
"Chad, sorry gue telat." Mike baru saja tiba bersama calon istrinya di rumah sakit.
"Nggak pa-pa, santai aja kali...." Richard duduk di kursi sofa dalam ruang perawatan VVIP dengan lemas.
"Gue bawain Lo seblak, nih...." Mike menaruh sekantong plastik yang dia bawa di atas meja.
Richard mengernyit. "Ngapain Lo bawain gue beginian segala?"
"Tadi Manis lagi pengen makan itu sebelum kita kesini, gue pikir gue beliin ini aja buat snack sore elo."
"Emang sejak kapan gue makan beginian? Ada-ada aja Lo, emang gue Amanda demen makan yang pedes-pedes kek gini!" Richard menggelengkan kepala dan sontak terdiam begitu mengingat wanitanya yang sangat menyukai makanan pedas.
Pandangan mata pria itu kembali menyendu dengan nafas yang berat.
"Udah, nggak usah inget yang sedih-sedih. Gue kesini mau temenin elo, bukan mau liat muka sedih elo, Chad...." Mike menepuk pundak sahabatnya, mengerti dengan keterdiaman pria blasteran itu.
"Maaf Pak Richard, aku nggak tahu kalau makanan ini bakal bikin Bapak keinget sama Amanda," sela Manis tidak enak.
Harusnya tadi dia tidak mengajak Mike makan seblak dan membungkuskan satu untuk Richard, pikirnya.
"Kok Bapak sih, Nis? Sejak kapan temen gue jadi Bapak elo?" sahut Mike sengaja melucu untuk mencairkan suasana.
"Eh, emang aku nggak boleh manggil temen kamu dengan sebutan Bapak, yah?" tanya Manis polos.
"Yah nggak bolehlah! Dia, kan temen gue bukan Bapak elo, Nis ... ada-ada aja, deh Lo."
"Jadi aku manggilnya apa, dong?"
"Tuan Muda...," sela Richard gemas dengan kepolosan calon istri sahabatnya itu.
"Hah? Beneran tuan muda?" sahut Manis menatap pria yang tampak berantakan di depannya.
"Jangan ngajarin yang enggak-enggak sama calon bini gue, Chad...! sergah Mike tidak terima Manis nya dibodoh-bodohi begitu oleh sahabat bijinya.
"Ya abis, perkara panggilan aja Lo ribut banget! Sekalian aja, kan panggil gue tuan muda biar kayak orang-orang di novel itu...," kekeh Richard menggoda Mike.
Selama berada di rumah sakit, Richard memang lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca. Entah itu novel atau koran, Richard sudah menyelesaikan hampir lima puluh buku dalam tiga Minggu ini.
"Jadi aku panggilnya Tuan Muda sama kamu?" tanya Manis lagi masih belum mendapatkan jawaban dari Richard.
"Iya, kalo Lo mau ... Lo bisa panggil gue begitu!" sahut Richard tertawa geli.
"Enggak, nggak usah di dengerin apa kata Richard, Nis. Dia cuma becanda sama Lo, maunya dia itu dipanggil begitu!" larang Mike mengayunkan tangannya di depan dada.
Richard makin tertawa terbahak melihat pasangan yang akan segera menikah itu, berdebat hanya karena masalah panggilan untuknya.
Sepertinya Manis benar-benar luar biasa polos seperti yang pernah Mike ceritakan padanya tempo hari, pikir Richard.
"Udah, pokoknya Lo nggak usah panggil, nih bangkee begitu. Gue nggak suka!"
__ADS_1
"Tapi Mike, aku—"
"Dengerin aja apa kata gue, Nis...," potong Mike mulai kesal.
Meyakinkan Manis memang membutuhkan ekstra kesabaran yang tinggi, mungkin ini salah satu pelajaran kehidupan untuknya jika mau menikah dengan wanita itu, keluh Mike dalam hati.
"Kalian emang beneran cocok Mike. Gue doain, deh kalian langgeng terus sampe kakek nenek...." timpal Richard memegang perutnya karena terlalu banyak tertawa.
Tidak tahu apa itu pujian atau ejekan untuknya, Mike hanya bisa mendengus duduk bersandar di kursi sofa samping Richard.
Bunyi ketukan pintu diruang perawatan itu mengalihkan perhatian ketiganya. Richard buru-buru beranjak dari sofa, melangkah cepat menuju pintu.
