
Qiqi tidak bisa tidur. Ulang tahun ayahnya sudah dekat. Dia harus memberikan hadiah yang terbaik untuk ayahnya. Tapi hadiah yang dia inginkan sudah lenyap.
Qiqi pun keluar dari kamarnya. Dia berusaha membuka pintu kamar agar tidak membangunkaan semua orang yang tertidur.
Dia melihat Paman Yurion dan yang lainnya tidur di lantai. Gin tidur di atas sofa sambil menyilangkan tangannya. Lalu Paman Nio dan Paman Zam tertidur di atas meja makan.
Sebenarnya semua orang langsung sadar akan kehadiran Qiqi. Lagipula mereka semua kultivator yang kuat. Tapi mereka langsung kembali tidur dengan cepat. Mereka mengira gadis kecil itu mungkin ingin pergi ke toilet.
Qiqi mendekati meja makan. Dia menemukan sebuah peta aneh yang terletak di atas meja. Kelihatannya ini adalah peta harta karun. Ternyata Paman Nio dan Paman Zam berusaha mencari alternatif lainnya yang bisa mereka dapatkan sebagai hadiah ulang tahun ayahnya. Qiqi merasa terharu. Dia melihat Paman Nio dan Paman Zam dengan senyum penuh kasih sayang.
"Kenapa kau tidak kembali tidur?" Suara Gin bergema. Dia mencoba untuk bersikap acuh tapi Qiqi terlalu membuat banyak suara. Dia tidak bisa tidur karenanya.
Qiqi langsung mendekat ke arah Gin. Dia berlutut sambil berkata. "Kakak, terima kasih sudah menerima Qiqi" katanya dengan tulus.
Lalu gadis kecil itu tiba-tiba mencium keningnya dan membuatnya tidak bisa berkutik.
"Qiqi tahu bahwa dunia luar penuh bahaya. Papa bilang Qiqi harus hati-hati dengan orang asing karena mereka semua membenci kami. Qiqi tidak tahu kenapa, padahal kami bukan orang jahat" katanya polos. Dia benar-benar tidak mengetahui identitasnya sebagai seorang kriminal internasional. "Tapi Qiqi tidak takut dengan kakak walaupun kakak orang asing"
"..." Gin tidak menjawab. Dia memasang wajah datar dan menatap langit-langit. Dia hanya ingin tidur.
"Qiqi dan paman akan pergi besok" sambung Qiqi sambil menunjukkan peta di tangannya. "Ini adalah peta harta karun. Mungkin Qiqi bisa menemukan hadiah yang bagus untuk ayah" katanya dengan nada ceria.
"Hati-hati" Gin akhirnya membuka mulutnya.
Qiqi melotot kaget. Gin yang acuh itu akhirnya meresponnya. Dia senang sekali. "Terima kasih kakak" Qiqi spontan memberikan kecupan lainnya di pipi Gin. Lalu gadis kecil itu berlari ke kamarnya.
Gin tidak tahu bahwa dua orang yang pura-pura tertidur di meja makan menatapnya dengan mata melotot. Mereka tidak terima nona muda mereka ditipu oleh pria tua! Tapi mereka tidak bisa melakukan apapun walaupun mereka tidak senang. Gin bisa mengalahkan mereka dengan mudah. Jadi mereka hanya bisa menyimpan ketidaksenangan ini dalam hati mereka.
Keesokan paginya, Gin bangun wajah mengantuk. Dia masih ingin tidur tapi dia harus sekolah. Qiqi kelihatannya masih tertidur. Begitu juga dengan Yurion dan rombongannya. Paman Nio dan Paman Zam sudah bangun dan memasak sarapan.
Kedua pria itu tersentak kaget saat melihat Gin mengenakan seragam sekolah normal.
__ADS_1
"Penatua, kau benar-benar pergi ke sekolah?" kata Nio tidak percaya. Dia mengira bahwa itu hanya penyamaran yang dilakukan oleh Gin secara semata. Tapi mereka tidak pernah mengira bahwa Gin akan masuk terlalu dalam dalam perannya sebagai seorang murid SMA.
"Ini menakutkan!" teriak Nio dan Zam secara bersamaan dalam hati mereka.
Bayangkan saja seorang kakek berumur ratusan tahun. Lalu kakek itu menyamar menjadi seorang pemuda dan pergi ke sekolah. Serta tidak ada seorang pun yang mengetahui penyamarannya.
Berarti sang kakek memiliki teknik penyamaran ilahi yang membuat semua orang tidak sadar akan penampilannya yang sebenarnya. Dan dia melakukan hal itu karena ingin mendekati gadis-gadis muda.
