Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Kau tidak Mendapatkan Bendera


__ADS_3

Timnya masih terus bergosip. Sementara Gin sudah mengumpulkan lima belas bendera yang dikumpulkan secara acak saat dia melintas. Hari pun mulai gelap.


"Kalian mengerti bukan?" kata Sima. Dia ingin memastikan bahwa kelompoknya mengerti bagaimana caranya untuk bertahan hidup.


Lian dan Li Seng mengangguk.


Sima melihat ke arah Gin. Pemuda itu sibuk melihat ke kiri dan ke kanan, tidak memperhatikannya sama sekali. Dia langsung merasa kesal melihat sikap Gin.


Dia mengernyitkan keningnya. "Kau mengerti bukan Gin?" katanya dengan suara tajam.


Gin langsung melihat ke arahnya. Matanya mengedip dengan polos lalu dia mengangguk pelan dengan wajah bodoh. Seakan-akan dia tidak mengerti apapun.


Melihat respon acuhnya, Sima menggertakannya giginya. Dia ingin marah tapi dia tahu bahwa itu akan menghabiskan waktu. Lagipula dari awal ini adalah kemalangannya memiliki Gin yang sama sekali tidak berguna di timnya. Bagaimanapun juga Gin masih anggota timnya.


"Baiklah" katanya sambil mendengus kesal.


"Aku merasakan kehadiran seseorang" kata Lian tiba-tiba. Dia memiliki teknik untuk merasakan aura orang lain dari jarak jauh. Dia juga bisa merasakan aura membunuh.


Lian merubah suasana di tim mereka dalam sekejap. Sima dan Li Seng langsung merasa waspada.


"Mereka dekat?" tanya Sima.


"Beberapa meter. Ada tiga orang" jawab Lian.


"Ayo sembunyi dulu" perintah Sima. Lalu keempat orang itu mulai bersembunyi dari balik semak-semak. "Kita lihat dulu mereka. Lalu ingat perkataanku. Lari sejauh mungkin kalau kita menemukan peserta yang kuat. Tapi kalau mereka lemah, kita serang"


Lian dan Li Seng mengangguk bersamaan. Gin tidak merespon. Sima sudah terbiasa dengan sikap acuhnya. Walaupun dia kesal, dia tidak bisa melakuan apapun tentang itu. Mereka sedang ujian sekarang. Jadi dia harus menguatkan mentalnya untuk bekerja sama dengan idiot ini.

__ADS_1


Akhirnya sosok itu mendekati mereka. Ada tiga orang dan mereka terluka. Sepertinya mereka baru saja lolos dari pertarungan yang berat. Sima melihat mereka dengan mata berbinar seakan-akan mereka adalah harta karun. Dia mengenal mereka dan ketiganya bukan murid yang menonjol di kelas.


"Apa kau mendapatkan benderanya?"


"Aku dapat"


"Akhirnya kita berhasil melumpuhkan anak dari keluarga besar. Aku sangat puas"


Ketiganya tertawa bahagia.


Sima mengernyitkan keningnya. Semangatnya menghilang dalam sekejap saat dia mendengar percakapan mereka. 'Mereka melumpuhkan anak dari keluarga besar? Kalau begitu mereka pasti tidak lemah. Aku harus hati-hati" pikirnya. Untung saja hanya ada tiga orang. Dia, Li Seng dan Lian bisa menghadapi mereka. Sementara Gin, dia tidak berguna. Tapi Sima berharap dia bisa memberikan bantuan pendukung kepada tim.


"Kita akan menyerang mereka. Masing-masing akan berhadapan dengan satu musuh. Lalu Gin, kau harus mendukung kami semampumu" kata Sima.


Lalu mereka mulai menyergap ketiga orang yang terluka itu.


"Serahkan benderamu maka aku tidak akan melukaimu lebih parah lagi" kata Sima bersemangat.


