Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Rela


__ADS_3

"Gimana keadaannya Dok?"


"Sejauh ini keadaannya baik-baik saja, hanya memang dia butuh perawatan di rumah sakit. Akan lebih baik membawanya kesana karena kulitnya mulai melepuh, dan juga...." Dokter wanita itu menggantung ucapannya.


"Dan juga apa Dok?" tanya Amanda penasaran.


"Maaf, tapi kewanitaan pasien mungkin juga terluka jadi harus segera diobati secara lanjut di rumah sakit."


"A-apa?" kaget Amanda menutup mulutnya tidak percaya.


Richard menyentuh pundak Amanda dan mengusapnya. Dia juga ikut kaget mendengar penuturan Amanda tadi tentang keadaan mengenaskan Betty saat ini.


Pria itu memang gila! Dia yakin kalau Ardi akan berbuat nekat setelah ini.


"Kita bawa Betty ke rumah sakit aja kalo gitu."


"Tapi Nona, Tuan pasti akan tahu tentang ini. Nona Betty juga pasti akan menolaknya," sela Susi.


Mereka sedang berbicara di luar kamar wanita malang tersebut, karena tidak ingin Betty semakin tertekan mendengarkan apa kata dokter.


"Kita tetep harus bawa dia kesana Susi, Betty bakal lebih parah kalo kita nggak bawa dia ke rumah sakit. Dan untuk masalah Pak Menteri ... akan lebih baik jika beliau tahu. Ardi harus bertanggung jawab dengan apa yang udah dia lakuin sama Betty!" tegas Amanda.


"Kalau begitu, biar saya telpon ambulance untuk menjemputnya...." Dokter wanita yang memeriksa Betty sedikit menjauh dari sana dan menghubungi pihak rumah sakit tempatnya bekerja.


Susi mulai ketakutan, bagaimana nanti kalau Betty marah padanya? Apa yang harus dia lakukan? Belum lagi dia harus menghadapi kemarahan Tuannya, bagaimana ini?


Amanda melepaskan tangan Richard yang masih merangkul bahunya mendekati Susi. "Nggak usah khawatir, aku bakal bantuin kamu sampe masalah ini selesai."


"Terima kasih Nona, maaf sudah membuatmu ikut terlibat dalam masalah nona Betty."


"Aku lakuin ini karena aku juga wanita, Si. Nggak ada satu wanita manapun yang pantas diperlakukan begini sama pria! Apalagi sama pecundang macam Ardi. Dia harus dihukum karena masalah ini!"


Richard tersenyum bangga menatap Amanda, memang benar apa yang dikatakan oleh tunangannya ini. Pria gila itu harus di jebloskan ke penjara dan mendapatkan hukuman yang setimpal.


Betty pun dibawa ke rumah sakit setelah ambulance datang ke apartemennya. Berita tentang anak menteri yang masuk rumah sakit setelah di temukan pingsan di dalam apartemen langsung menjadi viral di media massa.


Tapi sampai sekarang, belum ada yang tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi pada anak menteri itu.


"Brengsek! Pria brengsek itu berani menyiksa anakku?!" teriak Pak Menteri Yahya tidak terima.


"Mohon tenang Pak. Banyak wartawan di luar," sahut ajudannya berusaha menenangkan pria paruh baya itu.


"Sejak awal aku sudah tahu kalau pria itu tidak baik untuk anakku! Lihat saja bagaimana aku akan menghancurkannya!"


"Papa...," panggil Betty yang mulai sadar.


"Betty ... kamu sudah sadar, Nak?"

__ADS_1


"Pa ... tolong jangan apa-apain Ardi. Aku yang salah, ini semua salah Betty, Pa."


"Apa maksudmu Betty? Dia sudah berani menyiksamu sampai begini dan kamu masih membelanya? Tidak akan, tidak akan ada ampun untuknya!"


"Pa ... dengerin Betty ngomong dulu," pintanya. "Aku yang sengaja jebak Ardi waktu itu, aku yang sengaja bikin dia putus sama tunangannya dulu. Aku yang bikin Ardi berubah jadi kejam begini. Aku yang salah Pa...."


Betty mulai menangis sesenggukan, merasa bersalah karena sudah membuat hubungan orang lain kandas hanya karena cinta sepihaknya.


Jika dia tidak memaksa Ardi waktu itu, mungkin Ardi tidak akan berubah menjadi pria kasar dan suka menyiksanya seperti ini.


Jika harus disalahkan, dialah yang paling bersalah. Betty menganggap ini adalah karmanya karena sudah merusak hubungan antara dua pasangan yang saling mencintai itu.


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Nak. Jangan buat Papa makin sakit hati dan merasa gagal melindungimu sayang...." Yahya memeluk tubuh Betty yang bergetar menahan isak tangis.


