
Hari ini, pemilihan kelas campuran akhirnya tiba. Para murid terlihat sangat antusias menyambut pemilihan kelas ini. Pengumuman tentang hal itu berdering di seluruh akademi. Suara Siyan mememenuhi seluruh ruangan kelas yang berbeda melalui setiap speaker di ruangan kelas.
(Kelas campuran yang diadakan tahun ini akan memiliki aturan yang berbeda dari yang sebelumnya. Setiap anak bisa memilih kelas yang mereka inginkan, tapi mereka harus menjalankan ujian masuk terlebih dahulu. Lalu setiap kelas memiliki batas maksimal murid yang dapat di ambil. Kalau kelas campuran yang diinginkan sudah penuh, kalian akan dipindahkan ke kelas lainnya untuk mengisi kuota kosong dari kelas tersebut. Hal ini dilakukan agar distribusi jumlah murid di setiap kelas merata)
Saat Siyan menyelesaikan pengumumannya, semua murid mulai kaget dan ribut. Pasalnya mereka tida tahu bahwa memilih kelas campuran juga memerlukan ujian masuk. Mereka tidak ada belajar sama sekali. Ini benar-benar tidak adil.
Lalu Siyan memerintahkan seluruh siswa untuk berkumpul di aula utama akademi. Gin dan anak-anak dari kelas perunggu lainnya segera kesana. Saat mereka tiba, aula itu sudah dipenuhi oleh lautan manusia. Pasalnya kelas campuran ini diadakan untuk semua tingkat dari tingkat satu sampai tingkat tiga.
Siyan berdiri di tengah-tengah podium dan berkata "Siswa Tingkat satu berbaris dengan rapi di sisi kanan. Siswa tingkat dua di tengah. Siswa tingkat tiga di sisi kiri. Buatlah tiga kelompok" perintahnya dengan tegas.
Para murid segera mulai berbaris seperti anak ayam. Tapi mereka saling berebut posisi paling depan. Gin segera pindah ke sisi kanan dan dia memilih barisan paling belakang. Dia merasa ngeri saat melihat orang-orang di depannya berdesakan untuk merebut posisi paling depan karena hal itu sangat brutal.
Setelah itu, ada tiga orang guru yang berdiri di masing-masing tingkatan yang sudah dikelompokkan. Guru yang berada di depan para murid tingkat satu adalah seorang pria gemuk dengan wajah angkuh. Gin belum pernah melihat pria gemuk ini, tapi entah kenapa perasaan tidak senang muncul di hatinya.
"Penampilannya seperti karakter antagonis" pikir Gin. Pikiran random itu muncul secara tiba-tiba.
"Namaku Moji" kata pria gemuk itu percaya diri. "Kalian bisa memanggilku guru Moji' katanya. "Baiklah, aku akan menguji kalian. Barisan paling depan bisa maju lebih dulu"
Barisan paling depan dipimpin oleh Long An. Dia tersenyum bangga saat dia maju. Dia sudah mengira bahwa urutan berbaris juga menjadi hal yang penting. Semakin depan posisi mereka maka semakin mudah mereka mengisi kuota dari kelas yang mereka inginkan.
"Kelas apa yang ingin kau ambil?" tanya Moji.
"Kelas pertarungan" jawab Long An percaya diri. Dia harus segera menerobos ke inti emas. Sejak kalah dari Gin, bocah brengsek itu, Long An menjadi sangat depresi. Karena dia kalah dengan cara yang konyol. Sekarang dia semakin membenci Gin. Dia ingin menuntut balas, sayangnya dia tidak menemukan waktu yang tepat untuk itu.
__ADS_1
Moji tiba-tiba mengeluarkan bola kristal berwarna merah. "Letakkan tanganmu disini"
Long An meletakkan tangannya. Bola kristal itu menunjukkan status kultivasinya dan juga level bakatnya.
"Kau cocok dengan kelas pertarungan. Lolos" kata Moji. Lalu dia melihat ke arah semua orang. "kelas pertarungan sudah memiliki satu orang. Maksimal hanya tiga puluh orang untuk kelas ini. Kalau kuota sudah penuh, harap memilih kelas lainnya" jelasnya sambil tersenyum.
Para murid terkesiap lalu mereka menjadi heboh. Murid-murid di barisan paling belakang mulai merasa cemas dan khawatir, takut kelas yang mereka inginkan sudah penuh dan mereka harus memilih kelas lainnya dengan terpaksa.