Sima melihat enam bendera di tangannya. Dia ingin berlaku adil. Dia mengambil tiga bendera. Lalu dia memberikan dua bendera kepada Lian karena gadis itu sudah mendeteksi keberadaan musuh. satu bendera untuk Li Seng karena sudah berkontribusi dalam pertarungan. Dan tidak ada bendera untuk Gin karena dia tidak melakukan apapun.


"Maafkan aku" kata Sima dingin. "Tapi aku harus berlaku adil. Karena kau tidak membantu maka kau tidak akan mendapatkan apa-apa" katanya sombong sambil membusungkan dadanya.


Gin mengacuhkannya. Dia merasa risih dengan pakaiannya. Dia tidak membutuhkan bendera karena dia sudah punya banyak. Dia hanya perlu tempat penyimpanan untuk menyimpan bendera-bendera ini.


Li Seng melihat satu bendera di tangannya dengan kecewa. Dia mendapatkan satu bendera tambahan, sekarang dia memiliki dua. Tapi entah kenapa dia merasa tidak senang. Sima memiliki empat dan Lian memiliki tiga. Hanya dia dan Gin yang memiliki sedikit bendera. Dia merasa putus asa. Kalau dia tidak mengumpulkan banyak bendera, dia khawatir dia akan gagal dalam ujian. Sudah dipastikan kelasnya akan dipindahkan dan nasib buruk menantinya.


Li Seng menatap Gin. "Apa kau tidak sedih?" tanyanya.

__ADS_1


Gin mengernyit tidak mengerti. "Kenapa aku harus sedih?"


"Sudah menjelang malam dan kita tidak mendapatkan cukup bendera. Sementara besok ujian akan berakhir. Kalau kita gagal di ujian ini juga, kita akan dikeluarkan dari kelas" jelas Li Seng sedih. Dia tidak bisa merubah otaknya. Dia sudah dilahirkan dengan otak bodoh ini. Tapi setidaknya dia berharap dia akan memiliki prestasi dengan kekuatannya. Tapi itu tidak semudah kedengarannya.


"Tidak apa-apa. Aku punya cukup bendera" jawab Gin malas.


"Ya, kita harus mengumpulkan cukup bendera untuk lolos. ini benar-benar menyedihkan" Li Seng langsung berhenti berbicara dan dia melotot ke arah Gin. "Apa? Kau bilang kau punya cukup bendera? Kau tahu satu bendera tidak memenuhi kualifikasi untuk lulus ujian"


"Aku punya lebih dari satu"


"..." Li Seng menganga. Dia sebenarnya tidak percaya. Tapi ini Gin. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, kekuatan Gin yang sebenarnya. "Bagaimana kau mengumpulkannya?"


"Aku mengambilnya di jalan"


"...." Li Seng membeku lagi. "Tidak masuk akal!" katanya kemudian.


Tapi Gin tidak mempedulikannya. Dia merogoh sakunya lalu mengeluarkan lima bendera. "Ini u..."


Belum sempat Gin berbicara, Li Seng langsung menutup mulutnya dan menyeretnya di balik pohon besar. Dia melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan kondisi mereka aman. Lalu dia menatap Gin dengan tatapan serius. "Lanjutkan" katanya.


"....."


"Ini untukmu" Gin mengeluarkan lima bendera dan memberikannya kepada Li Seng.


Li Seng menganga kaget. "Ini banyak. Apa kau yakin?" katanya tak percaya.


"Tidak apa-apa. Aku punya lebih banyak. Besok pagi aku cari lagi" jawabnya santai. Dia masih punya sepuluh bendera. Mencari bendera lainnya sama sekali tidak sulit. Dia kasihan dengan Li Seng. Bagaimana pun mereka harus lolos di ujian kali ini karena ujian sebelumnya sangat kacau.

__ADS_1


"Terima kasih broooo" Li Seng langsung memeluknya sambil menangis. Dia mencekik leher Gin erat-erat dan membuat Gin merasa kesal. "Mulai sekarang aku akan menjadikanmu saudara angkatku!"


"Aku tidak butuh saudara angkat" jawab Gin cemberut


__ADS_2