
Yusa akhirnya menemukan keberadaan Gin setelah dia berlari selama beberapa menit. Lalu dia melihat pemandangan di depannya dengan mata melotot kaget. Dia melihat Gin sedang mengacak-acak tubuh pembunuh itu seperti pencuri. Dan yang lebih mengejutkan lagi, pembunuh itu sudah menjadi mayat.
"Apa-apaan?" Sima yang baru saja tiba langsung berteriak kaget.
"?" Gin tersentak. Dia mengedipkan matanya polos dengan ekspresi bingung. Dia tidak mengira anak-anak ini akan berbalik arah untuk menemuinya lagi.
"Broo, syukurlah kau baik-baik saja" Li Seng berteriak histeris sambil menyerbu ke arah Gin. Lalu pemuda gendut itu meraih leher Gin, ingin meremuknya, tapi Gin dengan cepat menghindar sehingga dia hanya memeluk udara kosong.
"Apa yang terjadi?" tanya Yusa. "Bagaimana bisa pembunuh itu mati?" dia menatap Gin dengan tatapan curiga.
Gin berdehem untuk membersihkan tenggorokannya. Lalu dia menceritakan kronologis tentang apa yang terjadi. Tentang ketidakberuntungan pembunuh yang mati karena racun mematikan dari seekor ular. Gin juga bercerita bahwa pembunuh itu mencuri telur dari sang ular sehingga binatang ilahi itu mengejarnya.
"Binatang sihir tingkat ilahi?" semua orang terkesiap saat mendengar cerita Gin.
"Bagaimana kau bisa hidup saat binatang mengerikan itu ada disini?" tanya Sima tak percaya.
"Aku beruntung" jawab Gin singkat dengan nada sedikit gugup. "Aku bersembunyi di semak-semak" sambungnya lagi.
Tentu saja tidak ada yang percaya bahwa bersembunyi di semak-semak bisa tidak terdeteksi oleh ular beracun itu. Mereka berpikir, keberadaan Gin tidak penting di mata sang ular sehingga mahluk itu mengabaikannya.
Tak lama kemudian, sekelompok orang muncul dengan Lian memimpin mereka.
"Ayah!" teriak Yusa, Sima dan Li Seng secara bersamaan. Lalu ketiganya menuju ke masing-masing pria setengah baya yang berbeda dan memeluk mereka.
__ADS_1
Lian melihat mereka semua dengan tatapan iri. Gin memasang ekspresi datar.
Mereka adalah sekelompok orang yang datang dengan cepat untuk menyelamatkan mereka dari para pembunuh. Gabungan dari pihak akademi dan para penatua dari dua keluarga besar.
Melihat mayat pembunuh yang terbaring tidak jauh, Siyan mulai menanyakan tentang apa yang terjadi. Semua orang menyuruh Gin untuk menjelaskan yang terjadi. Gin hanya menghela napas pasrah karena dia lelah untuk menjelaskan hal yang sama untuk yang kedua kalinya.
"Ini aneh" Lian ikut nimbrung. Dia menatap Gin dengan tatapan penuh kecurigaan dan ekspresi ragu-ragu, "Pembunuh sebelumnya juga mati karena racun ular" dia teringat dengan pertemuan pertamanya dengan Gin.
Gin berusaha tenang dan menjelaskan semuanya. Bahwa ular itu adalah binatang tingkat ilahi dan ketiga pembunuh itu mencuri telurnya sehingga ular itu mengejar dan membunuh mereka bertiga.
Siyan mengernyitkan keningnya. Tentu saja dia tidak percaya dengan cerita Gin yang terdengar seperti fiksi. Tapi hal itu bukan berarti tidak mungkin.
"Seorang penatua asing juga menyelamatkan kami" sergah Li Seng tiba-tiba.
"Penatua asing?" Siyan mengernyitkan keningnya.
Siyan mengangguk mengerti. Dia mencapai kesimpulan setelah mendengar seluruh cerita anak-anak ini. Ada tiga orang pembunuh. Dua pembunuh mati karena ular dan satu bertarung dengan kultivator asing yang tiba-tiba muncul.
"Tapi syukurlah kalian semua bersemangat" Siyan menghela napas lega. Dia menunduk hormat ke para penatua dari keluarga besar sambil meminta maaf karena semua kejadian ini terjadi karena kelalaian dari pihak akademi.
"Kalian semua ambil pil ini" Siyan mengeluarkan lima buah pil penyembuhan dan memberikannya kepada masing-masing anak. "Ini adalah pil penyembuhan tingkat tinggi yang sangat langka. Minumlah sekarang untuk meringankan luka kalian"
Semua orang langsung meminumnya dalam sekejap. Gin merasa bahwa pil ini sangat pahit. Rasa pahitnya bahkan masih tertinggal walaupun pil itu sudah masuk ke dalam perutnya.
__ADS_1
"Kamu yang bernama Gin Arai?" seseorang tiba-tiba menegur Gin.
Gin menoleh dan melihat dua orang pria setengah baya di sampingnya. Ada dua orang, Gin tidak bisa menebak siapa yang berbicara.
Kedua paman itu menatap Gin dengan ekspresi yang sangat serius.
"Terima kasih sudah menyelamatkan Yusa" kata paman di sebelah kiri.
"Dimana tempat asalmu?" paman di sebelah kanan tiba-tiba mengalihkan topik dengan sangat cepat.
Gin mengatakan desa di mana dia tinggal bersama para pelayannya. Mata kedua paman itu langsung membelalak kaget saat mendengar jawaban Gin. Keduanya bertatapan satu sama lain dengan penuh arti.
"Apa kau tidak apa-apa?" Paman di sebelah kiri tiba-tiba memeriksa tubuh Gin dengan ekspresi panik.
"Minum ramuan obat ini. Kau baru saja berhadapan dengan kultivator ilahi" Paman di sebelah kanan berkata.
"Tidak perlu. Aku tidak terluka terlalu parah. Lebih baik berikan kepada Yusa dan Sima" Gin menolak dengan halus.
"Tidak bisa. Kalau ada apa-apa denganmu, ayah, ehem, maksudku, aku ingin membalas kebaikanmu karena sudah menyelamatkan putraku" kata Paman di sebelah kiri panik.
Keduanya lalu memperkenalkan diri mereka. Paman di sebelah kiri bernama Geto. Geto Arai adalah ayah dari Yusa. Sementara paman di sebelah kanan bernama Seto. Seto Arai adalah ayah dari Sima.
Gin menatap keduanya. Setelah itu dia memperkenalkan dirinya sebagai Gin Arai. Anehnya saat Gin menyebutkan nama keluarganya, kedua paman itu tidak terlihat sama sekali. Seakan-akan mereka sudah mengenal Gin sejak lama.
__ADS_1
Tindakan aneh dari keduanya disadari oleh Yusa. Dia memperhatikan paman dan ayahnya dengan tatapan curiga. Dia juga sadar bahwa ayahnya salah ngomong selama sedetik. Walaupun dia tidak mendapatkan informasi apapun dari itu, rasa curiganya semakin besar.
"Aku yakin Gin ada hubungannya dengan keluarga Arai" pikir Yusa. "Semua orang menyembunyikan sesuatu" wajahnya langsung berubah cemberut