Tuan Muda, Jangan Lari!

Tuan Muda, Jangan Lari!
Mengambil Misi Lagi


__ADS_3

Gin pergi ke perpustakaan saat jam istirahat. Dia ingin mengembalikan buku tua itu. Penjaga perpustakaan itu menyambutnya dengan ramah.


"Aku ingin mengembalikan buku ini" kata Gin.


"Oh, sudah cukup lama. Aku tebak, kau pasti lupa" katanya dengan senyum geli. "Berikan aku lencanamu"


Gin memberikan lencananya.


"Oh, kelasmu turun. Sayang sekali" gumamnya. "Karena terlambat, dendamu 1000 poin kontribusi" katanya kemudian. Dia langsung mengurangi poin kontribusi dalam lencana Gin. Poin kontribusi milik Gin dalam sekejap menjadi -1000.


Dia menepuk bahu Gin dan berkata. "Kau harus bekerja keras nak" katanya. Lalu dia mengembalikan lencana milik Gin. "Kau harus mengisi poin kontribusi kembali" katanya kemudian.


"Kenapa?"


"Kau tidak tahu?" dia menatap Gin tak percaya. "Poin kontribusi nol tidak apa-apa. Tapi kalau poin kontribusimu minus sampai ujian semester, kau akan dikeluarkan dari akademi" dia menjelaskan.


Gin mengambil lencananya dan mengedip beberapa kali dengan ekspresi kosong. Dia berpikir bahwa Gin sedang syok sekarang jadi dia menyemangatinya. "Semangat. 1000 poin tidak banyak. Kau hanya harus mengumpulkan beberapa tanaman" katanya.


Gin masih menatap lencananya. "Aku benar-benar dikutuk..." dia bergumam lemah.


Dia pun mau tidak mau harus mengambil misi untuk mendapatkan poin kontribusi. Dia pergi menuju ruang kontribusi untuk mengambil misi. Dia harus mempersingkat waktu karena itu sangat berharga. Setelah poinnya menjadi 0 kembali, maka dia tidak perlu mengambil misi lagi.


Sebelumnya saat dia mengunjungi ruang kontribusi, ada banyak murid yang terbang ke sana dengan alat sihir mereka. Tapi sekarang dia tidak melihat siapapun di atas langit. Suasananya terlihat sangat sepi.


"Itu semua karena ada musim ujian. Jadi para murid itu belajar" kata resepsionis di ruang kontribusi.


Hari ini Gin tidak bertemu dengan penatua yang dia kenal sebelumnya. Di ruang kontribusi itu hanya ada seorang pria muda yang mengenakan seragam. Nama "Resepsionis Ca" tertulis di name tag miliknya.


Dulu, dia harus mengantri untuk berbicara dengan resepsionis. Tapi sekarang hanya dia seorang yang ada di ruangan besar itu.


Gin mengambil salah satu poster misi. Tentu saja dia memilih misi untuk menangkap seorang kriminal.


'Cari sekelompok grup pencuri bernama "White Bear"


"Menangkap salah satu anggota 1000 poin kontribusi"


"Menemukan tempat persembunyian pencuri 1000 poin kontribusi"

__ADS_1


"Apa kau yakin akan mengambil misi berbahaya ini?" tanya resepsionis itu tidak yakin.


"Tentu saja" jawab Gin yakin.


Resepsionis itu mengernyitkan keningnya tidak yakin "Siapa teman setimmu?"


"Li Seng" jawab Gin. Dia langsung menjual nama Li Seng dengan cepat.


"Siapa yang lain? Kau butuh empat orang dalam misi ini?" kata resepsionis itu.


Gin berpikir dengan cepat. Lalu dia menyebutkan beberapa nama sambil menghitung dengan jarinya. "Fei Lan, Fei Ren". Hanya nama itu yang diingatnya di dalam klub. Tidak. Dia juga mengenal Fei Wu, tapi dia hanya butuh dua nama.


Resepsionis itu mengecek kebenarannya, apakah mereka berada di klub yang sama. "Baiklah" katanya.


Lalu dia memberikan Gin file yang dibutuhkan tentang grup pencuri itu. "Semoga berhasil Nak. Tapi jangan terlalu bersikap ambisi oke. Itu tidak baik. Bekerja keras itu perlu tapi jangan memaksakan diri. Semangat" katanya dengan mata berkaca-kaca.


"..." Gin tidak merespon. Dia mengambil file itu dan pergi meninggalkan ruangan.


"Sungguh pemuda yang malang" katanya sambil melihat punggung kecil Gin. "Dia pasti syok karena diturunkan dari kelas emas dan mengambil misi berbahaya ini untuk membuktikan dirinya"


Gin tentu saja tidak mengetahui pikiran bodoh resepsionis muda itu.


