
Keesokan harinya ujian dimulai. Kali ini, kalau murid-murid kelas silver tidak lulus ujian, mereka akan diturunkan langsung ke kelas perunggu.
Tahap pertama adalah ujian tertulis. Gin melihat kertas ujian di depannya. Pertanyaan di ujian ini berbeda dari ujian di kelas emas. Tapi terlihat lebih sederhana. Dia menjawab semua pertanyaan dalam beberapa menit menggunakan skill pemahaman yang dimilikinya. Tidak peduli apakah jawabannya salah atau benar.
Tapi sebelumnya dia dapat nol dan dia merasa aneh. Dia menggunakan skillnya, harusnya semua jawaban itu benar. Tapi entahlah, semuanya sudah berlalu. Gin tidak mau terlalu memikirkannya. Dan nilai nolnya tidak bisa dirubah sama sekali.
Setelah ujian tertulis selesai, ujian tahap kedua langsung dilakukan tanpa jeda. Kali ini tidak ada ujian mengumpulkan bendera dan menginap di hutan. Gin merasa senang karena menginap di hutan benar-benar buruk, ditambah tidak boleh membawa handphone sama sekali.
Ujian tahap kedua adalah ujian praktik. Para murid hanya mengecek tingkat kultivasi mereka dengan bola kristal karena guru ingin melihat perkembangan mereka selama dua minggu disini.
"Tubuh perunggu level 9?" Jima, sang wali kelas melonggo tak percaya saat dia melihat hasil kultivasi Gin. Untung saja pengecekkan ini dilakukan secara pribadi, satu per satu, sehingga tingkat kultivasi Gin yang rendah tidak terlalu menarik perhatian.
"Nak, bagaimana mungkin?" Jima melihat Gin dari atas kepala sampai ujung kaki. Lalu dia mengambil bola kristal yang lebih kecil. "Letakkan tanganmu disini"
Gin meletakkan tangannya.
"Level bakat 3?" Jima melonggo untuk yang kedua kalinya. "Bagaimana mungkin kau bisa masuk ke akademi?" dia masih berkata dengan nada kaget.
Kemudian pria setengah baya itu menghela napasnya dan menenangkan dirinya. "Baiklah nak. Aku tahu bahwa kau masuk ke akademi ini dengan koneksi bukan?" dia menatap Gin dengan tatapan serius.
Gin mengangguk pelan. Dia tahu bahwa kakeknya yang membuatnya masuk ke dalam akademi ini. Entah untuk apa. Dia bahkan tidak cocok belajar disini.
"Semoga beruntung." Jima menepuk bahu Gin. "Gunakan kesempatan ini dan belajar dengan baik" dia melihat Gin dengan tatapan kasihan. "Kau bisa kembali"
Gin mengangguk lalu keluar. Ujian sudah selesai. Dia merasa sangat lega sekarang karena tidak harus berhadapan dengan kertas dan pulpen itu. Dia langsung menuju ke ruang kontribusi untuk mengklaim misinya.
"Kau sudah kembali?" resepsionis menatap Gin tak percaya. "Apa kau menyerah?"
Gin menyerahkan laporan kepolisian kepada resepsionis itu.
"Oh? Sudah selesai? Cepat sekali. Ya, tapi teman-temanmu sangat jenius. Itu wajar" Resepsionis itu mulai memuji rekan-rekan Gin tanpa mengikutsertakan Gin di dalamnya.
__ADS_1
"Berikan aku lencanamu" katanya kemudian.
Dan 1000 poin kontribusi pun di tambahkan di akun siswanya.
"Dimana teman-temanmu yang lain?" tanya resepsionis itu. Sekarang dia merasa aneh karena Gin selalu datang sendiri.
"Mereka sibuk. Mereka akan datang nanti" jawab Gin.
"Baiklah"
Setelah itu Gin mengirimkan pesan kepada Li Seng dan Fei Lan.
(Ambil poin kalian di ruang kontribusi)
"Poin apa?" Fei Lan membalas.
