
Wajah Yina menegang. Ini adalah kedua kalinya dia dipanggil ke tempat ini. Dan ini kedua kalinya dia harus menghadapi aura menakutkan dari kakek Arai karena lalai menjalankan tugasnya.
Kakek Arai menatap wanita muda di depannya dengan mata menyipit. Aura membunuh keluar dari tubuhnya. Ini adalah wanita muda yang dirawatnya dengan baik sejak dia masih kecil. Tapi gadis itu berani untuk melalaikan tugasnya dan mengabaikan perkataan nya.
Di sebelah kakek Arai ada Brian yang menatap Yina dengan tatapan aneh. Brian tidak menduga bahwa pria tua itu akan menyuruh Yina untuk menjaga pemuda lemah itu.
"Apa kau sudah mengantarnya dengan selamat sampai ke rumah?" kakek Arai bertanya.
"Ya" Brian mengangguk. "Apa pemuda lemah itu benar-benar cucumu?" dia bertanya dengan berani sambil mengernyitkan keningnya. Dia bingung darimana cucu ini berasal. Dia tidak merasakan jejaknya sama sekali, seakan-akan Gin muncul tiba-tiba di depan matanya tanpa jejak apapun.
"Kau bisa kembali" kata Kakek Arai, mengabaikan pertanyaan Brian.
"Apa kau akan menghukum Yina?" tanya Brian dengan ekspresi yang rumit. Sebenarnya dia dan Yina, bersama dengan muda-mudi lainnya adalah saudara seperguruan. Mereka berlatih bersama-sama sejak kecil di kediaman Arai. Dan tumbuh kuat bersama. Hanya saja, dia berhasil mendaki ke puncak. Dan identitas nya sebagai anak angkat sedikit istimewa dari yang lain. Tapi dia tetap tidak merasa nyaman saat melihat Yina berlutut dengan wajah pucat seperti itu.
"Bukan urusanmu sama sekali!" bentak Kakek Arai dengan kejam.
Brian tersentak. Jujur saja dia sedikit kaget. Dia belum pernah melihat kakek Tua itu semarah ini. Mungkin karena cucunya dalam bahaya, jadi dia tidak bisa mengendalikan emosinya. Tapi tetap saja menghukum Yina seperti ini sebagai pelampiasan adalah sikap yang salah. Lagipula sejak awal semuanya salah kakek tua itu karena mengabaikan Cucunya sendiri.
"Bukan urusan ku. Tapi Yina tetap temanku. Jadi aku tetap akan mengawasinya" kata Brian tegas.
Akhirnya kedua orang itu saling bertatapan dengan intens, seorang pria dan seorang kakek tua. Kakek Arai pun melunak pada akhirnya. "Kau bisa tetap disini. Tapi jangan menganggu" katanya.
Lalu Kakek Arai menatap Yina dengan sangat tajam.
__ADS_1
"Bukankah aku sudah menyuruh mu untuk mengawasinya?"
Saat dia bersuara, sebuah terpaan aura yang sangat kuat menyerang Yina, membuat gadis itu mengigit bibirnya. Dia berusaha menahan tekanan kuat yang melukai organ di dalam tubuhnya.
Kakek Arai terus mengeluarkan auranya dan Puh! Yina muntah seteguk darah. Dia tidak bisa menahannya lagi. Wajah pucat nya sangat menyedihkan.
Brian tidak bergeming. Walaupun dia cemas dia masih yakin bahwa kakek tua itu tidak akan membunuh Yina. Bagaimana pun dia membesarkan gadis itu sejak kecil. Dia tidak akan membunuh nya, Brian yakin itu.
"Ini adalah kesalahan ku..." kata Yina lirih. Ini memang kesalahannya. Dia sama sekali tidak berniat untuk melindungi Gin. Bocah itu terlalu menjijikan baginya. Selama bocah itu tidak mati, semuanya baik-baik saja. Tapi dia tidak mengira bahwa kejadian hari ini terjadi. Ini adalah kelalaiannya.
"Tapi tetap saja, menyuruhku untuk mengawasi bocah menjijikan seperti itu..." kata Yina dengan wajah jijik. Walaupun dia takut pada kakek Arai, dia juga tidak bisa menahan keluhannya. Dan mengeluarkan kebencian terpendam nya tanpa sadar. "Sampah seperti itu. Menjijikan. Aku bahkan tidak ingin mengawasinya sama sekali. Bocah yang tidak berguna. Menghabiskan waktunya hanya untuk bermain dan melakukan hal bodoh. Aku sama sekali tidak ingin membuang waktuku untuk mengawasi orang seperti itu!" teriak Yina.