Dia mendapatkan beberapa petunjuk setelah membaca isi file. Kelompok pencuri bernama White bear ini bergerak di malam hari dan hanya mencuri dari orang-orang kaya. Menurut Gin, mereka tidak jauh berbeda dari Boroxi. Hanya saja Boroxi adalah versi elitenya.


"Bagaimana aku mencari target mereka selanjutnya dan waktu beraksi mereka?" pikir Gin kesal. Dia bisa menggunakan skill mendeteksinya. Tapi dia tidak bisa menggunakannya pada target tidak dikenal. Dia harus mengetahui wajah dan penampilan target itu lebih dulu.


"Itu mudah" seekor kucing muncul dari balik jendela. "Menemukan sekelompok semut seperti itu bukan apa-apanya bagi raja iblis" Bimba kembali setelah satu malam.


Mendengar suara mengeong Bimba, Muca langsung tersentak. Dia mencicit tidak senang. Dia berharap kucing jelek itu tidak pernah kembali.


"Kau kembali? Apa kau benar-benar meledak?" tanya Gin.


Ekspresi Bimba berubah menjadi masam. Tapi dia tetap menjawab "aku meledak dengan baik" gerutunya.


Dengan bantuan Bimba, Gin berhasil mendeteksi tiga tempat yang berkemungkinan akan menjadi target kelompok pencuri itu. Dua adalah rumah orang kaya dan yang satunya adalah toko perhiasan.


Gin mengawasi ketiga tempat itu dari jauh dengan skill pendeteksinya. Sementara dia masih duduk santai di apartemennya.

__ADS_1


"Bukannya kau mau pergi berburu?" tanya Bimba. Dia hanya melihat Gin bermain game sambil makan keripik kentang.


"Ya, tapi nanti." jawabnya santai.


Dia sudah memasang skill pendeteksi ke tiga tempat itu. Titik-titik merah akan muncul kalau ada penyusup yang masuk. Dia akan segera pergi ke tempat di mana titik merah itu muncul.


Tengah malam tiba, tidak ada yang muncul. Gin merasa mengantuk. Walaupun dia bisa menggunakan mananya untuk memulihkan staminanya. Dia tetap ingin tidur secara normal untuk memulihkan kesehatan mentalnya.


Tiba-tiba titik merah mulai muncul di salah satu lokasi, yaitu toko perhiasan. Gin langsung terbang keluar dengan kecepatan maksimal. Dia tiba di tempat itu dalam beberapa detik. Dan melihat tiga orang berpakaian hitam sedang membobol pintu toko.


Gin pun menghampiri mereka dan menyapa, "Halo, apa kalian White Bear?"


"..." Ketiga orang itu langsung membeku karena mereka tidak bisa mendeteksi keberadaan Gin sama sekali. Padahal mereka adalah kultivator inti emas. Dan yang terkuat adalah inti emas tinggi.


"Siapa kau?" Mereka bertiga panik dan langsung mengeluarkan senjata sihir mereka. Itu adalah sebuah pistol sihir bernama hitam.


DOR!


Seseorang mulai menembak walaupun Gin belum menjawab pertanyaan itu.


Gin menggunakan 5000 mananya untuk meningkatkan kecepatannya sehingga dia bisa menghindarinya dengan mudah. Lalu dia juga menggunakan 10.000 mana untuk meningkatkan kekuatannya.


Dalam sekejap Gin sudah berada tepat di depan mata mereka bertiga. Lalu dia meraih salah satu pistol dan membengkokan pistol itu dalam sepersekian detik. Setelah itu dia melakukan hal yang sama dengan pistol lainnya.


Gin berpikir untuk membawa mereka bertiga langsung ke kantor polisi karena mereka tidak menjawab pertanyaannya. Kalau memang ketiganya adalah kelompok pencuri yang dia cari, dia akan mendapatkan poib kontribusi. Kalau tidak, dia harus menyelediki lagi di lain hari.


Gin dengan cepat memukul leher mereka. Dua orang di antaranya langsung pingsan di tempat. Tapi orang terakhir menghindarinya.


"Siapa kau? Kenapa kau mengganggu kami? Kau pasti kultivator immortal bukan? Kenapa kau mengincar pencuri kecil seperti kami?" teriak pria itu.


"Aku hanya seorang pelajar" jawab Gin. "Kalian White bear?"


Alih-alih menjawab Gin, pria itu berteriak. "Dasar pembohong. Aku tidak percaya!"


Gin langsung memukul perutnya. Pria itu terlempar beberapa meter dan jatuh pingsan.


Gin mengangkat pria itu dengan entengnya seakan-seakan dia karung beras. Dia meletakan pria itu di pundak kirinya. Lalu meletakkan dua orang lainnya di pundak kanannya.

__ADS_1


"Akhirnya, aku bisa tidur" gumam Gin dengan penuh rasa syukur sambil terbang di kegelapan malam.


__ADS_2