Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Zeus


__ADS_3

Sudah tiga puluh menit, Qiqi dan Zam berada di dalam danau. Semua orang menunggu dengan gugup di permukaan. Sementara Bimba mengantuk.


Tak Lama kemudian, sesosok manusia dengan cepat melesat ke arah mereka. Sosok itu berhenti di hadapan Yurion dan Nio.


"Salam Tuan besar" semua anggota Boroxi memberi salam hormat kepada sosok itu.


Bimba merasa tertarik dan dia melihat sosok itu. Dia adalah seorang pria paruh baya berumur lima puluhan. Pria itu mengenakan pakaian rapi dan terlihat sangat mahal dari atas sampai bawah. Rambutnya pirang, sama seperti Qiqi. Dan wajahnya masih terlihat tampan untuk ukuran seusianya. Dia adalah pemimpin Boroxi, Zeus, dan juga ayah Qiqi.


"Apa yang terjadi?" tanya Zeus. Dia melihat sekeliling dan cukup syok. Nio terluka parah dan ada bangkai binatang sihir raksasa di dekat mereka. Dia bisa merasakan bahwa binatang sihir ini berada di tingkat tubuh ilahi. Lalu dia bahkan lebih kaget saat melihat binatang sekuat itu mati dengan mengenaskan. Dia tahu bahwa para bawahannya tidak akan mampu mengalahkannya. Karena itulah putrinya mengirimkan sinyal darurat itu.


Walaupun dia kaget, dia berusaha bersikap santai. Dia melihat semua orang dengan ekspresi datar sehingga mereka tidak bisa membaca isi pikirannya.


Yurion akhirnya menjelaskan semuanya. Tentang peta harta karun dan bagaimana mereka menemukan binatang sihir itu di rawa. Lalu tentang bagaimana Nio terluka dan keadaan terdesak mereka.


"Lalu siapa yang membunuh binatang sihir ini?" tanya Zeus.


Yurion gugup. Dia melihat ke arah Bimba yang memperhatikan mereka dengan mata kucingnya. Dia tidak bisa sembarangan mengungkap identitas Bimba karena dia tahu binatang sihir itu menyembunyikan identitasnya.


"Itu....ah...itu..."


Melihat Yurion menjawab dengan tidak jelas, mata Zeus menyipit. Dia tahu bahwa bawahannya itu menyembunyikan sesuatu. "Apa itu rahasia?" tanyanya lagi.


Yurion mengangguk cepat.


Zeus langsung membuat kesimpulan dari reaksinya. Sepertinya ada kultivator kuat yang sedang lewat dan mengalahkan binatang sihir ini. Tapi sekuat apa? Apa kultivator tubuh ilahi level 10? Karena tidak mungkin bagi kultivator tubuh ilahi tahap 1 melawan binatang ini satu lawan satu. Setidaknya butuh dua orang, dan tiga orang kultivator yang teraman.


Zeus adalah kultivator tubuh ilahi tahap 8. Dia berhasil mencapai tingkat ini di usia yang cukup muda. Dia benar-benar jenius di generasinya. Tapi dia menyembunyikan keberadaannya dari dunia. Dia menyamarkan dirinya sebagai kultivator inti emas biasa saat dia berada di dunia luar. Dia tahu bahwa dunia ini sangat besar dan ada banyak orang kuat yang bertebaran.


Zeus tidak menanyakan lebih jauh tentang hal itu. "Lalu dimana putriku dan Nio?" Dia langsung mengubah topiknya.


"Mereka menyelam ke dalam rawa"


Zeus langsung melihat ke arah rawa. Dan saat itulah matanya bertatapan dengan Bimba yang sedang duduk di tepi rawa. Keduanya saling bertatapan selama beberapa detik. Yurion hanya bisa melihat semuanya dengan gugup.


Tapi kemudian Zeus mengalihkan tatapannya. "Kultivator itu tidak mengambil bangkai binatang ini bukan?" tanyanya tiba-tiba.


"Oh?" Yurion langsung melihat Bimba. Kucing itu tidak memberikan reaksi apapun. Dia hanya menjilat kaki depannya dengan santai. "Mungkin..." sambung Yurion ragu-ragu.


