
Lei Kong menatap Gin dengan tatapan tajam. Lalu dia melonjak kaget saat mengetahui tingkat kultivasi Gin yang sangat rendah.
"Tubuh perunggu?" dia mengerjap tak percaya. "Apa-apaan ini? Apa pihak akademi membuat lelucon?" katanya sambil tersenyum geli.
Semua orang menatap Gin. Pemuda itu menjadi pusat perhatian semua orang. Walaupun Gin sangat terkenal di ujian masuk akademi karena tingkat kultivasinya. yang lemah. Tapi dia hanya terkenal di antara murid baru. Beberapa dari para senior belum pernah mendengar berita itu, sehingga mereka memasang wajah kaget.
"Lihat!" salah satu senior melihat lencana milik Gin. "Dia juga berada di kelas emas"
"Wow, ini gila!"
"Bagaimana bisa kultivator perunggu sepertinya masuk ke kelas emas?"
"Dia masuk ke akademi ini aja tidak masuk akal. Bukankah persyaratan masuk ke akademi itu minimal kultivator tubuh perunggu?"
"Sangat tidak masuk akal..."
Murid-murid dari kelas emas tingkat satu menundukkan kepala mereka, malu. Karena mereka juga tidak menyukai keberadaan Gin di kelas mereka. Pria itu merupakan parasit dan membuat image kelas emas mereka menjadi sangat buruk. Hanya Fei Lan, Li Seng, Sima Arai, Yusa Arai dan Lian yang tidak menunjukkan reaksi seperti itu. Sementara Gin menatap mereka tanpa ekspresi sambil mengelus Bimba yang berada di pelukannya.
"Hei, kau keterlaluan" kata Li Seng kemudian. Walaupun dia pengecut, dia juga tidak senang melihat saudaranya dibuly seperti itu.
"Bagaimana kau bisa masuk ke akademi? Kau bukan berasal dari keluarga besar bukan?" Lei Kong bertanya pada Gin. Dia bingung bagaimana eksistensi seperti ini berada di akademi ini. Dia tidak memiliki latar belakang apapun, tapi bagaimana dia bisa lolos dengan mudah.
Lei Kong tidak tahu bahwa Gin mengacuhkannya dan fokus menatap rambut pirangnya yang bergerak dengan lembut. Bahkan Bimba memanjangkan tubuhnya dan mengangkat lengannya, berusaha menggapai helaian rambut Lei Kong.
Lei Kong menyadarinya dan mundur beberapa langkah. Lalu dia menatap kucing kecil di pelukan Gin dengan tatapan permusuhan. Dia tidak suka mahluk kecil ini.
"Hei, Bimba ingin membuat kasur untuk tidur. Aku ingin membeli rambutmu. Berapa harganya?" kata Gin.
Suasana menjadi hening dalam sekejap.
__ADS_1
Urat-urat kekesalan muncul di kepala Lei Kong. "Kau benar-benar gila?" dia berkata dengan nada geram. Dia menyangka bahwa bocah lemah itu akan terintimidasi. Tapi bocah itu malah berbicara kurang ajar padanya.
"Tidak. Pikiranku normal" jawab Gin.
"..." Lei Kong tidak bisa berkata-kata. Tapi dia masih bisa menahan amarahnya. Sampai tiba-tiba kucing itu melompat ke arahnya dan bergelantungan di wajahnya.
Bimba tiba-tiba melompat dengan cepat. Dia bergelantungan di wajah Lei Kong. Lalu melompat dengan mulus ke atas kepalanya dan mulai melengkungkan tubuhnya di atas kepalanya.
"...." Wajah Lei Kong memerah. Dia sudah dua kali dipermalukan oleh mahluk sialan ini. Dia pun tidak bisa menahan amarahnya lagi. Dia berniat melempar kucing kurang ajar ini sampai mati.
Begitulah yang dipikirkannya, tapi ketika dia berusaha meraih kucing di atas kepalanya, dia gagal. Dia hanya menyentuh udara kosong, lagi dan lagi.
