
Gin dan Mona kembali ke ruang tamu sambil membawa minuman dan juga makanan kecil. Walaupun Gin terlihat malas untuk melakukan pekerjaan rumah, kulkasnya sangat penuh dengan bahan makanan. Dia selalu hidup sendiri selama tiga kehidupan, jadi dia benar-benar sudah terbiasa memasak sendiri. Dan tidak pernah meninggalkan rumahnya kosong tanpa bahan makanan.
"Wah, aku sangat menyukai snack ini!" kata Li Seng bahagia sambil mengambil satu toples snack. Pemuda itu mulai menyalakan TV LCD besar yang ada di ruang tamu dan mulai bermain dengan konsol game milik Gin tanpa izin sama sekali.
"Ini versi terbaru. Keren!" katanya bersemangat. Walaupun Li Seng tidak kekurangan uang, dia tidak akan pernah bisa membawa game dan bermain di rumahnya. Ayahnya akan mengamuk dan mengusirnya kalau tahu, atau akan menghukum nya untuk melakukan pelatihan tertutup.
Bagaimana pun juga di keluarga mereka, generasi muda hanya boleh fokus berlatih kultivasi. Hal-hal dunia fana seperti game dan acara TV sangat dilarang untuk di bawa ke rumah. Walaupun rumah mereka mewah, isinya hanya hal-hal kuno seperti alat sihir dan buku teknik kultivasi. Makanya mereka biasanya diam-diam menyelinap ke rumah rumah untuk bermain. Dan tempat kesukaan Li Seng adalah bar.
"Kita kesini untuk belajar" kata Fei Lan ketus.
"Aku tahu hahaha" Li Seng langsung tertawa canggung.
"Kau bisa lanjut setelah kita selesai belajar" kata Fei Lan lagi.
Mata Li Seng langsung berbinar dan dia mengangguk patuh seperti ayam.
Gin menatap kedua orang itu, sedikit tidak percaya. Bagaimana mereka bisa seenaknya seperti itu di rumah orang lain yang baru saja mereka kunjungi. Bahkan gadis populer itu, Fei Lan, mulai bersikap seenaknya juga. Apa karena mereka anak-anak dari keluarga besar? Jadi mereka sudah biasa bersikap seperti itu di setiap tempat.
Tapi karena mereka masih bersikap tidak berlebihan, Gin tidak mengatakan komplain apapun. Dia hanya diam tanpa memberi respon.
Saat mereka akan mulai belajar, tiba-tiba Fei Lan menunjuk sesuatu di atas meja, tempat dimana Gin menyimpan tasnya dan bertanya. "Darimana kau dapat batu itu?"
Deg! Gin langsung membeku. Dia lupa memindahkan batu pusaka itu! Batu pusaka milik keluarga Fei! Kalau Fei Lan tahu batu itu ada di rumahnya, bukankah dia akan dianggap sebagai pencuri?!
Sebenarnya saat pertama kali masuk ke apartemen Gin, Fei Lan merasakan sesuatu yang sangat aneh pada batu kerikil itu. Walaupun batu kerikil itu terlihat sangat biasa, tapi entah kenapa Fei Lan merasakan ada sesuatu yang sedikit janggal.
Fei Lan tidak mengenali batu pusaka milik keluarga nya karena beberapa alasan. Pertama batu itu mengecil dan terbentuk seperti kerikil biasa. Batu pusaka yang dikenal nya hampir sebesar telapak tangan orang dewasa dan berkilau. Kedua, tidak ada energi Qi yang mengalir dari batu itu. Sehingga Fei Lan tidak mengenalinya sama sekali.
__ADS_1
Gulp! Gin masih belum menjawab karena dia masih sangat terkejut.
"Ada apa denganmu?" Fei Lan mengerutkan kening nya, bingung, saat melihat reaksi Gin yang aneh seperti ini.
Li Seng tidak bisa menahan rasa penasaran nya. Dia beranjak dari tempatnya dan mengambil batu kerikil itu. Dia mengangkat nya dan mengamati nya, mencari sesuatu yang istimewa.
"Apa bagusnya" katanya kecewa. Dia tidak menemukan apapun yang istimewa dari kerikil itu.
"Aku mengambil nya di jalan" Gin akhirnya membuka mulutnya dan menjawab lirih. "Batu itu terlihat menarik, jadi aku membawanya ek rumah"
"Apanya yang menarik?" Li Seng langsung menyanggah nya. "Baru kerikil ini terlihat sangat jelek. Itu hanya akan membuat rumahmu kotor karena pasir nya. Aku akan membuang nya untukmu. Dan memberimu batu kerikil antik yang lebih baik" Li Seng sudah bersiap melempar batu itu ke tong sampah.