"Tolong Pa, jangan hukum Ardi. Dia nggak bersalah. Aku akan mengakhiri hubungan kami seperti yang Papa minta dulu."


"Apa benar kamu akan memutuskannya?"


"Iya Pa. Betty bakal ikutin semua kemauan Papa mulai sekarang."


Yahya tersenyum lega. "Baiklah, Papa akan ikuti mau kamu. Tapi, Papa berharap kamu mau pindah ke Australia setelah kamu keluar dari rumah sakit nanti."


Dalam dekapan hangat ayahnya Betty mengangguk, meski sakit dengan semua perlakuan Ardi padanya. Dia sudah rela, iya ... Betty sudah merelakan semuanya.


Merelakan pria yang memang bukan untuknya, sejak awal memang dia yang salah. Mengambil kesempatan dengan sikap Ardi yang suka main wanita, hingga dia berhasil menjebak Ardi dan membawanya kesisinya.


Tapi, jika bukan jodoh. Sekuat apapun kamu menggenggamnya, dia pasti akan lepas juga. Sekuat apapun kamu berusaha menahannya, dia tetap akan pergi juga.


"Nona Manda...." panggil Betty melepaskan pelukannya pada Yahya.


Amanda dan Richard juga ada disana mendengarkan semua pengakuan Betty barusan. Hati desainer muda itu ikut sakit mengetahui sikap Ardi selama ini dibelakangnya, ternyata dia tidak pernah setia dengannya.


Di belakangnya pria itu asik bergonta ganti wanita tanpa merasa bersalah sedikitpun padanya. Bodohnya Amanda yang begitu mempercayai pria brengsek itu selama ini.


Pantas saja Ardi tidak pernah mau menggandeng tangannya di depan umum, ataupun sekedar bersandar di bahunya saja. Ternyata ini alasannya, agar dia bisa bebas tebar pesona dengan wanita lain?


Oh Amanda ingin sekali lagi bisa menampar pria tidak tahu malu itu.


"Tolong maafin aku Nona Manda, maafin aku karena udah bikin hubungan kamu sama Ardi berantakan. Aku emang jahat, mengambil kesempatan untuk merebut Ardi dari kamu."


Amanda menggeleng. "Tidak, justru aku yang harus ngucapin terima kasih buatmu Nona Betty. Karena kamu, aku bisa tahu kalau pria itu bukan jodohku. Dia memang tidak pantas untuk kita berdua!"


Betty terenyuh, rasa bersalah semakin menggerogoti hatinya saat ini. "Terima kasih Nona Manda, kamu memang sangat baik. Pantas saja Ardi begitu mencintaimu sampai sekarang."


Dan begitulah, Richard bersama tunangannya Amanda keluar meninggalkan ruang perawatan Betty setelah wanita itu meminta maaf dan mulai tenang.


Mengikuti jalan belakang, Richard merangkul pundak Amanda hingga mereka sampai di parkiran mobil.

__ADS_1


"Ayo masuk By...." ucapnya lembut.


"Makasih Chad."


Richard memutari mobil dan duduk di kursi samping Amanda. "Kenapa?" tanyanya.


"Nggak pa-pa."


"Masih sakit hati dengan mantan Lo itu?"


"Ish, siapa juga yang masih sakit hati!" elak Amanda.


"Trus kenapa mukanya gak enak banget gitu?"


"Ya nggak pa-pa, masa gue harus senyum-senyum kayak orang gila!"


"Udah, nggak usah dipikirin. Sekarang kan Lo udah punya gue. Gue nggak bakal tinggalin Lo karena wanita lain, apalagi selingkuh di belakang Lo!"


"Iya, iya ... gue percaya. Makasih yah...."


"Kok makasih?"


"Ya iya, makasih karena mau setia sama gue."


Richard tertawa. "Jangan bilang makasih Manda, bagi gue ... setia itu komitmen. Kita nggak bisa setia kalo kita nggak punya komitmen. Gue juga dulu suka main cewek, tapi pas ketemu elo yang cocok. Yaudah, gue janji sama diri gue sendiri bakal selalu jagain elo dan setia hanya sama Lo doang."


"Gombal!"


"Terserah Lo mau bilang gombal atau buaya sekalipun gue nggak peduli. Nanti juga Lo bakal tau mana yang gombal dan mana yang buaya!"


Amanda tertawa geli mendengar ucapan Richard. Pria ini memang selalu saja menggodanya sejak pertama mereka bertemu.


"Nah sekarang, Lo siap-siap karena kita nggak bakal tidur sampe pagi."


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Masih inget aja si burung 🤭🤣


__ADS_2