
"Ini bener, kan alamat rumah sakitnya, Yon?"
"Iya, gue udah cek kemarin...," sahut pria berambut ikal itu berjalan disamping Ivan.
"Da-da masih dirawat di ICU, yah?"
"Iya, yang gue denger, sih begitu."
Dua pria sahabat SMA Amanda berjalan beriringan menuju ruangan ICU di mana wanita cantik itu berada.
Sudah hampir tiga Minggu dirawat, Ivan dan Dion baru bisa mengunjungi sahabat mereka karena cukup sibuk akhir-akhir ini.
"Pak Ivan," panggil Vin-vin berlari mendekati pacar gurunya.
"Eh ya ampun, gue lupa bawa anak gadis juga kesini...." Ivan menepuk dahinya dan berbalik menatap wajah Vin-vin yang menggembung kesal.
"Kok aku ditinggal sih, Pak?" protes wanita muda itu.
"Sorry, Vin-vin. Tadi Dion ngajak aku cepet-cepet, sih. Aku jadi lupa kalo lagi sama kamu juga. Sorry, yah...?" bujuk Ivan merangkul pundak pacarnya.
"Eh, kenapa jadi gue, sih?!" sela Dion tidak terima disalahkan sahabatnya.
Ivan seketika menatap tajam pria di depannya seakan memberi ancaman agar jangan banyak protes dulu saat ini.
Vin-vin akan makin kesal dan ngambek padanya kalau sampai tahu dia benar-benar lupa dengan kehadiran pacarnya sendiri di sana.
"Nggak usah bawa-bawa Dion, bilang aja kalo Bapak emang nggak inget ada aku juga disini!" sahut Vin-vin bersedekap dada.
"Enggak, Vin-vin. Percaya, deh sama aku. Dion yang tadi narik-narik aku karena sibuk nyariin ruang ICU di mana. Jangan marah, yah Sayang...," bujuk Ivan lagi.
Dion memutar bola mata malas, berjalan lebih dulu meninggalkan pasangan guru dan siswi itu. Dia yakin kalau Ivan pasti akan lebih banyak membujuk Vin-vin dibanding mencari ruangan ICU berada.
"Permisi, Sus. Ruangan ICU disebelah mana, yah?" tanya Dion pada seorang wanita berseragam putih-putih.
"Oh, Bapak lurus aja. Nanti di depan belok kanan. Ruangannya tepat di samping kanan itu, Pak." tunjuk perawat itu sopan.
"Eh, aku masih bujang, Sus. Bukan Bapak," sahut Dion tidak terima. Dia merasa tua jika dipanggil begitu.
Perawat itu sontak terdiam, bingung harus berkata apa.
__ADS_1
"Yaelah, itu namanya dia sopan manggil elo, Yon...." Ivan datang mendekati sahabatnya bersama Vin-vin.
"Maaf yah, Sus. Temen aku emang rada-rada setress kalo dipanggil Bapak sama orang lain," sambung Ivan sengaja mencibir Dion.
Perawat itu hanya nyengir dan berlalu dari sana meninggalkan tiga orang tersebut. Ada-ada saja, pikirnya.
"Puas, kan Lo ledekin gue sama tuh cewek?!"
"Puas, puas banget gue...." Ivan tertawa jahat diikuti Vin-vin disampingnya.
Dion mencebik, kembali melangkah menuju ruang ICU sesuai petunjuk perawat tadi. Awas aja nanti kalo gue dapet cewek, abis Lo gue ledekin balik! Gumam pria itu kesal.
Tiba di sana, ketiganya tidak sengaja bertemu dengan pria blasteran yang dikenal mereka sebagai suami dari sahabat mereka Amanda.
Mereka pun mendekat, menyapa Richard yang terduduk lemas di kursi tunggu depan ruangan di mana istrinya dirawat.
"Selamat siang," sapa Ivan.
Richard mendongak menatap bingung pria bertubuh tinggi di depannya. "Siang," sapa dia balik.
"Maaf kita ganggu, kita sahabatnya Amanda yang kemarin datang ke nikahan kalian."
"Oh, temennya Amanda, yah?" sahut Richard beranjak dari kursi.
"Iya, aku Ivan dan ini Dion." tunjuk pria dengan tindikan di telinganya itu pada sahabatnya.
Richard mengangguk, ingat dengan nama dua pria ini. "Mau jenguk Amanda, yah?" tanyanya ramah.
"Iya, maaf kita baru sempet kesini."
"Nggak pa-pa. Amanda pasti seneng ketemu sama temen-temennya."
Ivan dan Dion saling melirik sekilas mendengar ucapan Richard. Sepertinya pria ini sudah tidak cemburu lagi pada mereka seperti sebelumnya, pikir keduanya.
"Tapi kalian nggak bisa masuk sama-sama. Dokter cuma izinin satu orang yang bisa ke dalem, itupun cuma lima menit nggak bisa lebih...," sambung Richard menjelaskan prosedur untuk masuk ke ruangan ICU.
"Nggak pa-pa, kita bisa gantian kok. Kita juga nggak enak kalo lama-lama di dalem," sahut Dion lebih dulu.
Richard mengangguk, mempersilakan ketiganya untuk bergantian masuk ke dalam. Pria dengan kantung mata menghitam itu berharap dengan kedatangan sahabat-sahabatnya, Amanda bisa segera sadar.
__ADS_1
"Kalian tolong ajak Amanda bicara, yah? Kata dokter dia harus terus diajak ngomong, biar cepet sadar."
...********************...
"Gimana, By? Udah ketemu, kan sama temen-temen kamu?" Richard duduk di tepi ranjang Amanda.
"Aku seneng mereka dateng hari ini, By. Kamu juga pasti seneng, kan? Aku masih ingat gimana cemburunya aku sama mereka waktu kita nikah. Ternyata mereka bisa berguna juga disaat-saat begini," kekeh Richard mengusap sudut matanya yang berair.
"Kamu kapan bangun dong, By? Aku udah kangen banget sama kamu ... tau nggak, sih kalo kita semua yang ada disini masih nungguin kamu buka mata? Kalo kamu liat keadaan aku sekarang, kamu pasti bakal sedih juga kayak mommy. Aku ... aku butuh kamu, By. Aku butuh kamu di hidup aku."
Richard kembali menangis tersedu disamping istrinya. Wanita itu belum juga menunjukkan tanda-tanda kemajuan akan sadar semenjak tiga hari yang lalu.
Dalam tangisan kesedihannya Richard tahu kalau dia juga tidak boleh egois. Amanda pasti sedang berjuang untuk bisa sadar dan berkumpul kembali dengannya.
Dia cukup berada disisi Amanda, menemaninya dengan setia disini. Richard tahu kalau Yang Empunya Hidup pasti akan memberikan yang terbaik untuk keluarga mereka.
"Janji sama aku, By. Kamu bakal berusaha bangun buat aku ... kamu bakal berjuang untuk aku dan cinta kita. Jangan nyerah, ok? Aku cinta kamu sekarang dan sampe nanti."
.
.
.
.
.
.
Karena menunggu itu adalah cara Tuhan mengajarkan kita untuk menjadi orang yang sabar dan beriman...
.
.
Sahabat-sahabat SMA Amanda ada di cerita Oh My Teacher karya Ka Tami Chan, yah guys...
Jangan lupa mampir 🤗
__ADS_1