Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Harta Karun


__ADS_3

Aligator raksasa itu sudah dikalahkan. Lalu Nio juga sudah membuka matanya, walaupun dia masih tidak bisa menompang tubuhnya. Zam memutuskan untuk masuk ke dalam rawa seorang diri dan menyuruh semua orang untuk menunggu di permukaan.


Tapi Qiqi menolaknya. "Tidak mau, Qiqi mau ikut" katanya dengan wajah cemberut.


"Nona, kita tidak tahu bahaya apa yang ada di dalam rawa. Walaupun monster itu sudah dikalahkan, masih ada banyak hal berbahaya lainnya. Lebih baik nona menunggu di sini. Aku akan segera kembali"


"Tidak mau! Qiqi mau ikut!" teriak Qiqi. Dia langsung mendekat ke arah rawa. "Ini adalah tugas Qiqi karena hadiah itu untuk ulang tahun papa" katanya keras kepala.


"Tidak akan ada bahaya. Qiqi akan membawa kucing jelek bersama Qiqi. Dia kuat" sambungnya kemudian.


Bulu Bimba langsung berdiri tegak. Dia langsung melarikan diri dari pelukan Qiqi dan menatap Qiqi dengan tatapan permusuhan. "Aku tidak mau, Grrr!" jawab Bimba.


Wajah Qiqi langsung berubah sedih.


"Anu Nona. Kita tidak bisa membawanya ke sana. Kucing takut air..." kata Zam terbata-bata. Sesekali dia melihat ke arah Bimba, takut binatang menakutkan itu tersinggung.


"Apa kau benar-benar takut air kucing jelek?" Qiqi menatapnya dengan mata melonggo, tak percaya. "Bagaimana mahluk kuat sepertimu takut air?"


"Kucing jelek, kucing jelek. Hei, aku punya nama" kata Bimba kesal. "Aku tidak takut air, humph" dia mendengus.


"Maafkan aku. Siapa namamu?" tanya Qiqi.


"Bimba" kata Bimba dengan bangga sambil menggerakan kumis kucingnya.

__ADS_1


"Bimba, ayo ikut Qiqi menyelam oke?" bujuk Qiqi.


Bimba langsung memasang wajah jelek. "Tidak" tolaknya langsung.


Qiqi tidak menyerah. Dia mengeluarkan sesuatu dari ruang penyimpanannya. Itu seperti dendeng daging kering. Dia berjongkok dan menyodorkannya ke arah Bimba sambil berkata "Ini makanan favorit Qiqi. Qiqi akan memberikannya kepada Bimba sebagai imbalan. Ayo sini" dia memanggil Bimba seolah-olah dia memanggil kucing biasa.


Tubuh Bimba bergetar. Dia merasa benar-benar tersinggung sekarang. Para manusia ini sangat suka merendahkannya.


Zam mengetahui bahwa Bimba marah, jadi dia berusaha membujuk nona mudanya. "Nona, hentikan. Bimba tidak mau. Tidak baik memaksanya"


Melihat tawarannya ditolak, wajah Qiqi berubah sedih. Dia memakan dendeng daging di tangannya dengan mata berkaca-kaca. Lalu dia menatap Zam dengan tatapan serius. "Walaupun begitu, Qiqi tetap ingin ikut Paman Zam" katanya dengan mata penuh tekad.


Zam menghela napas, dia menyerah. Akhirnya dia membawa gadis kecil itu ke dalam air. Mungkin tidak akan ada bahaya lagi karena binatang sihir tubuh ilahi itu sudah dikalahkan. Walaupun begitu dia tetap tidak akan menurunkan rasa waspadanya. Karena tempat harta karun tidak akan menjadi sangat sederhana seperti itu.


"Gadis bodoh" gerutu Bimba, lalu dia duduk di tepi rawa.


Saat mereka menyelam, Qiqi bisa melihat bahwa seluruh rawa itu benar-benar hitam. Tapi rawa ini tidak beracun, benar-benar aneh. Dia juga bisa melihat masih ada beberapa ikan kecil yang berenang melintas. Cairan hitam yang mengotori rawa ini bukan racun, tapi pasti itu sesuatu yang aneh. Qiqi ingin membawa sampel air rawa ini pulang dan mengeceknya nanti.


