Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Pil Obat


__ADS_3

Guru di kelas ini adalah seorang wanita dewasa dengan penampilan yang sangat polos. Kacamata hitam besar dan jubah putihnya membuatnya terlihat seperti orang pintar.


"Namaku Bianca. Aku akan menjadi guru pembimbing kali selama 6 bulan ini" dia memperkenalkan dirinya.


Kelas campuran kali ini akan diadakan selama enam bulan sebelum liburan semester.


"Aku yakin kalian pasti sudah mempelajari beberapa dasar tentang tanaman obat sebelum masuk ke kelas ini" kata Bianca. "Tapi aku tetap akan memberikan penjelasan pengetahuan dasar tentang obat-obatan"


Dia mulai menjelaskan beberapa dasar tentang tanaman obat yang paling banyak ditemukan dan mudah untuk diracik menjadi pil obat.


"Ada dua jenis pil penyembuhan. Pertama pil untuk menetralisir racun. Kedua, pil untuk memulihkan luka luar dan luka dalam" dia mulai menjelaskan.


Lalu dia mulai menunjukkan beberapa tanaman. Kelima tanaman itu bisa dengan mudah didapatkan di hutan belakang sekolah. Tiga tanaman untuk menetralisir racun dan dua lainnya untuk menyembuhkan luka.


Sebenarnya ada banyak sekali tanaman yang bisa digunakan sebagai bahan dasar pil penyembuh. Tapi tanaman-tanaman itu langka dan sulit didapatkan. Sehingga Bianca mengesampingkan hal itu. Dia hanya ingin mengajari hal-hal dasar kepada anak-anak ini. Mereka bisa belajar lebih jauh dengan menggali ilmu pengetahuan itu sendiri. Ada banyak buku referensi tentang tanaman obat di perpustakaan.


Setelah itu Bianca mengeluarkan kuali obat kecil dari udara kosong. Dia mulai memperagakan bagaimana meracik ramuan itu menjadi pil obat.


"Untuk meracik pil obat diperlukan kuali khusus yang memiliki api phoenix" katanya. Lalu dia mengeluarkan dua botol putih juga. "Ini adalah zat disintegrant dan solubilizer. Keduanya merupakan zat penting dalam pembuatan pil obat"


Dia memasukkan satu batang tanaman obat. Kemudian dua zat tambahan dengan takaran masing-masing satu sendok. Setelah itu dia menggunakan energi qi miliknya untuk menyalakan api pada kuali obat. Sebuah api kecil berwarna merah pun muncul.


"Setelah ini kalian perlu menjaga api dalam kondisi yang stabil selama sepuluh menit."

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian, Bianca mematikan api dan membuka tutup kuali. Aroma obat yang kuat tercium di seluruh ruangan. Dan didalam kuali ada satu pil obat berwarna hitam pekat.


"Ini adalah pil penyembuhan tingkat satu. Pil ini dapat menyembuhkan luka ringan pada tubuh manusia"


Tiba-tiba, dia menggores tangannya sendiri dengan jepit rambutnya. Seluruh murid terkesiap karena tindakan ekstremnya yang tiba-tiba itu. Bianca mengambil obat di tangannya dan meminumnya. Kemudian, luka gores di tangannya secara perlahan menutup. Walaupun masih berbekas, pendarahan berhenti. Mungkin besok, luka itu akan kering dan sembuh.


"Kalian lihat? Pil ini sudah teruji" katanya. "Aku akan memberikan dua zat tambahan itu kepada kalian secara gratis. Lalu besok, bawalah kuali obat dan aku akan mengajarkan kalian cara membuat pil obat"


Mendengar perkataan Bianca, semua murid mengangguk bersemangat.


Untuk sekarang, aku ingin kalian menghapal sebanyak mungkin tanaman obat pada buku ini. Dua puluh buku tiba-tiba muncul di udara kosong dan terbang di kursi masing-masing murid.


"Aku beri waktu satu jam untuk mempelajarinya. Setelah itu aku akan memberikan tes singkat"


Gin melihat buku di depannya. Dia membukanya dan rasa malas langsung menyerbunya. Dia benar-benar tidak memiliki semangat untuk melakukan semua ini. Tapi dia harus melakukannya. Dia pun mengaktifkan skill pemahaman miliknya dan mulai membuka seluruh halaman buku, dari halaman pertama sampai akhir. Dia membacanya tapi skill miliknya membantunya menyimpan semua informasi itu di dalam otaknya. Hanya dalam beberapa menit, dia sudah berhasil membaca seluruh buku itu.


Gin mendesah lega. Tes singkat bukan masalah baginya. Bianca akhirnya memberikan beberapa pertanyaan kepada para murid. Bagi Gin itu adalah pertanyaan yang sangat mudah. Dia menjawab dengan cepat.


"Kalian tidak buruk" Bianca tersenyum setelah melihat hasil tes dari para murid. Beberapa murid berhasil menjawab dengan sempurna. Sisanya hanya salah satu atau dua, tapi baginya tidak masalah karena poin mereka masih tinggi. Berarti, kelas ini dipenuhi oleh orang-orang dengan pemahaman yang tinggi. Bianca menyukainya.


"Baiklah, sampai bertemu kembali besok" Bianca menutup jam mengajarnya.


Bel istirahat berbunyi dan setiap murid mulai berlarian keluar kelas. Mona menghampiri Gin dan keduanya menuju ke kantin bersama.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di kelas ini Gin" kata Mona.


"Ya, aku juga"


"Aku kira kau akan mengambil kelas lainnya"


Gin menghela napas. Dia mulai memberitahu Mona tentang nasib na'as nya yang mendapatkan kelas campuran sisa karena dia berada di barisan paling terakhir. Tapi dari awal dia memang ingin mengambil kelas ini. Dia hanya tidak ingin mengambil kelas penjelajahan.


Mona terkekeh dan berkata. "Tidak selamanya barisan akhir itu yang terbaik kau tahu? Kadang-kadang itu akan menjadi yang terburuk tergantung keberuntunganmu"


"Apa kelasmu selanjutnya?" tanya Gin.


"Binatang sihir" jawab Mona bersemangat. Lalu dia mulai mengoceh bagaimana dia ingin memiliki satu binatang sihir sebagai peliharaannya. "Aku ingin yang imut" lanjutnya sambil menggoyangkan kepalanya. "Kalau bisa kucing atau anjing. Tapi sayangnya binatang sihir imut itu sangat langka. Semua binatang sihir yang kutemui sangat menyeramkan" katanya dengan nada kecewa.


"Bagaimana denganmu ?" tanya Mona balik.


"Penjelajahan" jawab Gin tanpa semangat.


"Kelihatannya menarik. Cocok untukmu aku kira" Mona mengatakannya dengan yakin sehingga dia tidak tahu apakah gadis itu memuji atau mengejeknya.


"Apapun kelasmu tetap semangat. Pada akhirnya semua kelas itu sangat bermanfaat. Kita hanya harus belajar dengan baik dan menjadi orang sukses di masa depan" Mona mengatakan hal itu dengan mata berbinar. Dia ingin menjadi orang yang sukses dan hebat. Lalu mendapatkan banyak uang dan hidup nyaman. Dia juga ingin jadi terkenal.


Tentu saja Gin tidak setuju dengan Mona. Dia tidak ingin menjadi orang yang sukses atau apapun itu. Dia hanya ingin bersantai sampai masa tuanya.

__ADS_1


__ADS_2