
"Kau tahu Gin, walaupun kau tidak ada bakat dalam berkultivasi, kau cukup beruntung. Kau hanya harus belajar dengan giat untuk menjadi alkemis. Profesi itu sangat menguntungkan. Kau hanya harus meracik pil yang dapat meningkatkan kultivasimu. Jadi walaupun tidak ada bakat, asalkan ada pil, kau bisa terus menerobos. Selain itu, kau juga bisa menjual pil buatanmu dan menghasilkan banyak uang. Bukankah itu sangat bagus?" Bianca terus mengoceh, dengan mengatakan keuntungan menjadi seorang alkemis secara terus menerus.
Mona menganggukan kepalanya setuju. Dia secara antusias mendengarkan ocehan Bianca dan berkhayal bahwa dia menjadi alkemis di masa depan dan menjadi kaya.
Gin sebenarnya tertarik. Perkataan Bianca benar, dia bisa menerebos menggunakan pil. Selama ini dia juga menerobos menggunakan bahan-bahan langka yang ditemukannya secara tidak sengaja.
"Lalu, aku akan memberikan satu rahasia kepada kalian" kata Bianca dengan memelankan volume suaranya. "Tidak hanya bisa meningkatkan kultivasi, tapi ada juga pil obat yang bisa meningkatkan level bakat seseorang"
"Tidak mungkin" Mona tersentak kaget. "Maksudku level bakat ditentukan sejak lahir dan tidak bisa diubah sama sekali. Itu adalah bentuk takdir dari sang pencipta" dia tiba-tiba berkata sok bijak.
"Itu benar. Tapi pil legendaris itu ada" kata Bianca nostalgia. Lalu dia menceritakan sebuah pil legendaris yang bisa meningkatkan level bakat seseorang sebanyak satu level. Pil itu dibuat oleh alkemis ternama yang sekarang hanya meninggalkan nama. Tapi tenang saja, kabar burung mengatakan bahwa alkemis legendaris itu mengambil seorang murid dan menurunkan resep dari pil obat itu kepada muridnya. Tapi sampai sekarang tidak ada yang pernah tahu identitas asli murid alkemis itu.
"Tapi semua orang yakin bahwa murid alkemia legendaris itu masih hidup" Bianca berkata dengan khidmat.
"Walaupun dia masih hidup, dia sudah berumur ratusan atau ribuan tahun. Apa itu masuk akal?" Gin mulai bertanya dengan logikanya.
"Kau bisa hidup ribuan tahun sampai kau mencapai ranah itu" kata Bianca tiba-tiba.
"Tubuh ilahi?" selidik Mona.
"Bukan. Itu adalah tingkat di atas tubuh ilahi. Dan hanya orang terpilih yang bisa menerobos tingkatan itu" Bianca menghela napas. "Jangan membicarakan topik ini. Hal ini sedikit tabu dan tidak masuk akal. Atau bisa disebut mitos belaka"
Lalu Bianca melihat Gin dan Mona dengan tatapan serius. "Jadi setelah mendengar keuntungan-keuntungan tadi, apa kalian berniat bergabung dengan Asosiasi Alkemis?"
"Asosiasi Alkemis?" Gin dan Mona memiringkan kepala mereka, bingung.
"Ya. Ada satu asosiasi alkemis di Mozu. Dan itu sangat besar. Kalian tahu, saat kalian bergabung dengan asosiasi ini, otoritas kalian tidak akan kalah dari anak-anak keluarga besar itu" kata Bianca sombong. "Asosiasi alkemis adalah asosiasi dunia. Bukan hanya di Mozu, mereka juga memiliki asosiasi di setiap negara. Dan pemimpinnya adalah orang yang sangat misterius. Rumor mengatakan dia adalah kultivator tubuh ilahi tahap akhir"
"Woa" Mona berdecak kagum tanpa dia sadari. Setelah mendengar tentang kultivator tubuh ilahi, entah kenapa dia merasa kagum. Itu adalah impiannya walaupun dia tahu dia tidak akan mencapai ranah itu seumur hidupnya. Karena dia tidak memiliki latar belakang dan dukungan.
