Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Ramuan Langka incaran Para Wanita


__ADS_3

Selama beberapa hari ini, Gin merasa sangat bosan. Dia pergi ke sekolah dan pulang. Selalu kegiatan yang sama setiap harinya. Terlebih lagi, setiap kali dia belajar hal baru, dia merasa suntuk. Bukan karena materinya tidak menarik, dia hanya merasa malas.


Padahal impiannya adalah bersantai setiap hari. Tapi ketika dia memikirkannya kembali. Hanya tidur dan bermain game setiap hari akan membuatnya bosan.


"Umurku masih panjang" gumam Gin sambil berbaring. Dia membuat ayunan gantung di balkon apartemennya sehingga dia bisa berjemur dan tidur siang disana.


Jika dia terus seperti ini selama bertahun-tahun, rasa bosannya akan membuat semangat hidupnya berkurang secara drastis.


"Mungkin karena aku sudah hidup selama tiga kehidupan. Aku jadi bosan hidup." katanya lemah. Dia menjadi despresi dan putus asa secara tiba-tiba.


Ponselnya tiba-tiba berdering. Li Seng memanggilnya.


"Broo, ayo keluar hari ini. Kita harus bersenang-senang di hari libur" suara keras Li Seng terdengar dari balik handphone. Pemuda itu mungkin ingin mengajaknya bermain di bar lagi.


"Tidak, aku mau tidur" tolak Gin cepat. Walaupun dia bosan, dia tidak ingin menghabiskan waktunya di tempat ramai dan penuh dengan suara seperti itu.


Tanpa menunggu Li Seng membalas, Gin menutup telponnya dengan cepat.


Tapi beberapa menit kemudian panggilan lainnya masuk. Gin merasa kesal. Dia pikir si gendut Li Seng memanggilnya lagi, tapi bukan. Itu adalah Fei Lan.


Gin mengernyitkan keningnya dan berpikir kenapa gadis ini menelponnya. Semenjak dia menemukan bahwa Fei Lan menguntitnya, interaksinya dengan Fei Lan semakin berkurang.


"Um, halo..." kata Gin malas.


"...." Tidak ada jawaban. Suasana hening sejenak. Ini sangat aneh. Dia sudah terbiasa mendengar omelan Fei Lan dari balik telpon dan mengabaikannya. Jadi kejadian seperti ini benar-benar membuatnya merasa aneh.


"Halo Gin..." Fei Lan menjawab dengan suara lemah.


"Ada apa?"


"Aku ingin minta tolong..." katanya malu-malu. Gin tidak melihatnya tapi Fei Lan hampir meledak karena saking malunya.


"Ya?"


"Aku dengar kau bergabung dengan asosiasi alkemis bukan? Guru Bianca juga memberitahuku bahwa kau dan Mona sangat berbakat meracik obat. Bisakah kalian membantuku meracik pil? Aku akan menyediakan bahan-bahannya dan memberi kalian bayaran atas itu. Aku sudah menghubungi Mona dan dia setuju. Tapi aku tidak yakin dengan hanya satu orang dan minta tolong padamu" Fei Lan menjelaskan dengan lancar tetapi suaranya sangat kecil karena dia menahan rasa malunya.


"Pemuda bernama Long itu juga seorang alkemis. Dia bahkan hampir menjadi alkemis level 2" Gin tiba-tiba teringat.


"Cih, aku tidak mau minta tolong padanya" dengus Fei Lan. Dia tidak akan pernah mau meminta tolong kepada anak-anak dari keluarga besar lainnya walaupun mereka berbakat. Ini tentang harga dirinya. Karena itu dia memanggil Mona dan Gin untuk membantu. "Dia gagal dalam ujian. Sekarang dia masih menjadi alkemis level 1" sambung Fei Lan.


"Begitu..."


"Jadi bagaimana?" tanya Fei Lan gugup.


Gin berpikir sebentar, lalu dia menjawab. "Baiklah" katanya.

__ADS_1


Fei Lan tersenyum. "Kalo begitu aku akan pergi ke tempat kalian. Aku akan datang ke apartemenmu bersama Mona" katanya. Lalu dia memutuskan panggilannya.


