Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Ancaman Pak Yahya


__ADS_3

"Masih hidup Lo?!"


Ardi datang menemui Betty di sebuah restoran private tempat wanita itu berjanji temu dengannya.


"Mau apa lagi Lo? Nggak puas gue nyiksa Lo kemarin?!' katanya lagi duduk di depan Betty.


"Aku cuma mau akhiri hubungan kita Ar...."


"Apa? Lo bilang apa tadi?"


"Aku mau kita putus!"


Ardi seketika tertawa sarkas. "Berani banget Lo mau putusin gue setelah kekacauan yang Lo bikin di hidup gue. Jangan mimpi! Gue nggak nggak akan lepasin Lo gitu aja!"


"Terserah apa kata kamu, yang pasti aku mau kita putus. Udah cukup selama ini aku mohon-mohon sama kamu minta maaf, sama semua yang sudah terjadi diantara kita. Dan untuk kekacauan yang kamu bilang, bukan aku yang melakukan itu sama hidup kamu! Tapi, kamu yang main api sendiri! Jangan menyalahkan orang lain atas kebodohan kamu sendiri!" sahut Betty berapi-api.


Entah kenapa hari ini dia hanya ingin melepaskan semua uneg-uneg dihatinya untuk pria tidak punya hati itu.


"Brengsek! Lo bilang apa tadi, hah?!"


Ardi bersiap mau menampar pipi kiri Betty sebelum akhirnya di cegah oleh seseorang.


"Mau apa kamu?!" sentaknya menahan tangan Ardi. "Masih mau pukuli anak saya lagi?!"


"Pa-pak Yahya...," kaget Ardi dengan mata membola.


"Kamu pikir saya tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan pada anak saya, hah?! Siap-siap aja kamu, setelah ini aku bakal hancurin hidup kamu!"


"Pa...," sela Betty. Dia juga ikut kaget mendapati ayahnya ada disini.


"Diem kamu Ty, papa udah nggak bisa mentolerir apa yang udah dia lakuin sama kamu!"


"A-ampun Pak, aku ... aku nggak sengaja lakuin itu sama Betty, Pak." Ardi menangkupkan dua tangannya di depan dada, meminta maaf.


"Nggak sengaja kamu bilang? Kamu udah berapa kali mukulin anak saya, kamu masih bilang nggak sengaja?! Asisten rumah tangga Betty sudah cerita semua sama saya. Kamu sering datang ke apartemen bertemu dengannya hanya untuk mukulin dia! Dasar laki-laki nggak tau diuntung!"


Bukkk....


Pria paruh baya itu mendaratkan pukulannya ke wajah Ardi, hingga pria itu tersungkur di lantai.


"Pa ... udah Pa," tahan Betty. "Papa udah janji mau lepasin Ardi, kan Pa?"


"Nggak Ty, pria ini harus di jebloskan ke penjara. Dia nggak pantes hidup berkeliaran di luar, dia harus dihukum karena perbuatannya! Papa nggak rela kalau dia bebas!"


"Tapi Pa, Papa udah janji sama Betty. Tolong Pa, tolong maafin Ardi...." pinta Betty masih menahan tangan ayahnya.


Ardi yang tergeletak di atas lantai restoran hanya bisa tertunduk, kenapa hidupnya jadi hancur begini? Dia tidak boleh di penjarakan oleh pria di depannya. Dia harus bebas untuk bisa merebut Amanda dari pria brengsek itu, pikirnya.


Ardi pun bangkit dan berlutut di depan bapak menteri dan mantan tunangannya Betty.

__ADS_1


"Tolong maafin aku, Pak. Aku tahu aku udah salah lakuin ini sama Betty. Dia juga udah putusin aku karena masalah ini, aku nggak akan gangguin dia lagi setelah ini. Aku janji bakal menghilang dari kehidupan Betty dan keluarga Bapak untuk selamanya."


Yahya tertawa remeh. "Kamu pikir kamu bisa bebas gitu aja, lihat saja apa yang akan saya lakukan pada semua bisnismu!"


Pria paruh baya yang memakai setelan rapi itu pergi meninggalkan Ardi yang masih berlutut.


"Pa...!" panggil Betty namun tidak diindahkan olehnya.


"Tolong maafin gue, Ty...." Ardi masih berlutut di depan wanita yang dia pukul kemarin.


