Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Pelatihan untuk Muca


__ADS_3

Saat Gin pulang ke apartemennya, dia disambut hal yang mengejutkan. Burung kecil itu, Muca tiba-tiba berbicara padanya dengan nada penuh semangat. "Tuan, aku ingin berlatih. Tolong bimbing aku!"


"..." Gin membeku sesaat, lalu dia merespon. "Apa?"


"Aku ingin berlatih tuan, tolong bimbing aku" ulang Muca dengan mata berbinar penuh pengharapan.


Gin langsung linglung setelah mencerna maksud dari burung kecil itu. Pasalnya, dia tidak tahu bagaimana melatih seekor burung. Tapi kalau dia mengaku, bukankah harga dirinya sebagai Tuan akan tercoreng? Dia tidak masalah bertindak rendah diri di hadapan semua orang, tapi dia tidak mau hal itu terjadi di hadapan para peliharaanya.


Melihat wajah Gin yang bingung, Bimba langsung berkata, "lempar saja ayam itu di hutan dan biarkan dia jadi makanan binatang lain" katanya enteng sambil menjilat kakinya.


Urat-urat kekesalan muncul di kepala Muca. Dia langsung terbang ke atas kepala Bimba dan melemparkan kotoran burung ke arah kepalanya. "Rasakan itu kucing bau!" teriak Muca sarkas.


Amarah Bimba memuncak. Dia langsung melompat dan mengigit sayap Muca.


"Tuan, tolong aku. Dia ingin memakanku" teriak Muca.


"Cih" Bimba membuang Muca dari mulutnya, menyebabkan beberapa bulunya terlepas. "Siapa yang ingin memakan anak ayam sepertimu? Rasamu saja tidak enak" katanya. "Kau bau" tambahnya lagi.


Muca membeku. Dia merasa anak panah menusuknya saat Bimba mengatakan bahwa dia bau. Dia memang tidak pernah mandi, tapi dia seekor burung. Hal itu sangat normal. Perkataan Bimba menjadi hinaan tajam untuknya. Jadi Muca akan mendedikasikan dirinya untuk mandi setiap hari mulai sekarang.


Gin mendapatkan ide yang bagus saat mendengarkan perkataan Bimba. Melatih Muca agar bertarung dengan binatang sihir lainnya bukanlah hal yang buruk.


Jadi, keesokan harinya Gin membawa Muca ke sebuah hutan saat dia pulang dari sekolah. Gin tidak tahu hutan apa ini. Dia menemukannya secara random dan kebetulan. Setelah itu keduanya terbang untuk mencari target berlatih.


"Aku akan memilih beberapa binatang sihir yang sesuai dengan tingkat kultivasimu. Kau bisa berlatih dengannya" kata Gin dengan entengnya.


"Aye, aye, Tuan" Muca menggerakan sayapnya dan membentuk sikap hormat dengan meletakkan sayapnya di keningnya.


Gin menemukan seekor babi hutan raksasa sebesar kerbau. Dia langsung turun dan berkata "Bagaimana dengan hewan itu?" kelihatannya babi bertanduk itu juga berada di inti emas menengah.


"Itu babi" Muca merespon. "Dia jelek" ejeknya kemudian. Lalu dia terbang mendekati babi itu.

__ADS_1


Babi bertanduk itu menyadari keberadaan Muca. Matanya langsung memerah dan dia mendengus dengan keras. Tanpa aba-aba, babi itu menyerang ke arah Muca dengan tanduknya.


Muca menghindar. Babi itu menabrak salah satu pohon.


BAK! Pohon itu langsung patah dan tumbang.


Babi bertanduk itu semakin marah. Dia melompat dengan cepat dari pohon satu ke pohon lainnya, lalu mengarahkan tendangan ke arah Muca. Muca menghindar lagi.


BAM! Tendangan dari Babi bertanduk itu mengenai tanah dan membuat lubang besar di sana.


"Dia cepat" gumam Gin. Bukan babi bertanduk itu yang cepat, tapi Muca. Gin merasa burung kecil itu benar-benar sangat cepat seperti petir. Saat Muca terbang dengan cepat menggunakan kekuatannya, Gin bisa melihat jejak percikan api darinya.


Sekarang giliran Muca menyerang. Burung kecil itu melesat dengan cepat ke arah Babi bertanduk. Lalu dia membuka paruh kecilnya dan menyemburkan kobaran api seperti naga. Api itu bukan berwarna merah seperti pada umumnya,


Api biru itu mengenai babi bertanduk dan babi itu berteriak kesakitan. Dia berusaha bergerak cepat sambil membanting tubuhnya dari pohon satu ke pohon lainnya. Tapi api itu menjalar di seluruh tubuhnya. Babi itu membeku dan berteriak keras saat seluruh tubuhnya terbakar. Lalu tubuh babi itu terbakar sampai tidak bersisa. Bahkan tidak ada jejak abu sama sekali.