"..." Gin terdiam sesaat. Dia merasa ada yang salah. Sejak kapan apartemennya menjadi tempat untuk berkumpul?


Dua jam kemudian, bel rumahnya berbunyi. Gin membuka pintu dan melihat dua orang gadis menunggu disana.


Fei Lan dan Mona memakai pakaian yang sangat kasual. Mona mengenakan dress musim panas kasual dan sendal kasual. Fei Lan mengenakan kaos oversize dengan celana pendek dan sepatu hitam.


Setelah Gin membukakan pintu, kedua gadis itu langsung masuk tanpa aba-aba.


"Oh?" Mata Mona berbinar saat dia melihat Bimba yang tertidur di atas sofa. Dia langsung melompat dan memeluk Bimba. "Kita berjumpa lagi kucing kecil"


Bimba langsung membuka matanya. Dia tidak bisa bernapas karena Mona memeluknya dengan keras.


Sementara Fei Lan memperhatikan keberadaan burung kecil yang hinggap di sofa dan tertidur. "Aku tidak tahu kau memelihara burung juga" gumam Fei Lan. Dia mengelus kepala Muca dengan lembut.


"Kami juga memiliki phoenix sebagai peliharaan. Mereka sangat lucu dan cantik saat mereka kecil. Entah kenapa burung kecil ini memberiku perasaan nyaman" gumam Fei Lan. "Mungkin karena dia imut"


Setelah itu, Fei Lan membuka ranselnya. Dia mengeluarkan beberapa ramuan dan juga bahan-bahan tambahan untuk meracik pil.


Gin dan Mona belum pernah melihat ramuan yang dikeluarkan oleh Fei Lan.


"Ini adalah bunga semi abadi. Aku mendapatkannya secara kebetulan saat aku menjalankan misi. Sebenarnya ini bukan ramuan yang berharga tapi ini sangat langka" Fei Lan menjelaskan.


"Apa khasiatnya?" tanya Mona.


Mona membelalak kaget. Dengan antusias dia berkata. "Astaga? Yang benar? Fei Lan aku ingin satu. Aku akan membelinya" katanya cepat.


Ramuan ini sangat bagus untuk menjaga kesehatan kulit, dalam artiannya kecantikan. Ini adalah ramuan yang diincar oleh seluruh wanita di dunia ini.


"Aku akan memberikan satu ramuan dan kau bisa meraciknya sendiri" kata Fei Lan. Dia mengeluarkan sebuah kantong dan berkata "Aku punya banyak"


"Lalu aku ingin dua?" Mona menatap Fei Lan dengan mata berbinar seperti anak anjing.


"Baiklah, hanya dua oke. Sisanya milikku" Fei Lan menyetujuinya.


Gin menatap kedua gadis di depannya dengan ekspresi cemberut. Dia berpikir kenapa para gadis menyukai hal-hal berbau kecantikan, ketika para pria sama sekali tidak peduli dengan hal-hal berbau ketampanan. Ini adalah fenomena aneh yang masih belum dimengerti olehnya.


"Aku ingin ramuan-ramuan ini diracik menjadi pil kecantikan level 2" kata Fei Lan.


Mona sedikit lesu setelah mendengarnya. "Aku sebenarnya tidak terlalu baik meracik pil obat level 2" keluh Mona.


"Kau bilang level 2? Berarti ada ramuan lainnya?" tanya Gin karena mereka perlu mengombinasikan dua jenis ramuan untuk membuat pil level 2.


"Tentu saja" Fei Lan mengeluarkan kantong lainnya dan berisi ramuan jenis lainnya. "Ini adalah ramuan Poli. Efeknya adalah booster. Jadi ramuan ini bisa meningkatkan efek dari ramuan utama dua kali lipat" katanya semangat.

__ADS_1


Mona melihat semuanya dengan mata berbinar. Ini bahkan lebih menggiurkan dari makan enak baginya!


"Gin, kau harus meracik pilnya. Kalau aku membuatnya semua ramuan berharga itu akan sia-sia. Lagipula 100% kemurnian akan terjamin di tanganmu" Mona menatap Gin penuh pengharapan.


