
Gin pun selesai menentukan misinya. Mereka sepakat mengambil misi untuk mengejar pembunuh itu. Walaupun Li Seng menyetujui nya dengan berat hati dan penuh keringat dingin.
Mereka pun mengambil antrian agar bisa menuju meja pendaftaran. Antriannya lumayan panjang karena ada banyak murid yang ingin mengambil misi. Perlu setengah jam mengantri sampai mereka mendapatkan giliran.
Meja pendaftaran itu dijaga oleh seorang pria setengah baya. Pria tua ini mengingatkan Gin pada pria tua penjaga perpustakaan. Walaupun perawakan mereka berbeda, aura tekanan yang mereka keluarkan sama. Seperti orang kuat yang menyembunyikan kekuatan mereka.
"Ada yang bisa dibantu?" pria tua itu bertanya dengan senyum ramah.
"Kami ingin mengambil misi nomor 9" jawab Gin langsung.
Mata pria tua itu langsung membelalak karena kaget. Tapi ekspresi berubah menjadi santai lagi. Lalu dia mengeluarkan sebuah amplop dan memberikannya pada mereka. "Ini adalah gambar potret pembunuh itu dan juga kasus pembunuhan yang tercatat." jelasnya. Lalu dia meminta lencana kepada dua orang muda di depannya.
Gin dan Li Seng langsung memberikan lencana milik mereka. Pria tua itu memasukkan sesuatu ke dalam lencana mereka dan mengembalikan nya.
"Ada beberapa kelompok yang memgambil misi ini. Hanya kelompok yang berhasil mendapatkan target yang akan menerima Poin" jelasnya untuk terakhir kalinya.
Li Seng merasa lega saat mendengar hal itu. Kalau ada banyak orang setidaknya mereka bisa selamat. Sementara wajah Gin masam karena dia tidak ingin orang lain mendapatkan reward nya.
Mereka berdua berterima kasih kepada pria tua penjaga itu sebelum berjalan keluar dari ruangan misi.
"Ayo!" kata Gin bersemangat sambil menarik Li Seng.
"Kemana? Bukankah sekarang sudah waktunya pulang?" Li Seng menahan tubuhnya agar tidak tergeser dengan kakinya.
Gin mengerutkan keningnya. "Kita harus menjalankan misinya sebelum orang lain melakukannya"
Saat mendengar nya Li Seng hampir muntah darah. Dia menatap Gin seperti dia menatap seorang maniak gila. Mereka baru saja mengambil misi dan orang itu ingin dia menjalankan misinya sekarang? Hal gila apa itu! Itu namanya menerobos ke dalam lubang monster tanpa persiapan dan akhirnya akan mati dengan menyedihkan!
"Apa kau gila? Kita bahkan belum menyusun rencana dan bersiap-siap! Misi yang kita jalankan itu bukan permainan tapi pertaruhan nyawa!" protes Li Seng. wajahnya memerah karena marah.
"Kenapa kita harus bersiap-siap?" respon Gin dengan ekspresi polos.
__ADS_1
Mata Li Seng melotot. Dia menarik tubuhnya dari cengkraman Gin. "Karena aku ingin selamat. aku akan pulang. Kita akan lakukan misinya besok, humph!" Li Seng langsung membuat keputusan. Bahkan Gin tidak sempat menjawab, Li Seng sudah melarikan diri dengan cepat.
"Kukira malam ini aku akan tidur..." kata Gin kecewa saat dia melihat respon teman setimnya. Dalam hati Gin berharap belum ada yang melaksanakan misi itu. Dan tentu saja permohonan nya akan terkabul.
***
Setelah kembali ke rumahnya, Li Seng dengan cepat menemui ayahnya. Dia memerlukan beberapa item perlindungan diri agar tidak terluka karena itulah dia perlu bantuan ayahnya.
"Ada apa? Uang?" tanya ayahnya, Li Fan. Li Fan memiliki perawakan yang tidak berbeda jauh dari Li Seng. Tubuhnya pendek dan gemuk.
Li Fan adalah putra ketiga dari keluarga Li. Dia adalah anak bungsu di keluarga Li. Dari kakak-kakak nya dia juga mempunyai banyak sekali istri. Ada sekitar lima istri dan enam orang anak. Li Seng adalah putra tertua dari istri pertamanya. Li Seng akan menggantikan posisinya kelak di masa depan karena dia anak tertua.
