
"Astaga Betty...!"
Seorang wanita muda berumur tidak jauh darinya datang menghampiri Betty yang tergeletak pingsan di bawah shower.
Kulit tubuhnya sudah memerah dan melepuh karena air panas yang masih mengalir dari shower tersebut.
"Betty, hei ... bangun." Wanita itu berusaha membangunkan majikannya dengan susah payah setelah membawanya ke atas ranjang.
Kamar yang selalu dia bersihkan itu tampak berantakan dengan keadaan Betty yang mengenaskan.
"Apa yang terjadi padamu Betty?" Dia mulai menangis, dan mengambil ponsel dari saku celananya.
"Ja-jangan...." tahan Betty yang ternyata sudah sadar.
"Betty, apa yang terjadi?" tanyanya kaget.
"Jangan hubungi siapa-siapa Si ... aku nggak mau papa tahu soal ini."
"Tapi Ty, ini udah keterlaluan banget. Pria gila itu udah keterlaluan nyiksa kamu kayak gini. Udah cukup Ty, jangan jadi bodoh karena cinta buta kamu sama dia!" kesal Susi asisten rumah tangga yang sudah dianggap seperti keluarga oleh Betty.
"Jangan Si, kasian Ardi nanti. Papa pasti bakal masukin dia ke penjara karena ini. Aku mohon, jangan kasih tau siapapun tentang masalah ini. Ardi pasti berubah, dia hanya sedang patah hati saja sekarang," sahut Betty memohon.
"Tapi Ty, ini tubuh kamu udah rusak kayak gini dia mau tanggung jawab?! Nggak, aku gak mau dia siksa kamu kayak gini lagi. Udah cukup! Aku sebagai cewek aja gak mampu liat keadaan kamu Ty...."
"Jangan Si, aku mohon...." Betty menangkup tangan Susi saat wanita itu tetap bersikukuh ingin menghubungi ayahnya.
"Aku akan tinggalin Ardi."
"Apa?"
"Iya, aku bakal tinggalin Ardi."
"Kamu serius?"
"Iya, aku yang salah. Aku udah bikin Ardi berubah jadi monster kayak gini. Aku bakal temuin Amanda secepatnya buat minta maaf karena udah hancurin hubungan mereka berdua."
Susi menggeleng. "Nggak Ty, kamu nggak salah apa-apa. Ardi yang paling salah disini, dia memang nggak pernah bisa setia dengan tunangannya dulu. Kamu cuma korban, Ardi yang salah. Jangan nyalahin diri kamu sendiri!"
Tubuh Betty mulai bergetar hebat, dia kembali jatuh pingsan di samping Susi.
"Betty...!" teriak Susi menggoyangkan badannya yang tertutupi selimut tebal.
Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin Susi menghubungi Ardi, apalagi ayahnya Betty.
Susi memutar otak dan mencari satu nama di ponsel milik nona mudanya. Ini ... dia saja, mungkin dia bisa membantu Betty.
Susi segera menekan tombol hijau untuk menghubungi nomor tersebut. Dalam bunyi sambungan kelima, panggilan itu diangkat oleh seorang wanita di ujung sana.
"Halo...."
__ADS_1
"Maaf mengganggumu nona Amanda, tapi aku butuh bantuanmu sekarang."
"Iya, ada yang bisa saya bantu nona Betty?"
"Maaf, tapi ini bukan Betty. Nona sedang pingsan saat ini di apartemennya. Bisakah nona membantuku? Aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi. Tolong bantu nona muda saya, nona Amanda...." pinta Susi panik.
"Hei ... ok, aku akan membantumu. Katakan dimana alamatnya, aku akan kesana sekarang."
"Te-terima kasih Nona, saya akan mengirimkannya segera pada Nona."
Ketika panggilan itu berakhir Amanda buru-buru melompat pindah dari atas tubuh Richard.
"Kenapa Beby?" tanya pria itu dengan mata berkabutnya.
"Betty, Chad...."
"Betty? Betty siapa?"
"Itu ... pelanggan VVIP gue," sahutnya mulai mengancingkan kemejanya.