Semua orang hanya melihat seorang pemuda yang mengangkat tangannya untuk meraih udara kosong. Tangannya bahkan tidak mengenai kucing kecil di atas kepalanya sama sekali. Ini merupakan pemandangan yang aneh untuk mereka semua. Tapi Lei Kong merasa bahwa dia bisa menyentuh kucing itu, tapi tangannya hanya menyentuh udara kosong. Dan dia sadar bahwa semua orang menatapnya dengan aneh.
Lei Kong benar-benar murka. Dia langsung melepaskan seluruh kekuatannya, berusaha menyerang Gin dan membunuh kucing itu.
"Pemuda itu sudah mati"
"Sayang sekali kucing imut itu akan mati"
Para senior itu mulai membuka mulutnya dan menatap Gin dengan tatapan prihatin.
"Kau tidak akan mati. Tapi setidaknya aku akan mematahkan beberapa tulangmu" kata Lei Kong.
Dia menyerang Gin, tapi tiba-tiba seseorang datang dan menghentikannya. Dia adalah Siyan.
"Apa yang kau lakukan? Tidak diizinkan untuk berkelahi di tempat ini" kata Siyan dingin.
Lei Kong langsung menarik kembali kekuatannya dan menenangkan dirinya. Bimba juga melompat kembali ke pelukan Gin.
__ADS_1
Setelah menghentikan perkelahian, Siyan menuju ke arah podium lalu mulai mengumumkan kepada semua orang bahwa bahaya sudah berakhir. Mereka berhasil menghilangkan bahaya itu dan semua orang bisa kembali ke aktivitas normal mereka sekarang.
Siyan menatap para murid dari kelas emas tingkat satu dan berkata "ujian praktik kalian dilanjutkan" sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.
Lei Kong menghalangi Gin lalu memegang bahunya dengan kasar. "Ini tidak berakhir sampai disini. Lihat saja kalau aku menemukanmu lagi. Aku akan membuatmu mati" dia mengancam dengan tatapan dingin.
Setelah itu dia melepaskan tangannya dari bahu Gin sambil tersenyum percaya diri. Dia mengerahkan seluruh kekuatan fisiknya dalam genggaman itu. Dia yakin bahwa bahu Gin terluka berat karena hal itu.
"..." Tapi Gin hanya mengerjapkan matanya dengan ekspresi datar yang menyatakan 'aku tidak mengerti apapun'..
"Kau tidak apa-apa?" Fei Lan juga menghampiri Gin.
"Aku baik-baik saja"
"Darimana kau mendapatkan mahluk itu?" Fei Lan mulai menanyakan asal usul Bimba.
"Aku memungutnya di jalan"
"Boleh aku menggendongnya?"
Tanpa perlu Gin memindahkannya, Bimba melompat sendiri ke arah Fei Lan. Lalu dia menyandarkan tubuhnya sambil mengusap kepalanya ke dada Fei Lan.
"Kau sangat lucu" Fei Lan mengelusnya sambil tertawa bahagia. Dia sudah tersihir dengan penampilan imut dari Raja iblis itu tanpa tahu bahwa itu hanyalah penyamaran untuk membodohi orang-orang. Bimba terlihat sangat nyaman dengan perlakuan Fei Lan.
Gin dan Fei Lan pun mengikuti murid lainnya untuk berpindah ke kelas mereka. Siyan sudah menunggu mereka disana, jadi mereka semua langsung duduk di kursi masing-masing. Gin masuk bersama Bimba, tapi sebagian orang tidak mempedulikan kehadiran kucing kecil itu.
"Ujian praktek sudah berakhir. Walaupun ada gangguan di menit-menit terakhir, tidak apa-apa. Kita akan menghitung berapa banyak bendera yang kalian dapatkan." jelas Siyan.
Dia mulai menampilkan sebuah layar transparan di depan kelas. Layar itu menunjukkan nama semua orang dengan poin "0" di samping nama mereka.
__ADS_1
"Aku akan menghitung poin kalian" kaya Siyan. "Siapa yang mau menyerahkan bendera terlebih dahulu?"