Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Bertemu Kembali (2)


__ADS_3

Yusa dan Sima babak belur karena pembunuh itu menggunakan teknik kultivasinya untuk menyerang mereka. Keduanya berusaha menghindar sebaik mungkin, tapi tetap saja mereka terluka.


"Baiklah, saatnya potong satu" pembunuh itu mengayunkan belatinya ke arah Sima yang tidak bisa bergerak.


Yusa dengan cepat bergerak untuk mendorong adiknya, tapi akibatnya serangan itu mengenai kaki kanannya.


"Argh!" dia langsung berteriak kesakitan. Sebuah lubang kecil langsung terbentuk tepat di betisnya.


"Kakak!"


"Cih, harusnya terpotong tapi hanya lubang" pembunuh itu mengeluh. Dia mendekat ke arah mereka sambil tersenyum lebar. Dia merasa bersemangat melihat kedua pemuda di depannya bergetar ketakutan.


Pembunuh itu mengangkat kakinya dan menginjak kaki Yusa yang terluka. Yusa berteriak kesakitan dan pembunuh itu meremasnya semakin kuat.


Sementara Sima berusaha memukul pembunuh itu tetapi selalu meleset. Pembunuh itu pun meraih tangan Sima dan memutarnya sampai bengkok. Sima berteriak kesakitan dan pembunuh itu semakin bersemangat. Dia menendang Sima dan membuat pemuda itu terlempar dengan keras ke tanah, membentuk kawah yang lumayan dalam.

__ADS_1


Pembunuh itu menyiksa keduanya sampai mereka terkapar di tanah dengan kondisi yang hampir mati. Walaupun mereka masih tersadar dan masih bernapas.


"Kalian berlarian seperti tikus, benar-benar menyebalkan. Tapi aku sangat menyukai bermain petak umpet seperti ini" pembunuh itu berkata sambil menyerang keduanya secara bertubi-tubi.


Mereka menghindarinya dengan kekuatan terakhir mereka. Serangan terakhir dari pembunuh, membuat mereka tidak bisa menggerakan tubuh mereka lagi.


"Gunakan itu" Kata Yusa.


Sima langsung menghancurkan jimat yang dia miliki. Dalam sekejap ayahnya, yang berada di tempat lainnya, tersentak kaget.


Sementara Yusa menggunakan sisa-sisa dari alat sihir teleportasi untuk melarikan diri bersama Sima. Tapi mereka ditemukan oleh si pembunuh lagi beberapa menit kemudian. Sampai akhirnya, dia dan Sima menghabiskan seluruh alat sihir teleportasi milik mereka.


Tapi mereka berdua berusaha melarikan diri walaupun harus menyeret tubuh mereka ke tanah.


Mereka memutuskan untuk bersembunyi di semak-semak. Menyelimuti seluruh tubuh mereka dengan rimbunan daun.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba mereka mendengar suara kaki seseorang. Mereka berdua tersentak dan menyeret tubuh mereka ke tempat yang lainnya. Tapi hal itu malah membawa mereka ke orang asing lainnya, sosok yang mendekat ke arah mereka tidak hanya satu orang, tapi dua orang. Tidak tiga orang.


"..." Mereka berdua terdiam. Keduanya saling bertatapan dengan tiga orang yang baru muncul. Mereka adalah orang-orang yang dikenalnya.


"Ya tuhan!" Li Seng berteriak histeris. Pemandangan di depannya benar-benar menakutkan. Dia melihat dua orang jenius yang berpenampilan seperti boneka sawah berdarah sekarang. Hal seperti ini tidak pernah terbayangkan sama sekali olehnya.


Sima bergerak cepat dan menutup mulut Li Seng. "Berhenti bersuara bodoh! Pembunuh itu ada disekitar sini" dia mendengus kesal.


Li Seng langsung terdiam dalam sedetik.


Setelah memastikan Li Seng tidak berkicau lagi, Sima melepaskan bungkamannya.


Li Seng menoleh ke kiri dan kanan. Lalu dia mulai melakukan bahasa isyarat yang tidak dimengerti semua orang.


"Kau baik-baik saja?" Lian mengabaikan para idiot itu dan fokus pada kaki Yusa yang terluka.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa. Aku sudah meminum pil untuk penyembuhan. Pendarahannya sudah berhenti" jawab Yusa.


__ADS_2