"Kau bisa meracik dengan kemurnian 100%?" Fei Lan terkesiap. Lalu dia melihat Gin dengan mata penuh pengharapan juga. "Itu sangat bagus. Aku berharap padamu"


"..." Gin tidak bisa berkata-kata. Bagaimana dia bisa berakhir sebagai pesuruh kedua wanita aneh ini.


Melihat wajah tidak senang Gin, Fei Lan berkata "Aku akan memberimu satu pil gratis"


"Tidak butuh" Respon Gin cepat sambil menggertakan giginya.


Mau tidak mau Gin meracik pil kecantikan untuk mereka. Dia mengeluarkan kuali tuanya, lalu mulai memasukkan seluruh ramuan ke dalam kualinya. Kualinya cukup besar untuk menampung dua kantong ramuan obat.


Gin mengalirkan energi qi miliknya. Api phoenix muncul dan ramuan pun dibuat. Dia berkonsentrasi agar api yang dibuatnya stabil.


Sementara Fei Lan dan Mona menghabiskan waktu mereka untuk bermain dengan Bimba dan Muca. Lebih tepatnya, kedua gadis itu mengganggu waktu istirahat kedua binatang sihir itu.


Gin melihat Bimba dan Muca yang tertindih oleh para gadis. Bahkan ekspresi Bimba terlihat menyedihkan. Bimba menatap Gin dan membuat isyarat minta tolong.


Tapi Gin malah bergidik ngeri. "Perempuan memang menakutkan" dia bergumam.


Selama tiga kehidupannya, Gin belum pernah memiliki hubungan romantis dengan wanita mana pun. Kehidupan pertamanya di bumi, dia hanyalah pemuda yang mengenaskan dan introvert. Belum sempat dewasa, dia mati.


Kehidupan keduanya, dia adalah pahlawan yang bekerja keras bagai kuda untuk menjadi lebih kuat. Tujuannya hanya mengalahkan raja iblis saat itu dan dia tidak punya waktu untuk memikirkan wanita. Belum sempat menikmati hasilnya, dia mati lagi.


Di kehidupan ketiganya kali ini, dia tidak dekat dengan wanita mana pun.


Gin akhirnya selesai meracik setelah hampir satu jam. Dia membuka kualinya dan lima belas pil obat berbau harum terlihat ke permukaan.


Fei Lan dan Mona melihat pil itu dengan mata berbinar seperti hewan kelaparan.


Fei Lan mengeluarkan sebuah botol kaca yang terlihat mewah dan memasukkan pil itu dengan hati-hati. Dia menyisakan dua pil untuk Mona seperti yang dia janjikan.


Mona yang penasaran langsung menelan satu pil ke mulutnya. Dia merasakan hawa hangat yang sangat nyaman menyelimuti seluruh tubuhnya. Dia langsung menyentuh kedua pipinya untuk merasakan perubahan pada kulitnya. Lalu dia tersentak kaget karena kulitnya menjadi lebih halus.


"Aku menjadi lebih cantik kan sekarang?" kata Mona sambil menatap Gin dengan mengedipkan matanya.


"...." Gin tidak merespon.


Fei Lan juga menelan satu pil. Lalu dia meletakkan kedua tangannya di pinggang dan berkata "aku juga lebih cantik kan?" sambil menatap Gin.


"...." Gin tetap tidak merespon.


Tapi dua gadis itu melotot padanya, menunggu respon yang diberikannya. Gin merasa merinding, lalu tanpa sadar dia mengangguk kecil. Padahal di mata Gin, mereka tidak berbeda dari yang sebelumnya.

__ADS_1


Melihat Gin mengiyakan pertanyaan mereka, keduanya langsung tersenyum.


Setelah pembuatan pil selesai, keduanya masih tetap di apartemen milik Gin sampai sore. Mereka langsung memasak makan malam sebagai tanda terima kasih untuk pria itu. Fei Lan juga memberinya satu kristal ungu sebagai bayaran sebelum dia pulang.


__ADS_2