Gin juga berpikir bahwa tidak buruk bergabung dengan asosiasi alkemis. Jadi dia dan Mona langsung menyetujui tawaran Bianca.
"Besok, datanglah ke asosiasi dan berikan kartu ini pada mereka" Bianca mengeluarkan dua kartu rekomendasi dan memberikannya kepada mereka. "Kalian harus mendaftarkan diri kalian terlebih dahulu. Saat mendaftar kalian akan menjadi alkemis tingkat 1 secara otomatis. Untuk naik tingkat, kalian harus mengikuti ujian yang disediakan, tapi hal itu masih terlalu awal untuk kalian"
Keduanya mengangguk.
***
Keesokan harinya saat jam pelajaran selesai, Mona menunggu Gin di depan pintu gerbang seperti biasanya. Kali ini mereka berdua akan mendaftarkan diri mereka ke asosiasi alkemis.
__ADS_1
"Aku sangat tidak sabar" kata Mona antusias. "Aku sangat senang dan tidak menyangka sama sekali bahwa orang sepertiku bisa bergabung dengan asosiasi terkenal seperti ini" lanjutnya.
"Jangan seperti itu. Kau sangat pantas" sela Gin langsung. Gadis di sampingnya memiliki level bakat 10. Bahkan tingkat kultivasinya tidak kalah dari anak-anak keluarga besar itu. Dia adalah gadis yang sangat berbakat. Dia bisa mencapai semua ini tanpa latar belakang terkenal.
Mendengar Gin memujinya, Mona menundukkan kepalanya karena malu. "Terima kasih..." balasnya gugup.
"Kau harus lebih percaya diri" tambah Gin.
"Um" Mona mengangguk kecil. Tindakannya itu terlihat sangat lucu.
Sangat mudah menemukan gedung asosiasi alkemis di tengah kota. Gedung itu terlihat sangat besar dan mewah. Lalu gedung itu berdiri tegak di daerah yang luas, tanpa dikelilingi oleh bangunan lainnya.
Saat mereka masuk, pintu di depan gedung terbuka secara otomatis. Lalu interior mewah dan modern langsung menyambut mereka. Disana ada seorang resepsionis berseragam yang tersenyum ramah kepada mereka.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan dan nona?" resepsionis itu tersenyum ramah pada mereka.
"Kami ingin mendaftar sebagai anggota asosiasi" kata Mona. Dia mengeluarkan kartu rekomendasi miliknya. Gin juga mengeluarkan kartunya.
Resepsionis itu mengambil kedua kartu itu dan bergumam "Dari nona Bianca ya..." katanya. Lalu dia mengetik sesuatu di komputer yang ada di depannya.
"Silahkan tunggu sebentar. Perlu waktu sekitar lima belas menit untuk memproses kartunya" Dia menunjukan ruang tunggu yang sudah dipasang beberapa sofa empuk dan meja kecil.
"Tidak buruk" gumam Gin. Mereka menggunakan sofa dengan kualitas tingkat tinggi. Gin bisa merasakannya saat dia duduk.
Tiba-tiba mereka melihat seorang pemuda masuk ke dalam dengan sikap arogan. Pemuda itu diikuti oleh lima orang pria dewasa berpakaian serba hitam, terlihat seperti seorang bodyguards.
"Aku tidak terima!" pemuda itu tiba-tiba memukul meja kasir resepsionis itu dengan kasar. "Ujian apa itu. Aku benar-benar tidak terima"
Resepsionis itu masih tersenyum ramah, "Maaf Tuan, semua orang harus mengikuti sistem. Kalau tuan gagal dalam ujian, tuan tidak bisa bergabung dengan asosiasi" dia menjelaskan.
"Tapi ujian itu yang sampah! Aku seharusnya lulus, kau tahu. Beri aku kartu anggotanya!" pemuda itu memaksa dengan tatapan mengancam.
