
"Nis...," panggil Mike setengah berbisik.
"Apa?"
"Gue lagi pengen ke belakang, nih." sahut Mike memegang perutnya. Mereka sedang duduk di dalam ruangan rumah Manis, setelah Badia dan Malo tidur.
"Mau pipis apa mau pupup?" tanya Manis.
"Hah? Harus, yah di tanyain begitu, Nis?"
Manis menggangguk. "Iya Mike, toilet kita di deket rumah, tuh cuma buat mandi sama pipis doang."
"Ya ampun, trus kalo gue mau pupup harus kemana?" tanya Mike was was.
"Ada, tapi agak jauh dikit dari rumah. Kamu mau apa, pipis ato pupup?" tanya Manis lagi.
"Aduh ... gue mau pupup, Nis. Perut gue sakit banget ini," keluh Mike sejak tadi memegang perut kotak-kotaknya.
"Yaudah, ayo aku temenin. Aku ambil obor dulu buat penerangan kita."
"Obor?"
"Iya, bentar." Manis mengambil sebuah obor dari dalam dapur dan memasangnya dengan api yang masih menyala di tungku masak rumah mereka.
"Kita pake beginian, Nis? Kenapa nggak pake senter aja, sih?" risih Mike.
"Disini harus pake begini kalo udah malem."
"Kenapa?" tanya Mike kepo.
"Buat jaga-jaga aja jangan ada yang deketin."
Mike mengernyit. "Deketin gimana maksud Lo?"
"Udah, nggak usah banyak tanya. Ayo cepet kalo mau pupup, katanya tadi sakit perut."
Mike pasrah mengikuti Manis dari belakang. Keduanya berjalan cukup jauh dari rumah, melewati pepohonan yang besar dan tinggi ditemani suara burung-burung malam di sana.
"Nis, ini kok serem begini, sih?" keluh Mike menggenggam tangan kiri Manis.
Wanita itu sedang memegang obor di tangan kanan, dan mengangkatnya tinggi agar jalan di depan mereka terlihat.
"Kenapa? Kamu takut?" goda Manis.
"Ish, mana ada. Gue cuma bingung aja, ini mau ke toilet apa mau ke wahana permainan horor. Jalannya udah kayak di dalam wahana ketemu setan-setan gak jelas," elak Mike.
Manis tertawa geli mendengar ucapan pria yang semakin menempel padanya. Dia tahu kalau Mike pasti sedang merinding sendiri sekarang.
"Disini emang begini Mike, kalo mau pupup ... toiletnya emang agak jauh dari rumah. Aku juga awalnya kayak kamu, takut kalo kesini malem-malem. Tapi yah, makin lama makin biasa juga."
"Ish, emang siapa yang bilang kalo gue takut?" sahut Mike tidak terima.
"Kalo nggak takut, trus ini apa? Ngapain coba kamu jalannya nempel-nempel kayak gini sama aku?" tunjuk Manis pada tangan dan badan Mike yang sangat dekat dengannya.
"Ya, kan jalannya nggak keliatan, Nis. Lagipula obornya, kan ada sama elo. Gimana gue bisa liat jalan di depan kalo gue jauh-jauh dari elo?!" sahut Mike beralasan.
Pria blasteran itu tidak mau kalau Manis sampai berpikiran dia pria yang penakut. Harga dirinya bisa turun pikir Mike.
__ADS_1
Tiba di depan sebuah pondok kecil dengan atap anyaman daun kelapa yang disusun rapi, dan tirai seadanya. Mike mengernyit bingung harus menggunakan tempat itu bagaimana.
"Ini toiletnya, Nis?"
"Iya, bentar aku cek dulu." Manis masuk ke dalam sembari memastikan sesuatu.
"Cek apaan, sih?" tanya Mike setelah Manis keluar dari dalam sana.
"Cek jangan ada ular di dalem," sahut Manis santai.
"Hah? Ular?" Manis mengangguk. "Kok toilet Lo ini malah makin nyeremin, sih?" sambung Mike bergidik ngeri.
"Ini lebih ke jambann lebih tepatnya Mike, tapi kalo jambann lain bisanya gak ada atap kayak begini. Kamu masuk aja, di dalem cuma ada toilet jongkok."
"Tapi gue nggak bakal kenapa-napa, kan di dalem?"
"Kenapa-napa gimana, sih maksud kamu? Udah, nggak usah bawel. Sana masuk, aku mau ambilin air dulu buat kamu."
"Eh, Lo mau ambil air di mana?" tahan Mike tidak ingin wanita itu meninggalkannya sendirian.