"Aku sudah maafin kamu, Ar. Tapi, aku nggak bisa janji kalau Papa mau dengerin permintaan aku untuk lepasin kamu. Jaga diri kamu, Ar...."


Betty pun berlalu dari sana, meninggalkan Ardi yang terduduk di atas lantai. Dasar wanita munafik, setelah Lo hancurin hidup gue, Lo mau tinggalin gue gitu aja? Liat aja nanti apa yang bakal gue lakuin sama Lo! Gumamnya mengepalkan tangan kuat.


 **********************


"Gimana? Lo udah berhasil beli tempatnya si sapii belum?"


"Sabar, ini juga lagi negosiasi Chad," sahut Donal sekretarisnya. "Tapi, katanya ada orang lain juga yang sedang ngincar tempat itu."


Richard terkejut dan mengatur duduknya. "Siapa?"


"Nggak tau, kayaknya sih orang penting. Mereka nggak mau ngasih tau siapa orangnya, dan yang gue denger. Dia juga lagi ngincar semua tempat usaha si sapii!"


Richard terdiam mendengarkan laporan Donal. Siapa yang mau membuat pria brengsek itu juga bangkrut? Apa dia juga punya musuh yang lain?


Tunggu ... apa jangan-jangan Pak Menteri Yahya? Tapi, bukannya dia sudah janji sama Betty kalau dia nggak akan berbuat macem-macem sama si sapii?


"Siapa yang dateng?" tanya Donal masih duduk di depan meja kerja atasannya.


"Manda kali, tadi gue suruh dia kesini makan siang bareng."


"Ish, masih sempet-sempetnya yah Lo!" ledek Donal berdiri dari kursinya.


"Makanya cari pacar, jangan cuma main-main aja diluar!"


"Iya, yang udah mau nikah. Sok bijak Lo!"


Donal membuka pintu ruangan kerja Richard dan menyambut kedatangan seorang wanita cantik bermata cipit dengan senyumnya yang manis.


"Hai Manda," sapanya berbinar.


"Hai, kamu...."


"Lupa yah, gue Donal sahabatnya Richard."


"Eh, iya. Maaf ... waktu itu gue nggak nyapa kalian dengan baik," sahut Amanda tidak enak.


"Nggak apa-apa Manda, santai aja."

__ADS_1


"Ngapain sih?" sela Richard yang ternyata sudah berdiri di belakang Donal.


"Jangan deket-deket sama tunangan gue, Lo!" sambungnya menarik tangan Amanda ke dekatnya.


"Iya, iya ... cemburu amat sih. Gue cuma nyapa kali, Chad."


"Nyapa sih nyapa, tapi yah jangan lama-lama juga!" sahut pria blasteran itu posesif.


"Dasar bucin!" goda Donal setengah berlari keluar dari ruang kerja Richard.


"Bangkee, awas Lo yah!" teriaknya kesal.


"Udah ih, malu tau di denger orang. Masa direktur utama kek gitu!" sela Amanda menarik Richard masuk.


"Abisnya dia ngeselin sih...."


"Udah, duduk dulu aku siapin makan siang kita."


Richard mengangguk dan duduk di kursi sofa tamunya dengan penurut. "Maaf yah udah ngerepotin kamu, By. Sampe bawa makan siang segala kesini."


Amanda tersenyum. "Nggak apa-apa kali, Chad. Aku kan mau jadi calon istri yang baik buat kamu...."


"Aduh, kok aku seneng banget yah denger mulut manis kamu ini...." Richard mengusap bibir tipis tunangannya gemas.


"Sini, aku belum cium kamu...." Pria berhidung mancung itu menarik tengkuk Amanda dan menciumnya dengan lembut.


"Nanti abis makan kita 'main' bentar yah...." sambungnya setelah melepaskan tautan bibir mereka.


"Main aja otak kamu itu!"


"Ya gimana, tiap deket kamu punya aku bediri terus. Nih...." Richard menarik tangan Amanda dan menaruhnya di area pangkal pahanya.


"Ish astaga ... jorok banget sih kamu, Chad!" kesal Amanda menarik tangannya dari sana.


Dua orang yang sedang kasmaran itu tertawa saling meledek satu sama lain dengan hati yang membuncah bahagia.


Ternyata mencintai orang yang tepat itu memang indah, kepuasaan batin dan lahiriah seakan terpenuhi. Richard dan Amanda sama-sama merasakan itu semua.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Follow IG author @adamvanda untuk visual Richard dan Amanda


__ADS_2