Touch Me Slowly

Touch Me Slowly
Nikah Aja...


__ADS_3

"Kita mau ke mana Mike?"


Pria blasteran dengan mata yang sedikit sipit itu terlihat terburu-buru masuk ke dalam mobil, dan mulai melajukannya dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Ke rumah sakit," sahut Mike singkat.


"Siapa yang sakit?"


"Amanda, dia abis kecelakaan kemaren."


Manis tersentak, kaget mendengar ucapan Mike. "Ha? Amanda yang kemaren ketemu sama kita di resto itu?" Mike mengangguk.


"Tapi dia nggak pa-pa, kan?" tanya Manis khawatir.


"Belum tau, Nis. Kemarin gue tanya sama Donal dia bilang Amanda masih di IGD."


Manis makin terkejut mendengar ucapan pria di sampingnya. "Kejadiannya kemarin?"


"Iya, katanya mobil Amanda di tabrak waktu dia mau jemput Richard di bandara. Dia barengan sama Mawar juga...."


"Astaga ... semoga aja mereka gak apa-apa, yah Mike?"


Dua orang itu baru saja pulang dari luar kota, setelah Mike menyelesaikan pemotretannya tadi malam.


Mike sangat kaget mendengar Amanda masuk rumah sakit karena kecelakaan kemarin. Pria itu di hubungi oleh sahabatnya Donal, kemarin sore.


Tiba di parkiran rumah sakit, Mike turun dari mobilnya diikuti Manis. Pria itu sudah menghubungi Donal untuk menanyakan di mana ruangan VVIP yang Richard sewa.


Mendengar bagaimana cerita Donal tentang keadaan sahabatnya yang sangat terpukul tadi pagi, membuat hati Mike tidak tenang.


Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Richard saat ini. Membayangkan saja sudah membuat Mike takut, apalagi jika itu sampai menimpanya. Mungkin Mike tidak akan sekuat dan setegar Richard sekarang, pikirnya.


"Chad...," sapa Mike masuk ke dalam ruangan VVIP rumah sakit.


Pria dengan mata sembabnya itu mendongak menatap sahabatnya, dan seorang wanita muda berdiri di sampingnya.


"Mike," sapa Richard balik.


"Sorry gue baru bisa dateng. Gue lagi di luar kota kemaren."


Richard mengangguk, mempersilahkan dua orang di depannya duduk.


"Lo cuma sendiri?" tanya Mike.


"Ada mertua gue juga, tapi dia lagi ke kantin beliin makanan."


Richard terlihat sangat berantakan sekarang, bawah matanya terlihat menghitam dengan pandangan mata yang redup. Mike semakin kasihan dan tidak tega melihatnya.


"Ini siapa?" tanya Richard menunjuk ke arah Manis.


"Ini calon gue."


"Hah? Calon?"


"Iya. Namanya Manis...."


Richard manggut-manggut mengerti, menatap wanita muda yang katanya bernama Manis. Wanita itu tersenyum, sedikit mengangguk membalas tatapan mata Richard padanya.


Dalam hati Manis menggerutu tidak terima Mike selalu berkata begitu pada semua orang yang bertemu dengan dia tentang siapa dirinya. Tidak tahu apa maksud Mike sebenarnya, pikirnya.

__ADS_1


"Amanda gimana, Chad?" tanya Mike mengalihkan pandangan Richard.


Pria itu terlihat membuang nafas panjang, duduk bersandar di kursi sofa. "Dia koma, Mike."


"Koma?" kaget Mike.


"Iya, tadi kondisinya juga sempat drop. Tapi untung aja dokter bisa nyelametin Amanda...."


Richard menceritakan keadaan istrinya pada Mike dan Manis. Sangat terlihat bagaimana Richard terpukul dan tidak mampu saat ini.


Baik Mike maupun Manis ikut larut dalam kesedihan Richard begitu mendengar penuturannya.


"Kamu yang kuat yah, Chad? Bilang sama gue kalo lo perlu apa-apa. Gue usahain gue bantu."


"Makasih Mike, gue cuma berharap Amanda bisa cepet bangun."


"Amin, gue doain yang terbaik buat kalian berdua."


Richard tersenyum sendu. "Makasih Mike."


...***********************...


"Kasian yah, temen kamu Mike? Keliatan banget kalo dia sedih sekali tadi."


"Iya, Richard cinta banget sama istrinya. Selama ini mereka nggak pernah bertengkar dan selalu mesra satu sama lain. Kemana-mana hampir setiap hari barengan, pokoknya mereka berdua pasangan yang komplit, deh. Gue aja kadang cemburu liat mereka," jujur Mike duduk di kursi belakang kemudi.


Setelah pamit dan berjanji akan kembali lagi besok hari, Mike pulang bersama Manis ke rumahnya. Mereka tidak sempat menjenguk Mawar yang katanya belum bisa diganggu sore itu, karena sedang beristirahat.


