
Siyan menatap Gin sungguh-sungguh. "Apa kau benar-benar hanya memungutnya?"
Gin mengangguk dan menjawab dengan singkat "Ya"
"Bagaimana mungkin..."
"Kebetulan" jawab Gin datar. Sesekali dia melihat ke arah jam dinding, menantikan waktu belajar mereka berakhir. Sehingga dia bisa pulang ke rumah dan bersantai.
Lalu nama Gin Arai melesat dengan cepat ke nomor satu. Dan setiap murid mulai mengeluarkan protes mereka terhadap hasil akhir ini.
"Tidak mungkin!"
"Ini benar-benar gila"
"Apa dia curang? Tapi bagaimana?"
"Dia hanya beruntung"
"Sial! Aku iri pada keberuntungannya"
"Hei berhentilah berkata a i u e o. Kau tahu, saudaraku memang hebat. Kalian hanya iri padanya karena kalian tidak sehebat dia" kata Li Seng dengan nada ketus. Pemuda pengecut itu bahkan tidak peduli dengan tatapan tajam dari semua orang.
"Guru, bukankah sekarang sudah jam pulang?" kata Gin tiba-tiba. Jarum jam baru saja menunjukkan bahwa waktunya pulang. Karena Gin tidak ingin menghabiskan waktu, dia mengingatkan semua orang secara langsung.
"..." Sekali lagi pemuda bernama Gin itu membuat sang guru dan teman-temannya tidak bisa berkata-kata.
Siyan hanya bisa memegang kepalanya yang pusing. Lalu dia berkata kepada semua orang dengan nada pasrah. "Kalian bisa pulang" katanya lemah. "Aku akan mengumumkan hasil ujian kalian secara keseluruhan besok"
Semua murid langsung bubar dengan cepat. Mereka berlarian seperti anak ayam.
"Gin, aku ingin berbicara denganmu sebentar" Siyan menghentikan Gin saat dia melihatnya berjalan keluar kelas.
Gin mengernyitkan keningnya, tidak senang. "Guru, aku sibuk. Kita bisa bicara besok, di jam pelajaran" katanya. Dia ingin cepat pulang dan bermain game. Pasalnya dia menginap semalaman di hutan, tanpa internet dan hampir depresi.
__ADS_1
Siyan terdiam. "Baiklah..." katanya kemudian. Dia ingin marah dengan Gin, tapi dia menahan emosinya. Semua hal tentang Gin yang tidak masuk akal ini benar-benar membuatnya gila. Dia benar-benar akan gila. Bahkan hal ini lebih membahayakan mentalnya dibandingkan dengan sikap ayahnya yang gila itu.
Melihat Siyan setuju, Gin langsung keluar dari ruang kelas tanpa beban. Li Seng menyusulnya lalu melingkarkan tangannya di bahu Gin.
"Saudaraku, kau benar-benar hebat!" katanya bahagia. "Kau lihat wajah mereka? Mereka berekspresi seolah-olah mereka memakan kentut" sambungnya sambil tertawa bahagia. "Kita berdua di posisi sepuluh besar. Kita akan lulus ujian bukan?" ekspresinya langsung berubah khawatir dengan cepat.
"Aku tidak tahu. Tapi harusnya seperti itu" jawab Gin. Dia benar-benar tidak tahu kualifikasi apa yang dibutuhkan untuk lulus ujian. Tapi dia tidak terlalu memikirkan hal itu seperti Li Seng. Walaupun kelasnya berubah, dia tidak masalah dengan itu.
Tak lama kemudian Mona menghampiri Gin. "Kerja bagus Gin" katanya sambil tersenyum. Dia hanya berhasil mengumpulkan delapan bendera. Gin benar-benar mengejutkan semua orang dengan itu. Tapi entah kenapa Mona sudah terbiasa dengan ini. Dia tahu Gin menakjubkan, tapi dia berusaha menyembunyikan hal itu. Mona merasa penasaran kenapa, tapi dia tidak mau bertanya lebih jauh. Takut Gin merasa tidak nyaman berteman dengannya.
"Kerja bagus" seseorang tiba-tiba menepuk bahu Gin. Dia adalah Fei Lan. Dia hanya mengatakan sepatah kata itu, sebelum akhirnya pergi lebih dulu mendahului Gin bersama dua saudarinya. Fei Lan juga merasa Gin menyembunyikan kekuatannya. Tapi dia masih ragu. Dia juga berpikir keberuntungan Gin sangat besar. Dia memiliki berbagai macam kemungkinan di pikirannya.
***
Malam harinya, di kediaman keluarga Arai, semua anggota keluarga mengadakan makan malam bersama untuk memberi selamat kepada Sima dan Yusa karena berhasil melewati ujian. Kakek Arai mengintruksikan para koki untuk membuatkan hidangan favorit kedua cucunya.
"Selamat Yusa karena sudah meraih sepuluh besar dalam ujian praktek" kakek Arai tersenyum. "Sima, kau juga melakukan kerja bagus. Jangan patah semangat. Kau harus menjadikan keberhasilan saudaramu sebagai motivasi"
"Terima kasih kakek" Kedua pemuda itu langsung menjawab sang kakek dengan sopan.
"Iya?"
