Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Bertemu dengan Kenalan Lama


__ADS_3

Rain pun mengawasi Gin dengan ketat. Dia tidak bisa menjauhkan matanya dari bocah itu. Bahkan dia pun mengikutinya saat Gin sedang pergi ke toilet.


Gin menyadari hal itu, tapi dia hanya bisa mendengus risih. Gin tidak tahu siapa orang ini dan mengapa dia mengikutinya. Tapi dia tidak memiliki aura membunuh, karena itu dia membiarkannya. Bertindak bahwa dia tidak tahu apa-apa.


Akhirnya jam pelajaran berakhir, Gin pulang. Dan orang aneh itu masih mengikutinya. Gin tidak peduli. dia bersikap seperti biasa. Masuk ke dalam toko untuk melihat game terbaru dan membeli beberapa makanan untuk dimakan.


Rain mengernyitkan kening. Dia merasa bahwa semua hal yang Gin lakukan sangat biasa. Dia bahkan tidak melihat anak itu berinteraksi dengan siapapun. Dia mengikuti anak itu sampai ke apartemennya. Bahkan ikut masuk seperti hantu karena tubuhnya tembus pandang.


Saat dia masuk, dia hanya melihat ruangan yang sangat biasa. Tidak ada alat sihir atau barang-barang yang digunakan kultivator untuk menunjang kultivasi mereka.


Lalu Rain merasa bahwa seseorang menatapnya. Kali ini itu bukan Gin, tapi seekor kucing gemuk yang sedang duduk di sofa. Mata mereka bertatapan. Tapi kucing itu tiba-tiba bersuara "Meoww" sambil merengangkan tubuhnya. Rain merasa bahwa tatapan itu juga kebetulan. Itu hanya kucing biasa.


"Oh, dia bangun" Gin tiba-tiba berkata sambil melihat ke arah burung kecil sebesar kepalan tangan manusia. Rain juga merasa tertarik dan mendekat.


Muca membuka matanya. Dia berkicu senang lalu terbang ke pelukan Gin. "Tuan, aku berhasil maju" katanya dengan suara kicauan burung. "Sekarang aku di tahap inti emas menengah" katanya bangga sambil berpose dengan sayapnya.


"Cih, apa yang bisa dibanggakan dari itu. Dasar ayam" dengus Bimba dengan suara kucingnya.


Tapi tidak dipungkiri bahwa Muca menerobos sangat cepat. Dia baru saja menetas dan berada di tubuh inti emas dasar. Saat dia bermeditasi, alias tidur, dia melompat sebanyak sepuluh tingkat ke tubuh inti emas menengah. Seperti yang diharapkan dari hewan legendaris.


Rain merasa adegan di depannya sangat aneh. Dia tidak mengerti bahasa kucing atau pun burung. Tapi dia tahu bahwa keduanya saling berbicara satu sama lain. Lalu dia juga bisa melihat bahwa burung kecil itu adalah binatang sihir inti emas menengah. Dia kaget dan tidak bisa mengerti bagaimana burung kecil memiliki kultivasi seperti itu.


Rain masih tetap mengawasi. Dia bahkan mencuri beberapa makanan milik Gin di dalam kulkas karena dia lapar. Lalu dia duduk santai dipojokan sambil memakan cemilan yang dicurinya.


Tiba-tiba dia tersentak. Dia merasakan kehadiran asing. Dia langsung menyembunyikan seluruh auranya dan mencari tempat untuk menyembunyikan di balik tirai jendela. Dia melihat sesosok seseorang terbang dan mengawasi apartemen Gin dari luar. Sosok itu adalah Yina.


Yina merasa bahwa dia kehilangan semangatnya untuk hidup. Setelah Gin mengatainya sebagai penguntit, dia malu sampai mati. Lalu dia mogok mengawasi bocah itu dan memendam diri di kamarnya selama beberapa hari. Sampai akhirnya dia mendapatkan panggilan kakek Arai yang menanyakan keadaan Gin. Mau tidak mau dia harus meninggalkan apartemennya dan mengawasi bocah itu lagi. Tapi dia tidak berniat lama-lama. Setelah memastikan bahwa bocah itu baik-baik saja dia akan kembali.

__ADS_1


Rain membelalak kaget. Dia mengenali sosok yang mengawasi Gin dari balik jendela itu. Dia pun segera menghampirinya.


"Yina" tegurnya.