"Bro, poin apa ini?" Li Seng membalas hal yang sama.
Gin hanya membalas. "Pergi saja. Kalau tidak mau juga tidak apa-apa. Fei Lan, bawa Fei Ren juga" katanya. Dia malas meladeni kedua orang itu.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Gin.
Bimba refleks membuka mulutnya, membuat sang burung kecil, Muca, terjatuh. Muca yang terlepas pun segera terbang dengan cepat ke bahu Gin sambil berkata. "T...tuan, dia berusaha memakanku" katanya dengan nada sedih. Lalu dia mulai merengek dan menangis.
"Apa itu benar Bimba?" Gin bertanya balik kepada kucing gemuk itu.
"Itu bohong!" bantah Bimba cepat. "Saat aku tidur, ayam itu selalu mengangguku dengan melompat-lompat di tubuhku. Jadi aku marah dan mengigitnya" jelas Bimba. "Tunggu, aku bahkan belum mengigitnya"
"Tidak Tuan, kucing jelek itu bohong. Siapa yang melompat-lompat" balas Muca dengan mata melotot.
Gin menghela napas. Menambahkan dua binatang cerewet dalam hidupnya benar-benar membuatnya pusing. "Jangan menganggu satu sama lain lagi. Atau aku akan membuang kalian" kata Gin tegas.
__ADS_1
"..." Kedua binatang kecil itu terdiam.
Bagi Muca, dibuang adalah hal tersedih karena dipikirannya hanya ada Gin. Dia mungkin menganggap Gin sebagai induknya karena dia orang yang pertama kali dilihatnya. Bagi Bimba, dibuang artinya dibunuh. Dia berpikir Gin akan membunuhnya sehingga dia cukup ketakutan.
Melihat kedua binatang itu diam, Gin mengangguk dan berkata "Bagus." katanya. Lalu dia membuka pintu kamarnya. Sebelum menutupnya dia berkata "Jangan ribut, aku sedang tidur." Lalu pintu kamar pun tertutup. Gin merebahkan dirinya di atas kasur dan menutup matanya.
***
Li Seng langsung menuju ke ruang kontribusi. Disana dia melihat Fei Lan dan saudarinya,
"Dewi Lan, kau akan mengambil misi?" tanya Li Seng.
"Tidak. Aku ingin menanyakan sesuatu" jawab Fei Lan.
"Ini lencanamu" kata sang resepsionis sambil menyerahkan kembali lencana Fei Lan yang diambilnya. "1000 poin kontribusi sudah ditambahkan" Lalu dia menatap Li Seng "Lencana"
Li Seng memberikan lencanannya. Lalu resepsionis itu mengembalikannya "1000 poin sudah ditambahkan" katanya dengan senyum bahagia.
"Kalian benar-benar tim yang hebat" puji resepsionis itu. "Menjalankan misi berbahaya seperti ini di musim ujian. Benar-benar kerja bagus" dia memberikan jempolnya.
Sementara Li Seng dan Fei Lan terdiam.
"Dewi Lan, jangan bilang padaku Gin memberitahumu..."
"Ayo bicara diluar" Fei Lan menarik Li Seng keluar dari ruang kontribusi. Mereka menggunakan alat sihir mereka untuk turun ke bawah.
"Saudari Lan, ini benar-benar menakjubkan. 1000 poin gratis" seru Fei Ren bahagia. "Apa yang terjadi? Apa kau mengambil misi solo? Benar-benar terima kasih!" dia memeluk Fei Lan dengan bahagia.
"Fei Ren, bukankah Fei Wu menunggumu?" tanya Fei Lan.
"Ah, kau benar. Aku akan menemuinya sekarang dan memamerkan hal ini" katanya sombong. Lalu gadis itu menghilang dengan cepat.
__ADS_1
Setelah Fei Ren pergi, Fei Lan menatap Li Seng serius dan berkata "Siapa Gin?"
"Eh?"