
Li Seng dan Lian menjauhi tempat pertarungan. Mereka mencari Gin tapi mereka tidak menemukannya.
"Mungkin dia melarikan diri" gumam Lian sarkas.
"Broku tidak mungkin melakukan hal seperti itu" bantah Li Seng langsung.
Tak lama, seakan-akan kebetulan, Gin muncul dari semak-semak tepat di depan mereka. Ketiganya bertemu satu sama lain dan membeku.
"..." Suasana hening sejenak.
Lian sadar lebih dulu. Dia bergerak maju ke arah Gin, "Kemana saja kau?" geramnya kesal. Dia marah pada Gin yang tiba-tiba menghilang di situasi berbahaya seperti ini. Padahal sekarang saatnya serius, bukan untuk bermain-main. Lian pun terus mengomel tanpa henti karena sikap acuh Gin.
Sementara Gin hanya melihatnya dengan wajah bingung dan serba salah. Dia tidak tahu bagaimana menjelaskan semuanya. Sehingga dia membiarkan Lian memarahinya.
Melihat Gin hanya diam dengan wajah acuhnya, Lian semakin kesal. Karena dia merasa Gin mengacuhkan keberadaannya dan menganggap perkataannya tidak penting sama sekali. Dia benci orang yang teledor serta tidak tahu situasi dan tempat seperti Gin.
"Apa kau mendengarkanku? Nyawa kita dalam bahaya dan kau masih tidak serius?" Lian mengernyitkan keningnya. Sebenarnya dia sudah berusaha mencoba untuk memukul kepala Gin, tapi entah mengapa pukulannya selalu meleset. Padahal Gin tidak bergerak dari tempatnya sama sekali. Sehingga dia merasa kesal.
"Hei, berhenti memarahi bro ku nenek sihir" Li Seng turun tangan. Dia merangkul Gin dan menatap Lian dengan tatapan tidak senang. "Kau menyalahkan saudaraku, padahal kau sendiri sama sekali tidak tahu situasi. Kalau kau mengoceh terus seperti ini, pembunuh itu akan menemukan kita"
Wajah Lian berubah cemberut. Tapi dia langsung berhenti marah. "Humph" dengusnya sambil menyilangkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Bro, kau tiba-tiba muncul di depan sana. Bukannya pembunuh itu bertarung di arah yang sama dari tempatmu datang?" tanya Li Seng karena dia tiba-tiba menyadari sesuatu yang aneh.
"..." Gin tidak menjawab. Dia hanya melihat Li Seng dengan ekspresi datar yang tidak bisa dibaca sama sekali.
"Apa kau melihat pembunuh itu?" tanya Li Seng lagi.
Gin mengangguk kecil.
Mata Li Seng melebar. "bro, sebelumnya ada penatua yang menyelamatkanku dari pembunuh. Dan keduanya bertarung di sana" Li Seng menujuk ke depan. "Apa kau melihat mereka bertarung?"
Gin memiringkan kepalanya. "Penatua?" dia bergumam bingung.
"Kau tidak melihatnya?"
"Sayang sekali" ekspresi Li Seng berubah kecewa. "Kelihatannya mereka bertarung lebih jauh sehingga kau tidak melihatnya. Padahal aku ingin berterima kasih pada penatua itu" katanya sedih.
Di tengah Li Seng yang sedang sedih, Lian sibuk memikirkan rencana mereka. "Apa ingin kembal ke rencana semula? Kembali ke kota dan mencari bantuan?" tanyanya. Dia menatap Gin, dan mengecualikan Li Seng karena pemuda itu tidak tahu apa-apa. Li Seng baru saja bergabung dengan mereka.
"Rencana apa?" Li Seng akhirnya bertanya.
Lian menjelaskan rencana mereka untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
"Melarikan diri tentu saja, setelah itu minta tolong" kata Li Seng cepat. "Tidak perlu mencari Arai bersaudara. Mereka kuat dan aku yakin mereka bisa melarikan diri dengan lincah seperti kuda" katanya. Yang artinya mereka harus memikirkan diri mereka terlebih dahulu.
"Kau benar" Lian setuju. Dia menceritakan pada Li Seng bahwa salah satu pembunuh mati di dekat danau karena keracunan. Dan pembunuh lainnya dikejar oleh penatua itu. Hanya ada satu pembunuh yang bebas sekarang. Setidaknya setelah mengetahui fakta itu, mereka merasa lega.
"Bagaimana mungkin kultivator immortal mati karena racun? benar-benar konyol" kata Li Seng.
Sementara Lian hanya menatap Gin dengan tatapan penuh arti.
***
Sementara di ibukota negara Kano. Keluarga Li membuat keributan dengan mendatangi akademi Jin Shi. Beberapa penatua, dipimpin oleh Li Fan, datang beramai-ramai untuk bertemu dengan kepala sekolah. Sayangnya kepala sekolah tidak ada sehingga Siyan harus menangani mereka. Hal ini membuat kepala Siyan semakin pusing.
Li Fan datang untuk melakukan protes. Jimat pelindung yang dia tempatkan pada putranya hancur berantakan. Yang berarti bahwa putranya sedang dalam kondisi hidup dan mati sekarang.
Tapi Li Fan tidak bisa menghubungi putranya. Seperti ada penghalang yang menghalaginya mengirim sinyal komunikasi. Ditambah dia berada di hutan yang belum pernah dijelajahi. Hutan itu sangat besar dan dia tidak bisa menemukan Li Seng dengan cepat tanpa petunjuk apapun.
Li Fan mulai menyalahkan pihak sekolah yang lalai dengan keselamatan murid-muridnya. Lalu dia juga menyalahkan pihak sekolah karena mengirim putranya ke tempat berbahaya seperti itu.
Siyan berusaha menenangkan kemarahan Li Fan. Dia kemudian mengecek dan sadar bahwa mereka tidak bisa menghubungi anak-anak yang mereka kirim dalam misi penjelajahan.
Ini sangat aneh. Belum pernah ada komunikasi terputus seperti ini saat murid-murid mengambil misi penjelajahan. Walaupun mereka dalam bahaya, mereka akan menghubungi pihak akademi dengan cepat untuk meminta bantuan. Atau pun menghubungi keluarga mereka.
__ADS_1
Lalu Sinyal yang gangguan adalah masalah serius. Orang biasa tidak akan bisa memblokir sinyal seperti itu. Hanya orang-orang professional yang bisa melakukannya. Perasaan Siyan juga menjadi tidak enak.
"Harusnya aku kirim mereka pulang saat itu" kata Siyan menyesal. Dia seharusnya menyuruh mereka pulang saat anak-anak itu menemukan manusia asing di pendalaman hutan.