Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Memilih Misi


__ADS_3

Gin tidak peduli kalau dia dianggap sampah oleh semua orang karena hal itu sangat tidak penting untuknya. Dia mengikuti Fei Lan untuk masuk ke sebuah klub hanya karena dia ingin mengambil sebuah misi.


Mereka berdua pun sampai ke ruang misi bersama dengan yang lainnya. Misi dibagi menjadi beberapa tingkatan sesuai dengan kesulitannya. Ada tiga tingkatan misi yaitu misi tingkat dasar, misi tingkat menengah dan misi tingkat tinggi.


Murid kelas satu seperti mereka hanya bisa mengambil misi tingkat rendah. Tapi misi tingkat rendah pun memiliki berbagai macam level kesulitan. Semakin sulit misi yang diambil maka poin kontribusi yang mereka dapatkan akan semakin besar.


Li Seng melihat misi-misi tingkat rendah yang biasanya di ambil oleh pemula di papan misi.


"Misi-misi ini cukup bagus. Ayo kita pilih satu" kata Li Seng.


Misi yang dilihatnya adalah sekumpulan misi untuk mengumpulkan tanaman herbal. Ada banyak sekali jenis tanaman herbal yang bisa dikumpulkan, dan masing-masing misi itu bernilai 10 poin kontribusi.


"Ayo kita pilih ini" Li Seng memilih misi untuk mengumpulkan tanaman obat arsenik yang ada di hutan barat. Mereka perlu mengumpulkan 10 tangkai untuk mendapatkan 10 poin kontribusi.


Gin mengernyit tidak senang.


"Terlalu kecil . . ." dia mengeluhkan poin reward nya yang sangat kecil. Mereka perlu mengambil misi itu sebanyak sepuluh kali agar dia bisa membeli satu kristal biru. Gin berpikir itu sangat tidak efisien dan terlalu membuang waktunya.


Gin ingin menemukan satu misi yang bernilai banyak poin. Dia tidak mau melakukan hal yang sama berulang kali. Terlalu melelahkan untuknya.


Li Seng melihat Gin dengan mata kasihan. "Jangan mengeluh. Dengan kemampuan kita, hanya misi ini yang bisa diambil" katanya.


"Misi ini adalah yang terbaik dari misi mengumpulkan bahan lainnya, karena hutan barat itu dekat dan aman" lanjut Li Seng lagi. Dia ingin menyadarkan bocah di depannya. Gin terlalu sombong untuknya padahal anak itu bahkan tidak bisa melindungi diri.


Gin tentu saja tidak mendengar kan ocehan Li Seng. Dia sibuk melihat papan misi. Masih belum menyerah untuk menemukan misi yang cocok.


Lalu ada satu misi menarik matanya. Misi itu ditandai dengan tinta merah seakan-akan itu adalah misi yang penting.


"Cari pembunuh 'knife'"

__ADS_1


"Hidup : 1000 poin kontribusi"


"Mati: 300 poin kontribusi"


Mata Gin mengerjap saat melihat misi itu. Misi itu adalah misi yang cocok untuknya. Bahkan dia bisa mendapatkan 1000 poin dan membeli banyak kristal untuknya.


"Aku pilih ini" kata Gin sambil menunjuk misi yang berada di atas papan misi.


Li Seng melonggo melihat misi yang dipilih oleh Gin.


"Kau bodoh! Apa kau ingin mati?" teriaknya tak percaya.


"Ayo pilih ini. Kita tidak perlu bolak balik ke tempat ini lagi untuk mengumpulkan rumput" jawab Gin malas. Dia mengerjap polos sambil menatap Li Seng. Membuat Li Seng menggertakan giginya kesal.


"Kau tahu apa artinya tinta merah ini? Ini adalah misi yang berbahaya! Kita mungkin terbunuh dalam misi ini!" teriaknya kesal sambil memukul papan di depannya beberapa kali.


Ekspresi Gin sangat datar. Dia tidak peduli dengan kemarahan Li Seng.


Gin menatap Li Seng sungguh-sungguh. "Kalau kau memang tidak ingin mengambil misi ini terserah. Aku akan pergi sendiri. Kau tidak perlu ikut"


Li Seng membuka mulutnya tak percaya. Dia penasaran dengan isi kepala Gin. Darimana rasa percaya dirinya berasal? Padahal dia hanya serangga yang lemah!