Ujian pemilihan kelas pun dilanjutkan. Setelah murid-murid itu memulai pengujian, Gin mendapatkan kesimpulan tentang persyaratannya agar bisa lolos masuk ke kelas yang diinginkan. Karena ada beberapa murid yang gagal dalam ujian kecil ini. Lalu Moji menyarankan mereka untuk memilih kelas lainnya dan mereka lolos dengan mudah.
Kelas pertarungan, yang dicek adalah tingkat kultivasi sebenarnya dan level bakat.
Kelas Binatang sihir, harus bisa menjawab satu pertanyaan acak dari guru perihal binatang sihir.
Kelas pil obat, harus bisa menjawab satu pertanyaan acak dari guru perihal obat-obatan.
Kelas penjelajahan, harus bisa menjawab satu pertanyaan acak dari guru tentang geografi dunia.
Gin linglung. Dia ingin memilih kelas pil obat, tapi dia tidak mempunyai pengetahuan apa-apa tentang hal itu.
Setelah tiga barisan depan diuji, Moji berkata "Kuota untuk kelas pertarungan sudah penuh, maaf"
Lalu murid-murid yang ingin mengambil kelas itu berteriak frustasi karena tidak setuju.
__ADS_1
Setelah beberapa pengujian lagi, Moji berkata. "Kelas binatang sihir sudah penuh".
Lalu "Kelas alat sihir sudah penuh" dia mengumumkan lagi setelah beberapa saat.
Akhirnya tiba giliran Gin. Dia berada di posisi paling akhir. Hanya dia seorang yang tersisa di aula ini, karena semua murid sudah menuju ke kelas mereka masing-masing.
Moji menatap Gin dan berkata. "Nak, masih ada satu kuota di kelas pil obat dan penjelajahan" katanya.
Gin mengangguk. Gin ingin berkata dia memilih kelas pil obat, tapi Moji tiba-tiba berkata. "Itu kelas untukmu" katanya. Bahkan tanpa melakukan uji apapun padanya.
"Apa?" Gin melonggo kaget.
Moji mengusap kumisnya lalu berkata dengan percaya diri. "Setiap murid bisa mengambil dua kelas campuran. Aku memberikan keduanya padamu untuk mengisi kekosongan kelasnya. Tidak perlu ujian. Harusnya kau bersyukur nak karena aku sangat baik" dia tertawa lebar.
"Aku hanya ingin mengambil satu kelas"
"Tidak bisa. Karena kau adalah murid paling terakhir, kau tidak bisa memilih kelas apapun yang kau inginkan. Ini adalah perintah otomatis untuk menempatkanmu di kelas yang kosong" Moji menepuk bahu Gin, berusaha menghiburnya. "Walaupun ini bukan kelas yang kau inginkan, ambil sisi positifnya saja nak" katanya. "Belajar dengan baik dan dapatkan ilmunya. Jangan membantah dan jangan mengeluh. Jangan mengecewakan kedua orang tuamu" dia mulai menceramahi Gin. "Kedua kelas itu berdekatan di gedung yang sama. Semangat" katanya.
Lalu dia memberikan Gin sebuah kartu yang berisi schedule kelas milik Gin. Jam pertama adalah kelas pil obat. Lalu istirahat. Kemudian kelas penjelajahan di jam kedua. Lalu dia pergi.
Gin masih berdiri di tempatnya. Dia masih syok. Dia benar-benar tidak memiliki hak apapun disini. Gin menatap punggung Moji dan bergumam dengan kesal "Dia benar-benar tokoh antagonis. Dia iblis..." pikirnya.
Gin pun menghela napas beberapa kali untuk menenangkan dirinya, dia akhirnya menerima nasibnya. Dia pun menuju ke kelas pil obat tanpa semangat apapun. Saat dia masuk, dia menjadi pusat perhatian karena dia adalah orang terakhir.
__ADS_1
Ada dua puluh orang murid di kelas ini, dia adalah murid kedua puluh. Gin mencari kursi kosong dan duduk disana. Kursinya berada di tengah. Dia tidak bisa memilih barisan belakang karena semua kursi sudah penuh. Lalu Gin melihat wajah yang dikenalnya di kelas itu. Ada Mona di sana. Gadis itu duduk di barisan paling depan. Mona tersenyum padanya dan melambaikan tangannya.