Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Gadis Kecil Asing


__ADS_3

Setelah kejadian pembunuhan ini, pihak akademi meminta maaf kepada semua pihak yang terlibat. Mereka langsung menginvestigasi para pembunuh untuk menemukan penyebabnya.


Lalu mereka menemukan bahwa Tuan Kota Burma lah yang mengirim para pembunuh ini. Motifnya diduga karena konflik antara putrinya dan para murid.


Pihak akademi pun langsung pergi ke kediaman tuan kota. Tapi tidak ada seorang pun di sana. Tuan kota dan keluarganya menghilang, hanya meninggalkan para staff dan pelayan yang tidak tahu tentang apapun. Walaupun begitu, pihak akademi menahan semua orang yang tersisa di tempat tinggal tuan kota untuk menggali informasi.


Setelah itu, pihak akademi mulai menyuarakan protes mereka ke pemerintahan karena kelicikan penjabat pemerintahan negara. Sang perdana mentri pun memutuskan untuk mencabut jabatan Tuan kota Burma. Dan mereka juga bekerja sama dengan para kultivator untuk mencari Vesansius karena statusnya sudah menjadi kriminal yang melarikan diri.


Gin kembali ke apartemen miliknya hanya dalam satu hari. Rombongan itu membawanya dan anak-anak lainnya dengan kereta sihir sehingga mereka tiba hanya dalam waktu beberapa jam. Karena kejadian ini, mereka berlima mendapatkan waktu libur selama seminggu untuk mengistirahatkan diri mereka karena luka selama pertarungan.


Saat Gin sampai, dia melihat bocah yang diambilnya tertidur di atas sofa. Dia adalah Lu Tu. Bocah itu terbangun dan mengucek pelan matanya sambil bergumam "Kakak..."


Gin melotot kaget dan membeku di tempat. Bukan karena Lu Tu terbangun, tapi karena dia melihat keberadaan lainnya yang tertidur dengan menyadarkan kepalanya di atas meja. Sosok asing itu adalah seorang gadis kecil yang sepertinya sebaya dengan Lu Tu. Lebih menakjubkannya lagi, gadis itu menjadikan tubuh buntal Bimba sebagai bantal kepalanya.


"Umm..." gadis kecil itu juga terbangun setelah mendengar suara Gin. "Kenapa kau sangat ribut Tutu" dia mengomel sambil mengucek matanya.


Gin terperangah. Dia tidak pernah mengira bahwa pria kecil yang dia pungut di jalan, akan membawa pacar ke apartemennya. Ini adalah penistaan. Mood Gin langsung berubah jelek.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? Kenapa kau membawa orang asing ke rumahku?" tanya Gin tidak senang.


Lu Tu akhirnya sepenuhnya tersadar dari rasa kantuknya saat mendengar suara marah Gin. "Kakak, jangan marah. Ini bukan salahku huuuu" dia mulai merengek sedih, hampir menangis. Dia menunjuk gadis kecil di depannya dengan tegas. "Dia selalu mengangguku! Aku tidak menyukainya. Dia tiba-tiba menguntitku dan menyelinap ke sini!" sahutnya cemberut.


Mata gadis kecil itu melotot marah.


BANG! Dia memukul meja di depannya. Pukulannya hampir mengenai Bimba yang tertidur. Untung saja Bimba melompat dengan cepat untuk turun.


"Apa kau mau dipukul?" dia mengancam Lu Tu.


"Siapa yang akan dipukul hah? Kakek akan memukulmu saat dia tahu bahwa kau melarikan diri dari rumah" jawab Lu Tu.


Gin mengamati keduanya. Kelihatannya mereka berdua cukup dekat satu sama lain.


"Lari dari rumah? Bukannya kau bilang kau tersesat karena ingin mencari orang tuamu?" kali ini Gin yang bersuara. Dia menatap Lu Tu, tidak menyangka bahwa pria kecil itu akan berbohong. Dia bisa saja menjadi kriminal karena mencuri anak-anak kalau ada yang salah paham dan melaporkannya ke polisi.


"Aku tidak bohong. Aku benar-benar ingin mencari orang tuaku. Jangan usir aku kakak" katanya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Gadis kecil di depannya langsung cemberut. Matanya melotot dan dia menggembungkan pipinya.


Gin menghela napas lelah. "Kau tahu aku baru saja kembali dari hutan. Aku sangat lelah. Kalian berdua bisa keluar dan pulang ke rumah kalian" kata Gin seraya menunjuk pintu keluar dengan tangannya.


Tapi tidak ada yang bergerak untuk menanggapinya. Sehingga dia semakin kesal.


"Hei" gadis kecil itu tiba-tiba berdiri dan mendekati Gin.


Mereka saling bertatapan satu sama lain. Gadis kecil itu menatapnya dengan mata melotot, tapi penampilannya terlihat sangat imut. Mata yang bulat seperti kelinci. Bibir yang bulat dan kecil seperti buah plum. Hidung yang tinggi dan tipis. Kulitnya juga sehalus bayi, tanpa pori-pori.


"Kau benar-benar berani melawanku? Aku akan mengalahkanmu" katanya sombong.


Gin mengernyitkan keningnya. Entah kenapa dia merasa nostalgia dengan perkataan gadis itu. Dia pernah mendengar kalimat yang mirip seperti itu entah dimana. Dia lupa.


Gin menghela napas lagi. "Aku tidak ingin berdebat" katanya. "Cepat keluar!"


Gadis kecil itu tiba-tiba memukul Gin secara tiba-tiba. Dan itu adalah pukulan serius, sama sekali bukan pukulan main-main.

__ADS_1


Tapi Gin dengan cepat menghindar dan mengambil pergelangan tangan gadis itu.


__ADS_2