Qiqi adalah gadis berbakat dengan level bakat level 10. Oleh karena itu, kultivasinya maju bagaikan air. Sama sekali tidak ada hambatan berarti. Dia berhasil mencapai puncak tubuh perak diumurnya yang sepuluh tahun. Tapi gadis kecil itu tidak suka bertarung. Dia mempelajari teknik-teknik kultivasi itu karena kewajiban, bukan karena dia menyukainya.


Hobinya adalah meneliti hal aneh. Karena itulah dia selalu menginginkan barang-barang aneh untuk diteliti. Kamarnya hampir seperti laboratorium penelitian karena hobi anehnya ini. Dia menganggap meneliti sebagai bermain dan dia sangat menyukainya.


Mereka terus menyelam sampai ke dasar. Rawa ini cukup dangkal, mereka bisa melihat dasar rawa setelah beberapa menit menyelam. Lalu Zam berusaha mencari titik harta karun yang ada pada peta. Lalu dia menemukan sebuah kuil aneh di tengah dasar rawa. Kuil itu terlihat seperti reruntuhan.

__ADS_1


"Apa nona masih bisa menahan napas?" tanya Zam.


Qiqi mengangguk.


Zam pun membawanya masuk ke dalam reruntuhan kuil. Kali ini tidak terlihat ada bahaya apapun yang menghampiri mereka. Saat mereka masuk ke dalam reruntuhan kuil, mereka tiba-tiba berada di sebuah ruangan kosong dengan udara. Mereka bisa bernapas!


Semua reruntuhan benar-benar berada di luar akal sehat manusia. Begitulah tempat ini. Bagaimana bisa ada oksigen di dasar rawa yang dipenuhi dengan air hitam?


Saat masuk, mereka melihat sebuah altar di tengahnya. Ini adalah bentuk umum reruntuhan. Tapi biasanya setiap reruntuhan memiliki jebakan atau teka -teki. Tapi mereka tidak menemukan apapun. Mungkin karena aligator raksasa yang menjaga reruntuhan ini sudah sangat kuat. Jadi mekanisme jebakan tidak dipasang sama sekali.


Lalu ada sebuah mutiara di altar itu. Mutiara itu berbeda dengan mutiara lainnya yang berwarna putih susu. Itu adalah mutiara yang berwarna hitam pekat dengan bintik-bintik biru. Mata Qiqi langsung berbinar terang saat melihat mutiara itu.


Tanpa basa-basi, Qiqi langsung mengambil mutiara hitam itu dari altar dan membuat Zam panik.


"Nona, tunggu dulu!" Zam takut ada jebakan yang dipasang.


Tapi Qiqi sudah mengambil mutiara itu sambil melihatnya dengan teliti. "Paman, aku menemukan hadiah yang cocok untuk papa" dia tersenyum bahagia.


Tidak ada jebakan apapun yang aktif  saat Qiqi mengambil mutiaranya, Zam mendesah lega. Lalu dia menatap Qiqi dengan serius. "Nona, jangan bertindak ceroboh seperti tadi." katanya. "Reruntuhan adalah tempat yang berbahaya. Kita harus hati-hati. Dan biarkan aku mengecek semuanya sebelum nona mengambil sesuatu dari altar" katanya.


Qiqi menundukkan kepalanya dan meminta maaf. Tapi kemudian dia tersenyum lagi. "Tapi tidak masalah sekarang. Aku sudah mendapatkan harta karunnya, ayo kita kembali" kata Qiqi sambil menarik tangan Zam. "Kita harus kembali karena tempat ini berbahaya" katanya.


Zam hanya bisa menggelengkan kepalanya. Lalu dia mendeteksi sesuatu yang lain. Ada sebuah kotak hitam di balik pintu keluar. Zam mengambilnya lalu menyimpannya di dalam ruang penyimpanan miliknya. Dia akan mengecek isinya nanti.

__ADS_1


Saat dia mengambil kotak hitam itu, reruntuhan kuil mulai bergetar hebat. Mereka dengan cepat terbang keluar dan berenang. Lalu mereka bisa melihat reruntuhan kuil yang mereka masuki itu mulai roboh dan hancur menjadi puing-puing.


__ADS_2