
Mereka menempatkan Yusa dan Gin di kandang kuda. Yusa berusaha melepaskan borgol yang mengikat tangan dan kakinya. Tapi dia tidak bisa. Ini bukan borgol biasa, ini pasti alat sihir canggih yang bisa mengunci kultivator inti emas sepertinya. Mulut mereka berdua juga ditutup dengan lakban hitam sehingga keduanya tidak bisa berkomunikasi satu sama lain.
Borgol yang mengikat mereka mengingatkan Gin akan borgol langit yang dikeluarkan oleh polisi wanita yang mengejarnya sebelumnya.
Gin mencoba untuk meningkatkan kekuatan fisiknya menggunakan mana, lalu mencoba melepaskan dirinya dan TAK! Tiba-tiba bunyi retak yang sangat keras terdengar di seluruh ruangan. Borgol yang mengikat tangannya terbelah dua dan jatuh ke bawah.
"..." Yusa terdiam sesaat. Lalu dia mulai melihat Gin dengan mata melotot dan bergumam "Um, ummm, em, em" karena mulutnya ditutup.
Gin langsung membuka lakban dan Yusa langsung mengoceh. "Bagaimana kau bisa menghancurkan borgol itu? Bagaimana bisa?" katanya tak percaya. "Apa kau menggunakan alat sihir untuk melarikan diri?"
"Aku menggunakan kekuatanku" jawab Gin. Lalu dia mulai memegang borgol kaki miliknya, dan mematahkannya menjadi dua.
Wajah Yusa cemberut. Dia berpikir bahwa Gin berbohong. "Lepaskan aku juga" katanya. "Setelah ini kita perlu melapor kepada pihak akademi tentang desa asing ini" katanya.
"..." Gin terdiam sesaat, lalu dia mengangguk kecil.
Gin pun mematahkan kedua borgol yang mengikat tangan dan kaki Yusa dengan kekuatannya.
"Sangat sial bahwa kita tidak mengerti apa yang merek bicarakan. Kalau bisa kita akan menguping mereka" Yusa menggertakan giginya kesal.
"Aku bisa" jawab Gin kemudian
"Lihat kan? Aku yakin kau tidak bisa mengerti bahasa aneh itu" Yusa terus menggerutu. Tapi dia langsung terdiam dan menatap Gin dengan mata melotot. "Kau bisa mengerti bahasa mereka?" katanya tak percaya.
__ADS_1
Gin mengangguk polos.
Yusa menghela napasnya dan menghembuskan napasnya beberapa kali untuk menenangkan dirinya. Dia berusaha menerima kenyataan bahwa Gin sangat aneh. Dia tidak mau mempertanyakan apapun lagi karena kepalanya hampir pecah.
"Gin" Yusa menepuk pundak Gin. Lalu dia menatapnya dengan serius. "Kita bagi tugas. Aku akan menemui yang lain dan kami akan menghubungi pihak akademi. Kau tetap disini dan menguping apa yang mereka bicarakan. Aku tahu ini berbahaya, tapi kita perlu tahu apa rencana mereka. Setelah kau tahu apa yang mereka inginkan, segera lari dan temui kami"
Yusa mengeluarkan sebuah kalung dari ruang penyimpanannya dan mengalungkannya langsung kepada Gin. Gin kaget melihat tindakan Yusa yang tiba-tiba itu.
"Ini alat sihir milikku. Gunakan ini dalam situasi terdesak. Benda ini akan menyelamatkanmu sekali dan memindahkanmu ke tempat yang aman" jelas Yusa. Dia jelas khawatir dengan keselamatan Gin. Walaupun dia tidak bisa melihat kultivasi tiga orang itu dengan jelas, dia sudah mengira bahwa ketiganya mungkin kultivator immortal atau lebih tinggi. Itu sangat berbahaya bagi Gin. Tapi dia dan yang lainnya membutuhkan informasi tentang mereka.
Lalu dia menepuk bahu Gin dan berkata. "Jaga dirimu baik-baik". Lalu dia menghilang dengan cepat.
"..." Gin memandangi kalung di lehernya dengan perasaan yang sulit dimengerti. Jujur saja, ini pertama kalinya seseorang memberikan alat sihir yang bisa menyelamatkan hidupnya. Dia merasakan perasaan yang aneh di hatinya karena hal ini.
"Bagaimana dengan batu itu?" Gin mengenal suaranya. Dia adalah sosok paling pendek di antara jubah hitam. Mereka berbicara dengan bahasa manusia biasa, bukan bahasa desa aneh yang Gin dengar sebelumnya.
"Aku akan menunjukkan tempatnya padamu kalau kalian memberiku lebih banyak obat" kata kepala desa itu. Dia terlihat sangat terdesak.
"Kami hanya punya satu dan kau harus menepati janjimu" salah seorang jubah hitam mengancam.
"Aku butuh lebih banyak. Ada banyak sekali penduduk desa yang terluka. Aku juga harus menyelematkan istriku"
"Kau sangat keras kepala" sosok pendek itu mengulurkan tangannya dan mencekik kepala desa itu. "Kami sudah memberimu sepuluh botol, tapi kau ingin lebih. Benar-benar manusia yang memuakan" katanya sarkas.
__ADS_1
Kepala desa itu berusaha bernapas dengan keras karena lehernya tercekik. "Sepuluh botol ramuan hanya bisa menyelamatkan sepuluh orang. Itu tidak cukup" katanya sambil meronta-ronta. Dia masih keras kepala dengan keputusannya.
"Kalian tidak bisa membunuhku. Kalau kalian membunuhku, kalian tidak akan pernah tahu keberadaan batu itu" kepala desa itu mengancam mereka.
Sosok pendek itu melepaskan cengkramannya dan melemparkan kepala desa ke tanah. Pria tua itu menabrak dinding dan batuk darah.
"Tunjukkan tempatnya sekarang. Atau aku akan membunuh semua orang di desa ini" jawab sosok pendek itu kemudian.
Kepala desa itu membeku sejenak. Dia menundukkan kepalanya putus asa. "Aku akan menunjukkan kalian jalannya, tapi aku benar-benar ingin lebih banyak ramuan" dia berkata sambil berlutut dan memohon.
Kalau penduduk desa melihat kepala desa mereka yang perkasa berlutut dan memohon seperti itu, mereka akan marah besar.
"Apakah kalian tidak pernah memikirkan bahwa ada banyak sekali wanita yang mati di desa kami? Pendudukku sama sekali tidak bersalah atau melakukan dosa apapun pada kalian" lanjutnya dengan nada memelas. Kepala desa itu hampir menangis.
"Aku tidak peduli dengan kehidupan manusia biasa seperti kalian. Tidak ada waktu untuk memikirkan para sampah" sosok pendek itu berkata dengan sombong. Ada arogansi yang kuat dalam nada suaranya.
"Beri dia lima botol lagi" sosok pendek itu memerintahkan.
Salah satu jubah hitam tiba-tiba mengeluarkan lima botol ramuan entah dari mana dan melemparkan ramuan itu di hadapan kepala desa.
"Hanya itu yang bisa kami berikan. Jangan minta lebih atau aku benar-benar akan menghancurkan kalian semua" ancamnya kemudian.
Kepala desa dengan cepat mengambil kelima ramuan itu seakan-akan itu adalah benda berharga. Lalu dia menatap ketiga orang di hadapannya. "Baiklah, aku akan menunjukkan jalannya"
__ADS_1