
"Adik kakak cantik kali...." Malo datang menemui Manis yang tampak anggun dengan gaun pengantin putih yang dia pakai.
Wanita yang sebentar lagi akan resmi menyandang status sebagai nyonya Mike itu, duduk di atas ranjang dalam hotel di mana dia tengah bersiap.
Kakak dan ibunya tiba di Jakarta tadi malam dan diajak tinggal dirumah Linda dan Moses. Kehebohan langsung menyelimuti rumah tersebut, karena Malo terus berdecak kagum dengan keluarga calon iparnya yang ternyata sangat kaya.
"Makasih, Ka. Ibu mana?" tanya Manis dari balik vail yang dia pakai.
"Kenapa cariin Ibu?" Wanita yang memakai kebaya modern dengan batik khas daerahnya, masuk mendekati kedua anaknya.
"Nggak pa-pa, Bu. Aku lagi gugup aja sekarang, maunya Ibu ada disamping aku...," jujur Manis bersuara.
"Tidak usah gugup. Ibu sama kakak ada disini, kamu cukup jalan saja ke depan altar," sahut Badia mengusap punggung anak bungsunya.
"Iya, benar kata Ibu. Walau Bapak tidak bisa temani kamu, tapi kakak yakin Bapak lagi liat kamu dari atas...," sambung Malo memberi semangat untuk adiknya.
Manis mengangguk, menatap bergantian ibu dan kakaknya. Akhirnya hari ini datang juga, Manis merasa hidupnya bak Cinderella.
Berniat mencari kerja ke Jakarta dan dipecat berulang kali saat bekerja. Siapa sangka dia bisa bertemu dengan Mike yang menyelamatkan dirinya dari amukan salah satu pelanggan cafe waktu lalu.
Manis tidak bisa lupa bagaimana Mike datang bagai pangeran dan membelanya di depan banyak orang.
Kalau saja Mike tidak ada saat itu, mungkin Manis sudah dipecat dan dipermalukan lagi oleh pelanggan tersebut. Ternyata takdir dan jodoh setiap orang berbeda-beda, Manis tidak pernah berpikir akan mendapatkan jodoh saat dia memutuskan merantau ke ibukota. Dalam pikirannya saat itu hanyalah mencari kerja, dan membantu ibunya di kampung.
Manis berjalan pelan menuju Altar tanpa di dampingi oleh siapapun. Mike sudah menunggunya dengan gagah di depan sana, menggunakan jas hitam dengan dasi kupu-kupu berwarna putih.
Pria itu sontak berkaca-kaca melihat wanita yang akan menjadi istrinya, dan wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anak mereka kelak.
Kepolosan dan ketulusan Manis lah yang membuat Mike jatuh cinta padanya. Dari awal mengenal wanita itu dan memutuskan membawa Manis kesisinya, dia tahu kalau Manis bisa membuat hidupnya lebih berwarna.
Berkat Manis juga hubungan keluarga mereka yang selama ini tidak pernah akur, bisa kembali rukun setelah terkuaknya kebohongan yang selama ini ibu kandung Mike katakan padanya. Manis seperti malaikat yang dikirim Tuhan untuk menemani dan membimbing dia menjalani kehidupan di dunia ini.
Mike mengulurkan tangan kanan menyambut Manis dengan senyum penuh kebahagiaan. Wanita itu terlihat sangat menawan dibalik vail (tudung pengantin) putih yang menjuntai sampai ke bawah.
"You look so beautiful, Nis...," bisik Mike saat Manis berdiri disampingnya.
Manis yang dipuji tersenyum dengan dada yang berdebar. Sebentar lagi mereka akan resmi menyandang status sebagai suami istri.
Pendeta mulai membacakan doa untuk pemberkatan keduanya. Dalam pengucapan janji suci, Mike dan Manis diminta saling berhadapan dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain.
"Manis ... aku mengambil engkau menjadi seorang istri, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai mau memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang Kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus." Mike tersenyum, menatap penuh cinta wanita di depannya.
__ADS_1
Suaranya terdengar sangat lantang, dengan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat. Meski gugup, tapi Mike benar-benar bahagia saat ini.
"Mike ... aku mengambil engkau menjadi seorang suami, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai mau memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang Kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus." Manis membalas tatapan penuh cinta pria di depannya dengan hangat.
Meski suaranya terdengar bergetar, namun Manis merasa bahagia bisa mengucapkan janji mereka dengan baik.
Setelah mengucapkan janji sehidup semati, pendeta mempersilakan kedua pasangan itu saling memakaikan cincin di jari manis masing-masing pasangan.