"Kalau begitu aku akan mengambilnya" kata Zeus. Dalam sekejap bangkai raksasa itu lenyap.


Binatang sihir tingkat ilahi adalah barang yang sangat berharga. Sisiknya bisa dibuat senjata ataupun baju pelindung kualitas tinggi. Tubuhnya bisa digunakan sebagai pil obat. Memakan dagingnya tanpa diolah juga bisa menunjang kultivasi karena daging mereka memiliki energi qi yang sangat tinggi. Ini adalah barang yang benar-benar berharga dan bisa menjadi incaran setiap negara.

__ADS_1


Dia tidak bisa membiarkan bangkai raksasa ini disini. Orang-orang dari Mozu akan mengambilnya saat mereka mengunjungi tempat ini. Itu terlihat sia-sia. Setidaknya dia menemukannya lebih dulu daripada mereka, jadi dia berhak mengambilnya.


"Itu hanya kadal. Aku tidak tertarik" pikir Bimba saat bangkai raksasa aligator itu menghilang. Dulu, dia akan senang memakan kadal yang enak itu. Tapi sekarang bangkai binatang sihir tidak menarik perhatiannya sama sekali.


"Papa!" Qiqi tiba-tiba muncul ke permukaan. Dia berlari dan memeluk Zeus dengan erat. Zam mengikutinya di belakang.


Ekspresi datar Zeus langsung runtuh dalam sekejap. Dia menatap Qiqi dengan tatapan hangat dan mengelus kepalanya. "Apa kau baik-baik saja? Ada yang terluka?" dia mengecek seluruh tubuh Qiqi dengan tatapan khawatir.


"Tidak apa-apa. Qiqi tidak apa-apa" jawab Qiqi.


Zeus tersenyum lalu mengirimkan pukulan kecil dengan jentikan jarinya ke kening Qiqi. "Lain kali jangan membuat masalah seperti ini. Aku benar-benar khawatir"


"Aku minta maaf..."


Zeus melihat semua orang. "Dilarang mencari harta karun lagi mulai sekarang" katanya tegas.


Wajah Qiqi berubah jelek. "Tidak mau. Qiqi mau harta karun..."


Qiqi belum menyelesaikan komplainnya, sentilan kuat mendarat di keningnya. "Kau anak nakal. Jangan membantah ayahmu" kata Zeus. "Atau aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan mansion lagi" dia mengancam.


"Tidak, Qiqi salah." sergah Qiqi cepat. Dia tidak mau mendapatkan hukuman kurungan. Dia benci itu.


Qiqi mengangguk.


"Apa kau mendapatkan harta karunnya?" tanya Zeus penasaran.


"Rahasia" jawab Qiqi. "Oh, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu papa" katanya cepat. Dia ingin mengenalkan Bimba pada ayahnya. Tapi kucing kecil itu tidak ada lagi disana. "Eh?" Qiqi melonggo bingung. Dia berlarian sambil melihat sekelilingnya untuk mencari Bimba, tapi kucing itu menghilang. Padahal sebelumnya dia melihat kucing itu duduk di tepi rawa. "Eh, tidak mungkin! Papa, aku ingin mengenalkan Bimba padamu. Tapi dia sudah pergi" katanya lesu. Semua semangatnya hilang dalam sekejap.


"Bimba?"


"Ya. Dia seekor kucing jelek, ehem, maksudku seekor kucing yang sangat kuat" Qiqi menjelaskan. Semangatnya yang hilang kembali dalam sekejap. Lalu dia mulai menjelaskan pertarungan yang terjadi antara Bimba dan Aligator raksasa itu. Dan bagaimana Bimba berubah menjadi raksasa dan berbicara bahasa manusia pada mereka.


"...." Zeus terdiam. Dia syok, tapi wajahnya tidak menunjukkan hal itu. Jujur saja, menemukan binatang sihir yang bisa berbicara bahasa manusia adalah hal yang sangat langka. Itu berarti binatang sihir itu memiliki kecerdasan yang sangat tinggi. Dan terlebih lagi itu sangat kuat. Binatang sihir tubuh ilahi.


