Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Hutan Mati


__ADS_3

Qiqi terbang di antara Paman Nio dan Paman Zam. Sementara Yurion dan yang lainnya mengikuti di belakangnya.


"Dasar bodoh, bagaimana kau bisa menghilangkan peta itu?" gerutu Nio cemberut sambil menatap Zam dengan mata melotot.


"Ehem, aku tidak menghilangkannya" jawab Zam dengan sikap cool. "Lagipula tidak masalah, aku masih mengingat tempatnya" lanjutnya dengan percaya diri.


Yurion melihat dua orang di depannya dengan cemberut. "Padahal mereka juga pelupa" gerutunya kesal. Dia masih dendam karena dimarahi perihal masalah batu yang hilang. Sementara Zam juga menghilangkan peta harta karun dalam sekejap mata.


Dia merasa bahwa ini tidak adil. Andai saja dia lebih kuat dari dua pria itu, dia bisa berdiri sendiri dan menghajar mereka. Memikirkan hal ini, membuat tatapannya menjadi penuh tekad. Dia lebih muda dan masih memiliki beberapa tahun untuk mengejar ketinggalan. Dia akan fokus berlatih setelah ini.


Mereka terbang selama dua jam, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah hutan yang cukup rimbun. Hutan itu termasuk dalam daftar hutan mati oleh negara Mozu. Hutan mati adalah hutan yang belum tersentuh oleh manusia. Hutan ini belum diselediki dan para manusia tidak tahu mahluk hidup apa yang hidup di hutan ini.


Negara Mozu sangat besar. Ibukota adalah pusatnya. Tapi mereka masih memiliki belasan kota kecil di pendalaman dan perbatasan. Sejauh ini hanya ada sepuluh hutan hidup. Sepuluh hutan hidup ini sudah teridentifikasi oleh Mozu dan dibagi dalam sepuluh tingkat yang berbeda berdasarkan tingkat bahayanya.


Hutan hidup milik akademi memiliki level 1. Itu adalah hutan teraman dengan sedikit binatang sihir. Walaupun ada binatang sihir, level mereka sangat lemah. Hutan utara di kota XY, hutan yang mengelilingi mansion milik Gin adalah hutan hidup level 3. Hutan itu memiliki banyak binatang sihir level rendah. Karena itulah Kakek Hendrik menganggap hutan itu cocok sebagai tempat berlatih untuk Gin.


Hutan mati di bawah mereka memiliki luas yang cukup besar. Hutan itu sangat gelap, rimbun, berkabut dan memiliki pohon-pohon yang cukup tinggi. Sehingga mereka tidak bisa melihat dengan jelas isi seluruh hutan. Hutan itu juga mengeluarkan aura aneh yang tidak nyaman yang membuat orang-orang enggan masuk.


"Keluarkan alat pertahanan kali dan tetap waspada" kata Nio.


Semua orang mengangguk.


Wajah Qiqi sedikit pucat. Dia merasa gugup karena aura aneh yang dipancarkan oleh hutan mati ini.


"Nona, lebih baik kita kembali?" kata Zam setelah melihat ekspresi Qiqi yang cukup pucat.

__ADS_1


Qiqi menggeleng dengan cepat. "Tidak apa-apa. Qiqi hanya kaget. Qiqi akan terbiasa" dia menolak. Dia memang kaget karena menemukan tempat menyeramkan seperti ini. Biasanya dia hanya menghabiskan waktu di mansionnya untuk bermain dan tidur. "Ini adalah tempat di mana harta karun terkubur. Tentu saja itu akan menakutkan. Sangat wajar" sambungnya lagi dengan wajah penuh keyakinan.


Nio memegang tangan Qiqi dan memastikan bahwa gadis itu mengeluarkan alat-alat sihir perlindungan yang dibawanya. Mereka harus mengeluarkan alat sihir pertahanan yang mereka punya. Lebih baik menyediakan payung sebelum hujan. Karena serangan tiba-tiba bisa saja terjadi.


Lalu mereka pun perlahan turun ke dalam hutan. Saat mereka menginjakan kaki ke hutan itu, tubuh mereka mengigil. Seperti ada udara dingin yang menerpa mereka tiba-tiba. Kabut gelap benar-benar mengelilingi seluruh hutan sehingga semua pohon yang mereka lihat menjadi hitam, walaupun sebenarnya itu hijau.


"Kenapa kabutnya tebal sekali" pikir Zam bingung. Dia menjadi pemimpin jalan sekarang karena hanya dia yang mengingat isi peta harta itu.


