Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Ulah Boroxi


__ADS_3

( segel: 1/10 )


Gin merenung, melihat tulisan di depannya. Dia tidak mengerti sama sekali. Tapi setelah menaklukan Raja Iblis, angkanya tiba-tiba berubah. Apakah dia harus menaklukan sepuluh binatang raksasa untuk membuka "segel" ini?


"Ini sangat rumit" Gin memutuskan untuk melupakan hal ini sekarang. Dia akan memikirkannya nanti setelah dia mengerti apa yang terjadi.


"Kau bilang naik level? Sebelumnya levelmu berapa?" tanya Gin.


"Aku berhasil menerebos ke tubuh ilahi level satu dua tahun yang lalu. Sekarang aku level dua!" katanya senang. "Lalu, aku merasa eksistensi aneh masuk ke dalam tubuhku. Mungkin itu koneksi yang telah dibuat karena kau sudah memberiku nama" katanya.


Gin mengangguk. Dia membawa kucing kecil itu di pundaknya. Dia berusaha berkumpul kembali bersama murid-murid akademi yang lainnya. Tapi dia tidak menemukan keberadaan siapapun di hutan ini. Dia tidak tahu bahwa murid-murid itu sudah dibawa oleh para guru ke tempat yang aman. Hanya dia yang tertinggal karena dia berada di pusat terjadinya bahaya.


Tiba-tiba sekelompok orang melintas di atas kepalanya. Mereka turun dan Gin melihat wajah yang sangat familiar. Dia adalah wanita muda yang menjadi wali kelasnya, Siyan.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Siyan panik sambil memeriksa seluruh tubuh Gin. Dia mendesah lega saat menemukan bahwa Gin tidak apa-apa. "Apa guru tidak menjemputmu?" tanyanya


"Guru?" Gin bertanya kembali dengan nada bingung.


Siyan mengepalkan tangannya erat-erat. "Dasar mereka" gerutunya marah. Lalu dia melihat Gin dengan tatapan kasihan. Dia berpikir para guru pengawas tidak mempedulikan keberadaannya sama sekali. Dan meninggalkannya di dalam situasi berbahaya seperti ini. Para guru itu melakukan diskriminasi padanya.


Siyan tidak tahu bahwa Gin berada di tengah-tengah pusat bencana sehingga mereka tidak bisa menemukan keberadaan Gin. Akhirnya mereka menyerah dan hanya mengamankan murid-murid yang bisa mereka jangkau.


"Syukurlah kau tidak apa-apa" kata Siyan. Dia tiba-tiba memeluk Gin dan berkata dengan iba. "Semuanya baik-baik saja. Kau pasti sangat ketakutan"


"...." Gin hanya terdiam.


Lalu Siyan menyuruh salah seorang guru yang berada di rombongan mereka untuk mengantar Gin ke tempat yang aman.


"Istrahatlah. Semuanya akan baik-baik saja" kata Siyan sambil menghibur Gin.


"...." Gin menatapnya dengan linlung. Tapi melihat ekspresi khawatir Siyan dan tatapan hangatnya, Gin merasa sedikit tersentuh. Wali kelasnya yang galak itu ternyata tidak sejahat yang dia kira.

__ADS_1


Gin bersama seorang guru pun menghilang dari pandangan Siyan. Guru itu membawa Gin berpindah langsung ke tempat yang aman.


Setelah itu Siyan dan yang lainnya pergi menuju pusat bencana. Dia berhasil mengumpulkan tiga orang penatua dari lima keluarga besar. Ada tiga orang kultivator tubuh ilahi dan Siyan pikir mereka cukup untuk menghabisi mahluk iblis itu. Salah satu dari penatua itu adalah kakek Arai.


Kakek Arai melihat Gin. Dia merasa sangat familiar dengan penampilannya. Tapi dia tidak mengenali pemuda itu sebagai cucunya. Pasalnya, dia tidak melihat Gin beberapa tahun belakangan ini. Walaupun dia menyuruh Yina untuk mengawasi Gin. Dia sama sekali tidak pernah melihat Gin secara langsung.


Akhirnya kelompok itu menuju ke pusat bencana. Tapi tempat itu kosong. Hanya ada sisa-sisa pertarungan dan tanah yang retak. Serta ada lubang raksasa yang memiliki kedalaman yang sangat fantastis. Mereka mengikuti jejak pertarungan dan menemukan bahwa salah satu gunung sudah kehilangan setengah bagiannya.


