
Mereka berlima langsung mencari tempat untuk bersembunyi. Mereka memutuskan untuk naik ke atas pohon dan bersembunyi di balik ranting pohon. Kelimanya memanjat di satu pohon yang sama.
"Bagaimana Lian?" tanya Yusa.
"Mereka akan datang. Sebentar lagi" katanya.
Tak lama kemudian, mereka melihat tiga orang di bawah mereka. Ketiga orang itu juga bersikap waspada dan mengintip dari balik semak-semak. Saat ketiga orang itu yakin tidak ada orang, mereka mulai keluar dari semak-semak dan memeriksa tenda Gin dan kawan-kawan.
"Ba, ba bak ka"
"Ka baba ku"
"Kuku Baba Bibu"
Ketiganya mulai berbicara di antara mereka.
Gin dan yang lainnya langsung syok. "Bahasa apa itu?" pekik mereka dalam hati secara bersamaan.
Kalau dilihat lagi, ketiganya memiliki penampilan aneh. Mereka memakai pakaian yang terbuat dari daun, dan hanya menutupi dada dan bagian genital mereka. Lalu mereka tidak memakai sepatu dan membawa tombak yang terbuat dari kayu dan batu. Penampilan mereka mengingatkan Gin tentang manusia primitif yang dipelajarinya di pelajaran sejarah. Sementara bagi yang lainnya, ketiga orang itu hanyalah orang aneh.
"Apa kita serang saja?" bisik Li Seng. Di matanya ketiga orang aneh itu tidak terlihat kuat sama sekali.
"Tunggu dulu" kata Yusa. Dia ingin mengamati ketiganya. Seketika dia ingat dengan perkataan gurunya bahwa di beberapa daerah zona merah, terdapat beberapa mahluk hidup yang aneh. Yang belum teridentifikasi oleh negara. Bisa jadi ketiganya adalah mahluk itu. Jadi dia ingin mengamatinya lebih lanjut.
Ketiga orang aneh itu mulai memeriksa tenda mereka satu per satu. Lalu ketiganya mulai mengambil semua barang yang mereka lihat dan memasukkannya ke dalam sebuah karung besar. Mereka juga mengambil sup daging bersamaan dengan panci besar. Setelah memastikan bahwa mereka mengambil semuanya, mereka meninggalkan tempat itu.
"Lihat, bukankah mereka hanyalah pencuri?" kata Li Seng tidak senang.
__ADS_1
"Ayo ikuti mereka" kata Yusa.
Jadi mereka berlima mulai mengikuti tiga orang aneh itu dengan melompati pepohonan. Ketiganya berhenti di sebuah desa. Desa itu memiliki pagar bambu yang mengelilingi seluruh desa. Rumah-rumah yang dibangun di sana masih beratapkan jerami dan dinding kayu. Ketiganya tiba di depan desa, lalu dua orang penjaga di depan gerbang membukakan pintu dan membiarkan mereka masuk.
"Apa-apaan itu?" kata Li Seng syok. Baru pertama kalinya dia melihat lingkungan seperti ini. Terlihat sangat kotor dan kumuh. Dia bahkan yakin orang-orang ini tidak menggunakan sabun mandi karena dia bisa melihat bahwa tubuh mereka penuh dengan kotoran.
"Ternyata ada ya desa seperti ini" gumam Lian syok.
"Ayo kita laporkan kepada akademi bahwa kita menemukan desa manusia di zona merah ini" kata Sima.
"Tunggu dulu" Yusa menghentikannya. "Kita harus menyelidikinya" dia berkata dengan tatapan antusias.
"Anu, Yusa" Li Seng berkata dengan ragu. "Apa kau ingat bahwa guru Yu Fei menyuruh kita untuk melapor dan melarikan diri?" katanya.
"Apa kau takut?" Yusa menatap Li Seng. "Kalian lihat, mereka bahkan bukan kultivator. Kita tidak perlu takut. Sekarang pikirkan cara bagaimana menyusup ke dalam tanpa ketahuan" dia berkata.
"..." Tidak ada yang meresponnya.
Yusa bersiap untuk menyelinap ke dalam, tapi Gin tiba-tiba berkata. "Aku ikut denganmu"
Li Seng terkesiap melihat Gin yang selalu acuh itu tiba-tiba tertarik untuk melakukan sesuatu.