"Tuan, tuan, aku berhasil" Muca menghampiri Gin sambil bersorak gembira.


Lalu mereka berdua terus menjelajahi hutan untuk mencari target latihan. Sampai sore menjelang, Muca berhasi mengalahkan tiga babi hutan dan satu kodok raksasa. Itu bukan kinerja yang buruk sama sekali.


Gin memutuskan untuk melatih Muca dengan metode seperti itu selama beberapa hari ini. Mereka pergi ke hutan yang mereka temukan secara acak dan mencari target latihan. Melihat Muca bertarung beberapa kali, Gin mengerti bahwa api biru Muca adalah keunggulannya. Tidak ada yang berhasil menahan api biru itu. Semua binatang yang terkena api biru itu terbakar sampai tak bersisa.


Gin tanpa sadar merasa tertarik dengan api biru Muca. "Bisakah kau serang aku dengan api biru itu?" tanya Gin tiba-tiba.


"Apa?" Muca melonggo kaget. Lalu dia menggeleng cepat. "Tuan, ini adalah api biru phoenix. Walaupun tuan kuat, api biru ini tidak bisa dihilangkan. Hanya air suci yang bisa memadamkan api biru phoenix." katanya khawatir.


"Tidak apa-apa. Aku bisa mengatasinya" kata Gin percaya diri.


Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya Muca setuju.


Gin langsung mengaktifkan beberapa skill miliknya. Skill ketahanan terhadap api. Skill ketahanan terhadap rasa sakit. Skill penyerapan. Semua ini adalah skill pasif miliknya. Dia akan mengaktifkan skill pelindung nanti, saat dia berada dalam kondisi terdesak dan tidak bisa memadamkan api biru itu.

__ADS_1


Muca menyemburkan apinya. Gin menghalangi api itu dengan telapak tangan kanannya. Lalu api itu mulai menyebar ke pergelangan tangannya. Gin merasakan rasa hangat yang aneh. Tapi itu tidak sakit. Rasa hangat yang sangat nyaman.


Lalu tiba-tiba suara berbunyi di kepalanya


(Berhasil menyerap api biru. Skill api biru didapatkan)


"eh?" Gin kaget. Api di tangannya tiba-tiba menghilang. Lalu Gin mengecek sistemnya dan dia bisa melihat skill api biru level 1 disana.


Skill: Api biru


Level:1


Mana: 200


Begitulah deskripsinya.


Lalu Gin tiba-tiba teringat sesuatu. "Bukannya kau sedang liburan, sistem? Kenapa tiba-tiba muncul di kepalaku?" dia merasakan hal yang janggal tentang ini.


Tidak ada jawaban dari sistem itu. Sampai akhirnya sebuah tulisan tiba-tiba muncul di depan matanya.


(Warning, Itu adalah mode otomatis. Jangan dipertanyakan)


"..." Gin tidak bisa berkata-kata.


Melihat api birunya hilang, Muca cukup kaget. Dia sekarang semakin menganggumi Gin. Dia benar-benar tidak salah pilih orang sebagai tuannya. Tuannya benar-benar orang yang hebat.


Gin langsung mencoba skill baru yang di dapatnya. Dua ratus mana digunakan dan tiba-tiba api muncul dari tangannya. Itu adalah bola api yang cukup besar.


DUAR! Serangan Gin mengenai lahan di depannya. Lalu membuat ledakan yang cukup besar dan membakar beberapa bagian hutan. Gin terdiam. Awalnya dia mengira bahwa dia bisa menggunakan api ini untuk membuat api unggun. Karena rasa hangatnya sangat bagus dan itu masih level 1. Dia tidak menduga bahwa serangannya akan menimbulkan kerusakan besar seperti ini.


"Sepertinya aku tidak bisa menggunakan api ini untuk membuat api unggun..." gumam Gin sedih.

__ADS_1


Muca yang mendengarnya menatap Gin dengan mata melotot. "Tuan, itu adalah api phoenix. Bagaimana bisa kau menjadikannya api unggun? Itu adalah penistaan!" dia protes. Tapi hanya dalam hati, tentu saja. Dia tidak berani mengatakan hal seperti itu pada Gin. Dia takut membuatnya marah.


__ADS_2