"Mungkin ada sesuatu yang menyebabkan kabut ini keluar. Kita tidak punya waktu untuk mempertanyakan hal seperti itu" sambung Nio. "Kita harus menemukan harta karun itu secepat mungkin dan pulang" Artinya setelah mereka mendapatkan harta karun itu, mereka harus melarikan diri. Mereka harus meminimalisir perkelahian.


Lagipula ini adalah negara asing. Mereka tidak tahu apa-apa tentang negara ini. Ada banyak bahaya yang mengincar mereka. Termasuk pihak Mozu yang sedang mengejar mereka sekarang.


Tiba-tiba SHESH! Sosok tidak terlihat terbang ke arah mereka. Yurion bertindak cepat dan memukul benda itu dengan tinjunya. Lalu sosok itu terjatuh ke tanah dan menggelepar. Itu adalah seekor ular raksasa berwarna hitam yang ukurannya seperti manusia dewasa.


"Binatang sihir inti emas tinggi" seru Yurion tak berhaya. Yurion melihat bahwa tangannya sedikit tergores. Dan ular itu belum mati. Jadi Yurion langsung membunuh ular itu dengan menginjaknya dengan keras.


Lalu sepanjang perjalanan, mereka sudah membunuh lima ekor ular yang selalu menyerang mereka secara tiba-tiba. Tidak ada yang terluka karena bawahan Yurion mengaktifkan perisai pertahanan mereka, begitu juga dengan Qiqi.


"Kita sudah sampai disini" kata Zam. Mereka berhenti di sebuah rawa raksasa. Rawa itu memiliki air yang berwarna hitam pekat sehingga mereka tidak bisa melihat dasarnya sama sekali. Mereka tidak melihat apapun kecuali rawa besar di depan mereka.


"Harta karun itu mungkin ada di dasar danau" Zam menyimpulkan.


Dia menatap Nio. Nio mengerti maksud dari tatapannya dan mengangguk.


"Nona tunggu disini bersama Yurion oke?" kata Nio. Lalu dia menatap Yurion dan bawahannya. "Jaga Nona muda dengan baik"

__ADS_1


Yurion dan yang lainnya mengangguk.


Nio dan Zam langsung melompat ke dalam danau. Mata mereka melonggo karena mata raksasa berwarna merah langsung bertatapan dengan mereka. Monster itu menatap mereka dengan aura membunuh yang menakutkan. Nio refleks menarik Zam terbang keluar dari danau.


"Mundur!" teriak Nio.


Semua orang langsung mengaktifkan perisai pertahanan mereka dan terbang mundur.


Lalu sosok raksasa muncul dari dalam danau. Sosok itu hampir sebesar danau dan semua orang berpikir bagaimana dia bisa menyembunyikan tubuhnya di danau itu. Itu adalah seekor aligator raksasa.


GROARRR! Aligator itu mengaum marah. Aumannya membuat danau di bawahnya terbelah. Air danau hitam itu naik ke permukaan dan membasahi tanah di sekitarnya. Lalu pohon-pohon di sekitar rawa juga bergoyang, hampir patah, karena efek auman itu.


Semua orang tersentak. Mereka melihat binatang sihir itu dengan tatapan ngeri.


"Binatang tubuh ilahi..." gumam Zam tak percaya.


"Sialan!" Nio mengumpat. Lalu dia menatap Zam. "Lindungi putri dan bawa dia lari dari tempat ini" katanya.


"Apa? Lalu bagaimana denganmu? Aku tidak bisa" Zam menolak.


"Aku akan mengulur waktu. Ini sudah terlambat. Kalau kita tetap di tempat ini kita semua akan mati" kata Nio terburu-buru.


Lalu binatang sihir itu membuka mulutnya dan sebuah bola raksasa berwarna hitam di tembakkan ke arah mereka. Mereka langsung menghindar dengan cepat. Yurion dan bawahannya mengaktifkan seluruh perisai yang mereka punya lalu melindungi Qiqi di tengah-tengah mereka. Sementara  Nio dan Zam berusaha menahan serangan itu dengan seluruh kekuatan mereka.


Tapi serangan binatang itu terlalu kuat, keduanya terluka. Baju mereka compang camping dan kulit mereka mulai meleleh. Mereka seharusnya tidak menerima serangan binatang tubuh ilahi seperti itu. Mereka harus menghindar. Tapi mereka tidak bisa menghindar karena tidak cukup waktu dan mereka harus melindungi Qiqi.

__ADS_1


"Pergi!" teriak Nio.


Zam menarik Qiqi dan langsung melesat terbang dengan cepat bersama Yurion dan yang lainnya. Sementara tangisan Qiqi pecah dan dia berteriak. "Tidak, tidak! Paman Niooo!"


__ADS_2