"Pak Richard...," sapa seorang perawat yang biasa berjaga di ruangan ICU.
"Iya, Sus. Ada apa?" Perasaan Richard langsung tidak enak melihat wajah perawat itu yang tampak berbeda dari biasanya.
"I-istri anda, Pak...."
Mike dan Manis ikut berdiri mendekati Richard saat mendengar perkataan perawat barusan.
"Istri saya kenapa, Sus?" tanya Richard mulai panik.
"Istri Bapak sudah sadar, Pak...."
"Apa?" Ketiga orang itu kompak bersuara.
"Iya, Pak. Dokter Bryan sedang memeriksanya sekarang."
Richard keluar dan berlari menuju ruangan ICU, detak jantungnya semakin cepat diikuti langkah kaki panjangnya yang melebar.
Kakinya seakan tidak menapak bumi lagi saking kencangnya pria itu berlari. Dalam hati dia terus mengucapkan nama Amanda berulang kali. Berharap kalau ini bukanlah mimpi ataupun hanya dugaan dokter sementara waktu.
Mike dan Manis mengikuti pria yang sedang dilanda kegelisahan dan perasaan bertanya-tanya dalam hati itu, dari belakang.
Mike segera merogoh ponselnya dan menghubungi Tari untuk memberitahukan berita ini. Keluarga sahabatnya pasti akan ikut bahagia mendengarnya, pikir Mike.
"Tunggu sebentar, Pak. Dokter sedang memeriksa istri anda di dalam...." Seorang perawat menahan langkah kaki Richard yang memaksa masuk ke ruangan ICU.
Pria itu sudah tidak sabar menunggu kabar yang baru saja dia dengar dari perawat wanita tadi.
"Berapa lama, Sus? Saya harus nunggu berapa lama lagi?" tanya Richard gelisah.
"Sebentar, Pak. Dokter Bryan ingin memastikan kondisi ibu Amanda benar-benar stabil dulu. Mohon Bapak menunggu sebentar lagi...."
"Chad...!" Mike mendekati sahabatnya diikuti Manis.
"Tunggu disini aja, kita tunggu apa kata dokter nanti." sambung pria bermanik mata abu-abu itu menahan lengan Richard.
"Lama Mike ... gue nggak bisa nunggu lagi, gue—"
__ADS_1
"Sabar, Lo harus sabar, Chad. Yakin aja kalo Amanda pasti bakal baik-baik aja di dalem," potong Mike mencoba memberi pengertian pada Richard.
"Iya Tuan Muda, bener kata Mike. Tuan Muda tunggu aja disini. Nggak usah khawatir, Amanda udah ditanganin sama dokter yang hebat!"
Mike dan Richard sontak menatap Manis yang ikut khawatir melihat tingkah pria bertubuh atletis di depannya.
kekhawatiran Richard mendadak lenyap mendengar Manis memanggilnya dengan sebutan itu.
"Ya ampun, Nis ... udah gue bilang nggak usah manggil Richard begitu!" Mike mengusap tengkuk lehernya, gemas dengan tingkah wanitanya.
"Tadi, kan temen kamu yang minta panggil begitu Mike. Kenapa jadi kamu yang protes, sih?"
"Udah, nggak usah bertengkar!" sela Richard menengahi keduanya.
Drama panggilan tuan muda ini akan terus berlanjut kalau dia tidak turun tangan langsung, pikir Richard.
"Manis, panggil gue Richard aja ... sama kayak Mike manggil gue juga begitu."
"Emang boleh?" tanya Manis merasa tidak sopan.
"Boleh, Nis. Lo, kan bakal jadi bini nya temen biji gue. Jadi Lo juga bakal jadi temen gue sama Amanda nanti."
Manis menganggukkan kepala mengerti. "Ok kalo itu mau kamu."
"Astaga...." Mike memijit pelipisnya, menatap Richard yang geleng-geleng kepala melihat tingkah wanitanya.
"Pak Richard...!" Dokter Bryan keluar dari ruang ICU, berjalan mendekati tiga orang itu.
"Gimana istri saya, Dok?"
.
.
.
.
.
.
Next part yah, guys
Jangan lupa dukungan kalian untuk karya author ini, yah ...
Bulan ini pasangan tiga biji kita bakal tamat
yuk, dukung terus yuk 😁🤗
__ADS_1