"Tidak bisa seperti itu. Kita harus menjalankan misi ini bersama. Kalau kau ingin mengambil misi itu sendiri, kau tidak akan pernah bisa mengklaim rewardnya" kata Li Seng sinis, seakan-akan dia melihat orang bodoh.


"Karena aku adalah orang terkuat di antara kita. Aku yang berhak memutuskan misi mana yang akan kita pilih" kata Li Seng percaya diri. Dia mengetuk misi mengumpulkan tumbuhan arsenik. "Kita akan pilih yang ini!" katanya mutlak.


Ekspresi Gin langsung berubah saat dia mendengar nya. Dia menatap Li Seng dengan tajam.


"Paling kuat?" Gin mengeluarkan aura yang sangat menyeramkan dari tubuhnya tanpa sadar. "Kenapa kau begitu merepotkan..."

__ADS_1


Li Seng tersentak. Dia melihat Gin kaget. Gin terlihat seperti raksasa di depan matanya karena aura itu. Tanpa sadar kakinya bergetar ketakutan. "Ba...baiklah aku setuju...."


Li Seng kembali ke ekspresi datarnya dan seluruh aura itu menghilang dalam sekejap.


Melihat aura Gin menghilang, Li Seng mulai menatapnya dengan aneh. Pikirannya berkecamuk. Dia hanya seorang tubuh perunggu, bagaimana dia mengeluarkan aura kuat seperti itu? Li Seng merasa seperti dia berhadapan dengan penatua keluarganya saat itu. Itu bukanlah aura yang dimiliki oleh seorang remaja.


"Ada apa denganmu? Bagaimana kau bisa mengeluarkan aura seperti itu?" tanya Li Seng takut-takut.


Dia memiliki dua pikiran tentang Gin di kepalanya. Pertama, Gin menggunakan alat sihir tertentu untuk mengeluarkan aura menekan seperti itu.


Kedua, Gin menyembunyikan kekuatannya dengan artefak langka yang membuat semua orang tidak bisa mendeteksinya.


Kalau kemungkinan kedua memang benar, Li Seng berpikir Gin sedang menyamar untuk mengelabui seseorang. Intinya pikirannya benar-benar berantakan hingga dia berpikir terlalu jauh tentang Gin.


Kalau Gin mengetahui isi pikiran Li Seng dia akan berpikir Li Seng adalah pemuda yang idiot. lagipula semua pikirannya itu tidak benar.


"Baiklah. Kita akan m mengambil misi ini." Gin mengangguk senang. "Aku tidak tahu kenapa kau berubah pikiran seperti itu. Tapi itu hal yang baik"


Perkataan Gin membuat Li Seng muntah darah. Dia mengumpat dalam hatinya 'Tidak tahu? Kau mengancamku beberapa detik yang lalu dan sekarang kau pura-pura tidak tahu? Apa otakku terbuat dari tahu!' Dia memendam kekesalannya dengan wajah berkedut.


Li Seng menyerah. Dia tidak bisa mengenali karakter Gin. Orang itu terlalu aneh untuknya. Tapi setidaknya dia berubah pikiran setelah merasakan aura Gin yang kuat. Dia mungkin tidak akan mati dalan misi ini. Mungkin..


Kedua orang itu pergi menuju meja pendaftaran untuk mendaftar kan misi mereka. Ada tiga meja pendaftaran di ruang misi. Semua meja itu sangat penuh dengan antrian. Jadi mereka harus sabar menunggu giliran mereka.


Selama mengantri Li Seng melihat sekeliling ruangan untuk melihat anggota klub yang lain. Dia bisa melihat tiga bersaudara Fei yang masih mencari misi untuk kelompok mereka.


Melihat ketiga orang itu tertawa bahagia, Li Seng hanya bisa menghela napas. Pasalnya dia mengira akan bisa membuat tim dengan Dewi Lan. Tapi ternyata itu hanya angan-angan dan sekarang dia harus menghadapi dewa kematian.


"Keberuntungan ku sangat buruk akhir-akhir ini. Apa aku harus meminta jimat keberuntungan pada ayah...." Li Seng mengeluh.

__ADS_1


__ADS_2