
Ketiga orang dari Aksara itu mulai berpencar ke tiga arah yang berbeda dengan cepat. Meninggalkan Gin dan seorang pria tua yang pingsan seorang diri.
Tak lama kemudian, sebuah tulisan transparan muncul lagi di depan Gin.
(Segel: 2 / 10 )
Gin mengerjap bingung. Sejauh ini dia tidak melihat satu pun binatang sihir di tempat ini.
"Apa aku harus mulai menjelajah juga?" pikir Gin. Rasa malas dan lelah langsung menyerangnya. Tapi rasa penasaran menyerangnya lebih kuat sehingga mau tidak mau dia langsung berdiri dari tempatnya.
Gin mulai menjelajahi hutan itu berdasarkan instingnya. Lalu dia mendengarkan teriakan wanita. Gin bisa menduga dengan cepat teriakan siapa itu. Hanya karena ada satu wanita di tempat ini.
Gin mengintip. Dia melihat wanita galak itu menyerang tanaman aneh yang merambat ke seluruh tubuhnya dan melilitnya secara perlahan.
Walaupun wanita itu berusaha menyerang tanaman merambat itu, tanaman itu tidak terluka. Seakan-akan tubuhnya terbuat dari spons yang bisa menyerap serangan apapun.
Tanaman itu melilit pinggangnya. Lalu kadua kakinya dan mulai merambat ke arah dada dan tangannya. Saat tangannya mulai terlilit, wanita itu tidak bisa berkutik. Dia ingin berteriak minta tolong, tapi tanaman itu melilit mulutnya dengan cepat.
Bahkan kultivator immortal sepertinya sama sekali tidak berkutik dengan tanaman merambat itu. Dan secara perlahan seluruh tubuhnya hampir dililit oleh tanaman. Dia terlihat hampir seperti mumi hidup.
Wanita itu melihat Gin. Lalu dia menatapnya dengan intens sambil bergumam tidak jelas dan berusaha memberontak sekuat mungkin.
Gin mendekat ke arah mereka tapi dia tidak ada niat untuk menolong wanita itu sama sekali. Dia hanya berkeliling dengan santai sambil mengamati keduanya. Sesekali dia mencoba menyentuh tanaman merambat itu. Dan ternyata tanaman itu terasa kenyal seperti jelly. Tiba-tiba dia mengingat keberadaan slime. Tapi dia ragu bahwa monster seperti itu ada di dunia ini.
Gin tidak sengaja melihat sebuah batu berwarna hijau terjatuh dari tubuh wanita itu. Itu adalah batu hijau yang mereka ambil sebelumnya. Tanaman merambat itu langsung menyambar batu itu tapi Gin lebih cepat. Gin mengambilnya lalu mulai mengamati batu hijau aneh itu.
Tanaman merambat itu bergetar. Kelihatannya mahluk itu marah. Dia pun mulai menyerang Gin dengan berusaha untuk melilit tubuh Gin. Tapi Gin menghindarinya dengan mudah sambil melompat-lompat. Gin merasa bahwa dia sedang bermain lompat tali karena tanaman ini selalu menyerangnya dari atas sampai bawah.
Sampai akhirnya Gin menyadari sesuatu. Ada yang aneh dengan tanaman merambat ini. Dia tanpa sengaja melihat sebuah pot di bawah tanaman itu. Pot kecil itu sama sekali tidak sesuai dengan tanaman merambat raksasa ini karena itulah seluruh keberadaan pot tertutup oleh tanaman.
__ADS_1
Mata Gin bersinar saat dia melihat pot itu. Itu karena pot kecil itu bukanlah pot biasa, tapi pot emas. Dia tidak kekurangan uang, tapi dia tidak akan pernah menolak harta karun yang ditemuinya karena beruntung. Gin akan menyimpan pot emas ini sebagai jaminan masa tuanya.
Gin mendekati tanaman merambat itu. Tanaman merambat itu semakin agresif melihat Gin mendekatinya dengan mudah. Lalu sebuah kepala tanaman muncul ke atas. Kepala tanaman itu memiliki gigi yang tajam dan mahluk itu mulai membuka mulutnya, berniat untuk menyerang Gin.
GRAB! Gin dengan cepat meraih leher dari kepala tanaman itu. Lalu dia menghancurkannya dengan mudah walaupun tanaman itu sangat kenyal.
Saat kepala tanaman itu terputus, seluruh anggota tubuh dari tanaman itu berhenti bergerak. Gin menarik tanaman raksasa itu dari pot emas dengan mudah, lalu dia melemparkan tanaman itu secara acak.
Gin mengambil pot emas itu. Masih ada tanah di dalamnya, tapi dia tidak peduli. Dia akan membuangnya nanti. Dia bahkan tidak sadar bahwa wanita aksara itu mengarahkan aura membunuh padanya.
Karena terlalu fokus dengan pot emas, Gin juga melupakan keberadaan batu hijau aneh itu. Batu itu terjatuh dari tangannya lalu mendarat tepat di tengah-tengah pot emas.