Tapi Gin dengan cepat menghentikannya dan mengambil nya kembali. "Jangan dibuang" katanya dengan ekspresi datar. "Walaupun itu jelek, tidak apa-apa" Gin dengan cepat memasukkan batu itu ke dalam saku celananya.
Wajah Li Seng cemberut. Dia tidak tahu kenapa Gin mempertahankan batu kerikil jelek seperti itu.
Melihat kedua orang itu tidak menanyakan tentang batu itu lagi, Gin mendesah lega. Mereka pun kembali ke topik utama dan mulai belajar.
Mona dan Fei Lan memahami materi dengan mudah. Jadi kedua gadis itu mengajari kedua pria bodoh di depan mereka dengan sabar. Gin hanya mendengar kan seperti anak baik, mereka tidak tahu apakah pemuda itu mengerti materinya atau tidak. Sementara Li Seng selalu memasang bodoh sambil sesekali bergumam. "Aku tidak mengerti. Otakku terlalu lelah" membuat mereka harus mengulang penjelasannya lagi.
Waktu terus berjalan. Langit pun mulai gelap. Tanpa mereka sadari sudah pukul tujuh malam. Mereka sudah selesai belajar dan akan lanjut belajar untuk besok.
Jujur saja, bagi Gin, kedua gadis itu adalah pengajar yang baik. Mereka memahami materi dan meringkasnya dengan baik, lalu menjelaskan intinya kepada mereka sehingga mereka lebih mudah memahami nya.
"Aku lapar. Gin, masakkan aku makanan" kata Li Seng sambil membaringkan dirinya di atas sofa.
Gin menatap Li Seng dengan wajah berkedut. Entah kenapa akhir-akhir ini bocah buntal ini selalu bersikap seenaknya di depannya. Tapi dia tidak mengeluh. Memasak bukan tugas yang sulit.
__ADS_1
Tapi saat Gin mulai berdiri, Fei Lan menghentikan nya. "Biarkan kami yang memasak. Tunjukkan saja bahan makanannya pada kami" katanya sambil menatap Mona penuh arti.
Mona langsung mengangguk dan berkata. "Ya, kami akan memasak. Kalian tunggu saja disini"
Akhirnya, kedua gadis itu memasak. Setelah menunjukkan bahan makanan, Gin kembali ke ruang tamu dan melihat Li Seng bermain game. Dia pun langsung ikut bermain juga. Sementara kedua gadis itu beraktivitas di dapur.
"Bagaimana kau bisa mengenal Gin? Aku kira kalian sudah akrab sebelum kalian masuk ke akademi" tanya Fei Lan.
Mona yang sedang mencuci sayuran di westafel hampir menjatuhkan sayuran di tangannya. Lalu dia menjawab pertanyaan dengan nada malu-malu. "Dia pernah menolong ku sebelumnya" Mona menceritakan bagaimana Gin membantu menolong nya di bandara saat dia akan menghadiri ujian masuk beasiswa. Dia kehilangan tiketnya saat itu.
"Oh" Fei Lan mengangguk mengerti. Dia mulai memotong daging kecil-kecil dan berkata. "Aku kira kalian sudah kenal sejak lama. Aku benar-benar penasaran dengan latar belakang nya."
Mona sedikit kecewa saat mendengar nya. Dia memang tidak mengenal Gin cukup lama. Dia juga tidak tahu latar belakangnya seperti apa.
"Aku tidak tahu apapun tentang Gin..." katanya sedih.
"Lupakan hal itu untuk saat ini" kata Fei Lan lagi. "Jangan lupa tambahkan minyak wijen" katanya sambil menunjuk sayuran di tangan Mona.
"Ah, tentu saja."
Kedua gadis itu pun fokus memasak. Mereka melupakan topik itu dalam sekejap. Mereka memutuskan untuk memasak sop daging dan juga omelet daging. Kedua makanan itu paling mudah dibuat untuk saat ini.
Saat mereka selesai memasak, kedua pemuda di ruang tamu masih belum menyelesaikan game mereka.
Li Seng mengumpat berkali-kali karena dia selalu kalah dari Gin. Sementara Gin selalu tersenyum kecil saat melihat Li Seng merajuk kesal. Mereka benar-benar menikmati waktu mereka.
Saat makan malam selesai, mereka pun meninggalkan apartemen Gin untuk kembali ke kediaman mereka masing-masing. Gin juga merasa sangat lelah. Ini masih sangat awal, mungkin dia akan menonton beberapa film sampai dia mengantuk dan tertidur.
__ADS_1