
Ketiga orang yang Gin kalahkan melihat Gin dengan tatapan takut dan penuh kewaspadaan. Mereka bertiga adalah kultivator immortal dan Ryan adalah kultivator immortal tingkat menengah. Berarti Gin adalah kultivator di atas tingkat itu.
Terlebih lagi, mereka tidak bisa melihat tingkat kultivasi Gin yang sebenarnya walaupun sudah bertarung dengannya. Ditambah mereka tidak melihat Gin menggunakan teknik kultivasi apapun saat bertarung dengan mereka, yang berarti Gin belum serius sama sekali.
"Itu menakutkan" pikir mereka bersamaan. Bukan karena Gin kuat, tapi karena Gin menyembunyikan dirinya untuk menjadi seorang pria muda.
Mereka membuat kesimpulan akhir bahwa Gin adalah kultivator immortal tingkat akhir. Dan umurnya lebih tua daripada penampilannya.
Wanita dari Aksara itu berpikir bahwa Gin memiliki obat yang bisa membuatnya awet muda. Dia merasa tertarik. Sementara yang lainnya berpikir Gin memakai topeng untuk menyembunyikan identitas aslinya.
Ketiga orang itu memakan pil obat dan dalam sekejap luka-luka mereka sembuh. Lagipula itu bukan luka yang berat sehingga bisa sembuh dalam beberapa hari walaupun mereka tidak minum pil obat.
Ryan mulai mendekati Gin dengan perlahan. Saat itu Gin sibuk bermain dengan monster bunga di tangannya seperti dia bermain dengan seekor kucing. Gin tidak tahu bahwa monster bunga akan menikmati garukan di bawah lehernya -diantara kelopal bunga dan batang- sama seperti seekor kucing.
"Penatua, kami mohon maaf. Tapi tidak seharusnya mencuri sesuatu dari junior seperti kami" kata Ryan kemudian. Dia berusaha untuk berbicara dengan sopan tapi dia tidak mau memberi hormat atau pun menundukkan kepalanya.
"..." Gin terdiam. "Aku sama sekali tidak mencuri" katanya tajam sambil memgeluarkan aura yang menakutkan. Ryan tersentak saat merasakan aura itu. "Bibi itu menjatuhkan batunya. Lalu aku hanya mengambilnya karena batu itu jatuh" jelasnya dengan percaya diri.
"Hei" urat-urat kekesalan muncul di kepala wanita itu. "Bibi kepalamu" dia mengumpat. "Kau bahkan kakek tua yang jelek, tapi kau berani memanggilku bibi"
Gin mengernyitkan keningnya tidak senang. "Aku masih seorang siswa" jawabnya ketus. "Siapa yang kakek"
"Humph" wanita itu berusaha menahan tawanya. Tapi kemudian tawanya lepas dan dia tertawa terbahak-bahak. "Seorang siswa? Hei kakek, aku tidak tahu apa tujuanmu menyamar seperti itu. Tapi wajahmu benar-benar bodoh" Dia mengejek.
Sebagai nona muda dari klan terkenal, dia tidak takut dengan kultivator asing manapun. Kakeknya adalah kultivator tubuh ilahi. Siapa yang paling kuat di dunia ini lagi selain kultivator tubuh ilahi? Walaupun Gin kuat, dia yakin dia belum mencapai tubuh ilahi sama sekali. Paling mentok tubuh immortal tahap akhir.
"Nona, jangan seperti itu" sela Ryan langsung. "Maafkan kami penatua. Nona memang memiliki kepribadian seperti ini tapi dia bukan orang jahat" katanya. Dia masih waspada dengan Gin dan tidak ingin membuatnya marah.
Gin sebenarnya tersinggung. Tapi dia memendam emosi itu dengan cepat sehingga sikapnya menjadi acuh kembali.
Gin mengalihkan tatapannya, mengacuhkan ketiga orang itu, dan melihat ke arah monster bunga yang sudah berpindah ke telapak tangannya dari sakunya.
"Mulai sekarang aku akan memanggilmu Lily" kata Gin. Dia spontan memberinya nama karena sangat sulit memanggilnya monster bunga setiap saat, karena itu nama yang panjang.
__ADS_1
Gin memberinya nama Lily karena bentuk monster bunga ini terlihat seperti bunga lily dan berwarna putih.
Lalu setitik cahaya tiba-tiba masuk ke dalam kening Lily. Bunga kecil itu bersinar selama sedetik, lalu kembali normal.
Tiba-tiba sebuah tulisan transparan muncul di depan mata Gin.