Gin mengernyitkan keningnya. Dia ingin membersihkan pot emas itu dari tanah, tapi sekarang batu jelek itu juga ikut-ikutan masuk ke dalam pot emas miliknya.
Tiba-tiba batu hijau itu bercahaya, lalu perlahan-lahan terbenam ke dalam tanah. Cahayanya sangat menyilaukan. Kali ini silauan cahaya itu benar-benar membuat Gin tidak bisa melihat apapun.
Silauan itu perlahan meredup dan sepenuhnya menghilang. Lalu Gin melihat sebuah pucuk aneh yang muncul di atas pot. Mencuat seperti antena hijau kecil. Pucuk itu terus tumbuh dan membesar. Lalu kepala pucuk mulai terbuka dan bunga berwarna putih mulai mekar.
Bunga putih itu mekar seperti bunga normal. Tapi entah bagaimana beberapa garis terbentuk, lalu garis itu terbuka membentuk mata dan mulut.
Bunga putih yang memiliki mata itu mengedipkan matanya seraya menatap Gin dengan ekspresi datar.
Gin kaget, dia langsung melempar pot emas itu, refleks.
TRANG! Pot emas itu menghantam tanah dan hancur berantakan. Seketika Gin langsung mengutuk dirinya.
Bunga putih itu juga tiba-tiba bangkit dan Gin bisa melihat bahwa mahluk itu memiliki dua kaki yang terbentuk dari batang bunga miliknya.
"Apa-apaan..." gumam Gin dan Wanita dari Aksara itu bersamaan.
__ADS_1
Dunia ini benar-benar aneh. Penuh dengan monster tanaman yang sama sekali tidak mungkin ada.
Bunga itu berjalan dengan kedua kakinya dengan tergopoh-gopoh. Dia juga menggerakan kedua daun di sisi kiri dan kanannya seolah-olah itu adalah tangannya. Lalu dia mulai mendekati Gin dan menempel di kakinya.
"Ayah..." bunga itu bergumam.
Gin menganga kaget. Rahangnya hampir jatuh. Seketika dia bisa mengerti apa yang bunga ini katakan.
Sementara wanita dari Aksara itu tidak mengerti apapun. Saat bunga itu mengeluarkan suaranya, dia hanya mendengar suara tidak jelas seperti gumaman 'um, ii, um, iiuu..."
"Ayah, ayah" bunga itu melompat berkali-kali di atas sepatu Gin.
Gin masih membeku. Saat dia mulai tersadar dia berkata. "Hei, aku bukan ayahmu" katanya. Lalu dia mulai menggoyangkan kakinya untuk menyingkirkan bunga aneh itu. Tapi siapa yang mengira bahwa bunga aneh itu tidak mau lepas dan menempel dengan erat seperti lem gila di sepatunya.
"Ayah, ayah" bunga itu masih mengatakan hal yang sama. Bunga kecil itu perlahan-lahan memanjat ke atas.
Gin merinding saat bunga itu mulai memanjat ke dadanya. Dia refleks memegang bunga itu untuk mencabutnya dari tubuhnya.
"Eh?" tapi Gin tidak bisa mencabutnya. Bunga itu menempel erat di bajunya. Dia ingin menarik lebih keras, tapi dia takut menyakiti bunga kecil yang baru saja tumbuh itu.
"Ayah, ayah" bunga itu terus bergumam sambil memanjat dengan kaki kecilnya. Akhirnya bunga aneh itu berdiri tepat di atas kepala Gin. "Ayah" gumamnya lagi.
"Aku bukan ayahmu" respon Gin. Kali ini dia mencoba mengambil bunga aneh itu dari kepalanya. Tapi bunga itu tidak melawan.
Gin mengambilnya dan meletakannya dengan hati-hati di telapak tanganya. "kau ini apa?' tanya Gin.
Bunga itu mengedipkan matanya dan membuka mulutnya. "Ayah" katanya sambil menggerakan kedua daun kecil di batangnya. Tingkahnya itu benar-benar imut. Mengingatkan Gin akan anak ayam.
Kelihatannya bunga itu hanya bisa mengatakan satu kata saja untuk saat ini. Mengingat bahwa bunga ini selalu memanggilnya ayah, Gin teringat dengan pohon raksasa yang memakan mereka. Bisa jadi pohon raksasa ini adalah ayah bunga ini yang sebenarnya. Karena itu dia mengamuk saat para jubah hitam itu mengambilnya.
__ADS_1
Gin tidak berniat menjadi pencuri. Jadi dia berencana mengembalikan bunga kecil ini nanti setelah mereka berhasil keluar dari tempat ini.
Sementara wanita dari Aksara itu menatap mereka dengan tatapan bingung karena tidak mengerti apa yang bunga itu bicarakan. Tapi dia berhasil kembali waras dan berkata "serahkan monster bunga itu padaku" katanya dengan tatapan penuh niat membunuh. Dia berpikir tidak perlu menunggu mereka keluar. Dia akan membunuh Gin di tempat ini. Kebetulan pria berambut hijau muda dan berambut merah juga sudah berada di sini.