
Fei Lan menyeret Li Seng yang sudah babak belur. Lalu keduanya mulai terbang dengan alat sihir milik Fei Lan, yaitu sebuah pedang sihir raksasa. Mereka harus mengawasi Gin di lantai 150. Fei Lan bisa terbang tapi Li Seng tidak. Sehingga mau tidak mau mereka harus menggunakan alat sihir untuk terbang.
Mereka terbang sampai mendekati jendela apartemen milik Gin. Jendela kaca dihadapan mereka ditutupi oleh gorden berwarna perak. Kemungkinan Gin masih dalam perjalanan ke kamarnya karena harus menunggu lift.
Lalu, mereka tiba-tiba melihat sesosok bayangan yang keluar dari apartemen Gin dan langsung terbang dengan cepat. Fei Lan bekata "Kau tetap disini", lalu dia meninggalkan Li Seng dan mengejar sosok mencurigakan itu.
Sosok itu sangat cepat. Fei Lan yakin dia adalah kultivator dengan tingkat yang lebih tinggi. Tapi itu bukan masalah baginya. Dia hanya harus mengejarnya dan dia yakin dia bisa mengejar sosok itu.
Sosok itu turun dan tiba-tiba berhenti di salah satu jalan kecil di pinggir kota. Dia mengenakan pakaian serba hitam. Fei Lan melihat lebih jelas saat jarak mereka lebih dekat. Itu adalah seorang wanita! Wanita dewasa yang sangat cantik dengan rambut panjang dikuncir kuda.
"Kenapa kau mengikutiku?" Wanita itu menatap Fei Lan dengan tajam.
"Kau penguntit. Apa yang kau lakukan di rumah Gin?" kata Fei Lan langsung sambil membalas dengan tatapan tajam juga.
Wanita itu, Yina, mengernyitkan keningnya. "Penguntit? Nona muda, sebelum kau mengatakan aku penguntit seharusnya kau berkaca terlebih dahulu" kata Yina sarkas.
Wajah Fei Lan berubah cemberut. Dia tiba-tiba bergerak menyerang Yina tanpa aba-aba. Itu adalah serangan mendadak, tapi Yina berhasil menghindar sehingga serangan itu hanya mengenai udara kosong.
Fei Lan langsung meledak karena wanita itu mengatainya sebagai penguntit. Walaupun dia memang mengawasi Gin, dia bukan penguntit. Dia hanya melakukannya karena merasa penasaran.
"Penguntit sepertimu tidak pantas berbicara padaku. Walaupun tingkatmu lebih tinggi bukan berarti aku tidak bisa menangkapmu. Aku akan membawamu ke kantor polisi" kata Fei Lan. "Aku tidak tahu bahwa kau akan menguntit seorang remaja seperti itu. Apa kau seorang tante yang memiliki kelainan?" lanjut Fei Lan.
Wajah Yina berubah cemberut. Dia sebenarnya tidak ingin meladeni gadis kecil di depannya. Tapi gadis itu menghinanya sehingga dia tidak akan membiarkannya. Dia tidak bisa membunuhnya karena identitasnya tapi setidaknya dia bisa mematahkan tangan dan kakinya.
Akhirnya kedua wanita itu bertarung satu sama lain. Yina mendekati Fei Lan dengan kecepatan maksimumnya dan melancarkan tendangan dengan salah satu kakinya. Fei Lan tidak bisa menghindari tendangan itu, jadi dia melindungi tubuhnya dengan kedua tangan yang disilangkan.
__ADS_1
BAM! Tendangan Yina membuat Fei Lan mundur beberapa langkah. Pergelangan tangan Fei Lan juga terluka dan baju di sekitar tangannya robek.
Perbedaan kekuatan mereka mungkin sepuluh tingkat atau lebih. Karena Yina berada di inti emas menengah level 1 dan Fei Lan hanyalah inti emas dasar level 1. Tapi Fei Lan tidak menyerah. Dia mengeluarkan handphonenya lalu mulai memanggil polisi.
"Apa yang kau lakukan?" Yina dengan cepat memukul tangan Fei Lan dan membuat handphone itu menghantam tanah.
Fei Lan menggunakan kesempatan itu untuk mengambil alat sihir dari cincin penyimpanannya. Lalu selubung transparan melindungi seluruh tubuhnya. Dia menyerang dengan alat sihir pelindung miliknya.
BAK! Fei Lan melayangkan tinjunya ke arah wajah Yina. Yina menangkisnya. Lalu dia menyerang balik. Serangannya mengenai selubung transparan milik Fei Lan, menyebabkan tangannya tergores. Selubung transparan itu melukainya. Melihat semua itu, Fei Lan tersenyum.
