Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Lu Tu


__ADS_3

Misi penjelajahan hampir tiba. Yu Fei mulai memilih enam peta daerah untuk dijelajahi kepada murid-muridnya. Tapi sekali lagi, pemilihan peta ini dilakukan dengan undian acak agar adil.


Yusa secara otomatis menjadi ketua di kelompok enam. Sima mencalonkan kakaknya sebagai ketua dan tidak ada yang menolak. Begitulah posisi ketua yang dimiliki Yusa terbentuk.


Yusa mengambil kertas undiannya. Sekali lagi dia mendapatkan nomor enam. Saat anggota lainnya melihat angka yang sangat familiar itu, mereka berpikir bahwa angka enam benar-benar ditakdirkan untuk mereka.


Yu Fei memberi mereka peta nomor 6. Mereka membukanya. Itu adalah peta di daerah perbatasan antara Mozu dengan Aksara. Ada sebuah hutan yang belum pernah dijelajahi di daerah itu. Hutan itu terlalu besar, tapi mereka hanya perlu menjelejahi hutan yang masuk ke teritori negara mereka.


"Ingat, hanya jelajahi daerah ini saja" Yu Fei menunjuk ke sisi barat hutan. "Daerah ini masuk ke teritori Negara Mozu. Jangan pergi ke daerah lainnya karena itu adalah teritori negara Aksara" dia memperingatkan.


Mereka mengangguk patuh.


Setelah semua murid mendapatkan peta mereka, Yu Fei menyuruh mereka untuk menyiapkan perlengkapan menjelajah mereka. Dan penjelajahan bisa dimulai besok kalau mereka sudah siap. Akademi akan memberi mereka izin cuti sekolah selama sebulan sampai misi penjelajahan mereka berakhir.


Yusa memberi selembar catatan masing-masing kepada setiap orang. Itu adalah catatan barang penting yang harus mereka bawa.


Gin melihat catatan yang dibuat oleh Yusa.


Note:


tenda, makanan kaleng, minuman botol, tali tambang, pil obat, peralatan mandi, snack, makanan kering, bumbu dapur, kasur gulung, alat sihir pelindung, senjata sihir, pakaian


Kemudian Yusa bertanya apakah semua orang memiliki ruang penyimpanan. Semua orang mengangguk. Yusa cukup terkejut. Dia melihat Lian, walaupun bukan dari keluarga besar dia bisa memperoleh ruang penyimpanannya sendiri. Gin juga sama. Jadi dia berpikir bahwa keduanya cukup kaya.


Gin belum memiliki barang-barang yang ada pada list catatan itu. Dia akan membelinya sepulang sekolah.


"Kita akan berangkat besok. Aku akan menunggu kalian semua di sekolah" kata Yusa.


Sepulang sekolah, Gin cukup sibuk. Dia membeli segala sesuatu yang dia butuhkan. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan tidur dengan nyaman walaupun sedang berada di tengah hutan.


Gin bahkan memasukkan segalanya ke dalam ruang penyimpanannya, seperti matras mahal, kaus kaki, selimut, lotion anti nyamuk, jaket tebal dan lain-lain. Untung saja ruang penyimpanannya sangat besar sehingga dia bisa membawa cukup banyak barang.


"Kakak" Tiba-tiba seseorang menarik bajunya saat dia sibuk memilih tenda di sebuah toko.


Gin menoleh dan dia melihat seorang anak yang melihatnya dengan tatapan polos. Anak itu terlihat lebih muda dan lebih pendek darinya.


"Ada apa?" tanya Gin.


"Kakak ingin membeli tenda itu?" tanyanya.


"Iya"


Wajah anak itu langsung berubah sedih. "Aku ingin tenda itu dan aku sudah menabung untuk membelinya" katanya, hampir menangis.


"Kau bisa memilikinya. Aku akan beli yang lain" respon Gin cepat.


"Tapi uang tabunganku tidak cukup" dia melihat Gin dengan wajah memelas.

__ADS_1


"..." Gin terdiam. Dia menatap anak itu dengan ekspresi datar yang tidak bisa dibaca dan berkata "Ambil saja. Aku akan memberikanmu tenda itu"


Anak itu membelalak kaget. "Benarkah kakak?"


"Ya"


Gin pun berakhir membeli sebuah tenda untuk seorang anak yang tidak dikenalnya sama sekali.


Anehnya, setelah melakukan hal itu, anak itu terus mengekor padanya seperti anak ayam. Sampai akhirnya Gin merasa kesal dan berkata. "Kenapa kau mengikutiku?"


Anak itu menatapnya dengan polos. "Kenapa tidak boleh?" tanyanya dengan nada suara yang imut. Padahal dia adalah anak laki-laki.


"Berhenti mengikutiku" kata Gin ketus sambil memberikan tatapan tajam kepada anak itu.


Mata anak itu langsung berkaca-kaca dan tangisannya pecah. Gin membeku. Semua orang yang lalu lalang melihat ke arah mereka dan berpikir bahwa Gin membully anak itu. Gin panik.


"Hei, berhenti menangis" kata Gin cepat.


"Ibu, aku ingin ibu. Ibu meninggalkanku" kata anak itu sambil merengek.