(segel: 3 /10)
Angkanya bertambah saat Gin mulai memberi nama monster kecil ini. Dia sangat penasaran dengan fitur ini tapi dia tidak akan pernah bisa membukanya. Dia mengira dia harus memberi nama kepada tujuh mahluk lainnya. Tapi masalahnya, tidak mudah mencari mahluk-mahluk itu. Hanya mahluk tertentu yang terdeteksi oleh sistem yang bisa masuk dalam daftar "segel" miliknya.
Lily melihat Gin sambil mengedipkan matanya beberapa kali. "Ayah, aku lapar" dia berbicara.
Gin melotot kaget. "Kau bisa bicara sekarang? Bagaimana mungkin?" tanyanya takjub.
Lily memiringkan kepalanya, seolah-olah dia bingung dengan pertanyaan Gin. "Tentu saja aku bisa. Ayah memberiku nama" jawabnya sambil mengedip polos.
"Ha?" Sekarang giliran Gin yang memiringkan kepalanya bingung. "Apa hubungan nama dengan pemahaman untuk bicara?" dia bertanya balik.
"Lily tidak mengerti. Nama adalah nama dan itu penting" jawab bunga itu.
"Ngomong-ngomong, aku bukan ayahmu. Aku akan membuatmu menemui ayahmu segera" kata Gin kemudian.
"Tidak. Ayah ya ayah. Lily tidak punya ayah yang lain" bunga itu tiba-tiba berteriak dan merengek seperti anak kecil.
"Huaaa!" Lily mulai menangis. "Ayah ingin membuang Lily!" katanya.
Gin linglung. Dia benar-benar tidak suka mendengar suara tangisan anak-anak. Suara Lily sama seperti anak-anak berumur tiga tahun.
"Aku tidak akan membuangmu. Jadi berhentilah menangis" Gin memijat keningnya.
"Benarkah?"
"Iya"
__ADS_1
Lily tersenyum lebar dan dia mulai melompat ke atas kepala Gin sambil menyembunyikan tubuhnya, dengan membenamkan dirinya di rambut Gin. "Ayah, Lily suka disini" katanya. "Lily mau tidur tapi Lily lapar" dia mengeluh.
"Apa makananmu?" tanya Gin langsung. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana memberinya makan.
Pengetahuan umumnya tentang tumbuhan sangat kecil sekali. Dia hanya tahu tumbuhan memerlukan sinar matahari dan air untuk hidup. Masalahnya tempat ini sangat gelap, tidak ada sinar matahari sama sekali karena mereka berada di dalam perut mahluk raksasa. Lalu Gin belum melihat sumber air sama sekali di hutan mati ini.
"Aku ingin makanan. Apapun yang bisa dimakan" jawab Lily.
Gin mengeluarkan makanan kering dari ruang penyimpanannya dan memberikannya kepada Lily.
Lily langsung mengernyit jijik. "Sampah apa itu?" katanya.
"Ini makanan" Gin membuka bungkusnya dan memakannya. "Kau bilang kau lapar"
Lily menatap Gin dengan bodoh. Ada rasa menyesal di dalam hatinya karena dia memiliki ayah yang bodoh. Dia bahkan berpikir bahwa dia akan mati kelaparan karena Gin tidak memberinya makan.
"Aku akan mati kelaparan" Lily berguling-guling di atas kepala Gin, seolah-olah dia sekarat.
Gin merasa cemberut. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana cara memberi makan sebuah bunga. Sampai akhirnya dia teringat sesuatu.
"Aku akan memberikanmu mana. Terima ini" kata Gin kemudian.
"Mana?"
Gin menyalurkan mananya ke Lily menggunakan jari telunjuknya. Dia hanya mengirimkan sedikit saja, sekitar 100 mana.
"Bagaimana? Apa kau bisa memakannya?" tanya Gin penasaran.
Lily mematung. Tapi kemudian matanya melebar dan dia menatap Gin dengan tatapan yang aneh, seperti hewan pemangsa yang kelaparan.
"Aku ingin lagi. Beri aku lagi" katanya antusias.
Gin memberinya 500 mana tambahan. Kelihatannya Lily sudah puas dengan itu karena dia tersenyum lebar sambil menjatuhkan dirinya di atas kepala Gin.
__ADS_1
Tiga orang lainnya hanya melihat interaksi Gin dan Lily dengan wajah bingung. Pasalnya mereka bisa mendengar bahwa monster bunga itu bicara tapi mereka tidak mengerti. Mereka hanya mendengar suara mencicit dari monster bunga itu. Dan mereka menjadi lebih bingung saat melihat Gin bisa berbicara dengan monster itu dengan sangat normal.