"Apa-apaan?" Siyan mengerjap tak percaya. Begitu juga yang lainnya.


"Gila. Mahluk seperti apa yang bertarung disini." seru yang lainnya.


"Kita terlambat. Kelihatannya ada yang bertarung dengan mahluk itu lebih dulu" kata Kakek Arai.


Dan yang pastinya orang itu adalah kultivator tubuh ilahi. Tapi mereka tidak bisa menerka identitasnya.


"Jangan-jangan dari luar negeri?" terka penatua dari keluarga Ken.


"Tapi aku tidak mendapat berita bahwa mereka menyelinap ke negara kita secara diam-diam" sambung kakek Arai. "Dasar, para orang tua itu" katanya geram.


Mereka mengira para penatua dari negara lain memasuki negara mereka secara diam-diam dan bertarung dengan mahluk pembawa bencana itu.


"Tunggu, aku merasakan kehadiran asing lainnya" kata kakek Arai dan dia menemukan seorang pemuda yang bersembunyi dari semak-semak.


"Dia kan..." Siyan berusaha mengingat-ingat.


"Boroxi!"


"Jangan-jangan ini ulah dari organisasi mereka?"


"Aku pikir Boroxi hanya memiliki satu kultivator tubuh ilahi. Ternyata tidak. Ada banyak kultivator misterius dalam organisasi itu"

__ADS_1


"Kita harus memusnahkan organisasi itu secepat mungkin"


Mereka mulai terancam dengan keberadaan organisasi misterius bernama Boroxi. Yang selalu membuat kekacauan di seluruh dunia.


Yurion mendengarkan seluruh percakapan itu dan berteriak marah. "Hei, para kakek. Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertarungan mengerikan ini!"


"Hei bocah bau. Kau sudah merusak seluruh ekosistem. Kau dan kelompokmu harus membayar ganti rugi atau kami akan mengejar kalian sampai ke ujung dunia" kata kakek Arai. Dia tidak akan membiarkan organisasi ini melarikan diri setelah merusak hampir setengah hutan di kota mereka.


"Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini. Seorang penatua, bukan, seorang monster melakukannya. Dan kedua monster itu bertarung satu sama lain" jawab Yurion lemah. "Tidak ada hubungannya dengan Organisasi kecil kami"


"Lalu apa yang kau lakukan disini?" tanya Siyan. "Aku yakin semua hal ini terjadi karena kalian"


"Aku sama sekali tidak tahu apa-apa" Yurion masih membela dirinya. Lalu tiba-tiba gulungan aneh keluar dari bajunya. Itu adalah gulungan dari peta harta karun.


Siyan tentu saja mengenalinya. "Jadi kalian yang mencurinya!" teriaknya kesal. Ayahnya yang bodoh itu membuat peta harta ini karena bosan tapi tiba-tiba gulungan itu menghilang. Ternyata Boroxi lah yang telah mencurinya.


"Hei, jangan asal tuduh nenek sihir. Kami menemukan peta ini di reruntuhan. Siapa yang mencuri." Dia menoleh ke salah satu bawahannya. "Benar bukan?"


Sang bawahan mengangguk cepat. Sementara wajah Siyan memerah karena menahan marah dan malu. Ini pertama kalinya dia direndahkan dan dipanggil "nenek sihir".


"Jadi kalian yang membuka segelnya bukan? Kalian hampir membunuh ratusan manusia karena ulah tidak bertanggung jawab kalian" kata Siyan dingin.


Yurion menundukkan kepalanya. Dia merasa sedikit bersalah. Tapi dia sama sekali tidak punya maksud untuk membunuh siapapun. "Kami hanya mencari harta karun..." dia bergumam dengan nada lemah.


"Tangkap mereka" kata Siyan. "Boroxi sangat berbahaya. Kita tidak bisa membiarkan mereka seenaknya berkeliaran di ibukota"


"Dasar nenek sihir. Kau benar-benar pemarah dan jelek. Saat kita bertemu lagi, aku akan membuatmu menangis" ancam Yurion sebelum dia menghilang di tempat bersama kelima anak buahnya.


"Cari mereka. Mereka pasti berpindah tidak jauh dari sini" kata Siyan kesal sambil menggertakkan giginya.


Lalu orang-orang di belakangnya mulai menghilang dalam sekejap, mengejar Yurion. Kecuali, tiga orang kultivator tubuh ilahi yang masih berada di tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2