Gin ingin melarikan diri dan mengabaikan anak itu di jalanan. Tapi entah kenapa dia tidak bisa. Melihat anak itu sendirian dan pengakuannya bahwa ibunya meninggalkannya, membuat Gin merasa iba.


"Berhenti menangis. Kita akan mencari ibumu"


Anak itu berhenti menangis dengan cepat. "Kakak ingin membantu?" dia menatap Gin penuh harap.


"Hore!" Anak itu bersorak gembira lalu dia memeluk Gin. "Terima kasih kakak"


"Jadi di mana terakhir kali kau bertemu dengan ibumu?" tanya Gin.


Anak itu berusaha mengingat-ingat lalu berkata. "Ibu meninggalkanku sendirian di rumah. Aku sangat kelaparan waktu itu dan kedinginan. Aku tidak punya ayah, hanya hidup berdua dengan ibu. Lalu kakek mengambilku. Semenjak itu aku hidup nyaman." dia menjelaskan. "Tapi kakek sangat sibuk. Dia tidak peduli aku kemana. Karena itu aku keluar untuk mencari ibuku"


"Kapan ibumu pergi?"


"Saat aku masih kecil. Waktu itu aku setinggi ini." Dia meletakkan tangannya di daerah pinggangnya.


Gin berusaha mencerna cerita anak ini. Tapi dia tidak bisa. Bagaimana caranya menemukan orang yang hilang sudah lama seperti itu? Bisa jadi ibunya tidak ada lagi di Mozu tapi pindah ke negara lainnya.


"Kalau begitu, aku akan mengantarmu kepada kakekmu" kata Gin.


Anak itu menggeleng dengan cepat. "Tidak mau. Kakek pergi naik pesawat hari ini dan meninggalkanku sendirian di rumah" katanya sedih.


"Kau bisa pulang ke rumahmu" kata Gin kemudian. Dia merasa curiga dengan anak di depannya. Dia merasa bahwa dia sudah ditipu.


Anak itu menundukkan kepalanya dan berkata dengan nada sedih. "Aku tidak punya rumah. Itu rumah kakek. Kakek juga punya keluarga di rumah itu. Aku tidak mau menganggu walaupun paman dan bibi baik" keluhnya. Lalu dia menatap Gin dengan ekspresi menyedihkan "Kakak, aku boleh tinggal di rumahmu untuk sementara sampai aku menemukan ibu?" katanya tiba-tiba.


"..." Gin mengernyitkan keningnya. Anak di depannya benar-benar mencurigakan. Sekarang Gin melihat lebih detail ke penampilan anak ini. Dia berpakaian rapi dan pakaiannya terlihat mewah. Dia juga tidak melihatnya membawa tenda besar itu, yang berarti dia menyimpan tenda itu di dalam ruang penyimpanannya. Kesimpulannya anak ini kaya dan tidak terlihat seperti anak jalanan sama sekali. Tapi kenapa membuntutinya?

__ADS_1


"Kakak tidak mau?" katanya. Kali ini dia ingin menangis lagi.


Tapi Gin langsung berkata dengan cepat. "Baiklah"


Anak itu tersenyum bahagia. "Terima kasih kakak." katanya tulus. "Aku akan membalas budi setelah menemukan ibu" katanya.


Gin membawa anak itu ke apartemennya. Bimba dan Muca yang melihat anak itu melirik Gin dengan tatapan penuh arti.


"Siapa lagi itu?" pikir Bimba dan Muca secara bersamaan.


"Kakak aku lapar" Anak itu mengeluh. Lalu dia menyadari keberadaan Bimba dan Muca. "Woah, kucing dan burung" dia bersorak bahagia sambil mengejar keduanya.


Dia langsung memeluk Bimba dan mengunyelnya. "Sangat gendut" katanya bahagia.


Bimba merasa tersinggung dan Muca tertawa bahagia.


Semenjak tinggal dengan Gin, kerjaan Bimba dan Muca hanya makan dan tidur. Karena itulah, Bimba berubah menjadi kucing gendut dalam sekejap.


Gin membawakan makanan yang sudah dibelinya dan berkata "Makanlah".


"Terima kasih kakak" anak itu makan dengan lahap.


Gin juga ikut makan di sampingnya sambil menonton TV.


"Ngomong-ngomong, siapa namamu?" Gin baru ingat bahwa dia tidak tahu nama anak ini.


"Lu Tu" jawab anak itu.


"Kakak, siapa namamu?"


"Gin"


"Terima kasih kaka Gin. Kau benar-benar baik" Lu Tu memuji.


"..." Gin tidak meresponnya. Tetapi gerakannya menjadi canggung karena pujian itu.


Lu Tu menginap di apartemennya. Gin memberikan kasur khusus untuk anak itu tidur di ruang tamu.


Sebelum tidur, Lu Tu mengeluarkan sebuah buku dari ruang penyimpanannya.


Dia mulai menulis.


Gin Arai,


Baik dan tidak pelit. Bukan anak kaya nakal. Menarik.


Setelah selesai dia mengembalikan bukunya dan tertidur.

__ADS_1


__ADS_2