Mike lebih dulu memasangkannya dan sempat berujar kata cinta untuk Manis yang kini resmi menjadi istrinya. Dalam hati keduanya berharap agar keluarga mereka selalu bahagia dan langgeng sampai maut memisahkan.
"Selamat, yah Mike ... akhirnya biji Lo digembok juga," canda Richard memberi selamat untuk sahabatnya.
"Iya, makasih. Akhirnya gue punya bini juga. Gue bisa ngerasa bahagianya masuk ke satu lubang aja...," sahut Mike membalas pembicaraan absurd mereka.
"Jangan lupa nanti malem siapin biji Lo baek-baek. Masih sempit itu si Manis, takutnya biji Lo nggak bisa lama-lama berdiri pas mau terobos!" sela Donal yang juga berada di sana.
"Lo pikir lalu lintas, terobos?!" sahut Mike tidak terima.
"Eh, gue serius Mike. Gue aja yang udah berapa kali sama Celin masih suka loyo pas mau masuk punya dia yang sempit. Gue sebagai temen Lo cuman mau ingetin aja, kasian si Manis momen pertamanya malah ngeliat biji loyo...," goda Donal tertawa terpingkal disamping kiri Mike.
"Anjrittt ... biji loyo! Bahasa Lo, Nal. Nggak kebayang itu kalo bener kejadian sama Mike," sahut Richard ikut meledek sahabatnya.
"Puas-puasin aja Lo berdua ngeledek gue! Nanti gue videoin belah duren gue tengah malem, trus gue kirim sama Lo pada. Liat kalo biji gue bakal loyo apa kagak!"
"Yah, siapa tau aja Lo berdua tertarik, kan mau liat keperkasaann gue...," kekeh Mike menang.
"Tetep gue yang paling gede," sahut Donal lebih dulu.
"Ih ... pede banget Lo! Kecil begitu dibilang gede!"
"Apanya yang gede Mike?" Manis mendekati tiga sahabat biji itu yang sontak terdiam menutup mulut geli.
"Eh, nggak. Kata Donal ballroom disini gede. Dia nanya bugdet-nya berapa, Nis." sahut Mike beralasan.
Richard dan Donal yang mendengar alasan Mike seketika tertawa terbahak, tidak bisa menutupi rasa geli dihati mereka. Apalagi melihat Manis yang terlihat percaya dengan ucapan suaminya, makin membuat dua orang itu tertawa terpingkal di dekat Mike dan Manis.
"Kenapa sih?!" Amanda datang mendekati suaminya yang di dorong oleh Celin dengan kursi roda.
Tawa Richard dan Donal sedikit membuat perhatian sebagian tamu di dalam ballroom itu teralihkan pada mereka.
"Nggak pa-pa, By. Kita cuma lagi ledekin Mike aja." Richard mengambil alih kursi roda istrinya dari Celin.
__ADS_1
"Pasti godain yang nggak bener!" sela Celin mendekati calon suaminya.
"Nggak bener apa, sih?" sahut Donal mencolek dagu wanitanya.
"Apalagi kalo bukan soal ranjang! Cowok, kan bahasannya nggak pernah jauh-jauh dari selangkangann!" sahut Celin Frontal.
"Astaga ... bener itu Mike?" Manis menatap pria yang tampak memerah disampingnya.
"Bu-bukan gue, Nis. Mereka yang lebih dulu!" tunjuk Mike pada dua sahabat bijinya.
"Eh, kenapa jadi gue sama Donal. Enak aja! Lo yang bilang mau videoin belah duren elo, kan?! Jangan bawa-bawa kita, yah?!" sahut Richard tidak mau disalahkan.
Amanda, Celin dan Manis kompak menggelengkan kepala melihat kelakuan pria-pria mereka. Persahabatan yang memang tidak pernah jauh dari wanita itu, membuat ketiga orang tersebut begitu mudah membahas hal yang sebetulnya bersifat sangat pribadi itu. Ada-ada saja pikir mereka.
Asik berdebat, ketiga sahabat dengan pasangannya masing-masing itu, tidak menyadari ada seorang wanita yang tengah mendekati mereka, berjalan bak model profesional.
Wanita itu tersenyum, dan menyapa Mike lebih dulu. "Hai Mike...."
.
.
.
.
.
.
.
.
Bener nggak, sih pembahasan cowok kayak yang dibilang Celin 🤔
Jadi penasaran 🤭😆
Minggu ini bakal ada pengumuman Giveaway yah guys...
Yang belum Follow IG author @adamvanda bisa di follow sekarang juga karena pengumumannya bakal ada di sana...
__ADS_1
Terima kasih selalu setia disini...
author sayang kalian semua 🥰