"Iya, aku juga liat temen kamu beneran sayang sama Manda. Beruntung banget loh dia bisa punya suami kayak Richard," puji Manis.


"Eh, gue juga gitu kok. Kalo udah cinta, nggak bakal gue lepasin!" sahut Mike tidak mau kalah.


"Masa sih?" goda Manis.


"Boleh, aku mau liat kamu mau ngasih bukti apa sama aku...," kekeh Manis.


Mike tersenyum tipis memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, membuka seatbelt yang dia pakai.


"Kok brenti?"


"Lo minta bukti, kan? Ini buktinya...." Mike menarik tengkuk Manis, mendaratkan bibir basahnya ke bibir tipis kenyal Manis.


Manik mata cokelat tua itu membola sempurna mendapatkan serangan tiba-tiba lagi dari Mike. Pria itu selalu bertindak semaunya dengan menciumnya. Ini kedua kalinya mereka berciuman seperti ini.


Ciuman pembuktian itu malah semakin menuntut sekarang, Mike menahan kuat tengkuk Manis membenamkan bibirnya bergantian dengan lidah panjangnya.


Manis tidak bisa menolak, Mike memang selalu bisa membuatnya terhanyut dengan permainan bibir pria itu. Dia sampai kewalahan sendiri mengimbangi permainan memabukkannya.


Untuk orang yang tidak pernah berciuman, Manis bingung harus membalas seperti apa.


"Udah percaya belum?" Mike menarik diri dari bibir Manis.


"Kamu apa-apaan, sih?! Main nyosor aja!" kesal Manis mengusap bibirnya.


"Lo, kan tadi minta bukti. Yaudah, itu bukti dari gue."


Manis berdecak tidak suka. "Aku bukan pacar kamu! Jangan seenaknya main cium orang gitu aja!"


"Oh jadi Lo maunya kita pacaran dulu baru gue bisa nyium elo? Yaudah, kalo gitu kita pacaran sekarang."

__ADS_1


"Apa? Jangan asal ngomong Mike!" sahut Manis tidak terima.


"Siapa yang asal ngomong, sih? Pokoknya sekarang kita pacaran!"


"Nggak, aku nggak mau!" tolak Manis tegas.


"Kenapa? Lo nggak mau jadian sama cowok ganteng kayak gue?" goda Mike merapatkan wajahnya lagi dengan Manis.


"Nggak mau aku cium lagi? Gak ketagihan Lo sama bibir gue yang seksi ini?" Mike masih terus menggoda wanita berhidung mancung itu.


"Ish, aku nggak mau pacaran sama cowok mesuum kayak kamu! Pacaran cuma buat nyosor doang, ogah!"


Mike tertawa mengusap kasar kepala Manis. Ternyata wanita ini sudah lebih pintar sekarang, gumamnya.


"Jadi Lo maunya gimana?"


"Pacaran itu cukup pegangan tangan aja, jangan nyosor apalagi pegang-pegang yang lain!"


"Hah? Serius Lo, Nis?" tanya Mike tidak percaya.


"Iya! Pantang buat aku pacaran udah main pegang sana sini!"


"Astaga ... yang namanya orang pacaran, ciuman itu hal yang biasa, Nis. Kalo nggak kayak gitu, nggak asik."


"Nggak asiknya buat kalian kaum biji! Itu maunya kalian, kan cium sama pegang sana sini?!" telak Manis bersuara.


Mike hanya bisa terdiam menelan salivanya kasar. Dia tidak menyangka kalau hal seperti ini Manis bisa sangat pintar dan berpendirian, pikirnya.


"Yaudah ... kalo gitu kita nggak usah pacaran aja," sahut Mike mundur, duduk kembali di kursi kemudi dengan baik.


Manis mengernyit, tidak rela. Entah kenapa dia ingin Mike memaksa menjadi pacarnya dengan mengiyakan ucapannya tadi.


"Kamu nggak mau, yah?" tanya Manis lebih kepada gumaman.


"Iya, gue nggak mau. Gue maunya kita nikah aja kalo gitu!"


Manis tersentak menatap tidak percaya pria yang duduk di sampingnya. "Ma-maksud kamu?"


"Kita nikah aja, Nis. Gue nggak bisa pacaran kalo nggak nyium sama pegang-pegang elo. Mending sekalian aja kita resmiin hubungan kita, kan?"


"Ta-tapi nggak nikah juga, kan Mike...." sahut Manis masih syok dengan jawaban pria itu.


"Kenapa? Katanya tadi nggak mau aku pegang sama cium kalo kita pacaran? Nah, kalo kita nikah, kan gue bebas nyentuh Lo dimana aja, Nis?" sahut Mike enteng.


"Lo tenang aja, setelah kontrak gue sama perusahaan baju ini selesai. Kita bakal langsung nikah!"


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Terserah Mike aja maunya bijimana, yah 🥴


__ADS_2