Tapi harapan Li Fan terhadap Li Seng tidak terlalu tinggi untuk mengalahkan putra dari kedua kakaknya. Walaupun putranya itu cukup berbakat. Tapi sikap nya sampah, tidak berbeda jauh darinya. Sangat menyukai uang dan wanita. Bahkan untuk membuatnya berlatih, kau perlu memancingnya dengan uang.
"Bukan uang. Berikan aku alat sihir untuk melindungi diri" jawab Li Seng langsung.
Wajah Li Fan langsung berubah aneh. "Alat untuk melindungi diri?" Ini adalah permintaan paling aneh dari putranya. "Apa yang akan kau lakukan dengan ini?"
Tapi sayangnya harapan Li Seng tidak terjadi. Ayahnya menatapnya dengan mata berbinar dan wajah antuasias. "Kerja bagus! Kerja bagus! Ini adalah pertama kalinya kau melakukan hal yang berguna dalam hidupmu hahaha" Li Fan tertawa terbahak-bahak.
"...."
Li Fan menepuk bahu putra tidak berguna nya itu. "Semangat. Aku akan memberimu alat pertahanan diri terbaik. Tapi akan lebih baik lagi kalau kau terluka dalam prosesnya. Sehingga kau bisa merasakan apa itu rasanya perjuangan!" katanya bersemangat.
Li Seng menatap ayahnya dengan tatapan tak percaya. Ayah mana yang menginginkan putranya mengahadapi bahaya dan bahkan terluka? Ini benar-benar gila!
"Ayah kau...."
Puk! Li Fan menepuk kedua bahu putranya dan memotong pembicaraan. "Kau benar-benar melakukan kerja yang sangat bagus kali ini. Aku sangat berterima kasih kepada bocah bernama Gin itu hahahaha"
Li Seng menatap ayahnya seperti dia menatap orang gila.
__ADS_1
"Aku akan mengirimkan apa yang kau butuhkan di kamarmu." kata Li Fan cepat sebelum dia menghilang dari tempat nya berdiri.
"Tung..."
Tubuh Li Seng bergetar. Seakan-akan dalam satu hari dia menemui dua orang gila dan membuat mentalnya benar-benar jatuh.
"Terkutuk kau Gin brengsek! Ayah sialan! Berani-beraninya kalian mengirimku ke kematian" dia mengutuk dalam hatinya sambil menangis.
***
Keesokan harinya, Gin melalui hari-harinya seperti biasa dan melewati semua pelajaran dengan normal. Setelah pelajaran berakhir, dia langsung menuju ke ruang klub untuk menemui Li Seng.
Mereka bisa saja mendiskusikan nya di dalam kelas. Tapi entah kenapa Li Seng selalu menghindarinya dan menatapnya dengan dingin. Gin tidak tahu alasannya. Dia berpikir suasana hati bocah itu sedang buruk karena dia mendapat masalah di tempat lain. Jadi Gin tidak mendekatinya sampai kelas berakhir.
Di dalam ruang klub itu, Li Seng sudah duduk di sana dengan ekspresi serius. Gin langsung menghampiri nya.
"Baiklah, kita lakukan misinya malam ini" kata Gin bersemangat tanpa memperhatikan bahwa tubuh Li Seng yang bergetar.
Gin membuka amplop petunjuk yang didapatkannya di meja pendaftaran untuk melihat informasi tentang pembunuh itu.
Hanya ada selembar kertas di dalamnya dan Gin secara perlahan membukanya.
Ada sebuah potret seorang pria, berumur sekitar 40 an. Wajahnya tirus dan kulitnya pucat. Wajah itu tidak terlihat sepenuh nya karena masker hitam menutupi mulutnya. Rambutnya berwarna hitam, sangat berantakan dengan panjang sebahu.
Di bawah potret itu ada sebuah keterangan singkat.
Nama: knife
Umur: tidak diketahui
Kasus pembunuhan: sepuluh kali dengan korban acak di ibu kota.
__ADS_1
Petunjuk: Dia selalu melakukan aksinya tengah malam. Beberapa orang pernah melihatnya di bar "Cat Cit" di distrik lampu merah. Dia sangat ahli dalam penyamaran dan melarikan diri. Oleh karena itu, pihak kepolisian sangat sulit melacaknya.