memutar otak agar bisa berhasil masuk kesana dengan cara apapun.
Sambil berjalan menuju toilet, Donal tengah berpikir dengan keras dan tidak sengaja melihat seorang wanita berambut blonde yang sangat dia kenali, baru saja keluar dari toilet wanita. Buru-buru Donal berbalik, mengikuti wanita itu dari belakang.
Dia yakin kalau wanita tersebut adalah seseorang yang selalu dia pikir dan rindukan selam ini siang dan malam.
Tidak sabar, Donal menarik tangan wanita itu hingga tubuhnya berputar menghadap pada Donal. "Ngapain lo disini?!"
Wanita berbibir penuh itu terkejut dengan mata yang membola sempurna. "Lo...?"
"Ngapain Lo disini?!" tanya Donal lagi menarik Celin menjauh dari sana.
Dia mengikuti langkah kaki Donal, hingga pria itu menyudutkannya di dinding restoran dekat toilet.
"Lo ngapain disini, Cel? Gue baru mau nyari kesempatan temuin elo. Gue kangen, Cel...." Donal memeluk wanitanya penuh kerinduan.
"L-lo, masih hidup?" sahut Celin terbata.
Donal melepaskan pelukannya, menatap Celin yang tampak masih terkejut. "Kok nanyanya begitu, sih? Gue masih hidup, Cel. Masih sehat sampe sekarang, gue—"
Plakkk....
Ucapan Donal seketika terhenti saat sebuah tangan yang selalu dia rindukan menampar pipinya kuat.
"Brengsek! Cowok brengsek!" pekik Celin marah.
"Lo nggak tahu gimana sakitnya gue selama ini nungguin elo yang nggak ada kejelasan! Nungguin elo dirumah kayak orang bego berhari-hari, yakin kalo Lo bakal dateng temuin gue sama keluarga gue! Sekarang Lo dateng tiba-tiba dan bertingkah seakan nggak ada apa-apa?! Dasar cowok brengsek nggak punya hati!" Celin kembali memukul Donal yang pasrah menerima kemarahan wanitanya.
Donal tahu kalau dia sudah membuat Celin kecewa berulang kali. Dia memang pantas mendapatkan tamparan dan pukulan serta kemarahan Celin saat ini.
__ADS_1
"Gue benci sama Lo! Gue benci...!" pekik Celin lagi terus memukul Donal.
Dia ingin menumpahkan semua rasa dihatinya untuk pria itu, sampai Celin puas dan bersandar lemah di dada bidang Donal.
"Lo tega banget bikin gue kayak gini, Nal. Abis Lo bikin gue seneng, berharap sama Lo ... Lo malah nyakitin hati gue. Dari dulu Lo emang cuma tahu nyakitin gue dan bikin gue nangis!" Tangisan sakit hati terdengar dari bibir Celin.
Wanita itu menangis sesenggukan dengan dada yang terasa sesak. Mencintai seorang pria tidak pernah sesakit ini sebelumnya. Bahkan pria pertama yang merenggut kehormatannya pun tidak sesakit dan seperih ini, pikir Celin.
Donal benar-benar sudah merasuk dalam hati dan jiwa Celin, hingga rasa sakit yang ditinggalkan pria itu sangat membekas dalam benaknya.
"Maafin gue, Cel. Maaf...." Donal berujar dengan lembut sambil membelai kepala wanitanya.
Donal tahu kalau dia sudah terlalu banyak menyakiti hati Celin. Jika bisa mencium kaki wanita itu, Donal akan melakukannya untuk meminta pengampunan dan maaf dari Celin. Dia tidak akan rela jika Celin sampai meninggalkannya.
"Maafin gue, Cel. Kali ini gue bakal temuin orang tua Lo dan ngelamar Lo saat ini juga."
"Nggak, Nal. Stop!" Celin mendorong tubuh Donal menjauh. "Cukup! Gue nggak mau denger bualan Lo lagi. Udah cukup gue dibego-begoin sama Lo! That's enough!"
"Tapi, Cel. Denger gue dulu, gue punya alasan kenapa nggak dateng waktu itu, Cel...." tahan Donal menarik lengan wanitanya.
"Nggak, gue nggak mau denger alesan Lo lagi! Lo udah terlalu banyak boongin gue!" sahut Celin muak dengan pria itu.
"Gue nggak boongin elo, Cel. Gue bener-bener punya alasan."
Dua orang itu saling tarik menarik hingga Dena datang mengagetkan keduanya. "Apa yang terjadi, Nal?"
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Next part lagi, yah guys 🤭😆