Saat seorang pedofil menjadi sangat kuat. Mereka benar-benar menakutkan. Sangat menakutkan. Mereka tidak akan membiarkan nona muda mereka bergaul lebih jauh dengan pria tua ini. Tidak akan!
Gin yang tidak bisa membaca pikiran mereka hanya bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Dia pergi dengan mengunci pintu apartemen miliknya. Tapi dia tidak mengunci jendela dan pintu balkonnya karena dia tahu orang-orang itu akan terbang entah kemana.
Hari ini, topik yang dipelajari masih meditasi. Jia mengajari teknik meditasi hampir seminggu lebih. Jujur saja Gin sangat bosan. Dia benar-benar bosan.
Akhirnya waktu pulang sekolah. Dia langsung pulang tanpa hambatan apapun. Dan seperti dugaannya. Orang-orang itu sudah pergi. Hanya ada Muca yang masih tertidur dan Bimba yang duduk di atas sofa.
"Mereka semua sudah pergi?" tanya Gin.
Gin mendesah lega. Akhirnya dia kembali ke kehidupan normalnya sekarang. Orang-orang aneh itu telah pergi dari hidupnya.
"Oh?" Gin menginjak sesuatu. Itu adalah peta yang gadis kecil itu tunjukkan padanya di malam hari. Sebuah peta harta karun.
"Bagaimana bisa mereka meninggalkan peta ini?" sentak Gin tak percaya.
"Tentu saja bisa. Mereka bodoh" jawab Bimba sambil menjilat tangannya.
Gin setuju dengan Bimba. Mereka semua bodoh jadi normal kalau mereka melupakan sesuatu. Mereka akan mengambilnya lagi kesini saat mereka sadar bahwa mereka melupakannya.
"Umm" Bimba tiba-tiba tertarik dengan peta harta karun itu.
"Kenapa?" tanya Gin.
__ADS_1
Bimba mengusap permukaan peta dengan tangan kucingnya. "Peta ini terasa tidak asing. Masih berada di daerah Mozu" katanya. "Lalu sepertinya aku juga pernah pergi ke hutan ini..."
"Ah" dia tiba-tiba tersentak. "Hutan ini ya, hutan ini..." katanya tidak jelas.
"Memangnya ada apa dengan hutan itu?"
"Kau tahu, saat kita pertama kali bertemu sepuluh tahun yang lalu. Aku hampir terluka karena raja binatang sihir yang ada di tempat ini. Binatang kadal itu lebih kuat dariku saat ini. Mungkin sekarang dia juga sudah mencapai tubuh ilahi" jelas Bimba.
"Lalu?"
"Orang-orang idiot itu menuju ke tempat ini bukan? Mereka akan mati" Bimba menggerakan tangan kucing miliknya ke lehernya dengan mulus. "Hanya ada tiga immortal dan sisanya lemah. Mereka akan dimakan"
"..." Gin tidak merespon.
"Kau tidak ingin menolong mereka?" tanya Bimba.
"Kenapa aku harus melakukannya?" Gin bertanya balik.
"Gadis kecil itu menyukaimu" jawab Bimba dengan nada menggoda. "Kau tidak mau menyelamatkan istri kecilmu?" dia mengedipkan matanya beberapa kali untuk menggoda Gin.
Wajah Gin berubah cemberut. Dia menggulung petanya dan melemparkannya ke arah Bimba. "Antar kembali peta ini ke mereka" kata Gin.
"Apa?" Bimba melotot. "Tidak mau" dia menolak dengan cepat.
"Cih, pengecut. Bahkan seorang raja iblis takut dengan seekor kadal. Kau tidak mau mengembalikan reputasimu? Antar peta itu lalu hajar kadal itu" kata Gin santai. "Aku tidak tahu bahwa kau lebih lemah daripada kadal, sayang sekali..."
Bimba langsung terprovokasi. "Hei, siapa bilang aku lebih lemah dari seekor kadal? Kita seri saat itu dan dia lebih tua. Lihat saja, aku akan menghancurkan kadal itu dan membawa kepalanya" katanya heroik. "Aku ini raja iblis tahu" dia mengigit petanya dan melompat turun dari jendela. Dia akan membuktikan bahwa dia lebih kuat daripada seekor kadal raksasa.
Setelah Bimba pergi, Gin tersenyum. "Begini rasanya membodohi seorang idiot" katanya dengan senyum kemenangan. Dia tidak perlu mengeluarkan tenaganya untuk menolong orang-orang. Kucing itu yang akan mengurusnya.
"Sekarang saatnya istirahat" dia menuju kamarnya sambil merenggangkan tubuhnya. Dia kurang tidur tadi malam jadi dia ingin tidur lebih lama sekarang.
__ADS_1