Dia melakukan ini karena harga dirinya yang tinggi. Dia berharap bisa menjadi pengawal berkelas di Keluarga Arai. Setidaknya dia ingin mengawasi dan mengawal para generasi muda dari keluarga utama. Tapi penatua malah mengirimkannya untuk mengawasi bocah sampah seperti itu. "Bocah itu tidak berguna sama sekali. Aku tidak ingin menyerahkan masa depan ku pada orang seperti itu" Yina Menggertakan giginya.
Bahkan Brian melonggo kaget saat dia mendengar nya. Ini pertama kalinya dia melihat Yina marah seperti itu. Seberapa parahnya bocah bernama Gin itu sehingga Yina menjadi frustasi seperti ini?
Kakek Arai tersenyum masam saat dia mendengar semua keluhan Yina. "Kau jijik padanya? Tidak ingin membuang masa depanmu dengannya? Apa kau lupa, sejak awal kau masuk ke keluarga Arai semua masa depanmu berada di tanganku?" kata Kakek Arai dengan nada menjijikan.
Yina menundukkan kepalanya, tidak menjawab. Dia sadar bahwa dia terlalu berlebihan. Bagaimana pun juga bocah menjijikan itu tetap cucunya. Darah lebih kental. Kakek Arai tetap akan membela cucunya sendiri daripada orang luar seperti nya.
"Karena kau melanggar lagi kali ini, aku akan menghukum mu lebih berat" kata Kakek Arai.
Yina masih menundukkan kepalanya pasrah.
__ADS_1
"Apa kau tahu kenapa aku memintamu sebagai pengawalnya?" Mata Kakek Arai menyipit. "Sejak lahir, anak itu mempunyai bakat rendah dan sama sekali tidak bisa berkultivasi. Karena itu aku memindahkan nya dari rumah utama agar umurnya lebih panjang. Aku memiliki banyak musuh. Untuk orang biasa seperti nya, dia tidak akan bertahan lama"
Kakek Arai berhenti sebentar dan Yina juga masih diam, tidak merespon.
"Anak itu ditakdirkan untuk hidup menjadi orang biasa. Dia tidak bisa hidup sebagai kultivator" kata Kakek Arai sedih. "Setidaknya aku ingin dia hidup dengan nyaman dan kaya walaupun aku tidak bisa memberikan apapun untuk kemajuan kultivasi nya"
Kakek Arai berhenti sebentar, lalu dia menatap Yina lekat-lekat. "Karena dia ditakdirkan untuk menjadi orang biasa, dia ditakdirkan untuk menikah dengan orang biasa" katanya serius. "Tapi aku tidak bisa menerima hal itu. Karena itulah aku mengirimkan nya ke akademi agar dia bisa bergaul dengan kultivator lainnya.
Aku berharap setidaknya dengan status nya yang kaya, dia bisa menarik seorang gadis kultivator di sisinya, untuk melindungi nya. Kalau dia gagal, kau yang akan menggantikan posisi itu"
Mata Yina membelalak kaget. Dia merasa petir besar menyambar otak nya. Bahkan Brian tersedak saat mendengar nya. Dia menatap Yina dengan tatapan aneh dan tersenyum canggung.
"Itu adalah hukumanmu. Awalnya aku membebaskan mu, mengingat kau gadis yang sangat penurut. Tapi setelah kejadian ini aku berubah pikiran. Kalau Gin tidak bisa mendapatkan pasangan kultivator, aku akan menikahkanmu dengan nya. Sehingga kau harus melindungi anak itu seumur hidup mu" kata Kakek Arai santai.
Yina hampir muntah darah. Wajahnya memerah. Tidak jelas apa penyebabnya, apakah itu rasa marah atau rasa malu. Tapi gadis itu tidak merespon sama sekali.
Kakek Arai berdiri dari kursinya dan beranjak pergi. Tapi dia berhenti sebentar di depan pintu dan berkata "Hanya itu. Kau bisa pergi. Berdoalah semoga bocah itu selamat dan mendapatkan kekasih. Kalau dia benar-benar mati, aku akan tetap menikahkanmu dengan mayatnya" ancam kakek Arai. Lalu pria tua itu menghilang dengan cepat.
Yina masih membeku di tempat.
Ehem! Brian terbatuk dengan canggung. Dia berjalan mendekati Yina dan menepuk bahunya. "Semangat lah. Hal itu masih tidak pasti" katanya dengan senyum bodoh. Brian berusaha dengan keras untuk tidak tertawa. "Setidaknya kalau kau benar-benar menikah dengannya, dia tampan. Jadi itu tidak terlalu buruk untuk mempunyai suami kecil yang tampan..."
Yina mendongakkan kepalanya dan menatap Brian dengan mata melotot. Dia benar-benar ingin meledak.
__ADS_1