Resepsionis itu menggeleng, "Tidak bisa"
BAK! Pemuda itu melemparkan sebuah kantong ke atas meja dan berkata dengan nada berbisik. "Hei, kalau kau membantuku, aku akan memberimu ini. Ada lima juta flos di dalam kantong ini. Kalau aku berhasil mendapatkan kartunya, aku akan memberimu lima juta flos lagi"
"...." Resepsionis itu kehilangan kata-katanya.
Melihat sang resepsionis membeku, pemuda itu tersenyum. Dia yakin bahwa tidak akan ada seorang pun yang menolak uang. Apalagi seorang pekerja biasa. Mereka membutuhkan uang untuk bertahan hidup.
__ADS_1
Gin menggelengkan kepalanya. "Hal yang umum," dia bergumam.
"Um, aku lihat hal seperti itu terjadi dimana-mana" Mona setuju.
"Sialan!" Pemuda itu langsung menendang dinding di dekatnya. "Hei, kau tahu siapa aku? Aku berasal dari keluarga Long" katanya sombong. "Kau ingin membuat masalah dengan keluarga Long?" dia mengancam.
Tapi sang resepsionis tetap menatapnya dengan acuh. "Tuan, dilarang membuat keributan disini karena menganggu kenyamanan tamu yang lainnya" kata resepsionis itu.
Tapi pemuda itu tetap mengonggong seperti anjing. Menggunakan nama keluarganya dengan sombong untuk mengancam sang resepsionis. Dan semakin lama teriakannya semakin keras.
"Tuan, saya bilang sekali lagi jangan membuat keributan" kali ini suara sang resepsionis menjadi lebih dingin.
"Heh? Memangnya kau siapa berani melarangku melakukan sesuatu? Kau hanya pekerja rendahan di tempat ini. Aku bisa menghancurkan ruangan ini dengan mudah" katanya sombong.
Lalu dia mulai memberi aba-aba kepada lima bodyguards miliknya. "Hancurkan dia" perintahnya.
Kelima orang itu mengeluarkan aura mereka. Itu adalah aura para kultivator inti emas tengah. Pemuda itu merasa bangga dengan dirinya. Dia berpikir dia sangat hebat karena memiliki lima kultivator inti emas sebagai penjaganya.
Tapi tiba-tiba aura yang sangat hebat muncul dari resepsionis di depan mereka. Itu adalah aura kultivator tingkat immortal. Resepsionis itu menatap mereka dengan tatapan membunuh. Bahkan kelima penjaga itu langsung terdiam di tempat dengan tubuh bergetar.
"Tuan muda..." salah satu pengawal menatap pemuda itu dengan gugup.
"Dia...Dia hanya menggertak" seru pemuda itu dengan percaya diri walaupun dia gugup. Pasalnya tidak logis seorang kultivator immortal menjadi resepsionis di sebuah gedung. "Dia pasti menggunakan alat sihir untuk menggertak kita. Serang dia!"
Kelima pengawal itu maju untuk menyerang sang resepsionis. Mereka akan menghajar resepsionis itu sampai babak belur. Begitulah yang mereka pikirkan.
Sampai akhirnya resepsionis itu bergerak dengan cepat.
BAK! BUK! BAM! BAK!
Resepsionis itu memukul dan menendang kelima penjaga itu dengan gerakan yang sangat cepat. Pemuda itu dan para pengawalnya bahkan tidak bisa melihat gerakannya sama sekali.
Kelima pengawal terlempar ke belakang satu per satu. Dan pemuda itu mulai ketakutan.
Resepsionis itu menepuk bajunya dan tersenyum ke arah Gin dan Mona. "Para tamu maaf atas gangguan kali ini" katanya tulus.
Tamu yang dimaksud resepsionis itu adalah Gin dan Mona. Tidak ada orang lagi di aula ini, hanya mereka berdua.
Gin melihat ke arah pemuda itu. Pemuda itu juga menatap ke arah Gin dan Mona dengan tatapan penuh kebencian sambil menggertakan giginya. Setelah itu, dia keluar bersama dengan para pengawalnya.
__ADS_1