Yina kaget. Dia tidak merasakan atau pun melihat kehadiran siapapun.


Rain menghapus tekniknya dan sosoknya muncul tepat di depan Yina. Yina tersentak kaget untuk yang kedua kalinya.


"Ikut aku" kata Rain. Yina mengikutinya seperti ayam.


Mereka akhirnya menemukan tempat sepi untuk berbicara dan berhenti di sana.


"Salam, kakak sepeguruan" kata Yina.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Rain.


Pertama kali dia melihat Yina waktu itu adalah saat dia masih dua puluh tahun. Kakek Arai tiba-tiba membawa seorang anak berumur lima tahun dan mengatakan bahwa itu adalah murid barunya. Yina adalah murid luar termuda yang dibesarkan oleh kakek Arai.


Yina melihat Rain dengan ekspresi ragu, lalu menjawab. "menjalankan tugas..." dengan nada terbata-bata.


Rain mengernyitkan keningnya. Dia semakin bingung. "Aku tidak mengerti. Apa kau juga mengawasi bocah itu?"


Yina mengangguk cepat seperti ayam.


"Kenapa?" tanya Rain lagi.


"Tugas" jawab Yina.

__ADS_1


"Dari kakek?"


Yina mengangguk. Dia ingin memberitahu Rain semuanya. Tapi kakek Arai memerintahkannya untuk merahasiakan hal ini dari siapapun. Terkecuali kakek Arai memberitahu dengan mulutnya sendiri. Identitas Gin tidak boleh tersebar.


Melihat Yina mendapatkan tugas aneh dan random seperti ini, kecurigaan Rain semakin kuat. Lalu dia memberitahu Yina bahwa dia juga mengawasi Gin karena masalah penyusup yang menyusup ke negara mereka.


"Anak itu mencurigakan" gumam Rain. "Kakek pasti merasakan hal yang sama dan mengutusmu untuk mengawasinya"


Yina melonggo. Dia tidak pernah menyangka bahwa Rain akan membuat kesimpulan seperti itu. "Itu tidak mungkin" katanya kemudian. "Itu bukan alasannya mengapa kakek menyuruhku mengawasinya. Tapi aku tidak bisa memberitahu alasan sebenarnya karena ini rahasia. Aku tidak bisa membantah perintah kakek"


Rain semakin penasaran. "Dia bekerja sama dengan penyusup aku yakin"


"Tidak mungkin" Yina menggelengkan kepalanya.


"Kenapa tidak mungkin? Kenapa kau membelanya seperti itu? Dia hanya bocah asing yang tidak ada hubungannya dengan keluarga Arai." kata Rain frustasi.


"Dia adalah keturunan langsung bodoh" Yina memaki dalam hatinya. Tapi dia tetap diam dan tidak merespon ocehan Rain.


"Dan dia benar-benar mencurigakan. Kau tahu dia memalsukan ranah kultivasinya?"


Yina membelalak kaget. "Tidak mungkin" sanggahnya cepat. Kakek Arai memberitahunya tentang bakat anak itu. Dan kultivasinya yang sekarang adalah nyata, sama sekali tidak disembunyikan atau apapun itu.


Rain memberitahu Yina tentang apa yang dilihatnya di sekolah. Bagaimana Gin menghadapi anak-anak yang kultivasinya lebih tinggi beberapa level darinya. Dia mempermainkan anak-anak itu dengan mudah dan gerakannya sama sekali bukan seperti kultivator tubuh perak.


Yina melihat Rain dengan ragu, "Mungkin kau salah lihat" katanya. Dia lebih mempercayai informasi yang dia dapatkan dari kakek Arai. Dia juga mengawasi Gin selama ini. Dan bocah tidak berguna itu hanya berleha-leha setiap hari. Tidak ada yang mencurigakan. Dia hanya bocah sampah dan pemalas tanpa ada bakat apapun. Dia yakin Rain sedang mabuk saat itu dan berhalusinasi.


Melihat Yina tidak mempercayainya sama sekali, Rain merasa kesal. Dia yakin dengan bahwa Gin itu mencurigakan. Dan dia akan membuktikan hal itu. "Baiklah, kau bisa kembali" katanya kemudian.

__ADS_1


"Apa yang ingin kau lakukan sehabis ini?" tanya Yina.


"Melanjutkan tugasku" jawab Rain dan sosoknya langsung menghilang dengan cepat.


__ADS_2