Zeus teringat dengan kucing kecil yang bertatapan mata dengannya. Dia tidak menyangka bahwa kucing kecil seperti itu adalah binatang sihir yang menakutkan. Dia merasa bersyukur bahwa putrinya bisa berteman dengan monster seperti itu.


"Kenapa tidak membawa Bimba pulang ke mansion kita saja?" tanya Zeus.


"Tidak bisa..." jawab Qiqi sedih. "Bimba itu milik kakak"


Zeus mengernyitkan keningnya. "Kakak?"

__ADS_1


"Iya" jawab Qiqi. Dia menatap Zeus dengan tatapan polos dan berkata "Kakak Gin adalah calon suami Qiqi"


DUAR! Aura membunuh langsung keluar dari tubuh Zeus. Semua orang langsung berdiri membeku dengan wajah pucat ketakutan. Hanya Qiqi yang bersikap biasa saja sambil tersenyum lebar. Melihat reaksi putrinya yang seperti itu, aura membunuh Zeus semakin besar. Dia menatap semua orang dengan mata melotot. "Apa yang sebenarnya terjadi?" suaranya menggema di seluruh hutan.


***


Bimba kembali ke apartemen Gin. Dia melihat pemuda itu sedang serius menonton sebuah serial pembunuhan yang terkenal akhir-akhir ini. Bimba melemparkan sebuah kantong di atas meja.


"Apa ini?" Gin mengambil dan membuka kantong itu. Dia melihat lima kristal ungu berkilauan di dalamnya.


"Para idiot itu memberiku ini" balas Bimba. Dia duduk di atas sofa dan melihat Muca masih tertidur. "Dia belum bangun?"


"Mungkin nanti. Jangan khawatir" jawab Gin.


"Cih, siapa yang khawatir. Dia mengambil sofa milikku" gerutu Bimba.


"Aku yang membeli sofa itu" balas Gin cepat.


"...." Bimba terdiam. Dia tidak mau berdebat dengan Gin. Dia merasa energi mentalnya benar-benar terkuras hari ini.


"Bagaimana kadalnya?" tanya Gin.


"Aku berhasil mengalahkannya" jawab Bimba heroik.


Gin tersenyum. "kerja bagus" Dia mengelus kepala Bimba dengan lembut. Bimba menyukai elusan itu tanpa dia sadari. "Apa kau mau kristal ungu ini?" tanya Gin.


"Itu tidak berguna. Aku sudah berada di tubuh ilahi. Menyerap energi qi dari kristal tidak bisa membuatku tumbuh terlalu banyak" jawab Bimba. "Kenapa tidak dijual saja? Itu mahal kan?"


Gin mengangguk. Dia mengingat bahwa kristal ini berharga jutaan flos di pelelangan. Tapi dia ingin mengecek sesuatu sebelum dia menjualnya.


Gin mencoba bermeditasi sambil menyerap energi qi dari batu kristal itu. Lalu TRANG! Dia berhasil menerobos ke tubuh perak level 1. Batu kristal di tangannya menjadi butiran debu saat dia menerobos.


"Oh?" Mata Gin melonggo. Dia tidak menyangka bahwa dia benar-benar menerobos. "Aku berubah pikiran. Kurasa aku akan menggunakan kristal ini" katanya bersemangat.


Lalu dia mulai bermeditasi. Perlu satu jam penuh sampai dia berhasil menghabiskan enam kristal ungu. Dia menerobos ke level 2 saat batu kristal terakhir digunakan.


"Aku menghabiskan puluhan juta flos untuk naik dua tingkat" kata Gin. Dia sedikit menyesal. Tapi dia kaya jadi tidak masalah. Lagipula kristal ungu itu didapatkannya secara gratis.


Kalau ada orang yang tahu bahwa seseorang menggunakan enam kristal ungu untuk naik dua level di tubuh perak, mereka akan muntah darah. Karena itu benar-benar hal yang bodoh!


"Benar-benar pemborosan" gumam Bimba saat melihat Gin menghabiskan semua kristal ungu itu.

__ADS_1


__ADS_2