"Kok di tutup sih By ... gue, kan masih belum?" tahan Richard tidak mau kegiatan panasnya berakhir begitu saja.
Padahal Richard bahkan sudah beberapa kali melakukan pelepasannya bersama Amanda, sejak wanita itu mengungkapkan cinta untuknya.
"Nanti aja Chad, ini katanya Betty lagi sakit. Dia pingsan di apartemennya, kita harus kesana sekarang."
"Lah dia kan punya tunangan By. Ngapain juga mereka minta tolong sama kita?" sahut Richard tidak terima.
"Udah, kita kesana aja sekarang. Gue juga gak tenang, tadi yang hubungin gue bener-bener panik banget, Chad."
Richard berdecak menaikkan celananya yang sengaja dia turunkan tadi, mengganggu saja pikirnya.
"Jangan marah, nanti kita main lagi sampe Lo puas."
"Eh, bener yah?"
"Iya...."
"Sampe gue puas?"
"Iya...."
"Ganti-ganti gaya?"
"Iya ... semau Lo semuanya!"
"Asik...." Richard berteriak kegirangan seperti anak kecil dan mulai melajukan mobilnya.
Sekarang dia hanya ingin cepat-cepat bertemu dengan si Betty La Fea itu, dan pulang ke apartemen miliknya bersama Amanda. Ah, gue musti browsing nih cari gaya-gaya baru.
__ADS_1
Amanda menggelengkan kepala melihat tingkah pria di sampingnya. Dasar mesum! Cepet banget kalo diajak begituan.
"Berhenti disini aja, Chad."
"Iya, iya ... sabar dikit napa."
Richard memarkirkan mobilnya dan ikut turun bersama Amanda. Wanita itu melangkah cepat setengah berlari karena nomor Betty terus menghubunginya dari tadi.
"Pelan-pelan Beby, nanti jatuh." tegur Richard menahan tangan Amanda.
"Abis Lo lama sih, cepetan."
Richard hanya bisa membuang nafas panjang melihat Amanda begitu khawatir dengan wanita calon istri mantan tunangannya Ardi.
Ah, kenapa harus minta tolong sama Manda juga sih ... kesalnya dalam hati.
Apartemen Betty berada di lantai lima, mereka harus naik lift untuk sampai kesana. Tiba di depan pintu, Amanda langsung menekan bel hingga beberapa kali.
Seorang wanita berseragam membukakan pintu dan sedikit kaget saat melihat ada Richard juga disana.
"Maaf meminta Nona kesini malam-malam begini. Tolong bantu nona muda saya, dia masih belum sadar sejak tadi."
"Memangnya Betty kenapa? Dia sakit? Kenapa nggak di bawa kerumah sakit aja?" tanya Amanda mengikuti langkah Susi dari belakang.
"Maaf, tapi aku nggak bisa Nona. Tuan pasti bakal tahu apa yang terjadi pada nona Betty."
"Memangnya kenapa? Apa yang terjadi?"
"Aku...." Susi terlihat ragu-ragu untuk menceritakan apa yang sebenarnya menimpa nona mudanya.
Dia takut Betty akan marah padanya jika memberitahukan hal ini pada orang lain, terlebih Amanda. Wanita yang sangat dicintai Ardi tunangannya.
"Lebih baik kita telpon dokter aja dulu," sela Richard dan menjauh dari dua orang itu.
Mungkin wanita yang terlihat sangat panik itu butuh waktu berdua dengan Amanda hingga dia ragu untuk berbicara di depan mereka, pikirnya.
"Tenang aja, dokter akan memeriksanya nanti."
"Terima kasih nona Manda. Tapi, nona mudaku sampai begini karena tunangannya tuan Ardi."
"Ardi?"
"Iya Nona."
Susi mengangkat baju tipis yang sempat dia pakaikan pada Betty sebelum Amanda dan Richard tiba disana.
"Ardi menyiksa nona muda hingga begini...."
Mata cipit itu seketika membola sempurna melihat tubuh mulus Betty memerah dan melepuh dengan banyaknya bekas pukulan hingga lebam hampir di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
Amanda menutup mulutnya tidak percaya dan mundur kebelakang, apa yang udah Lo lakuin Ar?