Gin tidak tahu mengapa dia ingin masuk ke desa itu. Dia menganggap bahwa ini hanya rasa penasaran biasa. Karena ini pertama kalinya dia melihat desa manusia primitif. Terlebih lagi, Gin tiba-tiba teringat dengan tiga orang jubah hitam yang ditemuinya di cafe itu. Mereka mengatakan sesuatu tentang manusia primitif. Mungkin maksud mereka adalah desa ini.
Yusa tertawa dan memukul pundak Gin. "Sangat bagus" katanya. "Aku tidak tahu bahwa kau memiliki ketertarikan yang sama denganku"
Lalu keduanya mulai melompat dengan cepat ke atap jerami di desa itu. Mereka berusaha untuk tidak membuat suara. Kedua penjaga gerbang tidak menyadari langkah mereka sama sekali. Mereka bahkan terlihat mengantuk saat berjaga-jaga karena Gin bisa melihat mereka menguap berulang kali.
__ADS_1
Desa itu benar-benar sepi. Mereka hanya melihat tiga pria sejauh ini di sekitar desa. Mereka pun memutuskan untuk mengintip di salah satu rumah di desa itu. Saat itu mereka melihat seseorang yang sedang berbaring di tempat tidur. Sosok itu adalah seorang wanita setengah baya dan tubuhnya dipenuhi dengan kemerahan dan kulitnya melepuh. Sepertinya dia sakit.
Hanya ada satu orang di rumah itu, jadi mereka memutuskan untuk mengecek rumah lainnya. Mereka menemukan seorang gadis remaja yang terbaring di tempat tidur. Gadis itu juga memiliki tubuh kemerahan dan luka melepuh di kulitnya. Mereka mengecek rumah lainnya dan setiap rumah memiliki seseorang dengan gejala yang sama.
"Ini pandemi" kata Yusa.
Gin mengangguk kecil.
Mereka bisa menyimpulkan bahwa hanya perempuan yang terkena penyakit ini. Sementara para laki-laki baik-baik saja. Sebelumnya mereka melihat seorang bocah lima tahun yang sehat walaupun tidur di samping ibunya yang sakit.
Pandemi ini terlihat seperti penyakit kulit yang menular di antara wanita saja. Karena mereka tidak melihat pria ikut terjangkit penyakit ini. Mereka merasakan simpati terhadap para wanita yang jatuh sakit itu.
Kebetulan mereka menemukan dua orang pria yang sedang berjaga di belakang desa. Mereka langsung menghajar kedua pria itu sampai pingsan. Lalu mengambil pakaian daun mereka untuk menyamar. Tidak lupa mereka memakai topi jerami dan juga menggambar wajah mereka dengan lumpur sehingga sosok mereka sulit dikenali.
"Aku harap aku menemukan sungai bersih disini" Yusa mengeluh. Dia ingin mandi setelah penyelidikannya selesai.
"Apa kau bawa sabun?" tanya Gin polos.
"..." Yusa terdiam. Dia tidak membawa sabun! Padahal sabun adalah benda terpenting di saat seperti ini.
"Aku bawa, aku akan meminjamkannya padamu nanti" kata Gin kemudian.
Yusa menatap Gin dengan mata berbinar. "Terima kasih" katanya.
Lalu keduanya mulai masuk ke dalam desa dan mencoba membaur. Saat itu kebetulan di balai desa, mereka melihat ada sekumpulan penduduk. Ada lima orang dan sepertinya mereka sedang mengerumuni sesuatu. Tak lama kemudian, satu per satu penduduk desa keluar dari rumah mereka dan ikut berkerumunan. Jadi mereka berdua juga ikut mendekati kerumunan di balai desa.
Mereka bisa melihat ada seorang wanita yang berbaring di atas kasur kayu. Lalu ada seorang pria tua yang berdiri di balakang wanita itu. Pria itu memakai topi dari tanduk binatang serta aksesoris yang dibuat dari gigi binatang. Penampilannya sangat aneh.
__ADS_1
"Kepala desa" seluruh penduduk tiba-tiba berlutut dan menyembah.
Yusa bereaksi dengan cepat dan mendorong Gin untuk ikut berlutut. Sehingga mereka membaur tanpa menimbulkan kecurigaan apapun.