"Cuma deket, kamu masuk aja ke dalem. Airnya nggak cukup buat kamu cebok."
"Ta-tapi gue—"
"Aku cuma nggak lama Mike, tenang aja...," potong Manis.
"Kamu pake senter dulu, udah aku gantung di dalem!" sambung Manis berlalu meninggalkan pria itu sendiri di depan jambann
Mau tidak mau Mike pun masuk ke dalam, berkonsentrasi mengeluarkan hasil olahan makanan terakhir yang masuk ke tubuhnya. Ini gara-gara makan sambel tuktuk kebanyakan sampai perutnya sakit begini, pikir Mike.
Di tengah fokus dengan kegiatannya, Mike dikejutkan dengan suara aneh dari luar jambann diikuti langkah kaki yang tengah mengarah padanya.
Namun, tidak terdengar suara sahutan dari luar sana. Malah suara langkah kaki yang cukup banyak diikuti suara aneh, semakin mendekat ke arahnya.
Mike merasa ada yang aneh, buru-buru pria itu mengambil cabang-cabang pohon kecil yang berada di dalam jambann, untuk memukul apa saja yang mendekatinya.
Belum sempat mengumpulkan cabang pohon itu dengan banyak, seekor babi hutan masuk menerobos tirai jambann dan membuat Mike memekik kuat di dalam sana.
"Manis...!" teriak Mike ketakutan.
Hampir lima meter berada jauh dari jambann, Manis mendengar teriakan calon suaminya dan berlari sambil menenteng seember air dengan obor yang masih menyala di tangan.
"Manis...!" teriak Mike lagi, kuat.
Babi hutan yang masih kecil itu malah maju menyeruduk bokongnya yang polos, hingga Mike jatuh terjerembab di atas tanah jambann.
"Aduh...." Mike meringis antara sakit dan jijik.
Tangan dan tubuh bagian bawahnya yang tidak memakai apa-apa, sudah kotor sekarang. Babi hutan itu masih bersuara-suara aneh di depannya dan bersiap menyerang Mike kembali hingga Manis masuk ke sana.
"Astaga...." Manis kaget melihat Mike sudah jatuh ke atas tanah, dengan babi hutan yang tengah berada di dalam bersamanya.
Wanita itu segera mengusir hewan liar tersebut menggunakan obor yang dia bawa, hingga babi hutan itu lari keluar meninggalkan Manis dan Mike.
Obor yang dia bawa memang dipersiapkan oleh Manis untuk mengusir babi hutan yang memang sering berkeliaran di sekitar sini saat malam hari.
"To-tolongin gue, Nis...." Mike tidak bisa bergerak dengan keadaan tubuh kotor dan tanpa memakai celana.
__ADS_1
Benda bergelantungan miliknya langsung terpampang jelas di depan mata Manis, saat wanita itu membantu Mike berdiri.
"Ya ampun Mike, mending kamu bersih-bersih dulu!" ujar Manis dengan wajah yang memerah.
"Ini tuh, gara-gara elo, Nis. Udah gue bilang jangan tinggalin gue sendiri disini! Liat, kan ini gue jadi kotor begini!" kesal Mike tidak mempedulikan dirinya yang polos di bawah sana.
"Aku, kan ambillin kamu air Mike. Udah kamu bersih-bersih dulu, itu airnya!" tunjuk Manis di samping kiri Mike.
Wanita itu tidak mau menatap benda kebanggaan Mike di depan sana.
"Lo mau kemana lagi?!" Mike menahan Manis sebelum dia sempat keluar.
"A-aku tunggu diluar Mike."
"Nggak, kamu tunggu di sini. Tunggu sampe aku selesai bersih-bersih!"
"Apa? Jangan gila kamu Mike...."
"Iya, gue gila karena hewan jadi-jadian tadi! Lo pokoknya nggak boleh kemana-mana, tunggu gue di sini!" sahut pria bermanik mata abu-abu itu bersikukuh.
Manis tidak bisa membantah, Mike memaksanya menunggu dengan dia di dalam jambann, hingga pria itu selesai membersihkan diri.
Pria itu bahkan dengan tidak tahu malunya malah bugill di depan dia, tanpa mempedulikan Manis yang semakin memerah dibuatnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kasiann
Nggak kebayang di seruduk begitu pas lagi sakit perut 🤭🤣
.
.
.
.
Author mau ngucapin makasih untuk yang masih setia disini,, pelan-pelan author akan selesein setiap part tiga biji, yah...
Dan cerita ini kemungkinan terbesar bakal tamat bulan depan,,
Jadi ... tungguin terus yah kesayangan author semua
__ADS_1
terima kasih 🌹