"Seperti yang kuduga dari keluarga terkenal" pikir Yina. Dia langsung mengeluarkan belatinya. Dia sebenarnya tidak ingin menghadapi gadis itu dengan serius. Tapi gadis itu melukainya.
Fei Lan mengeluarkannya senjatanya, sebuah pedang dengan ganggang berwarna putih salju. Pedang itu terlihat sangat cantik.
"Pedang Lotus api" adalah teknik yang Fei Lan gunakan. Aura berwarna merah menyelimuti bilah pedang miliknya. Dia menyerang dengan kecepatan yang cepat dan tubuhnya menari dengan lembut. Karena dia memiliki pelindung, dia tidak perlu mengkhawatirkan pertahanannya.
TRANG! Yina menangkisnya dengan belatinya. Belatinya mengeluarkan aura hitam yang sangat pekat. Dia merasakan panas di pergelangan tangannya saat belati itu bertabrakan dengan pedang milik Fei Lan. Yina menggunakan teknik kakinya untuk bergerak lebih cepat. Lalu dia membalikkan tangannya dan menghentak pedang milik Fei Lan.
Fei Lan yang tidak mampu menahan momentum itu terlempar ke belakang. Walaupun begitu dia tidak terluka karena pelindung yang dia gunakan. Dia hanya merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Tapi dia berdiri dan bersiap untuk melanjutkan serangannya.
Yina juga menyerang. Kedua wanita itu menyerang satu sama lain dari sisi yang berlawanan, tapi tiba-tiba seseorang muncul di tengah-tengah mereka dan berkata "Apa yang kalian lakukan?"
Keduanya tidak bisa menghentikan serangan mereka sehingga serangan keduanya mengenai sosok itu. Tapi anehnya, keduanya merasa bahwa pedang dan belati mereka membeku di udara.
"Gin!" keduanya berteriak hal yang sama saat mereka melihat dengan jelas sosok yang tiba-tiba muncul itu.
__ADS_1
Beberapa menit sebelumnya, Li Seng yang ditinggalkan melayang di udara dengan wajah bingung. Gin juga sudah kembali ke apartemennya. Dia melihat Li Seng melayang dari jendela apartemennya. Kali ini pemuda itu tidak menggunakan alat sihir untuk menyamarkan tubuhnya sehingga Gin bisa melihatnya dengan jelas.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Gin. Walaupun dia tidak berteriak, suaranya menggapai Li Seng yang melayang di udara.
Li Seng mendekatinya sambil mengendalikan pedang di bawah kakinya dengan tergopoh-gopoh. Sampai akhirnya dia berhenti di balkon apartemen Gin dengan wajah lelah.
"Gin, ada penguntit di apartemenmu" kata Li Seng lemah. Dia bahkan merasa bahwa dia tidak ingin berbicara.
"Penguntit?"
Li Seng mengangguk. "Saat aku dan Dewi Lan terbang, sosok itu tiba-tiba menghilang dengan cepat. Dewi Lan sedang mengejarnya" kata Li Seng.
Gin tidak mengerti. Dia melihat ke arah Bimba dan Muca yang tertidur di atas sofa. Berarti tidak ada bahaya apapun karena mereka bisa tidur tanpa beban.
Sampai akhirnya Gin bisa mendengar suara pertarungan yang tidak jauh dari situ. Gin menghilang tiba-tiba dari tempatnya. Dia melesat terbang ke tempat asal suara.
Li Seng melihat bahwa Gin tidak ada lagi di depannya hanya bisa bergumam bingung. "Kemana dia?" Li Seng hanya mengedipkan matanya dan Gin sudah tidak ada lagi di tempatnya.
Tapi dia tidak mau berpikir terlalu banyak. Dia masuk ke dalam. Lalu dia menyingkirkan kucing gembul dan seekor burung yang tidur di sofa dan melemparkan dirinya disana. Tanpa rasa bersalah dia memejamkan matanya dan tertidur dengan cepat.
Bimba dan Muca yang terbangun melihat Li Seng dengan aura membunuh tapi mereka segera menarik aura mereka dengan cepat, mengingat Li Seng adalah teman Gin.
Muca terbang ke atas wajah Li Seng yang tertidur. Lalu dia mengeluarkan kotoran burungnya dan kotoran itu mendarat di wajah Li Seng. Tapi anehnya, Li Seng masih mendengkur dengan nikmat.
Bimba mengeluarkan cakar kucingnya. Lalu dia dengan garang mencakar kaki Li Seng. Akhirnya Li Seng membuka matanya sambil berteriak kesakitan sambil memegang kakinya. Sementara Bimba berlari ke arah kamar Gin. Muca mengikutinya dan mereka langsung menutup pintu kamar.
__ADS_1