"Apa kita memiliki keluarga bernama Gin? Maksudku dari keluarga jauh atau apapun itu" tanya Sima. Dia merasa sesak saat menanyakan hal itu.
Yusa menatap adiknya. Dia juga menanyakan hal yang sama kepada kakeknya beberapa saat yang lalu karena kartu ATM milik Gin. Tapi kakeknya menjawab dia tidak tahu. Jadi Yusa tidak mengerti mengatakan Sima menanyakan pertanyaan yang sama.
"..." Kakek Arai langsung membeku. Dia tanpa sengaja menjatuhkan sendok yang dipegangnya. Tidak hanya kakek Arai, seorang pria paruh baya dan wanita di sampingnya juga membeku dalam sekejap. Mereka adalah sepasang suami istri. Sang suami adalah anak bungsu dari Kakek Arai dan wanita itu adalah istrinya, Cyntia.
"Memangnya kenapa?" tanya kakek Arai balik setelah berhasil menghilangkan keterkejutannya.
"Di kelas kami ada seorang pemuda bernama Gin Arai. Dia sangat aneh. Dia benar-benar aneh" kata Sima dengan tangan bergetar. "Aku berpikir karena dia memiliki nama keluarga yang sama dengan kita, mungkin dia berasal dari kelurga jauh"
"..." Kakek Arai terdiam sebentar sebelum menjawab. "Aku tidak tahu" katanya pelan. "Kau tahu kita memiliki banyak sekali cabang. Aku tidak ingat nama setiap anak dari keluarga cabang" jawabnya.
__ADS_1
"Aku mengerti..." jawab Sima lemah.
Setelah topik itu, entah kenapa suasana di ruang makan berubah menjadi aneh. Semua orang terdiam. Kakek Arai juga tiba-tiba kehilangan suaranya. Padahal makan malam besar ini diadakan untuk kedua cucunya. Dia seperti kehilangan minat dan semangatnya.
"Ini udang untuk kakek" tiba-tiba suara imut terdengar dan tangan mungil memberikan sepotong udang ke piring kakek Arai. Dia adalah cucu tersayangnya. Kakek Arai langsung membawa peri kecil itu ke pangkuannya. "Terima kasih" katanya lembut.
"Yuya, sudah ibu bilang kalau makan harus sopan. Kembali ke kursimu oke?" kata Cyntia kemudian, setelah dia membuyarkan lamunannya.
"Humph, Yuya tidak mau" gadis kecil itu menggembungkan pipinya. "Ibu tiba-tiba mengabaikan Yuya. Lalu wajah kakek juga sedih. Jadi Yuya ingin menghiburnya" gadis polos itu berkata.
"Kakek tidak apa-apa. Jangan mengarang cerita sembarangan" Kakek Arai menjitak kepala Yuya. Tapi dia melakukannya dengan lembut.
Karena Yuya, suasana di ruang makan itu pun kembali normal. Kakek Arai mulai berbicara dengan Yuya dan Sima kembali. Kali ini pembicaraan mereka adalah bagaimana mengembangkan teknik kultivasi milik mereka.
Makan malam pun selesai. Setiap orang kembali ke ruangan mereka masing-masing. Cyntia membawa Yuya ke kamarnya. Setelah memastikan gadis kecil itu naik ke tempat tidur dan tidak bermain lagi, dia kembali ke kamarnya. Saat dia kembali, sang suami sudah ada disana. Duduk di sisi ranjang dengan wajah kosong.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Cyntia.
"Kau tidak apa-apa?" pria itu balik bertanya.
Ekspresi Cyntia langsung berubah. Matanya berkaca-kaca dan tangisannya pecah. Dia jatuh berlutut. "Huwaaa, aku, aku merindukannya" katanya.
Sang suami langsung menghampirinya dan menepuk punggungnya. "Jangan khawatir. Dia sehat dan baik-baik saja"
"Aku tahu. Aku tahu Ayah akan menjaganya. Tapi aku ingin bertemu dengannya Seto" kata Cyntia. "itu sudah bertahun-tahun. Walaupun Yuya menghibur rasa kesepianku. Tetap saja..."
"Aku juga ingin bertemu dengannya. Tapi kau ingat, kita tidak bisa" jawab Seto lemah. "Kalau kita menemuinya secara langsung, semua yang kita lakukan untuk melindunginya akan sia-sia. Mereka akan tahu dan dia akan terlibat"
Cyntia hanya menangis tanpa merespon.
"Ayah akan menjaganya dengan baik. Dia bahkan tidak bisa menemui anak itu, walaupun begitu dia pasti akan melindunginya. Jangan khawatir oke. Kau tahu bahwa kompetisi antar lima keluarga besar akan segera tiba bukan? Kalau orang-orang itu tahu kita memiliki seorang putra, mereka akan memaksanya untuk ikut kompetisi. Ada banyak pembunuh juga yang mengincar keluarga inti kita. Kalau dia ikut terlibat. Kita tidak bisa melindunginya. Setidaknya bersabarlah sampai badai berlalu. Setelah dia lulus dari akademi, kita bisa menemuinya"
"Huwaaa, aku orang tua yang buruk!" tangisan Cyntia semakin besar.
__ADS_1
"Tidak" Seto memeluk istrinya. "Kita berdua orang tua yang buruk..."